
Hari ini Jio nampak berbeda dari biasanya. Semenjak mulai bekerja sampai sekarang jam istirahat siang, tak ada keceriaan yang biasanya selalu melingkupi wajahnya. Ia lebih banyak diam dan murung. Hal yang lantas membuat Gayung semakin diliputi perasaan bersalah, hingga konsentrasinya terbagi antara masalah pribadi dengan pekerjaan.
"Ji, kamu nggak papa, kan?" tanya Safa hati-hati, se bar-barnya mulutnya, melihat Jio terpuruk seperti itu menimbulkan perasaan tak tega pada dirinya.
"Gak pa pa, Mbak Safa," jawab Jio dengan senyum yang terlihat jelas ia paksakan. Gayung menoleh ke belakang, dilema akan apa yang seharusnya ia lakukan untuk memperbaiki semuanya. Ingin rasa menghampiri, namun melihat tatapan rekan-rekannya, terutama anak buah Safa yang seolah menyalahkan dirinya membuat nyalinya menciut. Gayung akui, bahwa apa yang ia lakukan memang cukup keterlaluan, mempermainkan perasaan seseorang yang tulus mencintainya.
Saat jam istirahat siang, Jio pun tak muncul di ruang makan. Padahal Gayung ingin sekali bertemu, meminta maaf lagi dan menghiburnya. Namun sayangnya, Jio lebih memilih solat dzuhur dan menenangkan pikirannya di mushola kantor.
Galas tampak memperhatikannya, kegelisahan yang Gayung tunjukkan menimbulkan riak cemburu yang menjengkelkan. Bahwa kehadirannya tak cukup membuat gadis itu bahagia, seperti apa yang ia rasakan kini.
"Kasihan Jio, setidaknya kalau nggak suka kan tinggal ditolak saja. Kalau kaya gini kan jadinya kaya dipermainkan gitu loh. Iya nggak sih?" sindir Tiara, berbicara pada Jay yang tak tahu harus menjawab atau bereaksi seperti apa. Hanya matanya yang bergerak, bergantian menatap Gayung yang menunduk dalam diamnya dan Galas yang sibuk memperhatikan gadis yang diam memainkan sendok diatas makanannya yang sepertinya belum ada separuhnya ia makan.
"Bagaimana dengan yang sudah ditolak tapi tetap tidak mau menerima juga," sindir Galas balik dengan sikap tenangnya. Tiara yang merasa kalimat itu ditujukan untuknya, membawa arah pandangnya menatap pada pemilik suara dengan tatapan tak menduga. Ia tidak menyangka Galas akan mengucapkan kata-kata menyakitkan itu kepada dirinya. Sahabat. Ya, sahabat yang mencintainya. Sahabat yang sudah membantunya berjuang membangun perusahaan selama sepuluh tahun lamanya dari nol. Dari lelaki itu belum memiliki apa-apa.
Dan kini, hanya karena seorang karyawan baru sok polos yang baru dikenalnya Galas berkata kasar padanya. Batin Tiara menahan amarah.
Untung saja Jay begitu pandai mengalihkan pembicaraan dan menghiburnya. Sehingga emosi yang sebelumnya memuncak di ubun-ubun, dapat ia kendalikan dengan baik. Setidaknya untuk saat ini.
Gayung yang terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, tak begitu memperhatikan. Ia memilih mengakhiri makan siangnya dan menemui Jio di mushola untuk meminta maaf lagi. Hatinya masih belum tenang dari tekanan perasaan bersalah. Ditambah Jio yang seperti sengaja menghindar membuatnya merasa menjadi wanita yang jahat. Ia tahu rasanya cinta bertepuk sebelah tangan juga sebuah penolakan. Itu menyakitkan, Gayung sangat paham rasanya.
Galas yang merasa terabaikan tak dapat menyembunyikan kekesalannya. Gayung selalu berhasil membuat emosi dan ekspresinya yang selalu tenang menjadi tidak terkendali. Ia pun terpaksa mengakhiri makan siangnya dan mengikuti langkah Gayung yang terlihat berlari menuruni tangga mengejar Jio. Dan ketika dua insan itu terdengar saling berbicara, Galas memilih menahan kakinya.
"Mas Jio, aku ... minta maaf." Gayung meraih tangan Jio, berharap kepala divisinya itu mau memaafkannya. Galas mengepalkan tangannya di ujung tangga menyaksikan adegan itu. Sisi posesifnya tak mengijinkan laki-laki lain menyentuh wanita miliknya.
"Aku sudah maafin kamu kok, An," ucapnya masih dengan wajahnya yang kusut.
"Beneran? Tapi kenapa Mas Jio murung terus?"
"Bukan karena kamu, aku lagi ada masalah lain aja."
"Masalah apa? Mas Jio cerita sama aku, siapa tahu aku bisa bantu," pinta Gayung tulus dengan niat membantu.
"Aku malu mau cerita." Senyum kecut mengiringi ucapannya.
"Kenapa malu? Kita teman, kan?" bujuknya. Jio tampak berpikir, sebelum akhirnya membuka suara menceritakan kesulitannya.
__ADS_1
"Aku lagi ada masalah keuangan," ucapnya malu-malu. " Dih, aku malu cerita masalah beginian sama kamu An," senyum konyolnya muncul kembali.
"Nggak pa pa, semua orang punya masalahnya sendiri-sendiri kan. Ehm ... kalau Mas Jio butuh uang, aku ada kalau mau. Nggak dibalikin juga nggak papa," ucap Gayung tulus.
"Hei, nggaklah. Masa nggak dibalikin, aku butuhnya lumayan banyak ..."
"Berapa? Sebutin aja, siapa tahu aku punya," desak Gayung. Mereka melanjutkan obrolan sembari menuruni tangga.
"Aku nggak enak sama kamu...."
"Ya udah, anggap aja aku kasih pinjam nanti Mas Jio balikinnya kalau sudah punya uang."
Jio masih nampak berpikir.
"Sepuluh juta, ada?"
"Ada, mana nomor rekeningnya biar aku kirim sekarang." Gayung sigap mengambil ponselnya, siap mengetik.
"Kamu beneran ada, siapa tahu kamu ada kebutuhan lain."
"Bukan uang kamu?" tanya Jio tak mengerti.
"Hemmm ... aku malu mau ceritanya. Sebenarnya biarpun sudah kerja tapi orang tua aku tuh setiap bulan masih kirimin aku uang. Aneh, ya?" Gayung melirik ekspresi Jio.
"Nggak. Pasti ada alasannya, kan?"
"Dulu, aku tuh miskin banget ...."
"Masa sih?" Jio tak percaya. Karena wajah Gayung sama sekali tidak menunjukkan seperti orang tak mampu.
"Beneran ... dulu aku tuh jelek, culun, kampungan, miskin ... dijauhin, dikatain, nggak punya banyak teman. Mungkin kalau Mas Jio kenal aku dulu, nggak mungkin suka sama aku." Gayung tersenyum kecut menceritakan masa lalunya. Ada kesedihan dimatanya setiap kali menceritakan masa-masa itu.
"Samalah ... dulu aku juga jelek, culun. Lihat aja sekarang masih, kan?" hibur Jio, melihat wajah sedih Gayung.
"Haha ... udah nggaklah. Sekarang mah udah ganteng, kok."
__ADS_1
"Masa sih? Tapi ditolak terus hehe."
"Belum jodohnya aja kali, Mas. Oh iya, Mas Jio butuh uang buat apa?"
"Kakakku operasi lagi."
"Operasi lagi?" Gayung meminta penjelasan lebih.
"Iya, berapa bulan lalu operasi secar, terus semalam operasi lagi. Ada kistanya, terpelintir gitu katanya makanya harus dilakukan tindakan operasi segera."
"Ehm ... suaminya?" tanya Gayung hati-hati.
"Suaminya kabur sejak anak pertama lahir," ucap Jio masam.
"Oh ... kartu kesehatan nggak punya?"
"Nggak bikin."
"Jadi Mas Jio yang menanggung biayanya selama ini?"
"Iya. Siapa lagi, orang tuaku cuma petani, An. Adikku ada empat, cuma aku yang bisa mereka harapkan."
"Keren ...."
"Keren apanya? Pusing, An. Mana adikku kalau minta apa-apa musti diturutin."
"Ya buat aku itu keren. Mas Jio belum makan lho, aku punya roti mau?" Mereka sudah sampai di depan ruangan mereka.
"Hemm ... hemmm ...." Suara deheman mengalihkan pandangan mereka. Galas berjalan melewati mereka tanpa ekspresi, kembali ke wajah datarnya.
"Selamat siang, pak," sapa Jio sopan. Gayung menatap Galas yang tampak mengacuhkannya. Ia baru sadar sudah mengabaikan Galas sedari tadi. Timbul perasaan bersalah dalam dirinya. Apa yang harus dilakukannya kini? Galas pasti marah ...
Minta like yah ... please
Komen juga boleh ... hihi ...
__ADS_1