Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 6


__ADS_3

Hujan. Gayung sungguh menyukai hujan dimalam hari. Namun tidak dipagi hari. Karena hujan membuatnya enggan meninggalkan kasur empuknya, selimut tebalnya dan kehangatan di dalam kamarnya. Ia menjadi malas untuk mandi, apalagi menapaki jalan becek menuju tempat kerjanya.


Ia meminta waktu lagi pada dirinya sendiri untuk menikmati hujan dari jendela kamarnya. Lima menit lagi, lima menit lagi, sampai waktu mengharuskannya segera bergegas tanpa kompromi. Dalam satu gerakan cepat, ia menyemangati dirinya sendiri dan berlari ke kamar mandi. Ritual mandi berjalan cepat tak sampai lima menit. Bibirnya bergetar menahan dingin yang menerpa tubuh mungilnya. Segera ia mengenakan kemeja yang sudah ia siapkan semalam untuk bekerja hari ini. Tak lupa berdandan untuk mempercantik diri. Gayung menyukai make up, ia suka terlihat cantik dan dikagumi. Kenapa? karena ia ingin membuktikan bahwa ia juga bisa secantik mereka-mereka yang dulu pernah menghina penampilannya.


Gayung menuruni tangga, sebelum berangkat ia berpamitan dulu dengan Mbak Nabila. Orang yang telah mencarikannya pekerjaan sekaligus pemilik kos-kosan yang ia tinggali sekarang.


"Mbak, Gayung berangkat dulu." Gayung mencium tangan Nabila.


"Sarapan dulu, Yung."


"Gaklah Mbak, sudah siang." Ia bermalas-malasan terlalu lama tadi sehingga menghabiskan banyak waktunya.


"Ya sudah, hati-hati, Yung." Nabila kembali menyuapkan mie instan untuk Roby, anak semata wayangnya yang berusia tiga tahun.


"Ih, Roby tiap hari makan mie terus." Gayung menowel si gembul.


"Iya, Yung. Mbak sebenarnya juga khawatir tapi dia nggak bisa makan selain mie instan."


"Mbak sudah konsultasi sama Dsa ( Dokter Spesialis Anak)?"


"Belum sih, kata bapaknya biarin aja yang penting anaknya sehat ini."


"Kok gitu ... tapi menurut aku sih mending konsultasi deh Mbak. Karena mungkin efek sampingnya bukan sekarang tapi nanti."


"Iya juga sih."


"Ya udah, Gayung brangkat dulu ya, Mba."


Gayung bergegas pergi, membuka payung biru tua bertuliskan nama bank terkenal di negara ini. Menerobos rintik rintik hujan yang tak kunjung mereda sejak semalam.


Gayung melangkah dengan langkah lebar. Celana panjangnya sengaja ia lipat agar cipratan air tidak menodainya. Jarak Rumah Nabila dan kantornya tidak terlalu jauh. Tak sampai lima belas menit berjalan kaki ia sudah sampai.


"Selamat pagi semuanya," sapanya ramah ke semua rekan-rekan kerjanya yang telah datang lebih dahulu. Beberapa anak membalas sapaannya dan beberapa menawarinya untuk sarapan.


"Mbak Ria sudah sehat?" Gayung melayangkan pandangan pada sosok cantik yang sedang menikmati bubur ayam.


"Alhamdulilah, mendingan. Sarapan, An."


"Iya makasih. Syukur deh kalau Mbak sudah sehat." Binar bahagia terpancar dari mata sipitnya.


Seperti itulah Gayung, kesehatan seseorang memberikan kebahagiaan sendiri untuknya. Ia terbiasa melihat orang-orang datang dengan wajah putus asa kepada bapaknya, mencari jalan kesembuhan dari sakit yang tuk kunjung menemukan obatnya. Ia hanya bisa membantu menguatkan, memberi semangat bahwa mereka bisa sehat kembali seperti sedia kala.

__ADS_1


"Andaraaa," panggil Jio lembut.


"Iya Mas?" Gayung menoleh ke sumber suara.


"Kamu ke ruangan Pak Galas yah, awasin Bu Ita."


"Maksudnya gimana Mas?" Gayung kurang paham.


"Itu, Bu Ita mau bersih-bersih di ruangan Pak Galas. Kamu awasin aja."


"Kan sudah ada cctv, kok pakai diawasi segala, Mas?" tanya Gayung heran.


"Yah ... Pak Galas maunya begitu Sayang. Bu Ita 'kan masih baru dia belum terlalu dipercaya."


"Aku kan juga masih baru Mas, yang lain saja ya," tolaknya halus.


"Sasya sama Bimo ijin berangkat siang, macet di jalan sayaanng, banjirrr." Jio mulai bereksplorasi memainkan rambut ikal Gayung yang tak sempat ia catok hari ini.


"Ih, Mas Jio mah kebiasaan, deh." Gayung menepis tangan Jio.


"Ya udah sana, kamu tinggal duduk manis aja di dalam."


"Aku ada urusan urgent di atas. Yuk ... Aku mau bukain pintu, Bu Ita sudah nungguin tuh."


Gayung mengikuti langkah Jio. Benar saja, wanita paruh baya itu sudah menunggu di depan pintu dengan alat tempurnya. Sapu, ember beserta pel, kain lap, dan botol cairan pembersih kaca.


Gayung masuk dengan langkah canggung. Mata sipitnya menyapu setiap sudut ruangan. Di salah satu sudut bagian atas ia mendapati beberapa monitor yang menampilkan kegiatan para karyawan dalam layar hitam putih dan disampingnya ada sebuah televisi berukuran 29 inch.


Gayung menahan berat badannya pada meja, matanya memperhatikan sosok perempuan paruh baya yang sedang mengelap meja.


"Bu Ita, aku bantu yah?" Ia merasa tak enak hati hanya berdiri mematung saja sementara Bu Ita sibuk melakukan tugasnya.


"Jangan atuh, Neng. Ini kan tugasnya Ibu," tolak Bu Ita halus dengan logat sunda yang kental.


"Gak papa, Bu." Tak menggubris penolakan Bu Ita, Gayung mengambil sapu dan mulai membantu.


"Aduh, nanti dimarahin gimana?" Bu Ita terlihat ketakutan membuat Gayung terkekeh melihatnya.


"Nggaklah, Ibu tenang aja. Nanti saya yang bertanggung jawab."


"Tapi Neng, Ibu masih baru disini, belum dipercaya sama Pak Galas, bersih-bersih juga masih diawasi, kalau Neng bantu nanti malah gimana-gimana."

__ADS_1


"Ya udah, aku bantu nyapu saja kok, ini tanggung .... "


"Ya sudah kalau begitu, saya langsung ngepel saja."


Gayung mempercepat gerakan menyapunya supaya cepat selesai. Namun sebuah pigura foto di atas meja menarik perhatiannya. Foto seseorang yang sangat ia kenal. Gayung mendekat dan mengambil pigura itu hati-hati dengan kedua tangannya.


"Inge sama Ibu? Berarti ini...?" gumamnya sembari jemari tangannya menyapu sosok lelaki dalam foto tersebut. "Kak Galas ...?"


Nama itu lolos dari bibirnya. Pantas saja ia merasa seperti pernah melihat Bos tampannya itu. Senyum mengembang sempurna dari bibir mungilnya. Sepuluh tahun berlalu, Galas terlihat sangat berbeda dari sosok yang dikenalnya dulu. Ia jauh lebih tampan, dewasa, berkharismatik dan berwibawa. Hanya satu yang tetap sama, sikap dinginnya. Gayung mencebikkan bibirnya mengigat kenangan masa lalu mereka. Kira-kira Kak Galas masih mengingatnya tidak yah? Pertanyaan itu tiba-tiba terbersit dihatinya. Selama tiga bulan bekerja disini, ia belum pernah bertatap muka secara langsung dengan sang Bos. Selain waktu itu, saat ia flu dan memakai masker. Setelah itu tidak pernah lagi.


"Sedang apa kamu?" Sebuah suara mengagetkannya, membuat pigura itu nyaris saja terlepas dari genggamannya.


"Eh? Haha ... Maaf Pak, saya sedang membantu Bu Ita bersih-bersih." Gayung langsung menguasai diri, memasang senyum ramah sembari memperagakan gerakan membersihkan kaca pada pigura di genggamannya.


Mati aku! Batinnya.


Gayung kembali melayangkan sebuah senyuman termanisnya saat meletakkan potret itu kembali pada tempatnya. Ia menyadari bahwasanya atasannya itu terus memperhatikannya dengan tatapan yang sulit terbaca. Seperti nampak marah tapi tidak marah, atau jangan-jangan Galas akan langsung memecatnya karena ia telah membodohinya dengan berakting sekarang.


"Biar saya saja, Neng. Maaf Pak, Neng Andara cuma mau membantu saya, tadi saya sudah melarangnya." Bu Ita mengambil alih sapu yang awalnya ada dalam genggaman Gayung. Galas tak memberi respom, masih pada posisi semula, menatap Gayung dengan tatapan tajam. Gayung yang mendapat tatapan seperti itu menjadi salah tingkah.


Apa dia ingat padaku? Batinnya.


"Sa ... saya permisi dulu, Pak." Gayung membungkuk sopan sebelum meninggalkan ruangan. Ia merasa tugasnya telah selesai. Karena sang empunya ruangan juga sudah hadir disana.


"Tunggu, siapa nama kamu?" Gayung yang sudah melangkah mencapai pintu kaca itu menghentikan langkahnya.


"Nama saya ... An-dara, Pak," Gayung membalikkan setengah badannya, tak lupa menampilkan senyum manisnya.


"Ya sudah." Galas mengisyaratkan Gayung untuk pergi. Entah apa yang dipikirkannya, Bu Ita melihat Bos mudanya itu terlihat menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.


BERSAMBUNG ...


Jangan lupa


LIKE


KOMEN


VOTE


😀😀😀

__ADS_1


__ADS_2