
POV GAYUNG
Drama diruang makan benar-benar menjadi buah bibir dikantor. Semua orang pasti sedang membicarakanku sekarang. Ya Tuhan, aku benar-benar sangat malu sekarang. Aku menyesali ucapanku yang loss kontrol tadi, tapi tetap saja Kak Galas yang paling bersalah disini. Dia yang memancingku lebih dulu.
Ku gerakkan mouse ditanganku, membuka banyak pesan dari rekan-rekan kantor yang mencoba mengkonfirmasi melalui wechat. Membaca pesan mereka satu demi satu, tapi tak ada yang aku balas satupun. Aku bingung harus membalas bagaimana.
Dan aku menyesali kata putus yang ku ucapkan tadi. Dasar aneh! Aku mengumpati diriku sendiri. Aku yang meminta putus tapi aku sendiri yang ketakutan kalau hal itu menjadi kenyataan. Ya Tuhan dimana lagi aku bisa menemukan laki-laki tampan nan unix seperti Kak Galas yang menyebalkan itu, yang bisa menerimaku apa adanya. Aku pasti sudah gila karena cinta.
Aku membaca pesan dari Kak Sasya.
[ An, tadi kamu wa sama siapa, kok Bos ganteng bisa marah???? ]
[ Mampuslah aku, An. Bakalan kena semprot Bos ganteng lagi ... Oh my God, hidupku ... ]
Dan banyak lagi pesan dari Kak Sasya yang belum ku balas satupun. Aku melirik padanya, sebelum akhirnya ku putuskan untuk mengetikkan pesan balasan kepadanya.
[ sama tetangga, Kak Sasya]
[ Tetangga yang mana??? Pengamen ganteng???] Kak Sasya
[ Hemm] Jawabku
[ Oh my God! Nyusahin orang aja sih tuh pengamen ganteng. Padahal aku sudah kasih dia peringatan berkali-kali, tapi masih ngeyel aja. Gembel banget emang tuh orang ... gak punya kerjaan apa ya ... ] Kak Sasya
[ Kak ... Aku malu banget ... ] Aku mengalihkan pembahasan.
[ Why? Semua cewek dikantor ini pengen jadi kamu lho, An ] Kak Sasya
[ Rasanya aku pengen menghilang ke dasar bumi!!! ]
[ Jangan dong, kasihan nanti Bos ganteng nangis darah, bingung cariin kamu wkwkwk ] Kak Sasya
[Kak Sasya, aku seriusss ... !!!]
[ Hihihi ... mending kamu solat dulu sana, biar adem pikirannya ] Kak Sasya
[ Hemm ... bareng yuk]
[ Aku udah donggg tadi ... ] Kak Sasya
__ADS_1
Aku tak membalas pesan Kak Sasya lagi. Menghela nafas panjang, sebelum setor muka pada kepala divisiku untuk meminta ijin solat.
"Mas Jio, aku solat ya," ucapku lirih, setengah menunduk. Aku sungguh merasa sangat malu saat ini. Tapi tidak tahu bagaimana caranya menyembunyikan mukaku dihadapan rekan-rekanku saat ini.
"Oke, Bu Bos." Mas Jio mulai menggodaku dengan wajahnya yang kocak, tapi meyebalkan bagiku kini. Aku sampai merinding mendengar panggilan barunya untukku.
"Cie ... Bu Bos. Pak Bos jangan diputusin dong." Kini giliran Mbak Safa yang menggodaku dengan suaranya yang melengking itu. Anak buah Mbak Safa pun tak kalah menggodaku. Aku tidak tahu sudah semerah apa wajahku kini, yang pasti aku harus kabur sekarang juga.
Aku membalikkan badanku cepat, keluar dari ruangan berpendingin yang terasa panas bagiku itu. Tak kusangka, Mas Jio mengikutiku dan sudah mensejajarkan langkahnya denganku. Bisa kutebak, ia pasti penasaran dan berniat menginterogasiku kini.
"An, kamu beneran sama Pak Galas?" Dan benar dugaanku. Ia mendekatkan dirinya padaku sampai kami bersisian tanpa jarak.
Aku menganggukkan kepalaku pelan, sembari menatap ekapresinya.
"Sejak kapan?" tanyanya lagi.
"Baru," jawabku dengan senyum canggung. Masa aku harus bilang setelah putus dengannya. Aku tidak enak hati mengatakannya.
"Selamat, ya." Entah kenapa, aku melihat ada kesedihan dari ucapannya. Bukankah Mas Jio sudah move on? Bahkan sudah mendekati anak baru juga ...
Aku sekali lagi hanya membalas ucapannya dengan senyum canggung. Aku sungguh tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Mas Jio mengucapkan selamat padaku setelah baru saja aku mengucapkan kata putus pada Kak Galas. Apa aku masih berhak memperoleh ucapan selamat?
"Jio," panggilnya. Aku dapat melihat wajah Mas Jio yang pias seketika.
"Iya, Pak," jawabnya dengan suaranya yang seperti tercekat ditenggorokan.
"Jangan terlalu dekat. Kalian bukan muhrim kan?" ucapnya sembari melirikku tajam. Mataku mengikuti langkahnya yang menjauh meninggalkan kami. Sementara, Mas Jio mengiyakan tanpa suara. Lalu mengambil jarak yang cukup jauh denganku. Kami berjalan seperti orang sedang bermusuhan saja menuju mushola kantor.
Sesampainya di tempat wudhu, aku dikejutkan sebuah pemandangan yang sangat mencengangkan. Dan bukan aku saja, semua yang sedang antri berwudhu disana pun menunjukkan ekspresi yang sama denganku.
Bosku yang tampan itu tengah berwudhu dengan gerakan yang sangat indah, menurutku. Duniaku serasa berhenti karena memperhatikannya. Ada rasa bahagia dan harapan yang menelusup masuk dalam relung hatiku. Tapi tiba-tiba rasa itu meredup seketika, mengingat aku baru saja meminta putus darinya. Kenapa aku semakin menyesal saja ...
"Sana, cepat berwudhu," tanpa ku sadari dia sudah berjalan melewatiku. Aku tergagap menjawab ucapan lembut yang keluar dari bibirnya. Ia juga memberikan sebuah senyuman kepadaku dan hatiku langsung bersorak kegirangan karenanya. Jangan senang dulu, jangan senang dulu, batinku.
Aku segera mengambil air wudhu, lalu ke mushola. Suasana begitu hening disana. Tentu saja karena ada Kak Galas. Biasanya karyawan laki-laki ada saja yang usil membatalkan karyawan wanita dengan menyentuhnya. Tapi kali ini semua mendadak alim dan tak banyak bersuara.
"Siapa yang mau jadi Imam?" Jio begitu canggung menawari rekan-rekannya yang laki-laki. Ia tidak berani menatap Kak Galas sama sekali.
"Kamu saja," ucap Kak Galas yang langsung diangguki Mas Jio tanpa penolakan. Mas Jio maju ke depan, aku tahu dia sangat gugup meskipun sudah sering menjadi imam.
__ADS_1
Dan aku? Aku tak bisa menyembunyikan senyum bahagiaku dan mataku tak bisa beralih dari punggung indah yang berdiri di depan sana. Kak Galasku memilih menjadi mualaf. Apa itu artinya aku boleh berharap lebih sekarang?
Aku memanjatkan banyak doa setelah selesai solat. Apa doaku? Cukup aku, author dan Tuhan yang tahu. Segera ku rapikan mukenah yang baru saja ku pakai dan memasukkannya kembali ke dalam loker. Ku lihat sekelilingku, sudah tidak ada orang didalam mushola, tinggal aku seorang diri. Aku bergegas pergi, masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan, karena aku kehilangan konsentrasiku akibat insiden penuh drama tadi siang.
"Astagfirrullah hal azim." Aku tersentak kaget saat tiba-tiba sebuah tangan terulur dari balik tembok. Sosok tampan itu muncul dari balik tembok dengan sebuah senyuman yang ku rindukan akhir-akhir ini.
Aku masih terpaku ditempatku berdiri kini. Tak tahu harus berkata apa dan harus bersikap bagaimana. Semua kemarahanku meluntur begitu saja saat melihatnya berwudhu tadi, berganti dengan sebuah rasa rindu yang menggebu. Ya, Tuhan, bolehkah aku memeluknya sekarang?
Tidak! Aku harus menahan diri untuk melakukan tindakan memalukan itu, bukankah Kak Galas tadi juga mengatakan secara tidak langsung, aku dan dirinya memang bukan muhrim. Meskipun kami pernah lupa diri pada awal-awal hubungan kami.
"Bukan muhrim." Akhirnya kata itu yang keluar dari mulutku. Kak Galas berdecak mendengar jawabanku dan dia menarik tangannya kembali ke belakang tubuhnya. Harus ku akui, tawaran bergandengan tangan begitu menggiurkan, tapi aku sadar kini kami masih dikantor. Aku tak ingin terlalu mencolok menunjukkan hubungan kami. Bicara masalah hubungan, aku meminta putus padanya tadi, jadi bagaimana status kami saat ini?
Kami berjalan beriringan dalam diam. Sampai kemudian, Kak Galas membuka suara.
"Jangan katakan itu lagi." Ucapnya tanpa melihatku.
"Apa?" Aku tidak suka dengan kecanggungan ini. Aku ingin kembali seperti waktu itu.
"Jangan katakan putus lagi." Kali ini Kak Galas menoleh kepadaku dengan tatapan sendu. "Karena aku juga tidak akan pernah mengatakannya," imbuhnya. Kami saling memandang dalam diam ditangga itu. Entah hanya perasaanku saja atau tidak, aku juga seperti melihat kerinduan dari netra hitamnya. Aku menggigit bibir bawahku, menahan gejolak kerinduan dalam dadaku. Aku sangat sangat merindukannya. Dan air mata bodoh ini sungguh tak bisa ku ajak bekerja sama dan malah menghambur keluar dari pelupuk mataku.
Tak kusangka Kak Galas menarikku ke dalam pelukannya dan aku membalasnya, mengeratkan kedua tanganku melingkari tubuhnya. Aku membenamkan wajahku dalam dadanya, aku tidak peduli hal lain lagi. Maafkan aku Tuhan, sebentar saja, aku ingin memeluknya dan menumpahkan kerinduanku kepadanya.
"Maaf, sudah membuatmu bersedih," bisik Kak Galas tepat ditelingaku.
***
Maaf baru up...
Ada yang nungguin nggak sih ...???
Hehe ...
Maaf ya authornya lagi sibuk baca novel juga ...
Wkwkwk ...
Jangan lupa like & komen juga vote ...
ARIGATO GOZAIMASUUU ...
__ADS_1