Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 79


__ADS_3

Sore itu, sesuai janjinya, Pak Ming tiba di Jakarta sekitar pukul lima sore. Mengabaikan rasa lelahnya setelah perjalanan jauh, beliau meminta menantunya untuk langsung mengantarkannya menuju Rumah Sakit tempat Tiara dirawat, bersama Gayung yang meminta ikut serta meskipun suaminya sudah melarangnya.


"Assalamuallaikum." Pak Ming mengucapkan salam begitu menantunya membuka pintu ruangan tempat Tiara dirawat. Wanita itu lirih menjawab salam, sembari mencoba bangun dengan susah payah.


"Ndak usah bangun," ucap Pak Ming, membuat Tiara membaringkan kembali tubuhnya. Tangannya bergerak maju menyambut uluran tangan Pak Ming yang tampak tersenyum kepadanya. Tiara menatap seksama laki-laki paruh baya itu. Awalnya ia mengira, Bapak Gayung mungkin penampilannya layaknya seorang dukun yang ia lihat ditelevisi-televisi, atau kalau tidak memakai sorban seperti kyai. Namun ternyata ia salah menduga. Siapa yang menduga pria yang memakai batik layaknya seorang PNS itu bisa menyembuhkan orang sakit.


"Yang dirasakan apa, Mbak?" tanya Pak Ming ramah.


"Panas, perih, seperti ... digerogoti sesuatu, Pak," Jawab Tiara jujur.


"Sabar, ya. Inshallah sembuh, jangan putus asa. Percaya sama Gusti Allah ...." Tiara mengangguk mendengar wejangan Pak Ming yang seperti mencoba membaca sesuatu pada dirinya.


"Disini." Pak Ming menekan perut Tiara sebelah kanan. "Sakit, kan?"


"Iya, Pak. Sakit banget sampai dokter mengira saya terkena usus buntu sama batu ginjal, tapi setelah dicek tidak ada masalah ...."


"Ada yang mengirimkan sesuatu, masuknya lewat sini," jelasnya, membuat Tiara ngeri mendengarnya. Selama ini, ia bukan orang yang mempercayai hal-hal diluar nalarnya seperti ini. "Warnanya hitam, sebesar ini," lanjut Pak Ming sembari membuat bulatan menggunakan jari jempol serta telunjuknya.


"Apa saya masih bisa sembuh, Pak?" tanya Tiara penuh harap.


"Bisa. Nanti saya ambil, sudah tenang saja ...," ucapan Pak Ming menenangkan ketakutan Tiara.


Lagi. Pak Ming menatap dalam kepadanya, sebelum akhirnya beristigfar dalam gumamannya.


"Punya masalah apa sama orang Mbak ... sampai dibuat seperti ini." Pak Ming menggeleng-gelengkan kepalanya, entah apa yang ia lihat dalam tubuh lemah wanita itu. Galas dan Gayung lebih memilih diam dan mendengarkan.


Tiara nampak berpikir, mengingat-ingat apakah ia pernah membuat kesalahan fatal dengan seseorang. Namun ia tak menemukannya, selain ketidaksengajaannya tidur dengan suami orang yakni sahabatnya sendiri, Jay. Namun, ia tak ingin dahulu berburuk sangka. Ia mengenal Wina sebagai wanita yang sangat baik, sebelum memiliki masalah dengannya.


"Siapkan sajadah dan yang lainnya, Nduk. Bapak wudhu dulu." Pak Ming melipat baju batiknya sampai ke siku, kemudian beranjak untuk mengambil air wudhu.


"Kalian juga belum solat, kan? Sekalian aja ... Mbak Tiara juga, ya ...."


"Iya, Pak," jawab Galas dan Gayung berbarengan.

__ADS_1


Mereka lalu bergantian berwudhu, begitupun Tiara yang berwudhu dengan bantuan Galas. Selesai solat dan merapikan tempat lagi. Galas dan Gayung memilih duduk disofa. Sementara Pak Ming, masih melakukan solatnya, entah solat apa, yang pasti setelah itu laki-laki paruh baya itu melanjutkan dengan membaca doa-doa cukup lama.


Proses pengobatan dimulai (ini rahasia, jadi nggak aku tulis, ya guys hihi ... ).


"Gimana?" Pak Ming menekan perut kanan Tiara. "Masih sakit?"


"Nggak, Pak ..." Tiara menekan perutnya lagi takjub, karena sakit diperut kanannya tiba-tiba hilang.


Pak Ming mengangguk dan melanjutkan pengobatannya.


"Setelah ini, jangan kaget ya kalau Mbaknya lemes, nggak punya tenaga sama sekali. Memang seperti itu, ndak usah takut ...," pesan Pak Ming.


Tiara mengangguk, timbul keyakinan untuk sembuh dalam dirinya.


"Yang menemani Mbaknya disini siapa?" tanya Pak Ming pada anak dan menantunya. Galas dan Gayung saling memandang sebelum Galas meminta istrinya untuk beristirahat dirumah.


"Kamu pulang saja, ya," pinta Galas. Meski berat, namun Gayung akhirnya menyetujuinya.


"Berarti Galas sama Bapak tidur disini," ucap Pak Ming.


"Besok pagi Bapak mau obatin Mbaknya lagi, setelah itu Bapak harus balik lagi ..."


"Hah? Kok buru-buru sih, Pak?" Gayung berharap Bapaknya bisa tinggal beberapa hari di Jakarta.


"Bapak ndak enak, Nduk. Sebenarnya Bapak hari ini ada janji ke kota S, orangnya sudah menunggu Bapak, kasihan ...."


"Hemm, setidaknya istirahat dulu barang sehari. Baru sampai juga, nanti malah Bapak yang sakit gimana?" Gayung khawatir.


"Udah ... kamu tenang aja, Bapak sehat-sehat aja. Nanti kalau kamu lahiran Bapak usahakan lama disini." Setelahnya mereka bertiga berjalan keluar. Galas hendak mengantarkan istrinya untuk pulang sementara Pak Ming mengisi perutnya yang sudah keroncongan.


***


Esok siangnya, setelah Pak Ming pamit untuk langsung menuju kota S. Galas dan Gayung kembali menemani Tiara yang tampak lemah. Sedari pagi, ia bahkan tak sanggup untuk bangun, mengangkat tangannya untuk makan pun tak bisa. Seolah kehilangan semua kekuatannya. Untung saja, Gayung langsung antisipasi berangkat lebih pagi ke Rumah Sakit karena ia sudah menebak, kondisi Tiara akan seperti ini. Ia tak khawatir, karena sudah terbiasa mendapati hal seperti ini.

__ADS_1


"Ra ... sa ... nya ... ka-ya mau ma ... ti," ucap Tiara lemah, sakit yang dirasakannya pun bertambah luar biasa. Sehingga, ia kembali pesimis akan kesembuhannya. Padahal semalam, ia mulai optimis untuk sembuh.


"Nggak. Mbak Tiara nggak boleh ngomong begitu. Inget, kan pesan Bapakku tadi ... memang seperti ini kalau penyakitnya baru diambil, jadi jangan khawatir, harus sabar ya ...," ucap Gayung sabar dan telaten menyuapinya.


Galas duduk disofa, memperhatikan setiap apa yang dilakukan istrinya disana. Ia seperti deja vu, kembali ke masa lalu. Kala dulu, Inge semakin bertambah lemah kondisinya dan kesakitan semakin menjadi setelah mendapatkan pengobatan dari ayah mertuanya. Hingga Gayung yang membantu mengurus adiknya itu menjadi sasaran kemarahannya. Apalagi saat itu ia sangat menolak pengobatan non medis yang diambil oleh ibunya untuk kesembuhan Inge. Galas muda mengatainya, mengumpatinya, bahkan mengancamnya jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada adik satu-satunya itu. Tapi Gayung kecil tidak marah, tak jua kesal. Ia tersenyum dan malah mengajaknya bercandha, bahkan mengajaknya taruhan kalau misalkan kondisi Inge membaik Galas harus bersedia menjadi pacarnya dan saking kesalnya ia malah bernazar akan menikahi Gayung jika Inge benar-benar pulih seratus persen. Ia benar-benar pesimis kala itu.


Ada senyum terselip pada bibirnya, mengingat kembali kenangan itu. Meski ia tahu, yang istrinya lakukan saat itu hanyalah untuk mengurai ketegangan yang menguasainya juga ibunya. Namun ia tak menyangka, kini, ia benar-benar menikahi wanita ini sesuai dengan nazarnya.


"Kak ... kenapa senyum-senyum?" Gayung menghampiri suaminya, duduk disebelahnya, begitu selesai menyuapi Tiara, yang memilih memejamkan mata kembali. Gayung tahu, Tiara berusaha meredam sakit yang tengah menderanya dengan luar biasa kini.


"Aku ingat kita dulu." Galas mengambil tangan istrinya dalam genggamannya dengan senyum yang tak kunjung memudar dari bibirnya. Gayung ikut tersenyum dan menyandarkan kepalanya pada lengan suaminya.


"Kamu dulu marah-marah sama aku ...." Gayung mendongak ke samping menatap suaminya yang tersenyum tipis mengingat kenangan itu.


"Aku kalut sekali waktu itu, Sayang. Aku pernah kehilangan seorang ayah dengan penyakit yang sama. Aku tidak ingin kehilangan adikku satu-satunya juga ...." Galas merengkuh pundak istrinya dalam pelukannya.


"Dan lagi ... waktu itu aku tidak setuju untuk membawa Inge ke tempat Bapak kamu. Tapi ibu terus kekeuh tidak ingin Inge dioperasi. Kamu tahu, kan ... Ayahku meninggal setelah menjalani operasi dan itu membawa trauma untuk kami."


"Aku tahu ... banyak kok yang awalnya meragukan pengobatan Bapakku. Rata-rata mereka inginnya sekali berobat langsung sembuh atau setidaknya ada perubahan. Tapi kamu tahu sendiri, kan kondisi pasien akan melemah setelah mendapat penanganan dari Bapakku. Kalau mereka tidak sabar, mereka pasti beralih mencari pengobatan lain ...."


Mereka terdiam, memandang Tiara yang terbaring dengan nafas teratur didepan meraka. Dalam hati mereka, mendoakan semoga Tiara bisa bersabar, menjemput kesembuhannya. Karena semua butuh proses. Seperti sakitnya yang datang perlahan, perginya pun tak serta merta.


***


Sudah mulai bosan? Bentar lagi end kok ...


Jangan lupa


Like


Komen


Vote

__ADS_1


😊😊😊


__ADS_2