
Andaikan ada kursi kosong, ingin rasanya Gayung pindah tempat disamping Sasya saja saat makan siang. Namun sayangnya semua kursi telah terisi dan tidak ada yang mau berganti tempat dengannya.
Gayung mendudukkan dirinya, menghela nafas berat. Disampingnya Jio terlihat sumringah dan begitu perhatian kepadanya, membuatnya semakin tak nyaman. Apalagi ditambah pandangan tak suka yang ditunjukkan oleh Galas melihat sikap Jio. Ia menunduk dalam-dalam, ingin rasanya ia menghilang dari muka bumi ini.
"Cie ... pasangan baru nih, makan-makannya jangan lupa Ji," goda Jay. Jio hanya tersenyum tipis, ia kembali merasakan hawa dingin menusuk kedalam jiwanya. Ia mendapati kembali Bosnya menatapnya dengan pandangan menakutkan. Entah apa kesalahan yang diperbuatnya, batinnya.
"Selamat ya An, Ji," ucap Tiara, pandangannya tertuju pada perubahan wajah Galas yang berbanding terbalik dengan sebelumnya, sebelum mengetahui kabar pasangan baru di kantornya.
Gayung memilih menunduk tak menanggapi. Jio pun hanya tersenyum tipis saja. Ia merasakan Gayung merasa tak nyaman dengan keadaan ini.
Gayung makan dengan kecepatan penuh, berbanding terbalik dengan Galas yang tak menyentuh makanannya sama sekali. Pandangannya terus tertuju pada gadis manis dihadapannya. Ketika Gayung telah menyelesaikan ritual makannya, ia segera melarikan diri dari situasi yang tak nyaman itu. Galas mengikutinya, tak peduli tatapan Tiara, Jay atau entah siapapun itu yang ada di ruang makan itu.
"Ikut aku!" Galas menarik kasar tangan Gayung saat tak ada lagi yang melihat mereka.
"Lepaskan!" Gayung memberontak, ia masih kesal jika mengingat Galas menganggapnya adik kemarin. Namun kekuatannya kalah jauh dengan Galas, meski ia sudah menggunakan seluruh tenaganya. Ia susah payah mengikuti kecepatan Galas menuruni tangga, Galas membawanya kembali ke ruangannya. Bahkan menguncinya.
"Jelaskan padaku," ucapnya datar menahan emosi.
"Jelaskan apa?" Gayung pura-pura bodoh, rasa kesal membuat ia berani bersikap melawan.
"Kenapa kamu menerima si cungkring itu?" Galas tak dapat menyembunyikan emosinya.
"Bukan urusan Kak Galas." Gayung memalingkan wajahnya tak ingin bertatap muka dengan Galas.
"Bukan urusanku?" Galas menyeringai sinis. "Ciuman kita kemarin tidak ada artinya untukmu?"
Rona merah kembali bersemburat di wajah ayunya, diingatkan tentang kejadian kemarin. Bibirnya kelu tak tahu harus menjawab apa. Tentu saja itu sangat berarti baginya, sampai-sampai seharian kemarin ia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya saking berbunga-bunganya.
"Jawab aku?" Desak Galas dengan penuh penekanan.
Gayung masih diam, menyusun kata dalam otaknya.
"Lalu bagaimana dengan Kak Galas, apa itu berarti buat Kakak?" Gayung ingin mendengar lebih dahulu jawaban laki-laki itu.
"Apa harus ku jawab, menurutmu apa aku akan semarah ini jika itu tidak ada artinya," ucap Galas lebih melunak.
__ADS_1
"Lalu, buat Kak Galas, aku itu apa?" Gayung memberanikan diri menanyakan posisi dirinya bagi laki-laki itu.
"Kamu--milikku sejak kemarin kita berciuman dan aku pun begitu, kamu memilikku sepenuhnya." Gayung terdiam mencoba mencerna kata demi kata yang Galas ucapkan.
"Masih belum mengerti?" tanya Galas dengan nada sendu.
"Bukannya Kakak menganggap aku--adik?" Gayung memberanikan diri menatap kedalaman mata bening itu.
"Adikku cuma satu, Inge, dan lagi aku tidak akan mencium adikku sendiri." Galas meraih tangan Gayung dalam genggamannya.
"Tapi ...." Gayung masih mempercayai pendengarannya kemarin.
"Kamu mendengar percakapanku dengan Jay?" Gayung mengangguk pelan.
"Astaga, aku cuma mau membuatnya penasaran," terang Galas dengan senyum menawan terpampang dibibirnya. Gayung memalingkan wajahnya saat pikiran kotor mulai merasuki otaknya hanya karena memandang bibir Galas. Gayung, tolong jangan gila! batinnya.
"Hei lihat aku ...." Galas meraih dagu Gayung membawanya menghadap kembali ke arahnya.
"Segera putuskan si cungkring itu," tegasnya.
"Kau dengar?" tanyanya saat Gayung tak mengiyakan permintaannya.
"Anak baik." Galas mengelus lembut rambut ikal Gayung dengam senyum yang menghias bibirnya.
"Besok-besok, tidak usah meluruskan rambutmu lagi," ujarnya. Gayung mendongak dengan penuh tanya.
"Bukannya Kak Galas sukanya yang rambutnya lurus?" polosnya.
"Itu dulu, sekarang aku sukanya yang rambutnya ikal." Rona merah semakin terlihat jelas pada wajah ayu Gayung, senyum bahagia samar terlihat walau ia sembunyikan dalam lipatan bibirnya.
"Cute-nya." Galas gemas sendiri dibuatnya.
"Segera putuskan dia, aku tidak mau mencium pacar orang," bisiknya tepat ditelinga Gayung. Tubuh gadis itu berdesir hebat hingga membuat denyut nadinya memacu semakin cepat. Ia mengigit bibir bawahnya kuat-kuat.
"Kak Galas belum makan?" Gayung sempat melihat tadi, makanan di atas meja Galas masih utuh.
__ADS_1
"Salah siapa?" Galas mencubit gemas pipi Gayung.
"Salah sendiri," ucap Gayung sembari mengerucutkan bibirnya.
"Bocah nakal." Galas mengacak sayang rambut Gayung.
"Jangan biarkan si Cungkring itu menyentuh rambutmu, seujung kuku pun, mengerti?" Galas kembali berbisik dan Gayung mengangguk dengan patuhnya.
"Aku akan mengawasimu." Galas menunjuk pada kedua matanya sendiri, sebelum menunjuk layar monitor di sudut atas ruangannya. Gayung mengikuti arah tangan Galas.
"Jangan berbuat macam-macam dengannya, atau aku akan menendangnya keluar dari sini," ancamnya.
"Jangan salahkan Mas Jio, dia orang baik."
"Dan jangan memujinya didepanku." Galas berdecak tidak suka.
"Jangan galak-galak." Gayung merajuk.
"Makanya jangan melakukan sesuatu yang tidak kusuka." Galas kembali mengelus rambut ikal Gayung. "Ya sudah, sana kembali ke ruanganmu, sebentar lagi teman-temanmu akan turun."
"Hemmm," Gayung menurut. Tapi tangan Galas masih menggenggam erat tangannya, Gayung mendongak membuat kode tanya dengan matanya.
"Aku akan mengantarmu," ucapnya dengan senyum disudut bibirnya. Gayung kembali melipat bibirnya mendapat perlakuan manis dari Galas. Ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta dengan orang yang sama-sama memiliki perasaan yang sama dengan kita ... batinnya.
"Sudah sampai," ucap Gayung dengan senyumnya yang malu-malu, saat ia sudah sampai di ruangannya.
"Jangan macam-macam, ingat, aku mengawasimu," ulang Galas lagi. Gayung mengangguk patuh masih dengan senyum manisnya.
"Ya sudah, aku pergi," pamitnya seolah akan pergi jauh saja. Tangan mereka belum terlepas masih saling bertautan. Kemudian mereka tertawa bersama melihat tingkah konyol mereka sendiri.
Suara derik pintu akhirnya membuat mereka saling melepaskan pegangan tangan mereka. Sasya muncul dari balik pintu dengan menahan senyumnya.
"Permisi, Pak," ucapnya sopan. Galas hanya mengangguk sebelum kemudian berkata ...
"Sasya."
__ADS_1
"Iya, Pak?"
"Tolong jaga Gayung untuk saya ...."