
Gayung duduk gelisah di teras rumahnya ditemani Bi Hanah. Ia sudah berdandan cantik, juga mengenakan gaun yang sangat cantik. Beberapa kali ia menengok ponselnya, menanti kabar dari suaminya yang tak kunjung kembali. Padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Drrtt ... drrrt ... drrt ...
Gayung lekas mengangkat panggilan masuk dari suaminya.
"Halo."
"Halo. Sayang, kamu sudah bersiap?"
Nada bicara sendu suaminya, membuat Gayung menahan sesak didadanya. Bersiap menerima kenyataan yang tak ingin didengarnya malam ini. Malam yang begitu dinantikannya.
"Iya," jawab Gayung lirih.
Sejenak tak ada yang berbicara. Hanya helaan nafas berat suaminya yang Gayung bisa dengar disana.
"Maaf ...," ucap Galas dengan berat hati. Gayung mengusap buliran air mata yang bergulir begitu saja dipipinya. "Malam ini sepertinya aku menginap di Rumah Sakit ...."
Gayung menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak kekecewaan dalam hatinya.
"Aku boleh ke sana?" tanyanya setelah berhasil menguasai diri.
"Boleh, ehm ... suruh Pak Ato mengantarkan kamu, nanti aku kirim alamatnya."
"Hemm."
"Maaf, ya ...." Galas merasa sangat bersalah.
"Iya ... ya udah aku bilang dulu sama Pak Ato."
Setelah mengakhiri sambungan telefon dengan suaminya. Gayung meminta Bi Hanah memanggil Pak Ato untuk mengantarkannya ke Rumah Sakit.
"Nak Galas memangnya kemana?" tanya Bi Hanah sembari menunggu suaminya yang tengah bersiap-siap memanaskan mobil.
"Mbak Tiara masuk Rumah Sakit lagi, Bi. Jadi Kak Galas lagi nemenin disana."
"Ya Allah ... kasihan Non Tiara. Sudah hamil diluar nikah, nggak ada suaminya lagi," ucap Bi Hanah seakan ikut merasakan penderitaan wanita cantik itu. Gayung pun sedikit terketuk hatinya mendengar ucapan Bi Hanah. Ia merasa sedikit jahat, karena mencemburui wanita malang yang harus menyembunyikan kehamilannya dari keluarganya itu tanpa memiliki siapa-siapa dikota ini, selain Galas sebagai sahabat terdekatnya. Terbersit perasaan bersalah dalam hatinya.
"Bapak sudah siap berangkat itu, Nak Gayung." Kalimat Bi Hanah menyadarkan Gayung dari lamunannya.
"Iya, Bi." Masih mengenakan gaunnya, Gayung menghampiri mobil yang akan mengantarkannya ke Rumah Sakit. Dalam perjalanan, ia membuai dirinya dalam lamunan sampai tak sadar ia belum memberikan alamat Rumah Sakit kepada pria tua itu dan anehnya, Pak Ato pun tidak menanyakan kemana ia harus mengantarkan istri tuannya tersebut.
"Pak? Kok ke sini?" tanya Gayung tersadar saat Pak Ato membelokkan mobilnya menuju sebuah Hotel.
"Mas Galas meminta saya mengantarkan Mbak ke sini." Gayung terdiam, memikirkan ada yang salah disini.
"Suami saya bilang begitu sama Bapak?" Gayung menelisik.
"Iya, Mbak. Mas Galas telefon saya tadi, sebelum berangkat kesini." Pak Ato juga menunjukkan pesan singkat pada ponselnya yang berisi alamat lengkap beserta nomor kamar hotelnya.
"Tapi suami saya tadi bilang, kalau dia sedang menunggu Mbak Tiara di Rumah Sakit X," ucap Gayung bingung.
"Mas Galas pasti lagi ngerjain Mbak Gayung ini." Pak Ato terkekeh, membuat Gayung mengeryit bingung. "Mbak Tiara memang sedang sakit, berobat ke Singapura dia .... Saya malah yang mengantarkannya ke Bandara," jelasnya, Gayung semakin bingung.
"Ke Singapura?"
"Iya, kasihan dia, Mbak ...."
__ADS_1
"Kapan, Pak?"
"Sudah agak lama."
"Terus yang menemani Mbak Tiara siapa disana?" Gayung penasaran.
"Ada perawat .... Mas Jay juga ikut mengantar waktu itu, tapi nggak ikut ke sana."
"Suami saya?"
"Mas Galas nggak ikut. Kan setiap hari kerja sama Mbak."
Gayung mengulum senyumnya. Sepertinya suaminya itu memang niat sekali mengerjainya.
Setelah meminta Pak Ato mengirimkan alamat yang dikirimkan suaminya tadi kepadanya. Gayung bergegas masuk dan bertanya pada resepsionis cantik yang begitu ramah menyambutnya, bahkan memberikan ucapan selamat ulang tahun untuknya.
Gayung sedikit berdebar saat menuju kamar hotel yang akan ditujunya. Meskipun tak dapat dipungkiri, ia sangat bahagia sampai tak sabar dan mempercepat langkahnya untuk segera bertemu dengan suaminya.
Gayung memastikan kembali nomor kamar yang ditujunya benar, sebelum membuka perlahan pintu kayu itu. Senyumnya melebar, tatkala indra penglihatannya mendapati sang suami menyambutnya dengan senyuman yang begitu mempesona. Suaminya begitu tampan dengan setelah jas warna hitam yang begitu pas ditubuhnya, berdiri menyambutnya dengan sebuket besar bunga mawar merah yang begitu cantik.
Gayung langsung menghambur dalam pelukan suaminya. Memeluknya erat dengan perasaan mengharu yang luar biasa. Karena selama hidupnya, ia belum pernah mendapatkan perlakuan manis, seperti yang selalu suaminya lakukan untuknya. Ia merasa beruntung, sangat bersyukur dan berbahagia telah dipertemukan dengan laki-laki yang memperlakukannya dengan baik, manis dan tentu saja mencintainya apa adanya.
"Terima kasih," ucapnya tulus sembari mengurai pelukannya dan menerima buket bunga besar itu, memeluknya erat dengan senyum yang tak kunjung luntur dari bibirnya.
"Selamat ulang tahun," ucap Galas sembari mencium puncak kepala istrinya dengan begitu kasih.
"I love you," ucap Gayung, kemudian kembali memeluk suaminya dengan sebelah tangannya masih memegang buket bunga.
"Love you too," bisik Galas yang tak kalah bahagianya, karena untuk pertama kalinya istrinya mengucapkan ungkapan cinta itu tanpa ia minta terlebih dahulu.
"Senang?" Galas membantu meletakkan buket bunga itu diranjang yang sudah dihias sedemikian rupa dengan bunga -bunga yang begitu apik juga cantik. Bahkan bukan hanya kasurnya saja yang berhias bunga. Lantai, jendela, meja makan malam pun dihias bunga yang cantik.
Galas terkekeh mendapat cubitan kecil dari istrinya.
"Seumur hidup, aku jahil hanya dengan kamu." Galas merangkul tubuh istrinya.
"Aku lapar," ucap Gayung malu-malu. Ia belum sempat makan tadi, memikirkan suaminya yang ia kira menemani wanita lain.
"Mau makan sekarang?"
"Hemm." Gayung mengangguk.
Makan malam romantis yang ia idamkan akhirnya benar-benar terjadi. Berkali-kali ia berdiri hanya untuk memberikan kecupan tanda terima kasih untuk suaminya. Ia tak malu mengekspresikan segala perasaannya malam ini. Mengucapkan ungkapan cinta tanpa beban, membuat Galas merasa tak sia-sia menyiapkan semuanya.
Galas memeluk istrinya dari belakang, kini mereka berdiri menghadap jendela, memandang keindahan pemandangam malam ibukota. Gayung menoleh dan Galas langsung menyambutnya dengan sebuah ciuman yang begitu dalam dan lama, ungkapan perasaan cinta dari keduanya.
Sejenak mereka berhenti, menghirup udara sebanyak-banyaknya sambil melempar senyum yang mengisyaratkan sebuah keinginan mendambakan satu sama lain.
"Aku mau kamu," ucap Gayung, memandang sendu suaminya dalam temaramnya kamar hotel yang mereka tempati.
Galas memberikan sebuah kecupan sekilas pada bibir istrinya. "Aku juga."
Setelah mengatakan itu, Galas mengangkat tubuh istrinya dengan begitu hati-hati. Membawanya dalam ranjang mereka ala bridal style. Membaringkannya perlahan, membuang jas yang mambalutnya ke sembarang arah dan memposisikan dirinya diatas tubuh istrinya dengan bertumpu pada kedua sikunya. Menahan agar beban tubuhnya tidak menyakiti istri maupun bayi dalam kandungannya.
Gayung mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya. Memperdalam ciuman mereka, berbagi rasa, nafas juga saliva mengejar sebuah keindahan, kenikmatan surga dunia. Namun kali ini, ada yang berbeda. Gayung membuang jauh rasa malunya, memberikan apa yang bisa ia beri dan lakukan untuk menyenangkan suaminya.
Ia mensyukuri kehadiran Galas dalam hidupnya, yang membawa banyak cinta dan banyak rasa dalam hari-harinya yang sebelumnya terasa monoton.
__ADS_1
***
Gayung memperhatikan tampilan dirinya yang terpampang pada cermin dihadapannya. Sementara dibelakangnya Galas nampak memasangkan sebuah kalung berlian cantik berinisialkan nama mereka berdua dilehernya.
"Cantik," puji Galas. Tangannya bergerak merapikan rambut ikal panjang istrinya. Gayung bersemu malu mendengar pujian suaminya yang membuatnya melambung tinggi ke awang-awang.
"Terima kasih." Gayung membalikkan tubuhnya masih dalam posisi duduk, menghadap ke suaminya yang kemudian duduk bersimpuh dihadapannya.
"Kamu mau hadiah yang lain, Sayang?" Galas memberikan sebuah kecupan pada pipinya yang memerah.
"Ehmm." Gayung memikirkan sesuatu yang kira-kira ia bisa minta pada suaminya. "Aku mau ... kamu selalu setia, selalu manis, selalu sayang sama aku, selalu cinta sama aku, menjadi suami yang baik buat aku dan ayah yang baik untuk anak-anak kita nanti ...."
Galas mengulum senyumnya mendengar permintaan istrinya yang pagi ini begitu cantik dan berseri.
"InshaAllah, Sayang. Aku akan berusaha untuk selalu membuat kamu bahagia." Galas mengecup kembali pipi putih istrinya yang menggemaskan itu. "Tadi kamu bilang, anak-anak kita. Memang kamu mau punya anak berapa?" Galas kembali dengan senyum jahilnya.
"Empat," jawab Gayung cepat, membuat Galas terkekeh.
"Banyak sekali, Sayang. Kalau aku cuma mau tiga bagaimana?" tanya Galas sembari mengelus perut istrinya.
"Yaaaa nanti ... aku paksa kamu, buat bikin satu lagi," jawab Gayung yang membuat Galas tergelak keras. Ia menyukai istrinya yang mulai terbuka seperti ini, hal itu mengingatkannya lagi pada keagresifan istri semalam. Membayangkannya saja membuat hasratnya bergolak, menginginkannya kembali.
"Kak, kamu kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Gayung menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya.
"Tidak. Hanya ingat semalam." Galas terkekeh melihat wajah istrinya yang memerah karena malu.
"Aku lapar, ayo makan, Kak." Gayung berdiri, mencoba mengalihkan pembicaraan memalukan itu. Menghindari tatapan jahil suaminya yang begitu puas menertawakannya.
"Tapi aku suka kok, Sayang," bisik Galas sembari memeluk istrinya. Ia tahu istrinya malu, maka ia menyembunyikan wajah istrinya didadanya.
"Kak, aku lupa tanya sesuatu sama kamu?" Gayung mendongakkan kepalanya.
"Apa, Sayang?"
"Kemarin yang telefon kamu Mbak Tiara beneran?" Ia baru mengingatnya, padahal sudah penasaran sejak semalam.
"Bukan."
"Terus?" Gayung memikirkan sebuah nama. "Kak Sasya?"
"Hemm." Galas mengangguk.
Gayung menyipitkan matanya pura-pura kesal. Mereka benar-benar sukses mengerjainya.
***
Sorry kalau kurang romantis.
Semoga masih menghibur ...
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
__ADS_1
❤❤❤