Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 45


__ADS_3

Esoknya, Galas terpaksa kembali ke ibukota. Meskipun sesungguhnya ia tak rela berpisah dengan istri tercintanya. Banyak pekerjaan yang sudah menantinya disana, sepeninggalan dua orang kepercayaannya yang banyak memberikan PR baru untuknya. Selama ini, sebagian besar pekerjaannya banyak yang ia lemparkan kepada Jay. Sehingga kini ketika Jay memutuskan resign dengan sadar diri, karena ia melanggar aturan yang sudah ia terapkan tentang sanksi pemecatan kepada mereka yang melakukan perselingkuhan apapun posisi mereka dikantor. Galas cukup dibuat pusing karenanya.


"Kak Galas, kamu buru-buru balik ke ibukota bukan karena aku lagi datang bulan, kan?" tanya Gayung dengan wajah tak rela, saat membantu suaminya bersiap dikamar.


Galas tergelak cukup keras mendengar pertanyaan konyol istrinya itu. Sebelum kemudian menghadiahi banyak kecupan diseluruh wajah Gayung yang tampak lesu.


"Bukanlah, Sayang." Galas menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya.


"Aku ikut." Air mata bodohnya tiba-tiba mengalir begitu saja, membuat Galas semakin berat untuk meninggalkannya. Namun ia pun tak mau mengambil waktu istrinya dengan Ibunya yang jarang sekali bertemu seperti sekarang. Lagipula, hanya tiga hari saja sampai istrinya kembali bekerja ke kantor. Bulan madu yang ia rencanakan sebelumnya pun terpaksa ia tunda, karena ia harus melakukan perombakan untuk beberapa posisi dikantornya.


"Hei, Sayang, jangan menangis. Sebenarnya aku ingin mengajak kamu tapi aku tidak enak hati pada Ibu kamu. Kalian jarang bersama, kan ...." Galas memberikan pengertian sembari menghapus air mata Gayung yang makin mengalir deras.


"Kayanya aku kualat, deh, Kak...." Tiba-tiba saja Gayung terkekeh, menertawai sikapnya yang berlebihan.


"Kualat kenapa, Sayang?"


"Dulu waktu kecil, aku pernah ngetawain Mbak Gita yang suka nangis histeris kalau ditinggal pulang calon suaminya," cerita Gayung geli sembari membayangkan tetangganya diwaktu lampau.


"Sama, aku juga." Galas tertawa kecil, mengingat Gita yang kini sudah memiliki dua buah hati itu. Ternyata ia juga melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Gayung.


"Kalau aku selebay Mbak Gita, Kak Galas ilfeel nggak sama aku?"


"Nggak." Galas menggeleng yakin.


"Masak?" Gayung mencebik tidak mempercayai ucapan suaminya.


"Iya, soalnya aku sudah cinta mati sama kamu." Sejak menikah Galas seringkali menggombali istrinya itu.


"Haha ... Kak Galas, jangan ngomong begitu, dong. Geli aku dengernya." Gayung masih terkekeh.


"Astaga, Sayang. Harusnya kamu senang bukanya geli." Galas memutar bola matanya malas melihat sang istri yang begitu ajaib itu.


"Iya, iya, aku senang, kok. Ya, sudah ... Kak Galas sarapan dulu baru berangkat." Gayung menarik lengan suaminya untuk mengajaknya ke meja makan. Namun Galas malah menariknya kemudian memeluknya erat dengan posisinya yang masih duduk disisi tempat tidur dan Gayung yang berdiri. Otomatis wajah Galas kini terbenam dalam dada Gayung.


Meskipun mereka sudah melakukannya lebih dari itu, tetap saja Gayung merasakan detak jantungnya berpacu lebih kencang saat Galas memeluknya dalam posisi seperti ini. Namun ia membiarkannya dan membelai rambut tebal suaminya penuh kelembutan.


"Ayo ikut." Kini gantian Galas yang merajuk. Didongakkannya kepalanya menatap istrinya yang tengah asyik memainkan rambutnya tanpa melepaskan pelukannya pada pinggang ramping itu.


Gayung tak menjawab, mata sipitnya menatap wajah tampan milik suaminya itu. Tatapannya fokus pada bibir Galas. Gayung menggigit bibir bawahnya, berusaha meredam keinginannya untuk mencium bibir suaminya yang kini begitu candu baginya. Namun sayangnya ia tidak bisa bersikap seagresif itu untuk memulai lebih dulu sebelum suaminya yang memintanya.


"Kenapa?" Galas tersenyum jahil mengerti apa yang diinginkan istrinya. "Mau?"


Tanpa sadar Gayung menganggukkan kepalanya dan tak menyia-nyiakan waktu lagi Galas meraih tengkuk Gayung, meraup benda kenyal ranum itu dan memulai permainan bibir mereka.


***


Sementara itu dikantor, sedang dihebohkan dengan postingan Gayung saat hari pernikahannya dengan Galas yang disertai dengan caption manis yang membuat siapapun iri saat melihatnya. Tema wedding forest yang diusung benar-benar membuat pasangan itu nampak seperti Bella dan Edward dalam versi dunia novel (hehe).


"Mantan sudah merried, terus kamu kapan, Ji?" Jio menjadi sasaran ledekan empuk buat Safa.

__ADS_1


Sasya pun tak mau kalah menyumbangkan lagu Syahrini untuk kepala divisinya itu.


"Cintaku kandas ... cinta kini hilang tak berbekas ... cintamu dimiliki yang lainnya ... dan kau pilih dia ...." Sasya menyanyikannya begitu mendayu-dayu.


"Sabar, ya, Pak ketua." Bimo mengelus punggung kurus Jio sembari memberikan sewadah tisue milik Sasya.


Jio pun tak kalah gilanya mengikuti permainan rekannya tersebut. Ia berakting menangis darah dan pura-pura membuang ingus dengan tisu yang Bimo sodorkan padanya.


"Woy, jangan gila, dong kalian!" Safa menimpuk Jio dengan pen miliknya sambil tertawa ngakak. Pen itu pun mendarat mulus tepat dijidat Jio.


"Astagfirrlah, Mba Safa ...." Jio mengusap bekas timpukan rekan sesama kepala divisinya itu.


"Benda berharga lho ini ... buat aku aja, ya , Mbak." Bimo memungut pen hitam yang jatuh dibawah kakinya itu.


"Enak aja, beli sendiri." Safa merebut kembali pen miliknya.


"Hu ... tadi dibuang-buang," sela Jio yang masih memegangi jidatnya.


"Ye, siapa yang buang-buang, orang cuma buat nimpuk situ. Kalau buang itu ditempat sampah." Safa membela diri. "Lagian yah ... pulpen aku tuh tiap hari ilang. Kamu, ya, Ji, yang ngambil," tuduh Safa tega.


"Astagfirrlah, aku juga sama. Tiap hari pulpen nggak tahu kemana."


"Kalau kamu mah emang pikun. Tiap bawa pulpen ke atas ditinggal disana, ya diembatlah sama Ibnu ...." Terbongkarlah rahasia Ibnu dari mulut Safa.


"Kok, Mbak Safa tahu?"


"Ya, tahulah. Ibnu yang cerita sendiri."


"Ya, udah, sih, cuma pulpen ini. Apalah artinya buat seorang Jio yang gajinya berlipat-lipat dari guee." Sasya ikut nimbrung sembari makan cilok langganannya.


"Berlipat-lipat apa, sih, Sya. Tiap bulan kasbon terus, hutang disana-sini," curhat Jio frustasi. " Hutang ke Andara aja belum sempat dicicil ...."


"Kamu punya hutang sama Andara?" tanya Safa.


"Punya, sepuluh jeti," jujur Jio.


"Udah, nggak usah bayar. Andara, mah sekarang udah kaya raya ini, udah jadi istri Bos," hasut Safa dengan rayuan setan.


"Huuu ... Mbak Safa mah ngajarinnya nggak bener," seru Bimo yang sedang berebut cilok dengan Safa.


"Heh, aku, kan cuma ngasih saran aja Bambangg!"


"Kalian sedang apa?" Sebuah suara berat mengalihkan pandangan semua mata di ruangan tersebut pada sosok pria muda berpakaian rapi dengan kemeja biru lautnya.


"Lagi olahraga, Mas," jawab Jio yang memang sudah akrab dengan mantan kepala toko yang sekarang menggantikan posisi Pak Jay. Namanya Ryan, usianya 28 tahun dan masih lajang.


"Olahraga apa sambil duduk begitu?" tanyanya, ia memang sedang berusaha mengakrabkan diri dengan bawahannya sekarang dikantor.


"Olahraga bibir, hehe ...," jawab Jio dengan konyolnya.

__ADS_1


"Dasar, Jio-Jio ... Jio orangnya cerewet, ya?" Ia memandang rekan-rekan Jio meminta jawaban.


"Dia mah bukan cerewet lagi, Mas. Dia mah lambe turahnya kantor ini," fitnah Safa puas melihat wajah protes Jio.


"Bohong, Mas, bohong, Mbak Safa mah emang dajalnya kantor ini." Jio balik membalas dengan puasnya. Safa sudah mau komplain namun dilerai oleh Ryan.


"Sudah, sudah ... jangan lupa semua kepala divisi, ke ruang meeting, ya sehabis ini," ucap Ryan sembari melangkah pergi ke ruangannya.


"Iya, Mas," jawab Safa dan Jio kompak.


"Mas Ryan ganteng, ya ..." Sasya menatap punggung Ryan yang menghilang dibalik pintu kaca dengan tatapan love-love dari matanya.


"Naksirrrr," ledek Bimo yang sudah hapal kebiasaan rekannya yang gampang jatuh cinta namun tak kunjung mendapatkan cinta itu.


"Iya," jawab Sasya malu-malu kucing.


"Huuu, dasar!"


"Tapi sebenarnya Pak Jay sama Mak Lampir kemana, sih?" tanya Safa yang sangat dibuat penasaran dengan dua orang penting dikantor yang resign secara bersamaan.


"Dih, Mbak Safa ketinggalan berita, nih," sela Sasya yang langsung mendekat sembari membawa ponsel ditangannya.


"Mbak Safa nggak folow IG nya Mbak Wina?" tanyanya.


"Nggak. Aku mah nggak main IG-IG an," jawabnya jujur. Matanya langsung melotot begitu melihat postingan Wina, istri Jay pada IG nya.


"Ini serius? Berarti gosip kemarin beneran, dong?"


"Yupss."


"Dih, nggak nyangka. Bukannya Mak Lampir sukanya sama Bos kita ...." Sejak sering mendapat omelan dari Tiara. Safa sekarang memanggil Tiara dengan sebutan Mak Lampir.


"Nggak tahu juga, mungkin pindah haluan kali," sahut Sasya asal.


"Wihhh, panas panas ... terus nasib pernikahan Pak Jay sama Mbak Wina gimana?" Safa terus menggali informasi dari Sasya. Lumayan buat bahan gosip di ruang makan, pikirnya.


"Mana saya tahuuu." Sasya memonyongkan bibirnya.


"Eh, ngomong-ngomong kalian mau kondangan berapa ke Andara apa mau kasih kado aja," sela Jio, memutus rumpi antara Sasya dan Safa.


"Iya, ya ... kok aku nggak kepikiran itu." Sasya melupakan hal penting itu.


"Jangan duitlah, yang spesial gituloh ...," usul Bimo.


"Ya, udah pulang kerja nanti cari, yuk bareng-bareng," ucap Safa yang langsung mendapat persetujuan kawan-kawannya.


Obrolan pagi pun bubar, seiring bunyi bel yang begitu nyaring. Tanda jam bekerja dimulai. Jio dan Safa beriringan menuju ruang meeting sementara anak buahnya bekerja seperti biasa.


***

__ADS_1


Jangan lupa like & komen and vote ...


😁😁😁😁😁😁😚😚


__ADS_2