Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 64


__ADS_3

"Uwuu ... Bu Bos memang yang terbaik!" Sasya kegirangan melihat pemberitahuan bahwa gaji telah masuk melalui sms m-bankingnya.


"Serius udah masuk, Sya?" teriak Jio yang langsung menarik laci dan mengambil ponselnya untuk mengecek kebenaran informasi yang diberikan anak buahnya itu. Begitupun dengan yang lain, yang tak mau ketinggalan kabar yang paling mereka tunggu-tunggu saat awal bulan. Jika bulan-bulan sebelumnya, mereka biasanya akan dibuat kecewa dengan pengumuman dari sang manager yang mengatakan gajian akan mundur sekian hari dan ada keringanan kasbon bagi karyawan baru. Karena gaji yang mereka terima belum sebesar karyawan lama.


"Alhamdulilah, saatnya membayar hutang, cicilan dan kawan-kawannya ...," ucap Jio dengan wajah nelangsanya yang kocak. "Sisa berapaaa iniii ... hahayy ...!"


"Dasar gembel lo ...," timpal Safa yang santai menyantap bubur ayamnya. "Kaya gue dong, mau tanggal tua tanggal muda, santaiii ...."


"Jangan samain lah Mbak, situ punya suami lah kitaaa ...." Jio merangkul Bimo, satu-satunya teman lelaki diruangan tersebut.


"Kita apa Pak Ketua?" tanya Bimo sembari menjilat es krim coklat pemberian pacarnya.


"Kita laki-laki, Broo ... kita itu justru memberi makan istri kita nanti, haha ...."


"Udah punya calon Pak Ketua?" ejek Bimo. Jio melirik seram pada anak buahnya yang gendut itu.


"B*ngke lu, mentang-mentang punya udah punya." Jio menoyor kepala bulat Bimo yang malah cekikikan dengan songongnya.


"Oh, jelas ya Bim," dukung Safa. "Masa kamu kalah sama Bimo, Ji." Safa memanas-manasi.


"Aku sebenarnya udah ada, sih." Jio menata jambulnya dengan wajah malu-malu.


"Siapa? Kenalin dong, jangan diumpetin," desak Safa.


"Tenang, belum saatnya. Nanti kalau sudah waktunya akan aku tunjukkan ke seluruh dunia," ucapnya percaya diri dengan senyum khasnya.


"Oke, aku tunggu Bro. Jangan gagal lagi kali ini, gak enak nih mau langkahin yang lebih tua," ucap Bimo masih dengan cengiran kesongongannya.


"Doa in ya, Bro." Jio memeluk badan gempal Bimo penuh dramatisasi.


"Doaku selalu untukmu, Pak Ketua," ucap Bimo tulus.


"Dasar dua pria aneh," gumam Sasya melihat kelakuan dua laki-laki didivisinya itu. Namun masih bisa didengar oleh Bimo.


"Woy, doaku juga selalu untukmu Mbak yang masih jomblo disana." Bimo tertawa renyah, mendapat sorotan tajam dari rekan setimnya itu.


"Gue enggak butuh doa lu, wahai Gajah bengkak," sinis Sasya dengan gaya alaynya.


"Wkwkwk ... biasa aja keleess." Bimo kembali menjilat es krim yang tinggal separo itu.


"Ih, najong tralala," sewot Sasya. Semenjak rekan-rekan kerjanya hampir semua memiliki kekasih dan menyisakan dirinya yang masih harus menerima takdirnya menjadi seorang jomblo sejati. Sasya sering merasa kesal dan kadang tak percaya diri berkumpul dengan kawan-kawannya.


"Selamat pagi," sapaan singkat dari sebuah suara yang baru pertama kali ia dengar suaranya, mengalihkan pandangan Sasya dari laptop yang baru dinyalakannya. Mata bulatnya terpaku menatap sosok pria berkemeja kotak-kotak yang memasuki ruangannya tersebut.


"Pagi," jawab hampir semua yang ada diruangan kompak dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Sasya. Karyawan baru kah? Batin hampir semua yang disana.


Penampilannya cukup rapi, meski kemejanya sedikit kusut namun masih enak dipandang. Terutama wajahnya, hanya saja badannya tidak terlalu tinggi dan bisa dibilang cukup mungil untuk seorang pria. Tapi tetap saja tidak ada dari mereka yang tidak terpesona dengan ketampanannya.

__ADS_1


"Ruangan Pak Ryan dimana, ya?" tanyanya.


"Disini Pak." Jio menunjuk sebuah ruangan dibelakangnya.


"Oh, makasih ya," ucapnya sopan namun terlihat tegas dan berwibawa, sebelum akhirnya melangkahkan kaki menuju ruangan yang ditujunya.


"Siapa, Ji?" tanya Safa. Jio yang memang tidak mengetahui apa-apa hanya mengendikkan bahunya.


"Ah, payah lu." Safa membereskan bekas sarapannya dan membuangnya ke tong sampah dibawah mejanya.


"Apa sih Mbak Safa sukanya poyah payah poyah payah." Jio bersungut-sungut dan mulai membuka laptopnya.


"Sana lu Ndut, kerja! makan mulu daritadi," usirnya ke Bimo yang masih asyik menghabiskan es krimnya.


"Siap Pak Ketua," jawabnya lalu kembali ke habitatnya.


"Kenapa kamu, Sya?" Bimo keheranan melihat rekan setimnya yang nampak tersenyum-senyum sendiri itu.


"Kepo!" Sasya menjulurkan lidahnya meledek Bimo yang cuek mengelap mulutnya dengan tisue. Membersihkan bekas kecoklatan yang menempel di sekitar bibirnya.


***


"Sayang, ada yang mau melamar kerja," ucap Galas cuek didepan divisi kepemimpinan Safa yang nampak berbaris didepan mejanya. Ada sekitar 10 orang yang berjajar disana dan kesemuanya adalah wanita. Hanya ada satu laki-laki yang ikut berbaris disana. Rio namanya, dia merupakan asisten baru yang dipilih Galas untuk membantu pekerjaan Ryan.


Gayung memandang suaminya tak mengerti. Memangnya kenapa kalau ada yang melamar kerja? Batinnya.


"Aku?" tanya Gayung meyakinkan pendengarannya.


"Iya, belajar," jawab Galas mengedipkan sebelah mata dengan senyum khasnya. Gayung dapat melihat Safa dan anak buahnya berusaha menahan senyum melihat drama romantis sang suami kepadanya.


"Oke, siap, Bos." Gayung mengambil map berisi pertanyaan yang akan diajukannya nanti dari tangan suaminya dan pamit meninggalkan ruangan menuju ruang yang dipakai untuk interview.


Ada sekitar lima orang pelamar yang datang siang itu. Ada tiga wanita dan dua pria yang sebagaian besar rekomendasi dari karyawan dikantornya. Awalnya Gayung sedikit gugup tapi lama kelamaan ia mulai bisa menguasai diri hingga interview berjalan lancar dengan diterimanya tiga orang diantara mereka berlima.


Setelah selesai, Gayung kembali ke ruangannya dan duduk disamping suaminya. Matanya menatap wajah-wajah tegang yang sedang berdiskusi dengan suaminya mengenai berbagai permasalahan yang sedang dihadapi dan mencari solusinya bersama-sama.


Gayung meneruskan pekerjaannya dan sesekali menanggapi jika suaminya meminta pendapatnya.


Tak terasa waktu bergulir cepat, sudah hampir 3 jam namun diskusi belum juga usai. Gayung melirik ke depan, menatap ke arah kaki Safa juga anak buahnya yang bergantian ditekuk karena lelah berdiri dalam waktu yang lama. Gayung melirik suaminya, ingin komplain tapi tak berani bersuara. Ia pernah merasakan diposisi mereka dan suaminya bisa betah berdiskusi seperti ini lima sampai enam jam. Ibaratnya ini baru setengaj jalan.


Gayung kadang berpikir, kenapa suaminya tidak menggunakan ruang meeting saja daripada menyiksa karyawannya dengan berdiri lama seperti ini. Atau kalau tisak, diruangan mereka kan ada sofa, kenapa tidak menyuruh mereka untuk duduk saja disana. Oh, mungkin itu tidak akan cukup menampung jumlah mereka. Pasti ada yang harus mengalah berdiri jika itu dilakukan.


Gayung melihat Ria yang berdiri gelisah, sesekali ia memegang perutnya yang mulai membuncit. Desahan keluar lirih dari bibirnya melihat suaminya yang tidak peka dengan keadaan karyawannya.


"Aku mau solat," ucapnya lirih yang diangguki singkat suaminya. Ia berjalan keluar ruangan menuju telefon didekat loker untuk menghubungi suaminya.


"Halo," jawab Galas.

__ADS_1


"Kak, kamu masih lama diskusinya?" tanya Gayung yang tak enak menegur suaminya didepan karyawannya sendiri.


"Kenapa?" Galas mengerutkan keningnya demi mendengar pertanyaan istrinya. Bukannya dia mau solat? Batinnya.


"Kenapa diskusinya nggak diruang meeting aja, sih Kak. Kasihan mereka berdiri berjam-jam, Kaka nggak lihat itu Mbak Ria daritadi gelisah, mukanya juga agak pucat. Dia kan lagi hamil ...."


Galas menatap karyawan yang dimaksud istrinya.


"Ria, kamu sedang hamil?" tanyanya masih dengan gagang telepon menempel ditelinganya.


"Iya, Pak," jawab Ria sopan.


"Berapa bulan?"


"Jalan tiga Pak."


"Kamu lemas atau ada pusing?" tanya Galas lagi.


"Sedikit, Pak," jawab Ria jujur. Ia memang sedikit mual juga setelah berdiri lama, apalagi AC diruangan Bosnya ini terlalu dingin baginya.


"Oh ...." Galas berpikir sejenak sebelum meminta diskusi dilanjutkan diruang meeting yang lebih nyaman.


"Diskusi kita lanjutkan diruang meeting saja," ujarnya kemudian.


"Baik, Pak," jawab mereka kompak dan bergegas menuju ruangan yang dimaksud Bosnya.


"Maaf, Sayang. Tadinya aku hanya ingin berdiskusi sebentar saja tapi ternyata banyak sekali masalah didivisi mereka," ucap Galas setelah hanya ada dia seorang diruangannya.


"Hemm." Sejujurnya Gayung ingin menjawab panjang lebar namun diurungkannya. Mana ada suaminya mengajak berdiskusi sebentar, atau mungkin baginya sebentar padahal sebenarnya sudah berjam-jam lamanya.


"Kak, kamu belum solat, mereka juga belum. Kasih waktu, ya ... mereka pasti gak enak bilang sama kamu," pesan Gayung.


"Terima kasih, Sayang sudah mengingatkan."


***


Slow up date ...


Ide mulai selowwww ...


Jangan lupa like


Komen


Vote


❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2