
POV GAYUNG
Besok aku akan pulang kampung. Seharusnya aku senang, karena itu artinya aku akan segera bertemu dan berkumpul dengan keluargaku. Namun kenapa rasanya aku begitu berat untuk jauh dari Kak Galas. Padahal aku selalu bersamanya setiap hari, tapi rasanya itu tidak pernah cukup. Maafkan aku ya, Tuhan, bukannya aku tidak merindukan kedua orang tuaku. Hanya saja, aku juga tidak ingin jauh dari kekasihku.
Aku mengemas beberapa pakaian yang akan kubawa sembari mendendangkan lagu yang sengaja ku pilih menggambarkan perasaanku saat ini. Sebuah lagu dari Reza artamevia yang akhir-akhir ini ku perdengarkan melalui headset dari ponselku.
"Aku wanita yang sedang jatuh cinta ... Ingin membawanya selalu kedalam hidupku selamanya ... Aku wanita yang sedang jatuh cinta ... Ku harap dia merasa yang aku rasa. Selesai!" Aku mendorong ransel hitam yang akan ku bawa besok ke sudut kamar kosanku.
"Ehem ... ehem." Aku menoleh cepat ke belakang, ku lihat kekasihku yang tampan itu sudah berdiri bersandar pada pintu dengan senyum menggodaku seperti biasa. Wajahku memanas seketika dan mungkin memerah saat itu juga. Sekarang Kak Galas pasti mengetahui betapa aku sangat tergila-gila dengannya.
"Sayang, coba sini, aku mau lihat wajah wanita yang sedang jatuh cinta itu seperti apa?" Aku sudah bisa menebaknya. Kak Galas akan menjadikan ini kesempatan yang bagus untuk menggodaku. Aku pun mendekat padanya tapi yang kulakukan selanjutnya adalah cepat-cepat menutup kedua matanya dengan telapak tanganku agar dia tidak dapat melihat dengan jelas betapa merahnya wajahku saat ini. Dia terkekeh melihatku yang bersusah payah menghalangi pandangannya dari untuk melihatku.
"Kak Galas, kamu sakit?" Aku menarik tanganku dari matanya, kemudian beralih ke dahinya. Aku merasakan suhu tubuhnya terasa panas dan bibirnya sedikit pucat.
"Sedikit, nanti aku mau mampir ke Dokter Burhan meminta obat padanya," jawab Kak Galas. Aku membawanya duduk di atas spring bed yang menjadi tempat tidurku. Aku tidak memiliki kursi tamu dikamarku, asal kalian tahu. Aku sengaja memilih kamar berukuran kecil, karena aku kos seorang diri. Alasan utama adalah aku takut tidur dikamar yang berukuran besar. Karena aku sering membayangkan sesuatu yang tidak-tidak ada di hadapanku jika kamarku terlalu luas. Dan satu lagi, aku juga tidak memiliki guling dikamarku, karena aku selalu membayangkan itu "sesuatu" yang menyeramkan. Oke, kembali ke Kak Galasku.
"Kalau Kak Galas sakit, harusnya nggak usah ke sini." Aku merasa bersalah, karena aku yang memaksanya datang menemuiku. Ya, aku sudah berani mengirim pesan lebih dulu kepadanya.
"Besok, kan, kamu pulang Sayang. Takutnya nanti kamu rindu berat denganku, kalau sekarang aku tidak menemuimu." Sempat-sempatnya dia menggodaku disaat dia sedang sakit begini. Kalau seperti ini, bagaimana aku tidak jatuh cinta setengah mati padanya. Aku tidak dapat menyembunyikan rasa senangku mendengar ucapannya.
"Senang?" ledeknya setelah melihat senyum diwajahku. Aku hanya mengangguk, sebelum akhirnya kita tertawa bersama. Ya, Tuhan, aku tidak mau pulang sekarang!
"Eh ... Hasil chek up kemarin di Singapura apa? Kenapa sekarang Kak Galas pusing lagi." Aku menjadi khawatir.
"Hasilnya bagus. Sekarang aku hanya demam biasa," jawabnya.
"Kalau gitu Kak Galas pulang saja sekarang. Periksa ke Dokter terus istirahat," bujukku. Aku tidak ingin Kak Galas kenapa-kenapa hanya karena aku.
"Kamu mengusirku, Sayang?" Ya ampun, kenapa ia malah memasang wajah memelas begitu.
"Bukannya begitu, tapi Kak Galas sakit." Tentu saja sebenarnya, aku juga masih ingin bersamanya.
"Aku tidak apa-apa, Sayang." Dia malah menarikku semakin mendekat padanya. "Kamu tidak mengajakku pulang dan mengenalkanku pada Ibumu?"
__ADS_1
"Kakak, kan sibuk? Nanti juga Ibuku kesini, lagian Kak Galas sudah kenal ini kan ...." Sebenarnya aku ingin bertanya, bagaimana kelanjutan lamarannya kepadaku kemarin. Bapak mengatakan bahwa ia menyerahkan keputusan ditanganku, tetapi kenapa Kak Galas malah tidak pernah membahasnya. Masa aku harus menanyakannya lebih dulu. Apa tidak terlihat malah aku yang seperti menggebu-gebu menginginkannya?
"Hmmm ... Sayang, coba belajar mengganti panggilanmu kepadaku, aku merasa seperti pacaran dengan adikku kalau kamu memanggilku begitu." Lagi-lagi Kak Galas protes.
"Terus ... Kak Galas mau aku panggil apa?" Aku masih canggung kalau harus memanggilnya sayang juga.
"Aku mau kamu panggil aku sayang juga." Senyum dibibirnya benar-benar menawan. Aku selalu terpukau melihatnya seperti itu.
"Ya, sudah ... tapi aku belajar dulu," ujarku akhirnya.
"Ya sudah, mulai sekarang saja belajarnya," pintanya.
"Nggak mau sekarang, nanti aja kalau aku habis pulang kampung." Aku benar-benar belum siap sekarang.
"Astaga, aku jadi iri sama Koci." Kak Galas menyandarkan tubuhnya pada tembok dibelakangnya. Ku lihat ia semakin pucat saja.
"Kenapa?" tanyaku tidak mengerti, kenapa Kak Galas harus iri dengan kucing lucu itu. Aku kembali menempelkan punggung tanganku di dahinya untuk mengetahui panas tubuhnya.
"Setiap hari, kamu panggil dia Koci Sayang Koci Sayang. Sudah begitu kamu peluk-peluk, cium-cium." Aku terkekeh mendengarnya mengatakan itu.
"Tenang saja, Sayang. Aku baik-baik saja." Kak Galas masih bisa tersenyum padahal aku tahu dia sedang tidak baik-baik saja.
"Kak Galas tidur dulu aja, aku hubungi sopir Kak Galas biar jemput ke sini." Aku memaksanya untuk berbaring, dan dia menurut. Kemudian aku membuatkannya teh hangat juga menawarinya makan. Namun ia menolaknya dan memilih untuk tidur saja.
Aku memandang wajah tampan dengan bibir pucat itu. Perasaanku tidak tenang meninggalkannya dalam kondisi sakit seperti ini. Kalau aku menunda kepulanganku sehari saja, tidak apa-apa kan? Sempat terlintas hal itu dipikiranku. Tanpa sadar aku sudah memeluknya, dalam posisiku yang masih duduk disampingnya.
***
POV GALAS
Ya Tuhan, kenapa aku harus sakit sekarang? Bagaimana dengan rencanaku kalau kondisiku seperti ini. Aku terus berdoa dalam hatiku, semoga Tuhan mempermudah dan memperlancar niat baikku.
Ku buka mataku perlahan, aku memang memejamkan mata tapi aku tidak bisa tidur. Pikiranku dipenuhi dengan rencanaku esok hari dengan kondisiku yang seperti ini. Ku belai rambut gadisku yang sedang memelukku erat. Dia pasti sangat mengkhawatirkanku.
__ADS_1
"Kak Galas, apa aku tunda dulu kepulanganku?" tanyanya sembari menegakkan tubuhnya.
"Jangan." Kepalaku pusing sekali saat mencoba bangkit, Gayung membantuku untuk menyempurnakan posisi dudukku.
"Tapi nanti Kak Galas bagaimana?"
"Aku baik-baik saja, Sayang." Aku mencoba terlihat baik-baik saja. "Ada Bi Hanah yang mengurusku, aku akan segera membaik setelah minum obat nanti." Aku tidak ingin membuatnya khawatir. Dan lagi, kalau dia tidak pulang besok, bagaimana dengan rencana yang sudah ku rancang sedemikian rupa.
Tak lama ponselku berdering. Tertulis nama sopirku pada layarnya. Aku segera menggeser icon hijau disana dan mengatakan padanya untuk menunggu sebentar.
"Aku pulang dulu, kabari aku kalau mau berangkat besok." Ku belai wajahnya yang masih menampakkan kekhawatirannya padaku. "Aku baik-baik saja, Sayang." Aku mencoba menenangkannya. Namun ia malah menangis ... ya ampun, dia begitu menggemaskan. Aku berterima kasih pada Tuhan karena telah membiarkan aku menemukannya diwaktu yang sangat tepat. Saat aku memang sudah ingin dan berani berkomitmen dengan seorang wanita.
Kurengkuh dia dalam pelukanku dan terus mengatakan bahwa aku baik-baik saja, sampai akhirnya ia tenang.
"Ya sudah, Pak Ato sudah menunggu." Ia mencoba membantuku berdiri, namun aku mengurungkan niatnya itu. Maafkan aku Tuhan, bolehkan aku melakukannya, sebentar saja.
"Kenapa?" tanyanya.
"Boleh minta cium?" Ucapku penuh harap. Aku benar-benar ingin menciumnya, setelah sekian lama tidak melakukannya. Andai kami bisa pulang bersama esok.
Gayung menganggukkan kepalanya dan secepat kilat memberikan sebuah kecupan pada pipiku. Rasanya aku akan cepat sembuh kalau dia memberikanku ciuman pada tempat yang lain.
"Bibir," lirihku sembari memajukan wajahku lebih mendekat padanya. Namun sepertinya ia terlalu malu untuk melakukan itu dan memilih menungguku melakukannya. Jadi, aku berinisiatif lebih dulu, menundukkan kepalaku dan menatapnya sendu sebelum mengecup lembut bibirnya yang selalu menggodaku sejak aku merasakan manisnya untuk pertama kali. Awalnya aku hanya ingin sebuah kecupan saja, namun nyatanya aku tidak bisa mengendalikan hasratku untuk memperdalam ciuman kami. Ku raih pinggang rampingnya dan lebih merapatkan tubuhnya padaku. Aku semakin kehilangan kendali saat kurasakan Gayung membalas ciumanku. Kami sama-sama belajar, karena aku tahu aku juga yang pertama baginya.
Aku melepaskan ciumanku dan menempelkan keningku padanya. Gayung memejamkan matanya dengan wajahnya yang masih merona, aku tahu jantungnya berdegup sangat kencang sama sepertiku. Sedetik kemudian, aku kembali menciumnya lebih panas dari sebelumnya. Aku benar-benar candu dan menginginkannya lagi dan lagi. Aku baru melepaskannya setelah ku lihat Gayung seperti kehabisan nafas. Aku tersenyum bahagia dan menariknya dalam pelukanku.
"Terima kasih," bisikku dan ia mengeratkan pelukannya padaku, menyembunyikan wajahnya dalam dadaku. Aku tahu, ia melakukan itu karena malu setelah ciuman panas kami.
"Kak Galas, aku malu." Aku tahu, Sayang. Kenapa kamu menggemaskan seperti ini. Mana mungkin aku membiarkan rencanaku memilikimu seutuhnya gagal hanya karena demam sialan ini.
***
Dahlah ... authornya malu sendiri nulisnya ... wkwkwk...
__ADS_1
Jangan lupa like & komen and vote ....