Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 21


__ADS_3

Galas menatap layar laptopnya, menunggu pesan dari seseorang yang tak kunjung muncul jua. Matanya menyorot tajam pada layar monitor disudut atas ruangannya yang menunjukkan aktivitas Gayung full satu monitor di sana, sedang berdiskusi dengan Jio dengan wajah yang begitu bahagia.


"Hah! Sebenarnya kekasihnya itu dia atau aku?" Seringai antara marah, kesal dan kecewa tergambar jelas diwajah tampan itu. Galas mengusap wajahnya kasar, Gayung benar-benar membuatnya frustasi.


"Dia bahkan tidak mengirimkan pesan maaf setelah mengabaikanku tadi ... apa aku tidak begitu penting baginya ... shitt!" Galas terus saja mendumel sendiri seperti orang gila.


Suara ketukan dipintu menghentikan umpatannya.


"Masuk." Tiara muncul dari balik pintu kaca.


"Ada apa?" Galas berusaha bersikap biasa, seolah ia tidak dalam pikiran yang kacau saat ini.


"Aku mau ngomong sama kamu?" Tiara mendekat, berdiri di depan meja kerja Galas.


"Ini masih jam kerja," ucap Galas datar, ia sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun saat ini. Pikirannya masih disibukkan oleh Gayung, Gayung dan Gayung yang mengabaikannya pada hari pertama kencan mereka.


"Maksud kamu apa, bicara seperti itu tadi siang?" Tiara tak mempedulikan keengganan Galas yang terlihat mengacuhkannya.


"Tidak ada. Jangan dibahas," ucap Galas tanpa memandang lawan bicaranya.


"Aku mau tagih janji kamu waktu itu."


"Janji apa?" Galas seolah amnesia, lebih tepatnya malas mengingat sesuatu yang menurutnya tidak begitu penting.

__ADS_1


"Kencan. Kamu sudah janji waktu itu mau kencan sehari denganku." Mata elang Galas menatap Tiara dengan pandangan tidak suka. Disaat hati dan pikirannya sedang tidak kondusif seperti sekarang, wanita yang ia anggap sahabatnya sendiri itu malah datang membawa masalah baru baginya. Bagaimana bisa ia berkencan dengan Tiara sekarang, sementara dirinya sudah menjalin hubungan dengan wanita lain. Meskipun itu juga salahnya yang menyetujui saja permintaan konyol Tiara waktu itu. Namun ia sendiri pun tak menyangka akan bergerak secepat ini untuk mendekati gadis yang begitu mudah menarik perhatiannya. Bocah tengil yang kini berubah menjadi gadis yang rupawan. Meski jika dibandingkan dengan Tiara, Gayung jelas kalah dibawahnya.


"Aku tidak bisa," tolak Galas tegas. Ia merupakan tipe laki-laki yang setia, bahkan ia membuat peraturan tegas di kantornya. Siapapun yang ketahuan berselingkuh dari pasangannya, bagi yang sudah berumah tangga. Tidak segan-segan akan dikenakan sanksi pemecatan, tidak peduli seberapa penting posisi mereka.


"Kamu sudah janji, Galas." Tiara merangsek maju, tak peduli tatapan tak suka yang Galas tunjukkan.


"Aku tidak bisa, aku sudah tidak sendiri lagi sekarang," ucap Galas lugas.


"Kamu sama ... Anda-ra ...?" tanya Tiara dengan nada mengambang.


"Hemm." Galas tidak ingin menutup-nutupi, matanya sekilas melirik layar monitor di sudut atas ruangannya, gadis yang menjadi pusat perhatiannya tengah bersiap untuk pulang. Karena dalam beberapa menit bel akan berbunyi.


"Jadi demi kamu ... dia putusin Jio," sinis Tiara. Ia tidak mengerti bagaimana seseorang bisa plin plan dan cepat berubah pikiran. Sementara dirinya selama sepuluh tahun ini hanya bisa mencintai seorang saja, walaupun cintanya tak terbalas.


"Kalau begitu, temani aku makan diluar saja sepulang kerja," pinta Tiara akhirnya.


Galas tak langsung menjawab, ia sedikit dilema. Sebenarnya ia ingin meminta penjelasan Gayung tentang sikapnya hari ini. Namun janjinya pada Tiara lebih cepat ditepati lebih baik bukan? pikirnya. Lagipula sahabatnya itu hanya minta ditemani makan bukan kencan seharian seperti janji awal mereka.


"Ya sudah," jawab Galas akhirnya. Tiara tersenyum sumringah.


"Ya sudah, aku beres-beres dulu," ucapnya senang sembari meninggalkan ruangan Galas. Galas tak bereaksi apa-apa. Ia sungguh ingin bersama dengan Gayung sekarang dihari pertama kencan mereka.


"Ya Tuhan, bagaimana bisa aku merindukannya seperti ini," desisnya frustasi.

__ADS_1


***


Gayung berdiri gelisah di ujung komplek ruko blok C tak jauh dari kantornya. Satu tangannya memainkan ujung payungnya di atas sepatu putih yang ia pakai. Di sampingnya , Meo dan enam ekor anaknya sedang terlelap di wadah sterofom yang ia minta dari bagian pemackingan tadi. Senyum mengembang dibibirnya, melihat kelucuan mereka yang saling bergelung satu sama lain ditengah dinginnya udara ,dikarenakan hujan yang turun lebat sore ini.


Gayung mengeratkan jaket abu-abu yang dikenakannya. Mata sipitnya kembali menoleh pada pintu kantornya, masih bersabar menunggu Galas yang tak kunjung keluar. Padahal sudah setengah jam berlalu sejak bel pulang berbunyi.


"Kak Galas lama banget sih." Gayung mendesah kebosanan. Baru saja ia selesai bicara, sosok yang di tunggunya akhirnya muncul juga. Namun senyumnya yang nyaris terkembang itu menyurut seketika, melihat sosok wanita cantik disamping kekasihnya itu. Tangan wanita itu tampak terus berusaha menggandeng tangan Galas, meski Galas sudah menepisnya berulang kali.


Gayung segera menyembunyikan dirinya di balik tembok saat Galas menoleh ke arah tempat ia berdiri kini. Di tariknya nafas dalam-dalam, menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya. Ia memang sering mendengar desas-desus kalau Tiara sudah lama menaruh hati pada Galas dan banyak yang menganggap bahwa mereka pasangan yang sangat serasi. Yang tak ia mengerti, kenapa Galas bisa berakhir bersamanya kini. Padahal di sampingnya ada seorang bidadari cantik yang begitu mencintainya.


Gayung membuka payungnya, mengambil jalur yang berbeda dari yang biasa mobil Galas lewati. Ia menenangkan hatinya, bahwa Galas dan Tiara hanya berteman saja. Meski tetap saja hatinya terasa sakit melihat keakraban mereka. Ditendangnya kerikil kecil yang ditemuinya, menyalurkan kekecewaan. Sesungguhnya, ia sangat merindukan Galas dan sangat ingin bersamanya saat ini. Seharian ia menunggu Galas mengirimkan pesan wechat seperti biasa, namun tak ada satupun pesan yang muncul pada layar laptopnya dari laki-laki itu.


"Ya Tuhan, kok aku jadi cengeng begini sih," keluhnya sembari mendongakkan kepalanya. Menahan air mata yang hampir saja lolos membasahi pipi.


***


Maafkan jika kata-katanya dan ceritanya mulai ngawur ... authornya masih pemula dan lagi sakit pula ...


Mohon dimengerti ... 😁😁😊


Jangan lupa like & komen yah ...


Siapa tahu jadi inspirasi ...

__ADS_1


__ADS_2