Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 55


__ADS_3

Gayung meraih ponsel suaminya yang tergeletak diatas nakas, menatap nama yang tertera pada layar yang tengah melakukan panggilan ke nomor suaminya itu. Tiara. Entah kenapa, hatinya selalu sesak jika melihat ataupun mendengar nama itu.


Ada keraguan diwajah ayunya yang baru saja terjaga dari tidur siangnya itu. Haruskah ia mengangkat telfon sahabat suaminya itu atau membiarkannya saja. Apa salah jika ia ingin tahu, ada apa wanita itu menghubungi suaminya?


Suara pintu kamar mandi terbuka mengalihkan fokus Gayung pada layar ponsel. Suaminya muncul dengan rambut basah dan handuk putih yang melilit pinggangnya.


"Siapa?" Galas mendekat dan duduk disamping istrinya. Gayung menyerahkan ponsel kepada sang empunya. Ia enggan menyebut nama sahabat suaminya itu.


Mata Galas mengamati langkah istrinya yang nampak cemberut itu sampai menghilang dibalik pintu kamar mandi. Menghembuskan nafas kasar, sebelum mengangkat panggilan diponselnya.


"Halo. Ada apa?" Galas berjalan membuka lemari pakaiannya. Mengambil kaos juga celana santai untuk dikenakannya.


"Kamu dikantor?" tanya Tiara disana.


"Dirumah," jawab Galas singkat sembari mengenakan kaos hitamnya. "Ada apa?"


"Oh ... aku kesepian dirumah."


"Jalan-jalan, biar tidak stres."


"Tidak ada yang menemani."


"Sendiri."


"Malas."


"Terus?" Galas merebahkan tubuhnya diatas sofa kamarnya.


"Ehm ... aku pengen kerja lagi."


"Dimana?"


"Dikantor kamu, boleh? Disini aku bukan pihak yang salah, kan?"


"Lalu, kenapa kemarin resign?" Galas menutup matanya. Ia cukup lelah setelah melakukan aktivitas olahraga tadi.


"Waktu itu, pikiranku sedang kacau."


"Nanti aku pikirkan dulu."


Sejenak tidak ada yang bersuara.


"Galas."


"Hemm?" tanya Galas yang hampir saja terbuai ke alam mimpi.


"Aku kangen kamu."

__ADS_1


"Jangan merindukan suami orang," jawab Galas masih dengan mata terpejam.


BRAKK!!!


Suara pintu ditutup keras membuat Galas sontak membuka mata lebar-lebar. Rasa kantuknya tiba-tiba menghilang dan mengikuti istrinya yang sepertinya baru saja keluar dari kamar.


"Sudah dulu. Aku sedang sibuk." Tanpa persetujuan Tiara, Galas mematikan sambungan telefon dan melangkah cepat mensejajari istrinya yang sejak tadi memasang muka masam.


"Sayang." Galas merangkul pundak istrinya yang tak menjawab ucapannya.


"Kamu marah?" tanya Galas.


"Nggak," jawab Gayung tanpa menoleh sedikitpun padanya. Galas tahu bahwa istrinya sedang berbohong saat ini.


"Kamu cemburu?"


"Nggak."


"Lalu kenapa membanting pintu?" Galas menarik pinggang istrinya dan menghadapkan kepadanya. Sehingga kini mata mereka saling bertemu. Namun Gayung masih belum menjawab pertanyaannya jua.


"Sayang?" Galas menangkup wajah istrinya, menunggu jawaban.


"Diponsel aku nggak ada nomor teman laki-laki aku," sindir Gayung. "Bahkan nomor kepala divisiku aja nggak ada, diblokir sama orang ...."


Galas mendesah pendek. Siapa lagi kalau bukan dirinya yang dimaksud istrinya.


"Kamu keberatan?"


"Aku nggak keberatan tapi ... sama seperti Kakak juga, aku juga punya rasa cemburu. Sejak kita menikah, selalu aja ada Mbak Tiara diantara kita. Kak Galas bahkan mengajak dia tinggal disini tanpa bilang sama aku. Pas malam pertama kita, dia telfon tengah malam, kemarin dia juga ... iya aku ngerti dia lagi berduka. Tapi memang dia harus bergantung terus sama kamu, ya ... kamu tahu nggak, sih? Aku tuh merasa nggak dihargai sebagai istri kamu sama dia ..." Gayung berusaha menahan air matanya. Ia sebenarnya tidak ingin bertengkar karena masalah ini. Tapi semalam pun, ia tak sengaja membaca pesan rindu dari sahabat suaminya itu. Siapa wanita yang rela, suaminya dirindukan wanita lain? Apalagi setelah wanita itu menyita waktu suaminya sampai berhari-hari dan ia tidak tahu apa yang mereka lakukan disana. Apa wanita itu menggunakan kesedihannya untuk memeluk suaminya atau entahlah. Banyak pikiran negatif berkecamuk dalam benaknya. Sejak kemarin, Gayung berusaha mengalah dan mengerti.


"Sayang, aku minta maaf." Galas menarik Gayung kedalam pelukannya. Ia tahu ia egois tapi ia tidak tega untuk acuh pada sahabatnya itu. "Tiara sedang banyak musibah, aku tidak bisa mengabaikannya. Dia sudah banyak membantuku selama ini. Aku mohon, mengertilah. Aku hanya mencintai kamu, tolong percayalah padaku. Kalau aku menyukainya, sejak dulu aku sudah menikah dengannya bukan dengan kamu, Sayang."


Galas berharap Gayung mengerti posisinya yang serba salah sekarang. Tiara sudah banyak membantunya selama ini, ia hanya ingin membantu saja, tidak lebih.


"Permisi, Nak Galas ...." Suara lembut Bi Hanah mengurai pelukan mereka.


"Kenapa, Bi?" tanya Galas.


"Didepan ada Nak Jay, sudah Bibi suruh masuk tapi orangnya nggak mau."


"Oh, makasih, Bi."


"Iya, kalau begitu Bibi mau membuatkan minuman dulu." Perempuan tua itu meninggalkan kedua majikannya.


"Sayang, jangan marah lagi." Galas menangkup wajah sayu istrinya yang mengangguk kemudian. Gayung memang tipe wanita yang lebih suka mengalah dan tidak bisa marah berlama-lama.


"Kamu mau ikut ke depan?"

__ADS_1


"Nggak, aku belum solat." Gayung merasa, pasti ada yang ingin dibicarakan berdua saja, sahabat suaminya itu datang ke rumah.


"Ya, sudah. Aku kedepan dulu." Galas mengecup kening istrinya sekilas sebelum menemui Jay diruang tamu.


***


Galas mendudukkan dirinya disofa sembari menghela nafas. Rencana tidur siangnya gagal karena ulah dua sahabatnya yang akhir-akhir ini mengganggu ketenangan hidupnya. Diliriknya sekilas Jay yang tampak semakin kacau dengan rambut yang acak-acakan tak terurus.


"Ada apa?" tanya Galas tanpa basa-basi.


Terdengar nafas berat keluar dari mulut Jay, sebelum menjawab pertanyaan.


"Aku mau pinjam uang ...." Galas menatap Jay yang nampak malu setelah mengutarakan maksudnya.


"Tabungan kamu kemana?" selidik Galas keheranan. Karena selama ini ia menggaji jay cukup besar, mengingat tanggung jawabnya dikantor.


"Tahu sendirilah, selama ini keuangan dipegang Wina. Sekarang dia lagi balas dendam sama aku, belanja barang branded setiap hari, tabungan aku dikuras habis-habisan sama dia. Alasannya selalu bawaan bayi ...sementara aku nganggur sekarang. Butuh pemasukan, Wina maunya Bian masuk sekolah elite, belum kalau anak aku lahir nanti pasti butuh biaya banyak. Apalagi Wina secar," keluhnya panjang lebar. "Rasanya kepalaku mau pecah, belum lagi mertuaku, hahh ...."


"Masih ingat anak?" sindir Galas, Jay berdecak. Ia memang bejat tapi masalah anak tetap menjadi prioritasnya.


"Aku mau mencoba beberapa bisnis baru, bantu aku mengurusnya nanti," ucap Galas akhirnya. Ia memang pernah membicarakan masalah ini dengan Jay sebelumnya, tapi karena terlalu sibuk dengan pernikahan dan masalah lain-lain. Rencananya belum terealisasikan.


"Benar, Bos?" Ada secercah harapan dimata Jay yang nampak lelah dengan kantung mata tebal itu.


"Hemm, ya sudah pulang sana!" usir Galas. Ia benar-benar lelah dan ingin beristirahat sekarang.


"Kamu mengusirku, Bos?" Menatap Galas yang menggusak rambutnya kasar sembari berdiri.


"Iya, kalian benar-benar mengganggu waktuku dengan istriku," sungut Galas kesal.


"Kalian siapa, Bos?" tanya Jay tak mengerti.


"Pikir sendirilah. Sudahlah aku mau tidur siang." Galas hendak pergi.


"Tumben Bos, tidur siang?" seru Jay. Berteman sangat lama membuat Jay tahu banyak kebiasaan sahabatnya itu.


"Iya, nanti malam mau lembur lagi," jawab Galas asal, pergi begitu saja mengabaikan Jay yang nampak sudah bisa tersenyum kali ini.


***


Jangan lupa ...


Like


Komen


Vote

__ADS_1


Oke ... jangan bosen ya ...😁😁


__ADS_2