
Raut wajah bahagia memancar di wajah Galas dan Gayung setelah acara akad nikah berhasil mereka lalui dengan kidmat dan lancar siang ini. Akhirnya kini mereka sah menjadi pasangan suami istri. Wajah haru dan berseri-seri juga ditunjukkan oleh keluarga dua mempelai. Ibu Gayung dan Galas nampak berpelukan, mereka tidak pernah menyangka kalau mereka akan menjadi besan sekarang. Begitupun Inge yang langsung memeluk kakaknya sekaligus kakak ipar barunya itu dengan perasaan bahagia yang membuncah.
Acara dilanjutkan dengan resepsi pernikahan yang dilakukan pada malam harinya. Ingelah yang mempersiapkan dan mengatur semuanya bersama Bagas, kekasihnya. Mengingat Gayung yang menggilai film twilight, Inge pun memutuskan memilih tema outdoor dengan suasana wedding forest persis seperti pernikahan Bella Swan dan Edward Cullen yang fenomenal itu.
Dekorasi untuk pengantin begitu cantik dengan nuansa putih dengan berhias bunga-bunga dengan warna serupa. Sementara untuk tempat duduk tamu, dipilih kursi balok kayu dengan sandaran mirip ranting pohon. Meja jamuan keluarga pun berhias bunga kering berikut semak-semak dengan bunga-bunga dan lilin yang romantis. Lalu, langit-langitnya dihias dengan ronce bunga. Semua tampak menakjubkan, sampai tak hentinya Gayung melebarkan senyumnya sepanjang acara berlangsung. Karena tak pernah menyangka, pernikahan idamannya benar-benar akan terwujud seperti hari ini, bersanding dengan orang yang sangat ia cintai.
"Kak Galas, terima kasih," bisik Gayung tepat ditelinga suaminya.
"Hadiahnya mana?" goda Galas.
"Hadiah apa?" tanya Gayung tak mengerti.
"Kiss," bisik Galas sembari menyodorkan pipinya.
"Ehm ... nanti, ya," bisik Gayung sembari menyembunyikan wajahnya dibalik pundak suaminya itu. Kalau ia melakukannya sekarang, bisa-bisa kembali menjadi bahan ledekan keluarganya.
"Kak, jangan lupa komisinya." Inge mendekat untuk menggoda pengantin baru yang nampak sangat berbahagia itu.
"Biaya pernikahanmu dengan Bagas, Kakak yang tanggung semua," jawab Galas dengan senyum lebar yang selalu menghias bibirnya seharian ini.
"Ah, serius? Ih, Kak Galas abis nikah jadi makin ganteng aja, deh." Inge memeluk Kakak laki-laki satunya itu dengan wajah sumringah. "Sekalian bulan madunya, dong." Inge terkekeh.
"Hemm, dikasih hati minta jantung," sindir Galas, namun ia tak serius saat mengatakannya. Ia sangat berterima kasih pada adik kesayangannya itu. Karena sudah bekerja keras mempersiapkan pesta pernikahannya yang begitu meriah dan luar biasa, yang paling penting semua terlaksana dengan lancar. Bahkan sampai Gaun pengantin dan Jas yang dipakainya juga istrinya, Ingelah yang memilihkannya.
"Kakak ipar, semangat, ya buat malam pertama," bisik Inge jahil. Menilik dari ekspresi istrinya yang langsung memerah, Galas sudah bisa menebak apa yang adik bawelnya itu bisikkan pada istrinya yang begitu cantik hari ini itu.
"Apa, sih," lirih Gayung malu-malu menjawab selorohan Inge yang seharian ini selalu meledeknya habis-habisan. Bahkan Ibu, Ayah, Bapak sampai Nabila ikut mem"buli"nya hari ini.
"Inge, Jangan ganggu istriku. Sana kamu bernyanyi saja untuk kami," hardik Galas sembari menarik pinggang istrinya lebih mendekat dan mendorong pelan adiknya ke arah panggung music.
__ADS_1
"Ya ampun. Udah nggak tahan, ya. Sabar, sabar Kak. Tapi memangnya Kak Galas sudah sehat, sanggup ...." Kata-kata Inge terputus karena Galas lebih dulu membekap mulutnya yang kelewat cerewet.
"Hmmmmt. Ih, Kakak ipar ... Kak Galas jahat sama aku," adunya pada Gayung.
"Inge, kamu bisa diem nggak, sih ... Aku malu sendiri dengernya. Terus jangan panggil aku Kakak ipar...." Gayung merasa tidak nyaman dengan panggilan baru Inge kepadanya yang menurutnya aneh. Galas dan Inge tertawa geli mendengar keluhan Gayung yang begitu frustasi saat mengungkapkannya.
"Aduh, duh ... Kakak ipar, kamu ucuuu bangett cih." Inge malah semakin ingin menggoda Gayung. Namun tatapan tajam Kakaknya yang begitu tampan dengan Jas hitam itu akhirnya membuatnya menyingkir segera menuju panggung music untuk mempersembahkan sebuah lagu untuk sang mempelai.
'Kak, kamu masih sakit?" tanya Gayung setelah Inge sudah tidak ada diantara mereka. Ia masih mengkhawatirkan keadaan Galas yang tadi siang masih mengeluh kepalanya berat.
"Kenapa? Kamu takut aku tidak sanggup melakukan malam pertama kita?" Galas melirik dengan tatapan jahil, namun ia malah mendapat hadiah pukulan dari istrinya yang langsung cemberut itu.
"Aw ... sakit, Sayang." Galas mulai drama, padahal pukulan Gayung tidaklah seberapa.
"Bisa nggak, sih, Kak ... kamu nggak usah ikut-ikutan mereka. Ngeselin banget, sih ... aku, kan malu."
"Iya, iya, maaf." Galas mengerti jika istrinya itu sangat pemalu dan merasa sedikit risih. Karena hampir semua keluarga menggoda mereka. Berbeda dengannya yang lebih santai, cuek dan tidak menanggapi ucapan mereka.
"Galas, masih pusing?" tanya Dian yang melihat menantunya tengah meminum obat.
"Sedikit, Bu," jawab Galas sembari memutar kepalanya ke kiri dan kanan. Mengurangi rasa pegal pada lehernya.
"Kalau masih pusing, malam pertamanya ditunda dulu. Jangan terlalu buru-buru, besok-besok Gayung masih jadi istri kamu ini." Bu Sari yang biasanya tak banyak bicara ikut berceloteh mengenai malam pertama. Membuat kepala Gayung ikut berdenyut menahan malu. Galas tak menjawab hanya melirik geli pada istrinya yang tampak frustasi mendengar ledekan tentang malam pertama lagi dan lagi.
"Gayung juga, jangan maksa-maksa Galas buat malam pertama. Ingat, Galas belum sehat." Dian ikut menambah-nambahi dengan sengaja, tawanya meledak disusul Bu Sari yang saling berangkulan dengan besannya itu. Begitu pun Galas yang tak bisa lagi menahan tawanya melihat wajah istrinya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Ibu berdua, mending buruan pulang, deh," usirnya gemas.
"Iya, iya ... ibu pulang. Inget pesan Ibu, ya." Dian masih saja terus menggodanya.
__ADS_1
"Sudah, sudah, kasihan Gayungnya, Bu Dian," sela Bu Sari.
Mereka pun akhirnya pulang dan kini hanya tinggal mereka berdua di kamar itu. Gayung bergegas ke kamar mandi, karena sudah tidak tahan dengan badannya yang terasa lengket.
"Jangan lama-lama, Sayang," goda Galas dengan senyum jahilnya yang hanya mendapat lirikan tajam dari istrinya itu.
Cukup lama Gayung berendam air hangat di dalam bath up. Ia sebenarnya ingin menenangkan dan mempersiapkan diri, kalau-kalau Galas mau meminta haknya malam ini. Ia sedikit takut menghadapi malam pertama yang katanya menyakitkan itu. Entahlah, ia hanya takut mengecewakan suaminya saja.
"Sayang." Terdengar suara ketukan di pintu kamar mandi.
"I-iya, sebentar," jawab Gayung gugup.
"Jangan lama-lama," ucap Galas lagi.
"Iya." Gayung segera keluar dari bath up, mengeringkan tubuhnya dan mengenakan pakaian yang ia beli sebelum pulang kampung. Sebuah piyama lengan panjang dengan motif kotak-kotak warna coklat, orange dan putih yang begitu imut modelnya. Ia tidak mau memakai baju tidur sexy yang Ibu belikan untuknya dari Singapura yang menurutnya sangat norak dan membuatnya bergidik ngeri, bahkan sebelum memakainya.
"Sayang, kenapa lama sekali?" tanya Galas sembari menarik tangan Gayung, dengan posisinya yang sudah berbaring ditempat tidur. Gayung sedikit kikuk saat naik ke atas dan membaringkan tubuhnya disamping Galas yang langsung menariknya ke dalam pelukannya.
"Capek?" tanya Galas sembari mencium pipi istrinya yang begitu menggodanya itu.
"Hemmm." Gayung melepaskan tangan Galas yang memeluknya dan mematikan lampu kamar. Ia tidak bisa tidur jika lampu masih menyala terang dan ia tidak mau Galas melihat ekspresi gugupnya yang memalukan itu.
Setelahnya Galas kembali menariknya kedalam pelukannya. Gayung menggerakkan tubuhnya membelakangi Galas, sehingga kini Galas memeluknya dari belakang. Situasi ini benar-benar membuat jantungnya menjadi tidak sehat. Dadanya berdetak begitu cepat dan tak beraturan seperti baru saja lari ratusan kilometer.
"Kamu mau sekarang?" bisik Galas sendu, membuat bulu kuduknya meremang saat hembusan nafas hangat Galas mengenai telinganya.
***
Lanjutan malam pertamanya besok lagi, ya ...
__ADS_1
Author belum siap ... wkwkwk ...
Jangan lupa like & komen ... 😁😁😁😁