Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 70


__ADS_3

"Aku pulang dulu," pamit Gayung pada suaminya.


"Jangan macam-macam disana," pesan Galas, mencekal tangan istrinya yang sebelumnya


mencium tangannya untuk berpamitan.


"Hemm," jawab Gayung sebiasa mungkin.


"Nggak mau cium dulu?" goda Galas. Karena istrinya akhir-akhir ini sering meminta ciuman kepadanya.


"Nggak, mulut aku pahit," jawab Gayung beralasan. Meski sejujurnya ia ingin melakukannya namun berusaha ia tahan. Ia masih kesal dengan ketidakterbukaan suaminya.


Gayung menemui Sasya yang sudah menunggunya didepan kantor.


"Ini serius, Bu?"


"Banget," jawab Gayung yakin.


"Aku udah sewa Gr*b, mobilnya udah disana."


"Motor Kak Sasya?"


"Dibawa sama Bimo. Dah yuk saatnya beraksi, sebelum Pak Bos keluar." Sasya menggandeng Gayung menuju mobil sewaannya, yang terparkir tak jauh dari kantor mereka.


Mobil Lexus putih yang mereka tunggu akhirnya datang juga setelah cukup lama menunggu. Sasya memberikan perintah pada sang sopir untuk mengikuti. Gayung sedikit berdebar sebenarnya melakukan aksi memata-matai suaminya sendiri seperti ini. Apakah ia terlihat seperti istri yang sangat posesif sekarang?


Tidak! Kalau saja ia tak melihat satu sepatu wanita yang tertinggal dimobil suaminya dan suaminya jujur kepadanya. Ia juga tidak mungkin bersikap berlebihan seperti ini.


"Aku berasa kaya ikut reality show kayak yang di TV-TV gitu sekarang," ucap Sasya merasa keren.


"Aku kaya gini, benar apa salah, sih, Kak?" tanya Gayung kalut.


"Kamu kaya gini, kan ada alasannya, An," hibur Sasya. "Aku mendukungmu, Sob ... lanjut semangat! Wkwkwk ...."


"Kok ketawa sih, Kak?"


"Nggak, An. Aku cuma ingat sama salah satu pembaca novelku yang kalau komen kaya gini, aku mendukungmu, Sob. Lanjut next semangat hihihi ...."


"Dasar penulis haus komenan." Gayung tertawa juga mendengar celotehan sahabatnya itu.


"Jangan sampai kehilangan jejak, Pak," titah Sasya.


"Siap, Mbak. Tenang aja," jawab Sopir tua itu.


"Mbak-mbak ini nggak lagi shooting, kan?" tanya sopir itu lagi menelisik.


"Nggaklah Pak. Ini darurat bukan setingan, lagian mana kameranya Pak kalau lagi shooting ...," jawab Sasya menekankan kata darurat pada kalimatnya.


"Siapa tahu pakai kamera tersembunyi gitu, Mbak. Macam Om Baim gitu kalau bagi-bagi duit hehe ...."


"Tenang aja, Pak. Nanti pasti dikasih duit lebih sama temen saya," jawab Sasya lagi.

__ADS_1


"Mbaknya nggak mau ngasih juga?" Si sopir mulai cerewet.


"Maaf, Pak. Duit saya habis buat PDKT." Sasya mengingat tujuh juta rupiah yang harus ia keluarkan demi bisa berbicara dengan seorang Rio Wijaya. Ia terlalu malu jika hanya bertanya saja tanpa membeli.


"Pak, jangan sampai kehilangan jejak." Gayung mengingatkan.


"Siap, Mbak Cantik."


***


"An, itu Pak Bos lagi sama siapa?" tanya Sasya tanpa tahu sahabatnya itu sudah meradang menahan pikiran negatif yang semakin bercokol diotaknya, melihat suaminya berjalan beriringan bersama seorang wanita cantik menuju sebuah cafe. Bukan Tiara tapi Dara dengan Zian yang langsung naik ke gendongan suaminya. Tanpa Jay bersama mereka, hanya berdua saja. Orang yang tidak tahu, akan mengira mereka keluarga yang bahagia.


Gayung mengambil smartphonenya, mendial nomor suaminya sembari menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Menetralisir segala kecamuk dalam dadanya.


"Halo, kenapa Sayang?" Untung saja, suaminya langsung mengangkat panggilannya. Kalau tidak, mungkin Gayung akan nekat menghampirinya sekarang.


"Halo, Kak. Lagi dimana?" Gayung tidak bisa berbasa-basi dan langsung pada intinya.


"Di cafe X, kenapa Sayang?"


"Ehm ... jangan lupa nanti jemput ...." Bibirnya terasa begitu sulit untuk bertanya dengan siapa suaminya sekarang di cafe itu. Ia tak ingin terlihat seperti istri yang posesif.


"Iya, nanti aku kabari."


"Ehm ... Kamu lagi sama Pak Jay?"


"Jaynya belum datang ...."


"Terus ... sekarang sendirian?" pancing Gayung.


Entah ia harus bertanya apalagi sekarang. Mereka memang sudah akrab sejak lama, sebelum mengenal dirinya. Dara-Dara-Dara. Cinta pertama suaminya dan kini mereka tampak bercanda dengan begitu akrab layaknya sepasang suami istri dengan putra mereka.


"Oh, ya udah. Assalamuallaikum." Gayung mematikan sambungan telefon.


Dengannya saja, suaminya itu jarang mengajaknya keluar. Jika pulang kerja, Galas tidak pernah mengajaknya sekedar mampir ke cafe atau tempat-tempat romantis dan selalu langsung pulang ke rumah. Alasannya sudah lelah atau malas, Gayung mengerti tapi jika dengan teman lain ...Ah, sudahlah ...


"Kita pulang ajalah ...," ucap Gayung lemah.


"Yakin?" tanya Sasya.


"Iya, mungkin mereka mau bahas pekerjaan," jawabnya lesu, berusaha mengusir pikiran negatif di otaknya.


"Kok aku nggak yakin yah? Bu Dara itu udah jendes lho, An. Kamu nggak takut, Pak Bos kan pernah suka sama dia ... dan ya ampun, Bu Dara itu cantik banget nggak kelihatan kaya ibu-ibu anak satu, penampilannya masih kayak anak perawan ...." Mata Sasya tak lepas dari sosok cantik yang tengah tertawa disana. Gayung mengikuti pandangan sahabatnya itu. Mereka memang tampak begitu serasi, bahkan pakaian mereka pun begitu kompak, seolah memang sudah janjian sebelumnya.


"Itu suami, Mbak?" Si sopir mulai kepo. "Ganteng banget, ya ...," pujinya dengan senyum lebar.


"Iya, kaya artis ya, Pak?" Sasya menanggapi sementara Gayung malas menjawab.


"Iya hehe ... pantes sih ...."


"Pantes apa, Pak?" tanya Sasya penasaran kelanjutan kalimat Pak Sopir yang menggantung.

__ADS_1


"Panteslah kalau banyak yang mau, saya aja yang jelek juga pengen nambah istri satu lagi hehe ...."


"Memang sekarang istri Bapak berapa?" tanya Sasya. Gayung tiba-tiba membenci sopir ganjen itu.


"Sudah dua, hehe ... tapi saya punya kenalan janda baru, montok bahenol pengen deh saya nafkahin juga hehe ....


Gayung dan Sasya menggeram.


"Bapak kasih makan apa istri-istri Bapak?" tanya Gayung penuh emosi. Bukan mau merendahkan profesi sopir, tapi menghidupi dua istri juga anak-anaknya? Wow ...


"Dikasih makan Beling ... ya nasilah Mbak, emang istri saya kuda lumping wkwkwk," jawab si sopir koplak.


"Cih." Sasya berdecih kesal. Gayung apalagi pengen muntah saking mualnya. Apa juga yang dilihat wanita-wanita itu dari bapak-bapak ini. Wajah, dibawah standart duit kayanya nggak tebal-tebal juga. Amsyong dah ... fix! Mungkin si Bapak pakai pelet! Sasya mengambil kesimpulan.


"Yey ... sunah rosul itu Mbak," lanjutnya.


Sunah Rosul? Alasan klasik! Maki Gayung dalam hati.


"Kalau mau menjalankan sunah rosul cari janda tua dong, jangan yang muda, montok dan bahenol. Lebih bagus kalau yang sudah nini-nini, kan mereka pasti sudah nggak bisa bekerja dan pantas dinafkahi," ceramah Sasya dongkol.


"Janda tua mana enak, Mbak ...."


"Kan niatnya sunah rosul bukan cari enak, gimana sih nih Bapak bikin emosi jiwa aja," sungut Sasya lepas kontrol.


"Masih muda jangan suka emosi, Mbak ...." Si sopir malah mengajaknya bergurau.


"Emang tuh janda mau sama Bapak?" Gayung penasaran juga.


"Mau ... kan kita sudah pacaran," jawabnya bangga. Gayung dan Sasya mendelik kesal.


"Bapak pakai pelet, ya?" tembak Sasya langsung.


"Eh, kok Mbak tahu sih ...?" Malah ngaku dia.


"Hehe ... nebak, sih ... kuy bagilah ilmunya," sahut Sasya ikut somplak. Gayung memukul kesadaran sahabatnya yang mulai gila itu.


***


Sorry ya ...


Jangan kesal sama Galas ya ... karena aku nggak bisa liat si ganteng dibenci ...


Oke fix ...


Slow update ...


Jangan lupa


Like


Komen

__ADS_1


Vote


❤❤❤


__ADS_2