Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 14


__ADS_3

Flasback on ( masih pov Gayung)


Semenjak ibuku merantau menjadi TKW, ibu mengirimkan banyak uang kepadaku dan semakin hari Bapakku juga semakin dikenal banyak orang. Setiap hari ada saja tamu yang datang, atau kadang Bapak yang dipanggil ke rumah yang bersangkutan. Keuangan semakin membaik.


Aku, si remaja culun ini pun ingin berubah, ingin berdandan, ingin cantik seperti teman-temanku. Aku mengubah penampilanku, aku juga membeli berbagai produk kecantikan, yang sebelumnya tak mampu ku beli. Mulai dari perawatan untuk kulit, rambut, wajah. Bapak dan ibuku tidak mempermasalahkannya. Ternyata selama ini ibu membaca buku diaryku, ibu mengetahui semuanya. Semua kesedihanku yang tertulis rapi disana. Aku menangis, saat ibu mengatakan bahwa ia bekerja jauh-jauh di negeri orang untuk aku. Ibu memintaku untuk tidak bersedih lagi dan tetap bersemangat.


Ternyata ada benarnya, kalau cantik itu butuh modal. Maria bilang semakin hari aku semakin cantik. Awalnya kukira perkataan Maria hanya sebuah penghiburan. Tapi ketika beberapa teman lelaki mendekatiku, kurasa memang benar dimata orang lain, aku sudah layak "disukai".


Lalu apa hidupku kemudian lebih baik?


Tidak!


Rumor beredar mengatakan aku memakai susuk, ada juga yang mengatakan aku mandi kembang dan fitnah-fitnahan yang lain. Hanya karena bapakku seorang dukun. Mungkin dalam pikiran mereka, mendengar kata dukun identik dengan sesuatu yang berhubungan dengan santet, pelet dan lain-lainnya. Padahal disini, justru bapakku adalah orang yang berperan menolong atau membantu mereka-mereka yang terkena masalah yang berhubungan dengan ilmu hitam tersebut. Metode penyembuhannya pun dengan mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa.


Aku sedih, kesal! Aku merasa tidak terima bapakku dituduh yang tidak-tidak. Aku sampai berujar semoga suatu hari nanti ada salah satu di antara mereka yang membutuhkan bantuan bapakku. Tapi sampai kini doaku tidak terkabul, mungkin karena doa jelek makanya Tuhan tidak mengabulkannya.


Aku beruntung memiliki Maria dalam hidupku, sahabatku yang baik hati. Tapi saat Maria tidak masuk sekolah, aku akan sangat kesepian dan terasing lagi.


Aku benci sekolah!!!


Itulah sebabnya, aku tidak kuliah. Ibu sempat memarahiku, begitupun ayah tiriku. Yah, ibuku sudah menikah lagi dengan seorang laki-laki yang baik dari negeri seberang. Dia juga sangat menyayangiku. Beberapa kali ia berkunjung ke negara ini, menjemputku, untuk menghabiskan liburan sekolah di negaranya. Aku bersyukur, ibu memiliki kehidupan yang bahagia disana. Sementara bapak, masih sendiri sampai kini. Ia terlalu sibuk wira-wiri ke sana kemari menyembuhkan orang sakit. Aku sangat bangga pada bapakku!


Kembali masalah kuliah, akhirnya ibu menerima keputusanku, meski berat. Tujuan ia merantau ke negeri seberang, salah satunya adalah ingin memberikan pendidikan yang tinggi untukku. Sehingga kelak, aku memiliki pekerjaan yang bagus untuk masa depanku. Aku meminta maaf padanya, karena aku tidak bisa mewujudkan keinginannya.


Setelah lulus, aku melamar kerja di sebuah PT di sebuah kota dan diterima. Aku sangat senang sekali waktu itu. Beberapa tahun aku bekerja disana, sempat juga dikirim ke Jepang selama beberapa waktu. Menurutku dunia kerja lebih menyenangkan dari dunia sekolah. Aku menyukai pekerjaanku dan aku senang memiliki uang hasil jerih payahku sendiri. Lalu yang paling penting adalah aku bertemu dengan orang-orang yang baik yang menganggapku "manusia".


Aku keluar dari tempat kerjaku karena aku mengalami kecelakaan motor waktu itu. Dan bapak menyuruhku berhenti bekerja. Aku menurut saja, sekalian menemani bapak di rumah untuk sementara waktu.


Selang berapa bulan, tetanggaku, Mbak Nabila yang sedang pulang kampung menawariku bekerja di ibukota. Saat aku sedang bertanya-tanya kepadanya tentang lowongan pekerjaan. Kebetulan dia dulu bekerja di sana sebelum resign, karena suaminya ingin Mbak Nabila fokus mengurus anak mereka satu-satunya, Roby.


Flasback off

__ADS_1


Istirahat siang, para karyawan sudah terbiasa dengan kehadiran Bos mereka di ruang makan yang cukup luas itu. Memang tak seriuh dulu, tapi mereka sudah tak lagi merasakan ketegangan seperti saat pertama kali Bos ikut bergabung. Justru sekarang jam makan siang lebih ditunggu-tunggu para karyawan, karena selain menikmati makan siang mereka juga bisa merefresh mata mereka, dengan melihat makhluk ciptaan Tuhan yang tercipta begitu sempurna itu.


Gayung selalu duduk di tempat biasa, dan kursi di depannya seolah juga sudah menjadi tempat duduk paten sang pemilik aura luar biasa itu. Tidak ada yang berani menempatinya. Di sampingnya kini diisi sementara oleh Tiara semenjak Jio pulang kampung beberapa hari yang lalu.


"Andara ... diem aja, kangen yah sama Jio?" goda Tiara tiba-tiba saat mereka tengah menikmati makan siang. Gayung tersenyum tipis mendengarnya. Ia diam bukan karena merindukan Jio, melainkan karena merasa canggung berada diantara para senior tanpa kehadiran Jio disana.


"Sedikit," jawabnya asal saja yang langsung mendapat sorotan tajam dari makhluk tampan di depannya. Namun Gayung tak menyadarinya karena posisinya yang menunduk.


"Cie ...." Tiara menyikut pelan lengan Gayung sambil tersenyum sumringah, ekor matanya mengawasi perubahan ekspresi Galas yang begitu kentara.


"Kamu udah pacaran belum sih sama Jio?" Kali ini Jay yang bertanya.


"Enggak ... kita cuma berteman aja kok," sanggah Gayung masih dengan senyum manisnya. Yah, Gayung memang murah senyum.


"Tapi kamu suka nggak sih sama Jio, kayaknya kalau aku lihat Jio suka sama kamu deh...," pancing Tiara dengan senyum penuh arti.


"Ya ... suka ... soalnya Mas Jio orangnya baik," jawab Gayung dengan polosnya tanpa tahu ada yang tiba-tiba mengeraskan rahangnya mendengar kalimat yang begitu tulus keluar dari mulutnya itu.


"Kalau Jio nembak kamu, diterima apa nggak?" Tiara menunggu reaksi Galas selanjutnya.


"Kalau nggak suka, menurut aku jangan kasih harapan ke Jio, An ... kasihan itu anak ditolak terus," ujar Tiara mencoba menasehati.


"Aku nggak kasih harapan palsu, kok Mbak. Mas Jio juga tahu aku cuma ngganggep dia teman."


"Lalu laki-laki yang seperti apa yang kamu sukai?" tanya Galas sambil melirik Tiara yang nampak terkejut mendengar pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Galas tahu bahwa Tiara sengaja memancingnya sedari tadi. Ia hanya ingin membuatnya menjadi semakin jelas untuk sahabat yang mencintainya itu.


Gayung yang mendapat pertanyaan seperti itu dari Galas nampak salah tingkah. Gadis itu berpikir cukup lama untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang Galas lontarkan kepadanya.


"Ehm ... yang baik ...," jawabnya akhirnya.


"Kalau seperti saya?" tanya Galas lagi membuat semua yang ada di meja itu serentak menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


Gayung hampir saja tersedak mendengar pertanyaan itu. Matanya membeliak lebar menatap Galas yang tampak cuek menyuapkan suapan terakhirnya.


"Maksudnya?" tanya Gayung memperjelas pertanyaan. Ia tidak mengerti kenapa Galas harus menanyakan pertanyaan " aneh" seperti itu kepadanya didepan orang banyak. Apa dia sedang mengerjaiku? Batin Gayung.


"Kalau seperti saya bagaimana? Kamu suka atau tidak?" Senyum jahil samar terlihat dari bibir Galas. Namun posisi Gayung terlalu dekat untuk bisa melewatkan hal itu. Dia mengerjaiku, batinnya lagi.


"Tidak," jawabnya mantap, membuat senyum samar itu seketika menghilang berganti dengan wajah masam yang sama sekali tak tertutupi. Jay hampir saja meloloskan tawanya, kalau saja kakinya tidak mendapat injakan keras dari sepatu Galas di bawah meja.


"Kenapa?" cecarnya, sorot matanya mulai menyeramkan. Gayung mendelik takut mendapat tatapan itu. Apa maksudnya tatapan itu? tanyanya dalam hati.


"Karena ... karena Bapak terlalu perfect untuk saya," jawabnya dengan memasang senyum manisnya dan wajah seram itu terurai dalam waktu singkat, berganti dengan wajah riang yang tak tertutupi. Sungguh bukan seperti Galas yang biasanya.


Jay dan Tiara sampai ternganga melihat pemandangan langka itu. Galas yang mereka kenal selalu menjaga ekspresi wajahnya, bisa menjadi kekanak-kanakkan hanya karena mendapatkan pujian dari karyawan barunya. Ini suatu hal yang benar-benar langka.


Tiara menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum ironinya. Mengkasihani diri sendiri, akan kisah cintanya yang tetap bertepuk sebelah tangan sampai akhir. Jadi Andara orangnya? batinnya pilu.


Jay memandang dua wanita di depannya bergantian. Yang satu nampak menelaah ekspresi aneh Bosnya tanpa berkedip sementara yang satunya menyembunyikan kekecewaan dengan menunduk dalam-dalam. Di satu sisi ia ikut bahagia, pada akhirnya sahabatnya itu bisa merasakan jatuh cinta. Tapi di sisi lain, ia pun seolah ikut merasakan sakit dan kekecewaan yang Tiara rasakan.


"Tiara, nanti sore jalan, yuk." Hanya itu yang bisa ia lakukan sebagai seorang sahabat, memberikan penghiburan, juga membantunya untuk bangkit dari keterpurukan ini. Usianya sudah tak muda lagi. Tiara melewatkan sepuluh tahun ini hanya untuk menunggu cinta yang sudah pasti jelas ia tahu, tak dimiliki Galas untuknya. Tapi wanita itu begitu keras kepala untuk tetap sabar dan tetap pada harapan kosongnya.


"Kemana?"


"Jay, ingat istrimu di rumah," tegur Galas kembali dengan sikap tegasnya.


"Cuma makan aja, La." Jay memberikan kode bahwa ia hanya ingin menghibur Tiara. Namun Galas tetap menunjukkan ketidaksetujuannya.


Gayung menangkap itu sebagai rasa cemburu dan kembali menekan pikiran konyol yang sempat terbersit tadi bahwa Galas mungkin menyukainya.


Gayung, tolong sadar diri, Kak Galas mana mungkin tertarik dengan remahan rengginang sepertimu ...


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


JANGAN LUPA


LIKE KOMEN VOTE 😍😍😍


__ADS_2