Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 35


__ADS_3

Mereka berjalan menuruni tangga, menuju lantai bawah yang menjadi ruangan mereka. Berkali-kali Gayung menarik tangannya dari genggaman Galas, karena ia merasa kurang nyaman jika terlalu mencolok menunjukkan kedekatan dirinya dengan sang Bos pada seluruh kantor. Ia menyadari bahwa tak semua menyambut baik hubungan mereka. Pasti ada saja satu dua yang berkomentar nyinyir tentang mereka.


"Kenapa?" Galas mengambil tangan putih itu kembali dalam genggamannya. Namun Gayung berusaha menarik keluar tangannya. Sehingga jadilah saling tarik menarik di antara mereka.


"Kak Galas...," protes Gayung lembut namun penuh penekanan dalam ucapannya. " Nggak enak dilihat orang ...."


"Memangnya kenapa? Toh, mereka sudah tahu hubungan kita." Galas tetap mempertahankan tangan Gayung dalam kekuasaannya.


"Ya, tapi kan ...." Gayung menghentikan kalimatnya saat dirinya mendapati seorang wanita cantik tengah memperhatikan tingkah konyol mereka berdua dari dasar tangga. Galas yang melihat Gayung terdiam, mengikuti arah mata sipit gadis itu memandang tanpa melepaskan genggamannya pada tangan Gayung.


"Tiara, kamu sakit?" tanya Galas, wajah cantik wanita itu tampak pucat.


"Nggak kok, aku baik-baik saja," jawabnya tanpa senyum kemudian berjalan melewati mereka menuju ruangannya yang terletak dilantai dua.


"Kak, kayaknya Mbak Tiara lagi sakit." Meskipun Tiara sering bersikap sinis padanya, Gayung mencoba mengerti, butuh waktu bagi wanita itu untuk menerima hubungannya dengan Galas.


"Nanti aku hubungi Santos untuk mengantarnya periksa," jawab Galas sembari membawa Gayung melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti.


"Kak Galas." Gayung kembali melayangkan protesnya karena Galas yang masih saja menggandeng tangannya. Beberapa kali ia terpaksa melemparkan senyum canggungnya, saat berpapasan dengan karyawan lain. Sementara Galas nampak cuek dan tidak terlalu mempedulikan pandangan mereka. Malahan bibirnya asyik bersiul ria menandakan suasana hatinya yang tengah berbahagia.


"Hai, Bos," sapa Jay, laki-laki itu seperti memaksakan senyumnya di wajah kusutnya. Tidak ada keceriaan dan kejahilannya seperti biasa, yang biasanya pasti akan dengan semangat menggoda Bosnya yang tengah dimabuk cinta itu.


"Jay, ada masalah?" tanya Galas, mereka kini sudah berada di tengah lorong yang memisahkan ruangan Galas dan ruangan Gayung.


"Cuma sedikit kurang enak badan aja, Bos," jawabnya lesu, namun masih memaksakan senyumnya. Setelahnya ia pamit untuk kembali ke ruangannya. Kini tinggal mereka berdua saja dilorong itu setelah kepergian Jay.


"Kak, mau sampai kapan kaya gini? Aku, kan harus kerja lagi." Gayung menunjuk tangannya yang masih dikuasai Galas, dengan dagunya. Bukannya menjawab Galas malah menarik sudut bibirnya, menampilkan senyum jahilnya yang selalu tampak menawan dimata Gayung.


"Ya, sudah. Aku akan mengantarmu," ucapnya dengan sengaja membuat wajah cantik didepanya kembali melayangkan protes.


"Ya ampun Kak Galas, tolonglah jangan gila. Aku bukan anak kecil, lagipula aku tinggal buka pintu ini sudah sampai tempatku." Gayung benar-benar takut Galas akan melakukan hal konyol itu dan membuatnya semakin menjadi pusat perhatian nantinya. Galas menahan tawanya melihat reaksi Gayung yang memang sudah diperkirakannya.


"Ya, sudah ... cium dulu ...." Galas malah semakin ingin menggodanya. Ia tahu Gayung tidak akan mungkin melakukan apa yang dia minta.

__ADS_1


"Ciuuum?" Dan benar. Gadis itu membeliakkan matanya dan siap melayangkan protes selanjutnya. Tapi sebelum itu terjadi, Galas lalu meneruskan kata-katanya yang belum selesai diucapkannya tadi.


"Cium tangan dulu, maksudnya." Galas terkekeh senang, karena pancingannya berhasil. "Jangan mesum, dong," imbuhnya yang langsung mendapat hadiah cubitan yang cukup keras dipinggangnya hingga membuatnya mengaduh kesakitan. Kali ini, Gayung yang tersenyum puas penuh kemenangan.


"Astaga, becanda, Sayang." Tangan Galas mengelus pinggangnya bekas cubitan Gayung.


"Ishh ... Kak Galas ini dikantor, jangan panggil sayang-sayang." Gayung protes lagi.


"Disini, kan cuma ada kita berdua, Sayang." Galas gemas juga mendengar Gayung protes terus. "Lagipula kamu juga panggil Kakak ...."


"Lha terus, Kak Galas mau aku panggil Bapak aja," tawar Gayung dengan polosnya.


"Astaga, memangnya aku bapak kamu," geram Galas mendengar penawaran Gayung. "Setidaknya kalau lagi berdua, romantis sedikitlah, Sayang."


"Ya ini, kan dikantor Kak Galas. Sudah, ya, aku kerja dulu." Ia merasa tak enak hati terlalu lama meninggalkan mejanya.


"Ya, sudah." Galas mengulurkan tangannya dan tanpa pikir panjang Gayung menerima tangan itu lalu menciumnya kilat. Ia tak ingin berdebat lagi, karena banyak pekerjaan menunggunya.


"I love you," ucap Galas sendu. Namun Gayung malah terdiam dan bingung harus menjawab apa. Bibirnya begitu sulit untuk mengucapkan balasan dari pernyataan Galas. Bukan karena tak cinta, tapi ia masih terlalu malu untuk mengatakan itu di depan Galas.


"Iya?" Galas mengulang jawaban Gayung sambil terkekeh. "Astaga, Gayung-Gayung, jawaban apa itu?"


***


Gayung terduduk didepan kantor dengan bersandar pada tembok, menunggu Galas. Ia melihat jam tangan perak yang bertengger manis pada pergelangan tangannya. Sudah dua puluh menit dan kekasihnya itu belum keluar juga. Gayung beranjak berdiri, bermaksud menemui Galas diruangannya. Namun baru saja ia membuka pintu kaca itu. Sebuah pemandangan menyakitkan membuatnya terkesiap dan mengurungkan niatnya masuk kedalam kantor lagi.


"Sayang." Galas mengejarnya keluar. "Jangan salah paham dulu." Ditahannya tangan mungil itu, hingga pemiliknya berbalik dan menghadap ke arahnya. Gayung menghembuskan nafas dan mencoba berfikir positif. Meskipun tetap saja, ia tak rela wanita lain memeluk kekasihnya.


"Aku tidak salah paham," jawabnya mencoba tersenyum. Namun ternyata begitu sulit menutupi rasa cemburu yang terlanjur menyeruak dalam hatinya.


Matanya menangkap wajah pucat yang tengah membuka pintu dibelakang Galas. Tak bisa ditutupi, ia tak bisa menyembunyikan rasa tak suka yang tiba-tiba hadir dihatinya. Ia masih bisa menerima atas perlakuan sinis wanita itu kepadanya tapi tidak saat wanita itu memeluk Galas didepan matanya.


"Tenang saja, aku tidak akan merebut Galas dari kamu," ucap Tiara dingin, tanpa ekspresi. Kemudian bergerak ke depan menuju mobilnya yang terparkir didepan kantor.

__ADS_1


"Kak Galas nggak antar pulang Mbak Tiara? Bukannya dia lagi sakit?" Anehnya ia masih saja peduli pada wanita yang dicemburuinya itu.


"Kamu yakin? Ikhlas, kalau aku mengantar pulang Tiara?" sindir Galas dengan senyum usil, ia melihat jelas kecemburuan di mata Gayung.


"Aku nggak ikhlas, sih, tapi ... aku juga kasihan," jawab Gayung jujur dengan wajah polosnya.


"Ya sudah, kalau begitu tidak usah. Ayo kita juga pulang," ajaknya sembari meraih tangan Gayung dan seperti biasa menautkannya dengan jemarinya. "Jadi, kan mau mampir ke supermarket?"


"Jadi, Ehm ... tapi Kak Galas, hanya karena Mbak Tiara sakit memangnya kamu harus peluk-peluk dia gitu." Akhir keluar juga bentuk kecemburuannya dalam bentuk kata-kata.


"Dia yang memelukku, bukan aku yang memeluknya," sanggah Galas. Dalam hati ia sebenarnya senang melihat kecemburuan yang Gayung tunjukkan padanya.


"Tapi kamu senang, kan?" Galas ingin tertawa melihat gadisnya yang terlihat cemberut.


"Astaga, tidaklah, Sayang. Aku senangnya kalau dipeluk sama kamu." Galas melepaskan tautan jemari mereka dan beralih memeluk pinggang ramping Gayung sekilas. Sebelum akhirnya membukakan pintu mobil untuk kekasihnya itu.


Setelah Gayung sudah duduk manis, ia menutup pintu dan memutari mobilnya, masuk ke posisi pengemudi.


"Jangan lupa pakai seat beltnya." Galas mengingatkan Gayung sembari membuka kancing kemeja putih yang dikenakannya.


"Kak Galas ngapain buka-buka baju?" seru Gayung kaget, reflek menutupi wajahnya menggunakan telapak tangannya. Galas tergelak melihat reaksi Gayung.


"Aku cuma mau ganti pakai Kaos, Sayang. Takutnya parfum Tiara menempel dikemejaku, aku tidak mau membuatmu cemburu." Galas telah selesai mengganti bajunya dengan kaos putih yang diambilnya dari jok belakang mobilnya.


"Ishh ...." Gayung mendesis pelan, namun senyum tersungging juga dibibir merah mudanya melihat sikap manis Galas kepadanya. Begitupun Galas yang tampak menyunggingkan senyumnya. Tadinya, ia sudah khawatir Gayung akan marah dan ia harus bersusah payah merayunya. Padahal mereka baru saja berbaikan kembali. Yang paling penting dan menjadi fokusnya adalah jangan sampai masalah sepele menggagalkan rencana yang sudah dirancangnya. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


***


Ya begitulah ...


Sebenarnya gak mau update, karena selalu nggak sreg terus tiap ngetik ...


Semoga masih bab ini masih bisa menghibur kalian-kalian ya ...

__ADS_1


Jangan lupa like & komen and vote ... thks.


__ADS_2