
"Gimana, Las? Ada yang kamu suka nggak?" Jay menanyakan lagi tentang hasil seleksi calon istri idaman Bosnya itu. Tiara yang kebetulan ada di sana mengurungkan niatnya meninggalkan ruangan Galas setelah memberikan laporan yang diinginkan atasannya itu. Ia pun penasaran akan hal tersebut.
"Ehmmm ...." Galas memandang dua orang kepercayaaanya yang tengah menunggu jawabannya itu dengan senyum misterius. "Ini sudah jam istirahat, ayo kita makan siang."
Galas berdiri mengambil bekal makan siangnya dan mengajak dua sahabatnya yang terpaku dengan memasang wajah penuh tanya itu.
"Makan siang dimana?" tanya Tiara keheranan. Karena setahunya Galas selalu makan siang di ruangannya sendiri.
"Sesekali tidak ada salahnya bukan, makan siang bersama karyawan?"
Jay dan Tiara saling melemparkan pandangan penuh curiga.
"Ini nggak salah? Seorang Galas ... ingin makan siang bersama karyawannya?" ejek Jay.
"Aku curiga sih, akhir-akhir ini Galas itu sedikit aneh." Tiara mengemukakan hasil pengamatannya selama beberapa hari belakangan ini. Ia yakin pada feeling-nya, bahwa ada salah satu dari karyawati di kantor yang menarik perhatian Galas.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, memangnya apa yang salah jika seorang Bos ingin makan siang dengan anak buahnya." Galas benar-benar tak terbaca. Ekspresi dan cara berbicaranya selalu sama, angkuh, dingin, dan tak terbantah.
Galas mendahului keluar ruangan. Tiara dan Jay kembali melemparkan tanya lewat kode mata. Tapi dari keduanya tak ada yang mengetahui isi hati Bos mereka yang penuh misteri itu. Akhirnya mereka pun mengikuti langkah Galas menuju ruang makan karyawan.
***
Istirahat siang, para karyawan berhamburan menuju ruang makan karyawan. Gayung dan Jio berjalan beriringan menuju tempat yang biasa mereka tempati, setelah sebelumnya mengambil box makanan catering yang tertata rapi di meja panjang bermaterialkan keramik disana.
"Ayam lagi, ayam lagi, hadeeeeh ... bosen!" Jio terlihat tak berselera melihat seonggok ayam goreng di lunchbox-nya.
"Mas Jio mah aneh banget, bersyukur dong, banyak diluar sana yang nggak bisa makan. Sementara Mas Jio masih bisa makan ayam setiap hari, masih mengeluh aja," komen Gayung setengah menggerutu.
"Yah, bukannya begitu, An."
"Kalau nggak mau buat aku aja sini, buat dikasih kucing di depan kantor. Kasihan si Meo, habis lahiran anaknya ada 6 lagi, perlu makan makanan yang bergizi biar produksi ASI nya lancar." Melihat ayam goreng gempal yang disia-siakan pemiliknya membuat Gayung teringat si Meo, kucing kurus yang mulai merintis gemuk setelah rutin ia berikan makanan bergizi sejak dua bulan yang lalu.
"Ya ampun sayang banget sih sama kucing, sekali-kali sayang kek sama aku," goda Jio dengan senyum konyolnya.
"Idih, idih dasar playboy." Jay yang baru datang ikut bergabung dengan duduk persis di depan Jio seperti biasa. Namun ada yang berbeda, kehadiran sosok dengan aura berkuasa yang mengikutinya menghantarkan keheningan suasana makan siang yang sebelumnya riuh penuh dengan obrolan, canda dan tawa.
Dalam sejarah makan siang mereka. Tidak pernah ada ceritanya sang Bos ikut bergabung, menyantap makanan dari tempat dan meja yang sama.
"Pacar apa sih, Pak, pacaran aja nggak pernah," ucap Jio malu-malu, ketahuan saat sedang merayu, apalagi mata elang sang Bos yang mengawasinya dengan tatapan tajam.
"Makanya jangan plin plan, Ji. Kalau mendekati wanita itu satu saja, jangan semua dideketin. Mereka jadinya meragukan keseriusan kamu." Jay memberikan wejangan kepada anak buahnya yang bertubuh kurus itu.
__ADS_1
"Iya, sih." Jio membenarkan perkataan atasannya tersebut dan mulai memakan makan siangnya dengan tak berselera. Ia masih saja "muak" melihat sepotong ayam montok di lunchbox-nya. Apalagi kehadiran pemilik perusahaan yang membuatnya semakin grogi. Entah apa kesalahannya, Jio merasa sang Bos seperti memandangnya dengan tatapan tak suka. Sementara Gayung nampak salah tingkah, karena Galas pun terus memperhatikannya.
"Ya Allah ... kangen banget sama sambal bawangnya Emak," gumam Jio, dia benar-benar merindukan kampung halamannya. Karena terakhir ia pulang saat lebaran tahun lalu.
"Kalau cuma sambal, aku bisa membuatnya Mas Jio," ucap Gayung, mencoba membuka obrolan.
"Kamu bisa masak, An?" tanya Jay, ia pun berusaha membuat suasana yang penuh ketegangan karena kehadiran sang penguasa ditengah-tengah mereka itu sedikit mencair.
"Bisa, tapi rasanya nggak enak." Gayung tersenyum malu-malu.
"Kalau tidak enak, itu berarti kamu tidak bisa memasak," ucap Galas dengan senyum mengejek.
"Bisa, hanya tidak enak tapi masih bisa dimakan." Gayung membela diri.
"Kalau tidak enak bagaimana bisa dimakan?" Galas terlihat senang melihat wajah kesal Gayung.
"Buktinya bapak saya makan makanan saya setiap hari, dulu."
"Berarti kamu sedang menyiksa bapak kamu."
"Tapi bapak saya tidak pernah protes tuh ...." Gayung sejenak lupa kalau Galas adalah bosnya dan melupakan betapa heningnya ruang makan itu, yang artinya seluruh karyawan bisa mendengar dengan jelas perdebatan unfaedah mereka.
Gayung terdiam memandang kesal ke arah Galas, namum sejurus kemudian ia mulai menyadari situasi di jsekitarnya. Pak Jay, Jio, Tiara dan beberapa karyawan yang sejajar dengannya memandangnya takjub karena berani berbicara santai dengan Bos mereka yang terkenal tak suka dibantah itu dan ia yakin rekan-rekan kerjanya dibarisan meja yang berderet dibelakangnya pun melakukan hal yang sama.
"Ini, Pak, makanannya." Bu Ita menata makanan untuk Galas. Sebuah makanan yang sangat sederhana sampai membuat Gayung dan Jio yang duduk berhadapan dengan Bos mereka itu melongo dibuatnya. Semangkuk sop tahu putih tanpa teman dengan taburan daun bawang diatasnya, dan semangkuk nasi lembek.
"Terima kasih, Bu," ucap Galas tulus. Wanita paruh baya itu mengangguk sopan dengan senyum kagum. Ibu-ibu saja terpesona apalagi yang masih muda.
"Ada yang salah?" tanya Galas, merasa diperhatikan oleh dua makhluk dihadapannya.
"Tidak ada, Pak," jawab Gayung dan Jio hampir bersamaan.
"Kalian pikir, hanya karena saya kaya raya, saya harus makan emas begitu," sindir Galas seolah tahu apa yang dipikirkan dua insan itu. Dua sejoli itu nampak tersenyum canggung karena pikiran mereka terbaca.
"Apapun makanannya menurut saya yang paling penting, halal dan sehat," ucapnya sembari menyendokkan satu buah tahu ke dalam mulutnya. Galas dan Jio memandang takjub sosok tampan yang terlihat sangat menikmati makanannya. Ada rasa penasaran di hati mereka akan rasa dari tahu putih yang benar-benar polos itu. Bahkan mereka seolah bisa merasai betapa hambarnya makanan tersebut.
"Kalian mau?" Galas menawari dengan nada datarnya. Sekali lagi, Jio merasa Bosnya seperti memberikan tatapan tak suka kepadanya. Ia mencoba mengingat-ingat, apakah ia membuat kesalahan pada pekerjaannya. Tapi seingatnya semua tugas kerjanya berjalan dengan sangat baik.
"Jio." Panggilan Galas membuat Jio pias seketika, prasangka buruk semakin merajai otaknya.
"Iya, Pak."
__ADS_1
"Kamu rindu dengan ibu kamu?" tanyanya.
"Iya, Pak," jawab Jio takut-takut.
"Kalau begitu saya akan memberikan kamu cuti, kamu mau berapa hari?" Jay dan Tiara menoleh penuh keheranan pada Galas. Sejarah baru terukir lagi, seorang Galas yang tidak pernah mudah membiarkan karyawannya mengambil libur, kini dengan gampangnya menawarkan cuti. Sungguh kejadian langka.
"Benar, Pak? Saya boleh ijin pulang kampung?" Jio tak begitu saja percaya, ia mengenal Bosnya itu tipe atasan yang cukup pelit memberikan cuti pada karyawannya. Bahkan cuti menikah saja hanya tiga hari bagi yang rumahnya masih dalam jarak dekat dari ibukota.
"Iya, kamu mau berapa hari?"
"Tiga hari boleh, Pak?" Wajah Jio berubah sumringah membayangkan akan bertemu wanita yang telah melahirkannya.
"Kenapa cuma tiga hari? Satu minggu, dua minggu pun saya ijinkan," ucap Galas dengan entengnya.
Wajah Jio berubah muram, pikiran buruk kembali menghampiri otaknya.
"Maksudnya saya dipecat, Pak?" Mata Jio mulai berkaca-kaca. Kalau ia sampai dipecat bagaimana dengan cicilannya yang disana-sini. Bagaimana ia membayarnya?
"Siapa yang mau memecat kamu? Saya hanya memberikan kamu kesempatan untuk lebih lama berkumpul dengan keluarga, terutama ibu kamu. Saya sendiri sangat dekat dengan ibu saya, jadi saya sangat mengerti perasaan kamu." Entah karena alasan apa, dalam sekejab tiba-tiba saja, Galas menjadi Bos yang sangat pengertian kepada karyawannya.
"Bos? Sehat?" Jay memegang dahi Galas, namun ditepis cepat oleh laki-laki itu.
"Hei, kamu sendiri yang bilang supaya aku tidak terlalu pelit memberikan cuti pada karyawan," dengus Galas.
" Iya sih, tapi cuti dua minggu? Itu terlalu lama, Bos. Pekerjaan Jio nanti siapa yang handle?"
"Kamu yang memberi ide. Jadi ... kamu yang bertanggung jawab." Galas tersenyum puas, sebaliknya dengan Jay yang berubah kecut.
"Pekerjaanku saja sudah banyak, Bos."
"Saya ambil cuti empat hari saja, Pak," sela Jio.
"Kenapa cepat sekali, seminggu, ambil cuti seminggu," perintah Galas. Jio hanya mengiyakan dan tak lupa berterima kasih. Tapi wajahnya tak menunjukkan bahagia mendapatkan cuti cukup panjang dari Bosnya. Padahal biasanya ia yang merengek-rengek minta perpanjangan cuti. Tapi ketika Bos sendiri yang menawarikan langsung padanya, ia merasa ada yang aneh dan sangat janggal.
Sementara Galas samar menarik sudut bibirnya penuh kemenangan. Karena berhasil menjauhkan sementara anak buahnya yang genit itu dari seseorang yang kini tengah beradu pandang dengannya.
BERSAMBUNG ...
Promo karyaku yang lain ...
__ADS_1