
POV GAYUNG
Cih! Katanya dia tidak suka aku dekat-dekat dengan laki-laki lain. Tapi baru saja tiba, sudah meninggalkanku lagi ke Singapura, dengan alasan kepalanya pusing? Apa itu masuk akal? Aku juga kadang pusing, tapi minum obat di apotik juga sembuh. Kenapa sampai harus chek up ke Singapura? Apa disini tidak ada dokter yang bagus sampai harus jauh-jauh pergi kesana. Aku benar-benar tidak mengerti dengan pikiran orang kaya.
Setelah mengabaikanku lama, sekalinya bertemu malah marah-marah dan mendiamkanku. Sebenarnya apa maunya? Bukankah seharusnya aku yang pantas marah bukan dia ... Arrght!!! Ingin rasanya ku cakar-cakar wajahnya yang sayangnya kelewat tampan itu.
Aku turun dari motor Kak Sasya, masih dengan pikiran yang amburadul. Katanya cinta itu indah, indah apanya? cinta sungguh rumit dan menguras emosi juga tenaga. Tapi sayangnya aku tidak pernah menyesali jatuh cinta pada Kak Galas yang menyebalkan itu. Meskipun nantinya cinta kami akan menjadi kenangan, mungkin akan tetap menjadi kenangan yang terindah untukku.
Aku berjalan lebih dulu, karena Kak Sasya mau mengambil sesuatu dari bagasi motornya. Dan laki-laki itu, sudah stay disana lagi dengan senjata gitarnya. Lagi dan lagi, dia menyanyikan lagu "Kau cantik hari ini" saat aku melewatinya. Aku jadi teringat lagi pertengkaranku dengan Galas tadi pagi. Entah kenapa, aku menjadi kesal melihatnya.
"Cemberut aja, Mbak. Nanti cantiknya hilang lho." Aku menghentikan langkahku tepat didepannya. Aku melihatnya tersenyum kepadaku. Tidak tahu kenapa aku kesal sekali melihat wajahnya itu. Padahal aku seharusnya tidak boleh begitu.
"Kamu nggak bisa lagu lain, ya? Dari semalam lagunya itu terus?" tanyaku dengan nada tak ramah. Aku merasa tidak nyaman dan risih, padahal belum tentu juga lagu itu untukku. Aku menyesali rasa ke-PD-anku sedetik kemudian, juga kata-kataku yang sinis itu. Tapi sepertinya dia tidak marah dan malah menggodaku.
"Habis Mbaknya cantik terus, masak saya nyanyinya kau jelek hari ini," ucapnya dengan senyum simpul. Betul, kan? Lagu itu untukku ... tapi kenapa aku malah semakin kesal dengannya. Padahal Mas Jio juga dulu sering menggodaku dikantor tapi aku tidak pernah kesal kepadanya.
"Mas Aven, maaf sebelumnya. Tapi saya cuma mau bilang, tolong jangan ganggu teman saya," ucap Kak Sasya dengan gaya khasnya seperti saat mengusir Mas Jio saat berusaha dekat-dekat denganku. Aku menoleh pada Kak Sasya yang merangkul pundakku.
"Kak Sasya," protesku.
"Maaf juga ya, tapi saya nggak merasa sedang mengganggu teman Mbak, kok," ucapnya Geli.
"Tapi sepertinya Mas menyukai teman saya?" cecar Kak Sasya membuatku tak enak hati.
__ADS_1
"Memang," jawab Aven santai. "Nggak boleh, ya Mbak?"
"Begini ya, Mas. Jatuh cinta itu memang hak setiap umat manusia dan tidak ada yang melarang. Tapi ... teman saya yang cantik jelita ini sudah memiliki calon suami yang sangat perfect luar biasa dan saya adalah salah satu penggemar beratnya. Jadi, saya mohon berhenti menggoda dan mengganggu teman saya. Karena ... itu berpengaruh pada saya juga. Kalau Mas seperti ini terus, saya yang repot dan kena marah Bos saya. Mengerti? Permisi ...." Sasya menarikku menjauh dari Aven yang masih terbengong mendengar peringatan panjang dari Kak Sasya.
"Kak Sasya apa-apaan, sih?" Meskipun aku tak suka dengan Aven, tapi tak harus sampai berlebihan seperti itu bukan?
"Ini tugas dari Bos, Say. Tahu nggak, tadi aku diomelin habis-habisan sama Pak Galas karena kecolongan jagain kamu dari laki-laki pengganggu." Penuturan dari Kak Sasya membuatku semakin tak paham dengan sikap Kak Galas yang menyebalkan itu.
Dia sampai meminta bantuan Kak Sasya untuk mengawasi dan menjagaku dari laki-laki lain. Tapi dia mengabaikanku, bahkan dia tidak merindukanku, tidak meluangkan waktunya barang sehari saja untuk melepas rindu sejenak denganku.
Jikalau memang ia butuh berfikir tentang fakta perbedaan keyakinan diantara kami dan ingin sendiri dulu, setidaknya dia bisa memberitahuku. Sehingga aku tidak segelisah ini.
Ah, aku lelah memikirkannya, ku hela nafas panjang. Aku harus segera mandi dan menemui Bapak di rumah Kak Galas. Apakah dia sudah berangkat ke Singapura? tanyaku dalam hati.
Sehabis Isya, Kak Sasya mengantarku ke rumah Kak Galas. Bapak sudah menungguku di depan rumah. Kami berbincang di ruang tamu, Bi Hanah dan suaminya ikut bergabung bersama kami.
"Nak Galas ke Singapura. Memang nggak bilang sama Nak Gayung?" tanyanya dan aku menggeleng lemah sambil tersenyum kecut.
Aku tak dapat menutupi kekecewaanku, saat mengetahui bahwa Kak Galas sudah terbang ke negeri Singa itu. Bapak menepuk punggungku, sepertinya ia tahu aku bersedih.
"Besok, Bapak masih ke kantormu lagi. Setelah itu Bapak langsung pulang, sudah ditelpon terus sama pasien Bapak," kata Bapak saat mengantarkan aku di depan rumah. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sebenarnya Bapak meminta kami menginap saja, tapi aku dan Kak Sasya menolaknya.
"Iya, Bapak hati-hati. Jangan lupa kabari Gayung kalau mau pulang." Air mataku menetes saat mengatakannya, aku memeluk Bapakku erat. Menumpahkan kegelisahanku padanya.
__ADS_1
"Kamu itu lagi nangisin Bapak apa Galas?" Bapak menggodaku.
"Dua-duanya," jawabku malu, lebih mengeratkan pelukanku.
"Hahaha ... anak Bapak sudah besar, ya ... Sudah, sudah ... Kalau jodoh pasti ndak kemana." Aku masih menangis dalam pelukannya.
"Apa mau Bapak jodohkan dengan anaknya teman Bapak? Biar kamu ndak sedih lagi .... Orangnya gak kalah ganteng dari Galas, soleh, rajin, sopan dengan orang tua ...."
"Nggak mau." Aku cemberut. Bapak tertawa melihat tingkahku yang seperti anak kecil.
Lagipula, jaman sekarang siapa yang masih bermain jodoh-jodohan, memangnya cerita novel online, aku bersungut-sungut.
"Ndak mau ya sudah. Jangan nangis terus nanti cantiknya hilang." Bapak mengelus rambutku lembut. Aku menjadi teringat masa-masa dimana aku hanya tinggal berdua dengan Bapak dirumah, setelah bercerai dengan ibu yang merantau ke negeri seberang.
"Ya sudah, Gayung pamit dulu." Ku cium tangan Bapak lagi. Kak Sasya sudah berpamita n tadi dan kini menungguku diatas motornya.
"Hati-hati, jangan ngebut." Pesan Bapakku sembari melambaikan tangannya saat motor kami melaju meninggalkan gerbang rumah Kak Galas. Aku membalas lambaian tangannya. Hatiku sedikit lega setelah mencurahkan isi hatiku pada Bapak. Ku hirup udara kuat-kuat, kemudian membuangnya dari mulutku. Aku kangen kamu, Kak Galas! Teriakku dalam hati.
***
Ya begitulah ... semoga kalian nggak bosan dengan ceritaku yang datar-datar saja ini. Sekali lagi terima kasih buat yang sudah meluangkan waktu buat membaca novel ini
Dan jujur, author tulis ini buat menuhin seribu kata aja ... hehehe ...
__ADS_1
Jangan lupa like & komen ...
Salam sehat selalu ...