Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 16


__ADS_3

"Galas, kamu suka sama Andara?" Jay terus mencecarnya, bahkan sampai kini mereka hendak meninggalkan kantor.


"Tidak tahu," jawab Galas santai, ia sengaja ingin membuat sahabatnya itu penasaran setengah mati. Tangannya menyisir rambutnya yang tertata rapi ke belakang. Siulan terdengar dari bibirnya berpadu rona bahagia yang terpancar jelas di wajah tampannya.


"Hei, ngaku saja Bos." Jay merangkul pundak Galas.


"Dia adikku," jawab Galas belum mau mengakui. " Gayung temannya Inge, dulu kami bertetangga."


"Hah? Serius?" Jay membelalakan matanya. "Tadi kamu manggil Andara apa?"


"Gayung ... kenapa ada masalah?" Galas melirik seram ke arah Jay. Membuat Jay mendelik takut.


"Hei, aku cuma mau bilang, kalau namanya unik," elak Jay.


"Memang unik," ucap Galas dengan senyum penuh arti.


Mereka terus bercakap sampai menghilang dari balik pintu kaca. Seseorang keluar dari lorong sepi yang menuju arah kamar mandi. Kekecewaan tiba-tiba melingkupi wajah ayunya, sirna sudah binar bahagia yang sebelumnya menghias wajahnya. Ia bersandar di dinding menahan air mata yang nyaris jatuh. Tak lagi dipedulikannya rasa takut berada di ruang kosong yang menurut cerita menjadi tempat nenek tua dari alam lain itu.


"Adik ya?" gumamnya seraya tersenyum kecut.


***


Pagi itu, Gayung sedang video call dengan Bapaknya. Ia belum mandi dan masih bermalas-malasan di kasurnya yang empuk.


"Bapak, jangan kirim uang lagi buat Gayung. Gayung kan sudah kerja," protesnya. Karena Bapaknya sering mengirimi uang kepadanya beberapa bulan terakhir ini.


"Sudah terima saja, Bapak lagi banyak duit, Nduk. Mau dikasih siapa kalau bukan kamu," alasannya.


"Kenapa Bapak nggak nikah lagi aja?"


"Bapak sudah nyaman sendiri, males nikah-nikah lagi. Ribet!"


"Ya tapi kan kalau Bapak nikah, Bapak jadi ada temannya di rumah, gak kesepian lagi."


"Siapa bilang Bapak kesepian, setiap hari tamu Bapak banyak kok, nih lihat." Pak Ming menunjukkan beberapa orang yang sedang bersamanya saat video call itu.


"Bapak lagi gak dirumah?" tanyanya melihat situasi asing dalam video itu.


"Bapak lagi dinas luar kota," jawab Bapak gaya.


"Idih gaya, hahaha ...." Gayung terbahak melihat Bapaknya sok berdinas luar kota.


"Orang bener kok, ini Bapak lagi di Makasar," jelasnya.


"Jauh banget ...."


"Iya, Bapak dijemput kemarin."


"Sakit apa, Pak?" tanya Gayung penasaran.


"Biasalah, orang jahat."


"Ohh ... ya sudah, besok lagi yah, Pak. Gayung mau siap-siap bekerja dulu." Gayung mengakhiri obrolan video call dengan Bapaknya.

__ADS_1


Ia segera mengambil handuknya untuk membersihkan diri di kamar mandi. Berbicara dengan Bapaknya sedikit mengobati kegalauan hatinya karena mendengar obrolan Galas dan Jay kemarin.


Kali ini ia bersiap lebih cepat, ia malas mencatok rambutnya dan membiarkan rambutnya tergerai menggelombang disana sini. Saat menuruni tangga, ia kaget melihat Jio sudah menunggunya di bawah pada bangku panjang bersama Roby yang sedang menikmati mi kuah instan.


"Mas Jio?"


"Hai, An. Sudah siap?" Jio berdiri menghampiri Gayung.


"Mas Jio ngapain di sini?"


"Aku mau jemput kamu," jawab Jio kalem, berbeda dari biasanya. Gayung sedikit aneh melihatnya.


Mereka berjalan kaki menuju kantor. Jio beralasan motornya sedang di bengkel jadinya hari ini ia berjalan kaki.


Dalam perjalanan, Jio tak banyak bicara seperti biasa. Gayung semakin merasa aneh karenanya. Apalagi Jio terlihat gelisah sejak mereka berangkat tadi.


"Andara." Suara cempreng itu akhirnya terdengar kembali.


"Iya?"


"Kemarin, kok, oleh-oleh dari aku di kasih ke satpam?" Ada perasaan sedih dari kalimatnya. Gayung melupakan hal itu kemarin saking terbius rasa bahagia.


"Eh ...." Gayung memikirkan jawaban apa yang tepat agar kepala divisinya itu tidak tersinggung. " Soalnya oleh-olehnya banyak banget, gak habis kalau aku makan sendirian. Apalagi aku juga ngekos sendirian daripada mubazir mending di bagi-bagi," jelasnya dengan senyum manis yang selalu mengiringi.


"Ya ampun, kamu baik banget sih," puji Jio kagum. Gayung meringis mendengar pujian tulus itu. Andai Jio tahu yang sebenarnya, kalau Bos yang memberikan jajanan itu pada satpam kantor mereka. Entah dengan alasan apa. Gayung sendiri tak mengerti dengan sikap Galas yang "aneh" itu. Kalau memang menganggapnya adik, kenapa laki-laki itu menciumnya kemarin? Memikirkan itu membuat mood Gayung memburuk kembali.


"An, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Jio lagi, kegelisahan jelas terlihat dari sikapnya.


"Aku suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacar aku?" Gayung seketika menghentikan langkahnya, begitupun Jio. Gadis itu terlihat kebingungan menjawab pernyataan Jio. Ini memang bukan pertama kalinya ia mendapat pernyataan cinta. Tapi ada sesuatu didalam hatinya yang tiba-tiba ingin mempertimbangkan menerima cinta dari Jio kali ini. Meski sejujurnya ia hanya menganggap laki-laki itu hanya sebagai teman saja.


"Kamu nggak perlu jawab sekarang." Jio mencoba memberi waktu Gayung untuk berpikir.


"Ya ... aku mau." Sebuah jawaban yang langsung Gayung sesali, saat itu juga. Namun nasi sudah menjadi bubur. Perkataannya tak mungkin ditarik lagi apalagi Jio terlihat senang sekali.


"Serius?" Jio memastikan. Gayung hanya bisa mengangguk lemah sebagai jawaban, tak sanggup berkata-kata. Hatinya semakin gundah saja. Ia merasa telah melakukan sesuatu yang salah, membohongi perasaannya sendiri dan juga perasaan tulus Jio. Harus bagaimana dia setelah ini? Wajah cantiknya semakin suram saja.


***


Berita Gayung dan Jio menjalin hubungan langsung menyebar di seluruh kantor. Tentu saja karena Jio terlalu menunjukkan rasa bahagianya di sana sini. Berbeda dengan Gayung yang semakin terpuruk moodnya, tak ada kata tak ada senyum yang biasanya selalu menghias bibirnya. Hal itu membuat beberapa anak di ruangan mereka menaruh curiga.


"An, kamu nyesel yah nerima cinta Jio?" Safa sengaja menanyakannya via telpon dengan sedikit berbisik, padahal meja mereka hanya terpaut dua meja saja.


"Gak kok Mba, cuma lagi ada masalah keluarga saja," elak Gayung, tak ingin membuat situasi semakin runyam. Mengingat Safa tipe orang yang ceplas-ceplos kalau berbicara.


[ An, aku gak rela kamu jadian sama Jio] pesan wechat dari Sasya.


[ Aku setujunya kamu sama Pak Galas. Titik. Emoji nangis ] Pesan wechat dari Sasya lagi.


Gayung bingung, haruskah ia bercerita pada Sasya. Selama ini ia belum pernah sekalipun curhat masalah yang terlalu pribadi pada rekan kerjanya itu. Tapi sepertinya Sasya orang yang bisa dipercaya, begitu pikirnya sebelum mengetikkan balasan atas pesan wechat Sasya.


[ Aku bingung ... emoji nangis ]


[ Perasaan kamu gimana sama Mas Jio? ] Sasya

__ADS_1


[ Gak ada perasaan apa-apa ... ] Gayung


[ Lahhh ... terus kenapa di terima zheyeeenkkkk??? ] Sasya


[ Aku khilaff Kakk ... emoji nangis ] Gayung


[ Jangan-jangan kamu kena pelet lagi tuh dari jajanan Mas Jio kemarin wkwkwk ... ] Sasya


[ Gaklah Kak, aku aja belum sempat makan ]


[ Terus kemana larinya itu jajanan, aku gak lihat tuh kemarin??? ] Sasya


[ Di kasih Pak Galas ke satpam ... ] Gayung


[ WHATTTT??? JANGAN-JANGAN PAS ISTIRAHAT SIANG KEMARIN KAMU SAMA PAK GALAS??? ] Sasya


[ Hemm ... ] Gayung


[ Oh my God!!! DAEBAKKK!!! SERATUS PERSEN AKU YAKIN PAK GALAS SUKA BENERAN SAMA KAMU! ] Sasya


[ Gak, Kak ... dia cuma nganggep aku adiknya ] Gayung


[ Tahu darimana??? ] Sasya


[ Gak sengaja denger kemarin ... ] Gayung


[ Jangan-jangan kamu terima Jio gara-gara kamu denger itu? ] Sasya


[ Mungkin ... ] Gayung


[ Mending kamu selesaiin dulu masalah kamu sama Jio ... mumpung belum terlalu jauh ] Sasya


[ Iya ... kamu temenin aku ya Kak ... ] Gayung


[ Sippp ... pokoknya kamu harus sama si Bos tampan hihihi ... ] Sasya


[ Gak tahulah Kak ... sebenarnya aku sama Kak Galas itu dulu tetanggaan ] Gayung


[ WHATTT??? SERIUSSS?!?!?!? ... KAK GALAS ... OMMO CO CWEATTT ] Sasya


[ Tapi jangan bilang siapa-siapa ya Kak ] Gayung


[ Udah ... tenang aja ... aman sama Sasya mahhh ... wkwkwk ]


Mereka mengakhiri obrolan wechat mereka. Ada perasaan lega menelusup dalam dada Gayung. Setelah mengungkapkan isi hatinya pada rekan kerjanya itu. Ia berharap segera dapat menyelesaikan masalah yang mengganggu pikirannya itu. Semoga ...


Jangan lupa like yahhh ...


Biar authornya semangat ...


Komen juga boleh kalau mau ...


😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2