Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 36


__ADS_3

Semenjak berbaikan kembali dengan Galas, Gayung kembali melalui hari-harinya dengan penuh semangat dan keceriaan. Ia pun mulai terbiasa dengan ledekkan teman-temannya, juga titipan keluhan-keluhan mereka untuk disampaikan kepada Bos. Berharap ada perubahan atas peraturan yang menurut mereka kurang menguntungkan karyawan.


"An, nanti kalau kamu merried sama Bos ganteng. Cutinya yang lama, ya ... kalau perlu kamu minta bulan madunya ke luar negeri. Biar Bos tuh kalau kasih ijin merried ke kita-kita buat ke depannya ada perpanjanganlah ... masak, sih, baru sah udah harus balik kerja lagi. Kan kita mau enak-enak dulu," pesan Sasya mewakili rekan-rekan yang lain. Gayung cuma bisa meringis mendengar celotehan mereka. Ia merasa sudah seperti istri Galas saja, saat menerima kritik dan saran dari mereka. Padahal hubungan mereka belum sejauh itu, Galas pun tidak pernah membahas masalah pernikahan sejak mereka berbaikkan kembali.


"Bener, tuh. Selama aku kerja disini, tuh, nggak pernah denger Bos kita liburan ke luar negeri. Sekalinya ke luar negeri, karena ada urusan pekerjaan sama chek up kesehatan," timpal Safa sembari menyeruput jus alpukatnya. Wanita yang telah memiliki anak satu itu ikut rumpi pagi bersama Gayung dan Sasya sebelum mulai bergelut dengan pekerjaan.


"Gila ya Bos kita itu, uangnya buat apa, ya. Aku aja yang misqueen suka berkhayal jalan-jalan ke Jepang, Korea. Dia yang kelebihan duit malah nggak pengen liburan kemana gitu kek," ujar Sasya lagi sembari menikmati nasi uduk yang dimakan sepiring berdua dengan Gayung.


"An, ikut komen dong." Safa protes karena Gayung hanya menjadi pendengar daritadi.


"Aku bingung mau ngomong apa, Mba," jawab Gayung jujur. Teman-temannya sudah berandai-andai sampai bulan madu ke luar negeri. Sementara Gayung belum memikirkan sejauh itu. Ia hanya ingin hubungannya dengan Galas berjalan baik dan melangkah maju pelan tapi pasti. Tidak memikirkan sampai sejauh itu, baginya asal bersama Galas. Mau bulan madu dimana saja ia pasti senang.


"Eh, An. Bos ganteng mobilnya baru, ya?" tanya Sasya. Entah dapat info darimana si kurus itu, Gayung saja tidak tahu tentang itu.


"Aku nggak merhatiin mobilnya, Kak. Soalnya orangnya lebih menarik, sih, dari mobilnya." Gayung mengulum senyumnya saat mengatakannya. Kedua wanita yang mengerubunginya itu kompak dibuat baper mendengar gombalannya.


Kak Galaassss." Safa menirukan cara Gayung menyebut nama Bos mereka itu.


"So sweat bangettt." Sasya menimpali tak kalah lebaynya. Gayung menutup wajahnya yang merona dengan Map biru ditangannya.


"Aku jadi penasaran, gimana kalau kamu lagi berduaan sama Pak Galas." Safa mengangkat alisnya dengan mata membelalak ke atas. Seolah bayangan romantis Gayung dan Galas versinya ada di atas kepalanya.


"Jangan dibayangin, Mbak Safa. Malulahhh ..." Gayung menepuk paha Safa pelan, menghentikan khayalan konyol wanita bertubuh gendut itu yang malah tergelak kencang. Bersamaan dengan itu, Tiara masuk ke ruangan mereka. Tatapannya langsung bertemu dengan trio wek-wek yang sedang asyik merumpi.


"Pagi, Mbak," sapa ketiganya hampir berbarengan dengan senyum dibibir mereka.


"Hemm," jawabnya tanpa senyum sama sekali. Pandangan matanya beralih dari Gayung lalu ke Safa. " Safa, kamu belum laporan absen anak buah kamu lho."


"Iya, Mba. Sebentar lagi," jawab Safa santai.

__ADS_1


"Jangan pakai sebentar-sebentar, kamu itu kepala divisi, lho. Harusnya kasih contoh untuk anak buah kamu, bukannya persiapan buat bekerja malah asyik-asyikan ngerumpi," tegurnya judes sembari berlalu menuju ruang kerja Jay.


"Astaganaga ... sabar-sabar. Mungkin si perawan tua lagi datang bulan." Safa mengelus dadanya sendiri. "Lama-lama cantiknya ilang tuh orang, tiap hari marah-marah terus kerjaannya. Aneh banget sekarang. Syukurin, udah tua nggak laku-laku juga," dumel Safa dengan gaya ceplas-ceplosnya seperti biasa.


"Sabar, Bu, sabar." Ria menyahuti dari meja keejanya.


"Sabarlah, nggak lihat nih, pantat udah lebar begini." Safa bersungut-sungut. Gayung, Sasya dan Ria tergelak keras menyaksikan polah Safa yang memamerkan pantatnya penuh percaya diri.


"Eh, tapi ... Mbak Tiara dekat banget, ya sama Pak Jay. Istrinya Pak Jay emang nggak cemburu apa, ya. Setiap hari suaminya jalan sama wanita lain ...," ucap Ria yang juga sedang menikmati sarapan nasi uduk langganannya.


"Kan, mereka sahabatan, sama Pak Galas juga, iya, kan Bu Bos?" Sasya memanggil Gayung dengan panggilan barunya dan sukses membuat mata Gayung memprotes selalu. Namun Sasya acuh dan malah terlihat senang melihat ekspresi kesal sahabatnya itu.


"Aku nggak tahu," jawab Gayung jujur. Meski ia sendiri sangsi dengan persahabatan mereka bertiga. Buktinya Tiara memendam perasaan pada Galas, yang katanya sahabatnya.


"Ya, sudahlah urusan mereka. Mak mau laporan dulu, takut kena semprot lagi." Safa beranjak menuju meja kerjanya dan mulai serius dengan ponsel kantornya.


Sasya dan Gayung pun segera menyelesaikan sarapan mereka. Karena bel masuk akan berbunyi sebentar lagi.


"Iya, Mas."


"Jangan lupa pekerjaan yang urgent-urgent dulu selesaiin, ya," ucap Jio serius. Sejak mengetahui hubungan Gayung dan Bosnya. Ia lebih berhati-hati dalam bersikap pada wanita cantik berambut ikal itu. Sejujurnya, ia cukup tertekan dengan tatapan Bosnya yang selalu mengintimidasinya saat bertemu atau berpapasan dimanapun itu.


"Sipp," jawab Gayung semangat.


"An, aku boleh tanya sesuatu nggak?" Setengah berbisik si Cungkring itu mengatakannya.


"Apa, Mas? Tanya aja," Gayung mendongakkan kepalanya sehingga ia dapat melihat kekhawatiran diwajah kepala divisinya itu.


"An, Bos pernah ngomongin aku nggak, sih?" Dia benar-benar khawatir. Ia bisa santai mendapat ledekan atau bulian dari kawan-kawan yang lain namun rasanya sangat mengganggu mendapati Bosnya sendiri melayangkan pandangan tidak suka kepadanya.

__ADS_1


"Nggak pernah, kok. Tenang aja, Mas." Gayung sedikit mengerti jika Jio merasa tertekan.


"Beneran? Tapi pak Bos kayak nggak suka gitu sama aku, An. Aku kan jadi gimana ...."Jio mengacak-acak rambutnya frustasi tapi masih dengan wajahnya yang selalu konyol.


"Nggak, kok. Beneran." Gayung memasang wajah meyakinkan agar kepala divisinya itu percaya.


"Serius, An? Bos nggak bakal turunin posisi aku jadi anak buah lagi, kan? Atau pecat aku dari sini? Aduh ... cicilanku masih banyak, An. Hutangku ke kamu aja belum lunas. Adik-adik aku masih sekolah ... Siapa nanti yang biayain mereka kalau sampai aku nganggur." Jio benar-benar terlihat frustasi.


"Udah, Mas Jio tenang saja. Aku yakin, Bos kita profesional, kok. Nggak mungkin dia main turunin posisi atau pecat orang tanpa alasan." Kalaupun sampai itu terjadi, Gayung berjanji akan melakukan protes kepada atasan sekaligus kekasihnya itu.


"Lagipula, kita, kan cuma berteman. Jadi Mas Jio nggak perlu khawatir berlebihan begitu, yang penting Mas Jio kinerjanya bagus, pasti akan dipertahankan kok diposisi ini, bahkan mungkin bisa naik nanti."


"Yup, betul itu," sambung Bimo yang mencuri dengar pembicaraan mereka dari meja kerjanya.


"Makanya, Ji. Mending kamu sekarang kembali ke tempat kamu. Karena Bu Bos itu selalu di awasi sama Pak Bos. Kamu tahu, kan cctv ini bisa dilihat dimanapun Bos kita berada. Meskipun dia nggak lagi dikantor," bisik Sasya tepat ditelinga Kepala divisinya itu." Aku berani taruhan, deh, kalau kamu masih betah berdiri disini terus, dalam hitungan detik telepon kantor kita akan berbunyi."


"Seriuss, Sya?" Belum juga pertanyaan Jio mendapatkan jawaban. Apa yang disampaikan Sasya langsung menjadi kenyataan.


Jio berubah pias dan secepat kilat ia kembali ke bangkunya sendiri. Sasya dan Bimo menahan tawanya, karena berhasil mengerjai ketua mereka yang polos itu.


"An, suruh ambil cilok, kan?" tanyanya pada Gayung yang barusan menerima telepon.


"Iya ... jahat banget kalian, kasihan Mas Jionya."


"Wkwkwkw." Sasya tertawa tanpa dosa, begitupun Bimo yang masih geli dengan ekspresi Jio yang masih pias dan pura-pura sibuk dengan laptopnya. Namun akhirnya ia menyadari bahwa dirinya tengah dikerjai anak buahnya yang kurang ajar semua itu.


"B*D*BAHHH KALIAN!" umpatnya lalu ikut menertawai dirinya sendiri.


***

__ADS_1


Jangan lupa like & komen ...


__ADS_2