
Jay menyodorkan biodata nama-nama yang akan mengikuti interview seleksi pencarian calon istri idaman, dihadapan Galas, pagi menjelang siang itu. Galas mengamati satu persatu nama yang tertera disana. Tak banyak yang mengikuti, mengingat begitu sempurnanya sosok calon istri yang diinginkannya. Sebagian besar karyawati memilih mundur cantik sebelum bertanding. Lebih tepatnya memilih tahu diri bahwa mereka jauh dari standar istri idaman yang diinginkan Bos mereka. Namun begitu, entah apa yang membuat Galas harus membolak-balikkan kertas ditangannya berulang-ulang dengan ekspresinya yang sama sekali tak terbaca.
"Cuma ini?" tanya Galas sembari melemparkan data ditangannya ke atas meja. Sementara ia sendiri melemparkan punggungnya pada kursi kekuasaannya. Matanya memicing pada layar monitor di sudut atas ruangannya. Entah siapa yang mendapatkan fokus perhatiannya dari sekian banyak aktivitas karyawan yang terkotak-kotak pada layar hitam putih itu.
"Yah wajar sih ... kriteria kamu terlalu tinggi, Bos, yang wajahnya pas-pasan mana berani maju." Jay ikut menjatuhkan dirinya di atas sofa, setelah sebelumnya berdiri menunggu reaksi Bosnya.
Hah, apa dia tidak tertarik denganku? ... Padahal ia masih menyimpan fotoku di rumahnya. (Galas)
Mata sipit itu masih berfokus diujung sana. Sementara si pencuri perhatian terlihat asyik berdiskusi sambil sesekali tertawa. Galas terlihat menyeringai sinis, saat beberapa kali gadis itu menepis tangan jahil salah satu karyawan senior yang mencoba memainkan ujung rambutnya. Galas menggigit ujung jari jempolnya, ia mencoba mengingat sesuatu yang tiba-tiba mengusik pikirannya.
"Jay, coba lihat selebaran yang kamu berikan ke karyawati kemarin?" pintanya, mengusik kekhusyukan Jay menonton breaking news penangkapan anggota DPR karena kasus korupsi disalah satu stasiun televisi khusus penyuguh berita itu.
"Buat apa?" tanya Jay keheranan.
"Berikan saja, jangan banyak tanya," ucap Galas tak sabaran.
"Okey Bos! Siap Bos!" Jay mengikuti jargon acara televisi yang sering menjadi hiburan istrinya kala sore hari. Ia bergegas meninggalkan ruangan Bosnya setelah sebelumnya mengatakan akan mengirimkannya melalui wechat.
Tak sampai lima menit, Galas mendapatkan apa yang diinginkannya. Sebuah pesan dari Jay membuatnya segera mengotak-atik membuka pesan itu. Hanya dua kata yang ia cari disana.
"Rambut ... lurus ...," gumamnya.
"Apa karena ini? Atau karena ia tak percaya diri ... atau karena memang ia tidak tertarik denganku ... tidak! mana mungkin ada yang tidak tertarik denganku?" ucap Galas penuh percaya diri. "Berani sekali dia menyia-nyiakan kesempatan yang sudah aku berikan ... astaga! Pasti ada yang salah dengan diriku ... kenapa aku harus kecewa hanya karena bocah tengil itu tidak ikut. Memang apa alasan awalmu mau mengikuti saran bodoh teman gilamu itu." Galas mendumel sendiri seperti orang gila.
"Sialan!" umpatnya pada diri sendiri. "Apa menariknya bocah itu ...."
Dengan kesadaran penuh, Galas menekan tombol angka dari telepon di sudut mejanya.
"Jay, gantikan aku menginterview mereka."
"Lho ... bukannya kamu sendiri ...."
"Lakukan saja dan jangan banyak tanya." Belum juga Jay selesai bicara, Galas sudah memotong cepat ucapannya asistennya itu.
Galas melempar gagang telepon sekenanya, ia tak mengerti dengan apa yang dirasakannya kini. Niat awalnya melakukan hal bodoh ini hanyalah iseng semata untuk mengerjai si bocah bodoh itu. Tapi kenapa malah jadi dia yang merasa kecewa. Sialan!
***
Gayung melirik penuh rasa ingin tahu pada kegaduhan kecil di sudut yang sejajar dari meja tempatnya bekerja. Telinganya ia tajamkan demi mendengar apa yang seluruh ruangan ini pun ia yakini dibuat penasaran karenanya. Jenny terlihat berdandan lebih cantik hari ini, tapi ia nampak kecewa sekembalinya dari melakukan interview konyol itu. Tak terpikirkan oleh Gayung, pertanyaan macam apa yang Galas lontarkan tadi. Meskipun ternyata dugaannya salah, bukan Galas yang melakukan interview melainkan Pak Jay. Tapi toh, sama saja kan, Pak Jay hanya mewakili disini.
"Aku kirain beneran Pak Galas yang interview, tahunya Pak Jay. Percuma dong udah dandan cantik-cantik begini." Samar Gayung mendengar curhatan Jenny pada Indah dan Rara.
"Eh, Mbak Tiara ikut gak sih?" tanya Indah penuh rasa ingin tahu. "Secara ... menurut aku dia yang paling mendekati kriterianya Bos kita ..." imbuhnya.
" Nggak tahu juga, kalau menurut aku nggak juga sih. Kalau memang Bos kita suka sama Mbak Tiara, ngapain dia bikin acara kayak gini ... langsung tembak aja, udah. Kalau aku perhatikan Mbak Tiara juga punya perasaan khusus buat Bos kita." Jenny mengeluarkan pendapatnya.
"Iya juga yah, mungkin Bos kita maunya sama yang muda bukan seumuran," tebak Rere asal, disambut tawa kecil Jenny dan Indah. Juga Gayung yang ikut mencuri dengar obrolan mereka.
Gayung menoleh ke belakang, pantas saja mereka berani berceloteh ria. Sang kepala divisi, Mbak Safa sedang tidak ada di tempat. Gayung kembali menghadap laptopnya bersamaan bayangan yang sangat dikenalnya itu berdiri menjulang di depan pintu mengagetkannya.
"Astagfirrullah." Gayung refleks memegang dada sangking terkejutnya, ia tak mendengar suara pintu kaca itu ditarik seseorang dan tiba-tiba sosok tampan berkemeja hijau muda itu sudah berdiri disana dengan gaya angkuhnya seperti biasa.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya datar namun tatapannya begitu tajam menusuk. Suasana yang semula riuh di sudut berkumpulnya anak marketing mendadak hening seketika.
"Tidak ada apa-apa, Pak." Gayung segera menguasai diri dan mengangguk hormat, tak lupa senyum ia sematkan dibibirnya.
Gayung mencoba melanjutkan pekerjaannya, namun ia sungguh terganggu dengan kehadiran Galas yg masih berdiri menjulang di depan pintu kaca itu. Ia memberanikan diri melirik dan sang Bos masih pada posisi semula, menatap begitu intens padanya. Gadis berambut ikal itu mendelik takut, seketika pendingin ruangan itu seolah tak berfungsi bagi tubuhnya yang mendadak kegerahan.
Apa Kak Galas ingat padaku? Batinnya.
"Apa ini?" Pertanyaan tak penting itu tiba-tiba keluar dari bibir seksi itu. Tangan kekarnya mengangkat camilan penghilang rasa kantuk milik Gayung yang tergolek manis di samping laptop.
"Ta-hu pe-das." Gayung terbata menjawab pertanyaan Galas. Ia yakin semua mata kini tertuju padanya dan Bos tentunya.
"Boleh saya minta?" tanyanya, membuat Gayung ternganga sebelum akhirnya menjawab.
"Boleh, Pak. Silahkan." Gayung tersenyum canggung. Namun ia sangat ikhlas membagi makanannya.
Mata sipitnya tak bisa berpaling menyaksikan Bosnya yang dengan cueknya memakan satu buah tahu pedas ke dalam mulutnya. Padahal ia yakin, semua pasang mata di ruangan ini memandang takjub ke arahnya.
"Enak, kamu beli dimana?" tanyanya lagi.
"Kurang tahu, Pak. Pak Yono yang membelinya," jawab Gayung menyebutkan salah satu nama OB dikantor mereka.
"Jio!" Panggil Galas.
"Iya, Pak," sahut Jio cepat.
"Suruh Pak Yono untuk membelikan saya tahu pedas, yang sama seperti punya ...." Galas menatap Gayung seolah meminta gadis itu menyebutkan namanya.
"Belikan sama seperti punya Andara," lanjutnya.
"Baik, Pak." Jio menjawab patuh, berhadapan langsung dengan orang nomor satu di kantor ini membuat wajah laki-laki yang biasanya selalu konyol dan ceria itu pias bagai tak teraliri darah sama sekali.. Memang aura seorang Bos itu luar biasa berbeda.
"Beli semuanya kalau perlu, bagikan kepada seluruh karyawan." Jio kembali mengiyakan perintah Bosnya, ia meminta ijin menemui Pak Yono setelah menerima beberapa lembar seratus ribuan dari tangan sang Bos.
"Andara ... ," panggil Galas lagi saat tangannya membuka pintu kaca itu setengahnya.
"Iya, Pak?" Gayung membeliakkan matanya mendengar sang Bos memanggil namanya lagi.
"Jangan terlalu sering makan makanan pedas, sayangi lambung kamu," ucapnya datar namun cukup membuat Gayung terkesiap akan perhatian kecil itu.
"Buat semuanya juga!" serunya sembari memandang wajah-wajah patuh yang tercipta setelah kehadirannya.
"Iya, Pak," jawab mereka kompak dengan mode bicara tanpa suara.
"Dimana Safa?"
"Solat Pak." Salah satu anak buah Safa menjawab. Galas ber "oh" tanpa suara sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
Suasana mencekam mulai mencair, beberapa dari mereka mengelus dada merasa lega.
"Gila, Pak Galas keren banget yah," puji Sasya. "Coba aku cantik yah ... gak bakal aku sia-sia in kesempatan langka ini."
__ADS_1
"Operasi plastik aja udah." Bimo menimpali.
"Jin." Panggil Sasya menirukan iklan rokok yang sering wara wiri dilayar televisi.
"Ku beri satu permintaan." Bimo yang memang bertubuh gembul terbawa drama konyol rekan kerjanya itu.
"Pengen kaya biar bisa oplas," ucapnya sengaja bertingkah kemayu.
"Nggak pengen cantik aja langsung?" tawar Bimo.
"Kalo pengen Pak Galas aja bisa, Jin?"
"Bisa, sana tidur dulu."
"Mimpi dong?"
"Iyalah ... " Bimo mengakhiri obrolan unfaedah mereka dengan kekehannya yang penuh nada ejekan pada rekan kerjanya itu.
"Andara," bisik Sasya tepat ditelinga Gayung.
"Hemm?"
"Kayanya Pak Galas suka deh sama kamu."
Gayung mendorong pelan tubuh kurus Sasya, menolak kesimpulan konyol yang tiba-tiba diambil gadis pemilik kulit sawo matang itu.
"Ih, mana mungkin ...." Gayung ingin tergelak kencang mendengar penuturan konyol tak masuk akal rekan kerjanya itu.
"Taruhan yuk, pasti gak ada yang bakal lolos seleksi. Aku yakin," tantang Sasya.
"Emang boleh taruhan?" tanya Gayung dengan polosnya.
"Nggak papa, kan cuma iseng."
"Ya udah ayok." Gayung merasa tertarik.
"Yang menang wajib traktir makan siang selama seminggu."
"Oke." Gayung menyetujui tanpa berpikir panjang. Ia yakin tak akan kalah karena tebakan Sasya mustahil terjadi. Meskipun entah mengapa ia ingin Sasya yang menang.
BERSAMBUNG
Promo novel author yang lain yah ...
JANGAN LUPA
LIKE
KOMEN
__ADS_1
VOTE