
POV GALAS
Setelah memulai hubungan dengan Gayung. Aku mulai memikirkan masak-masak tentang apa saja yang harus aku lakukan ke depannya untuk hubungan kami. Dari awal aku memang berniat serius, aku mencari seorang istri bukan kekasih. Jadi aku berencana meresmikan hubungan kami secepatnya dalam sebuah ikatan pernikahan yang sakral.
Sebelum datang melamar ke rumah orang tuanya, aku tahu bahwa ada kendala perbedaan keyakinan diantara kami. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk menjadi seorang mualaf bukan serta merta. Semua ada kisah dibaliknya dan memang sudah pernah tersimpam lama dalam keinginanku.
Aku meminta bimbingan langsung pada calon mertuaku. Selama lebih dari seminggu aku selalu datang ke rumahnya, belajar agama banyak darinya. Meskipun ia biasa dipanggil dukun, itu hanyalah panggilan karena ia mampu mengobati orang dengan doa-doanya saja. Meski memang benar ia keturunan dukun, namun ia memperdalam ilmunya dengan menjadi seorang santri di sebuah pesantren selama 12 tahun lamanya di sebuah kota besar tak jauh dari kota kecil kami.
Selain dari Pak Ming, aku juga belajar dari Inge juga ibuku. Mereka berdua juga seorang mualaf. Semua itu berawal dari ketika Inge sakit dan perjalanan panjang kesembuhannya melalui Pak Ming. Setelah merasa sembuh total ia mengatakan pada Ibu dan aku bahwa ia ingin menjadi seorang muslim. Lalu beberapa tahun kemudian, ibu mengikuti keyakinannya. Sementara aku? Aku sebenarnya mulai merasakan ketertarikan, namun aku terlalu sibuk dengan obsesiku tentang kesuksesan yang merupakan cita-citaku sejak dulu. Mungkin memang jalanku harus melalui Gayung dulu untuk sampai di titik ini.
Berbicara masalah calon istriku itu, aku sengaja tidak memberinya kabar sama sekali. Meskipun aku juga tersiksa dengan keadaan ini. Namun aku melakukan ini untuk memberikan sebuah kejutan yang manis untuknya. Aku bersabar dan menfokuskan diri untuk belajar tentang agama baruku.
"Kak, kamu kangen ya sama Gayung?" Inge terus saja menggodaku, jika mendapatiku tengah melamun.
"Berisik, Inge," jawabku sembari menghindar darinya. Aku memang sangat merindukannya, sampai membuatku frustasi. Apalagi memdengar laporan dari Sasya bahwa ia sangat bersedih karena aku mengabaikannya, benar-benar membuatku tak tahan untuk menghubunginya. Namun aku mencoba menahan keinginanku itu, aku tak ingin rencana yang sudah ku buat matang-matang gagal ditengah jalan.
"Kak, kamu sudah mau balik ke ibukota?" tanya Inge ketika melihatku berkemas.
"Hemm," jawabku singkat seraya mengusapkan gel pada rambutku.
"Kok buru-buru? Katanya mau disini lama ... kangen yaa ...." Seperti biasa dia selalu meledekku.
"Iyalahh." Kali ini aku menjawab ledekannya, biar adikku yang bawel itu senang mendengarku mengakui bahwa aku kangen setengah mati pada sahabatnya itu.
"Cie ... cie ...buruan dong dihalalin, udah nggak sabar nih pengen nyusul." Aku meliriknya tajam, tapi adikku malah cuek dan cengengesan seperti biasanya. Ia memang memburuku menikah, supaya ibu juga lekas memberikan ijin kepadanya untuk melepas masa lajangnya bersama kekasihnya.
"Sabarlah ... lagi proses," jawabku.
"Kamu jadi ajak Pak Ming ke sana?" tanya Ibuku yang baru saja muncul dari balik pintu kamarku.
__ADS_1
"Jadi, Bu. Situasi dikantor lumayan kacau, kasihan karyawan kalau diteror rasa takut terus-menerus." Sebenarnya yang paling ku pikirkan jelas perasaan calon istriku itu, mengingat sifatnya yang penakut. Sampai-sampai kalau mau ke kamar mandi sendiri, dia tidak berani sendiri karena teror dikantor itu.
Aku berangkat pagi itu bersama Pak Ming. Aku sudah mengajaknya bekerja sama untuk memberi kejutan pada putri satu-satunya itu. Aku senang karena Pak Ming terlihat antusias mengikuti rencanaku.
Kami tiba sore menjelang malam. Setelah perjalanan seharian, kami beristirahat malam itu. Aku ingin tidur namun tak bisa, bayangan Gayung memenuhi kepalaku. Akhirnya aku mengirim pesan pada Sasya, untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan calon istriku disana.
Tak berapa lama, salah satu karyawan dikantorku itu membalas pesanku dan mengatakan bahwa ada seseorang yang sepertinya menaruh perhatian pada Gayungku. Hal itu membuatku gusar dan semakin sulit tidur. Apalagi setelah mengetahui bahwa orang itu lebih muda dariku dan wajahnya pun harus ku akui lumayan menarik. Meskipun Sasya mengatakan bahwa Gayungku sepertinya tidak menanggapi tapi tetap saja itu membuatku gelisah jika aku terus meneruskan rencanaku.
Esoknya aku menjemputnya untuk bekerja bersama Pak Ming. Pemandangan yang ku lihat disana benar-benar membuatku kesal setengah mati. Gayungku bersama laki-laki itu, mereka terlihat sangat akrab dan yang lebih membuat rasa cemburuku terbakar adalah sepertinya dia berusaha merayu Gayungku dengan menyanyikan lagu romantis yang tak kutahu judulnya. Shitt! Aku benar-benar ingin membanting gitar murahannya saat itu juga jika tidak mengingat ada calon mertuaku disana.
Akhirnya aku melampiaskan rasa kesalku dengan mendiamkan Gayung yang tidak bersalah. Aku tahu dia memperhatikanku dan mungkin berharap aku mengajaknya bicara. Tapi emosiku saat itu menghalangiku untuk berbelas kasihan padanya. Padahal aku tahu matanya membengkak, dan aku yakin itu karena aku mengabaikannya cukup lama. Aku mengerti jika dia merasa aku seolah mencampakkannya.
Sesampainya diruanganku, aku mulai sedikit berfikir jernih. Aku berjalan ke ruang loker karyawan berharap menemukannya disana. Dan benar dugaanku, namun dia menangis saat berbicara dengan temannya. Hatiku sakit melihatnya begitu, ketika aku menghampirinya dia malah berlari ke toilet. Kesempatan itu aku gunakan untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada seseorang yang sepertinya karyawan baru dikantorku. Aku menangkap sepertinya ada masalah yang belum terselesaikan di antara mereka saat sekolah dulu. Aku mengusirnya halus dan menunggu Gayung keluar dari toilet.
Tak lama ia keluar, aku semakin jelas melihat mata sipitnya yang membengkak dan memerah. Seharusnya aku memeluknya namun yang ku lakukan malah menginterogasinya tentang laki-laki yang mencoba mendekatinya. Seharusnya aku percaya padanya karena ia pun menyanggahnya, Sasya pun mengatakan hal yang sama. Namun emosiku begitu tidak terkontrol saat itu dan berbicara sinis padanya. Saat Jay tiba-tiba datang, aku langsung berpikir bahwa aku tidak mau membuang-buang waktuku untuk memiliki Gayung seutuhnya. Aku harus segera terbang ke Singapura secepatnya!
Setelah aku kembali ke tanah air, aku tak sabar untuk menemuinya. Saat makan siang aku menghampirinya diruang makan. Ku lihat ia nampak lesu dan sibuk dengan ponselnya, sepertinya ia sedang berbalas pesan dengan seseorang. Hal itu membuatku sedikit kesal, karena ia sampai tidak menyadari keberadaanku dihadapannya. Akhirnya aku mulai berbicara supaya dia tahu aku ada didekatnya. Dan itu berhasil, ia sedikit terkejut saat melihatku tapi kemudian mencoba bersikap biasa. Ia memang belum siap jika teman-temannya mengetahui hubungan khususnya denganku. Kurasa ia menahan diri untuk meluapkan kemarahannya padaku. Kemudian terucaplah kalimat dari bibirku yang memicu perdebatan kami, aku meminta ponselnya. Aku begitu penasaran dengan siapa dia berbalas pesan. Awalnya dia ragu, tapi kemudian akhirnya ia menyerahkan benda pipih itu kepadaku.
Yang pertama menarik perhatianku adalah tampilan layar depannya. Ia sudah menggantinya dengan foto artis Korea yang sangat diidolakannya itu. Dan aku memang bisa menjadi sedikit kekanakan jika mengenai Gayung, aku cemburu pada artis tidak penting itu dan aku memulai pertengkaran kecil kami. Aku tidak peduli semua orang tengah menonton drama kami.
Pertengkaran kami semakin melebar, ketika aku menemukan pesan terakhirnya dengan laki-laki yang pernah ku lihat merayunya pagi itu. Gayung menjawab pertanyaanku dengan ketus, harusnya aku memahami sikapnya. Tapi pesan itu membuat emosiku tersulut kembali. Memangnya dia siapa, sampai ia berpamitan ke luar kota pada kekasihku. Sialan! Dan lagi aku malah melampiaskan rasa cemburuku pada Gayung yang tidak tahu apa-apa itu. Hingga akhirnya kata putus itu tak ku sangka keluar dari mulutnya.
Aku tak bisa berkonsentrasi siang itu, Gayung meminta putus dariku. Aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Aku terus menatapnya pada layar monitor di sudut ruanganku seperti orang gila. Hingga saat ia keluar dan si cungkring itu mengikutinya, aku menyusul keluar, sekalian aku belum solat dzuhur juga.
Kedekatannya dengan si cungkring itu semakin membuatku memanas. Tapi aku segera menarik nafas panjang. Aku harus menahan diri, kalau tidak, bisa-bisa Gayung benar-benar meninggalkanku dan rencanaku gagal total. Aku hanya sedikit memberikan sindiran dan aku yakin si cungkring itu tidak akan berani dekat-dekat lagi dengan Gayungku. Dan perhitunganku kali ini benar. Mereka berjalan berjauh-jauhan. Aku tersenyum penuh kemenangan, dan mempercepat langkahku menuju tempat wudhu.
Aku bisa melihat, Gayung tercengang melihat aku berwudhu. Semua juga menatapku takjub tapi yang ada dalam pandanganku hanya wanita itu. Wanita yang bahkan tak menyadari aku sudah berdiri dihadapannya. Aku menyuruhnya segera berwudhu dengan lembut. Aku menganggap tak pernah ada kata putus di antara kami, dia akan menjadi milikku. Milikku seutuhnya, sebentar lagi.
Selesai solat, aku menunggunya dibalik tembok. Ketika aku mendengar langkah kakinya, aku mengulurkan tanganku. Yang kuharapkan ia menyambut uluran tanganku. Tapi sepertinya ia masih terkejut dengan sikapku. Aku mencoba mengerti saat ia menolakku. Kami berjalan dalam diam, aku benci kecanggungan di antara kami.
__ADS_1
Aku mencoba mengatakan apa yang menjadi kegelisahanku saat ini. Aku tidak mau ada kata putus di antara kami. Ia memandangku, semakin lama aku bisa melihat matanya mulai berkaca-kaca. Tanpa berpikir panjang lagi, aku menariknya ke dalam pelukanku. Dia menangis sesegukan. Aku tahu ini semua karenaku, hingga Gayung seperti ini. Aku memang berencana memberinya kejutan tapi sebelumnya aku tidak berniat mendiamkannya selama ini. Tapi rasa cemburu terlalu mendominasiku kala itu.
"Maaf, sudah membuatmu bersedih," bisikku.
Kami berpelukan sangat erat. Aku memang menunggu momen ini, aku sangat merindukannya, merindukan aroma tubuhnya.
Aku membantunya membersihkan air mata yang membasahi wajahnya.
"Maaf," ucapku sekali lagi. Gayung tidak menjawab permintaan maafku, ia sedikit menunduk sambil menggigiti bibir bawahnya. Demi apapun, andai aku tidak ingat pesan Pak Ming. Aku pasti sudah menciumnya habis-habisan.
Aku menguatkan diriku dalam hati. Bahwa aku hanya perlu bersabar sebentar lagi.
"Aku kesel sama kamu!" ucapnya dengan nada sedikit meninggi, sembari memukul tubuhku bertubi-tubi. Aku membiarkannya, aku memang pantas mendapatkannya.
"Maaf, maaf, aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Ku sentuh pipinya yang masih sembab. Hingga gerakan tangannya berhenti berganti dengan semburat merah jambu dipipinya.
"Tapi ... aku juga kangen." Gayung membenamkan wajahnya lagi kedalam dadaku, menyembunyikan wajahnya yang malu-malu. Aku kembali memeluknya. Sikapnya yang seperti ini benar-benar membuatku gemas setengah mati. Aku menguatkan hatiku untuk tidak melakukan hal lebih. Aku akan bersabar sebentar lagi. Hanya sebentar lagi ...
***
Segini dulu ...
Mungkin part ini membosankan, aku cuma pengen kalian tahu perasaan Galas saja kok ...
Lanjut besok ya ...
Jangan lupa like & komen juga votenya
Salam sehat dan bahagia selalu ...
__ADS_1