Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 8


__ADS_3

"Galas?" Tiara meragu untuk mengutarakan sesuatu yang mengganjal dihatinya. Suasana kantor sore ini begitu hening, semua karyawan telah meninggalkan tempatnya sejak setengah jam yang lalu. Ia sengaja menghampiri Galas untuk menanyakan sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak siang tadi. Jemarinya saling meremas mengisyaratkan kegelisahan.


"Hemm?" Galas menunggu pertanyaan dari gadis berambut coklat itu sembari memainkan ponsel ditangannya.


"Kamu serius ... soal selebaran itu?" Tiara menjeda kalimatnya. "Bukannya itu terlalu ... lebay?"


"Itu idenya Jay, salahkan dia." Galas lepas tangan. Padahal tanpa persetujuannya, ide gila Jay tidak mungkin terealisasikan.


"Berarti ... sudah tidak ada kesempatan lagi untukku?" ucap Tiara sendu. Galas yang sedari tadi disibukkan dengan ponsel dalam genggamannya mengangkat wajahnya, menatap wajah ayu yang telah bekerja untuknya selama sepuluh tahun ini.


"Kamu juga bisa ikut, kalau mau." Galas berbicara dengan entengnya.


"Kalau kamu memang tertarik sama aku, kamu nggak mungkin melakukan hal konyol ini." Tiara tersenyum hambar mengakui kekalahannya, ada sesak menyeruak dalam dadanya. Selama lebih dari sepuluh tahun cintanya bertepuk sebelah tangan. Bukan salah Galas, harusnya ia sudah menyerah sedari dulu. Namun ia tak kuasa mengendalikan perasaannya sendiri untuk berhenti mencintai Galas. Ia terlalu yakin dan berharap Galas akan melihat keberadaannya suatu saat nanti dan bisa mencintainya.


"Apa ada karyawan yang menarik perhatian kamu?" tanyanya. Ia masih tidak mengerti kenapa Galas sampai harus membuat kehebohan dikantornya sendiri.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Aku melakukan ini untuk melihat ... siapa tahu ada salah satu dari mereka yang menarik perhatianku." Galas kembali fokus pada layar ponselnya. Entah apa yang menarik pada benda pipih itu. Hanya Galas dan Tuhan yang tahu.


"Apa menurutmu aku tidak menarik?" Tiara memberanikan diri bertanya.


"Tentu saja menarik, kalau tidak, mana mungkin banyak laki-laki yang menyukaimu sejak masih kuliah dulu. Kenapa tidak terima saja salah satu dari mereka. Jangan terlalu pemilih, usiamu sudah tidak muda lagi," tuturnya dengan begitu santainya.


Tiara mendelik kesal, bagaimana bisa laki-laki di depannya itu bisa tidak peka dengan perasaan dan perhatiannya selama ini. Ingin rasanya Tiara berteriak bahwa ia begini karena begitu menyukai dirimu, Galas!


"Kalau begitu, kenapa kamu tidak pernah melihatku?" Tiara tak dapat lagi menyembunyikan gejolak dalam dadanya.

__ADS_1


"Tidak pernah melihatmu?" Galas bertanya bingung.


"Maaf, aku sedang berkomunikasi dengan klienku," ucap Galas dengan bodohnya. Mungkin jika ada penghargaan orang tidak peka sedunia, Galas pantas mendapatkannya. Tiara membatin kesal.


"Maksudku ... kenapa kamu tidak pernah menyukaiku?" Tiara menghentakkan kakinya tanpa suara.


"Siapa yang tidak menyukaimu, aku sangat menyukaimu, makanya aku memberikan posisi penting dan gaji yang besar untukmu, apa masih kurang? Baiklah, nanti aku akan menaikkan gajimu, jangan bilang aku pelit lagi." Galas melirik pada ekspresi wajah Tiara yang memerah bagai tomat menahan kesal. Galas bukannya tak memahami maksud dari perkataan Tiara. Itu adalah caranya membuat Tiara mengerti bahwa sudah saatnya ia melepaskan perasaan untuknya dan menerima kehadiran laki-laki lain dalam hidupnya. Perasaan tidak bisa dipaksa, baginya Tiara hanya teman dan tidak akan bisa lebih dari itu.


"Galas, aku mencintaimu." Tiara mengatakannya dengan begitu lugas, ia tahu Galas tidak sebodoh itu untuk tidak mengertikan perasannya.


"Tiara, kita adalah te-man..."


"Tapi aku mencintai temanku, aku harus gimana?" Buliran bening itu lolos begitu saja. Ia tidak tahu bagaimana cara menghentikan perasaannya yang tak terbalas ini, sementara di satu sisi ia menyadari ia sudah tak muda lagi untuk terus mempertahankan permainan cinta bertepuk sebelah tangan yang ia perankan selama ini.


"Bagaimana caranya agar aku bisa melupakan kamu?" Jemari lentik itu bergerak menghapus buliran air mata yang semakin menganak sungai dipipinya. Sesungguhnya ia merasa ini terlalu memalukan, terlihat lemah seperti ini sama sekali bukan dirinya.


"Cobalah berkencan dengan seseorang." Galas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia sungguh tidak ahli menghadapi wanita yang sedang menangis. "Kamu cantik dan pintar, aku yakin kamu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dariku."


"Kalau aku cantik dan pintar, kenapa kamu tidak bisa mencintaiku, Las? Aku memang tidak bisa memasak tapi aku bisa belajar. Aku akan berusaha keras untuk bisa menjadi istri yang sesuai dengan kriteria kamu ...." Sudah kepalang tanggung untuk berhenti. Tiara sungguh ingin mengetahui bagian mana dari dirinya yang membuat Galas tidak bisa membuka hati untuknya. Apa kekurangannya?


"Perasaan tidak bisa dipaksa Tiara, aku memang menginginkan seorang wanita yang sempurna tapi sebenarnya aku lebih memberatkan pada perasaanku, aku tidak menutup kemungkinan menyukai perempuan yang biasa-biasa saja."


"Jadi benar?" Dari perkataan Galas Tiara merasa bahwa Galas sudah menaruh hati pada seorang wanita.


"Benar apa?"

__ADS_1


"Kamu sudah menaruh hati pada seseorang? salah satu karyawan disini ...?" Tiara mencoba menelisik ekspresi laki-laki yang dicintainya sejak dibangku kuliah itu. Namun Galas benar-benar tak terbaca, wajahnya selalu terlihat datar, tenang, dan santai.


"Tidak ada." Galas sebenarnya tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Ia hanya merasa penasaran, hanya itu, untuk saat ini.


Tiara terdiam, ia merasa yakin bahwa Galas menyembunyikan sesuatu. Feeling-nya mengatakan bahwa ada wanita yang sudah menarik hati laki-laki gila kerja yang ambisius itu.


"Galas, boleh aku minta sesuatu?" Tiara mulai bisa menguasai diri.


"Apa itu?"


"Berkencanlah denganku, sehari saja. Setelah itu aku akan menyerah dan melepaskanmu ...."


"Apa?" Mata Galas membola, kaget mendengar permintaan Tiara.


BERSAMBUNG ...


JANGAN LUPA


LIKE


KOMEN


VOTE


😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2