
Seiring berjalannya waktu, usia kehamilan Gayung semakin bertambah dan tentu saja perutnya pun semakin membesar. Bahkan sekarang ia mulai merasakan gerakan menendang-nendang dari dalam perutnya. Membuatnya tak sabar untuk segera melahirkan sang buah hati. Ia terkadang penasaran membayangkan, seperti apa wajah buah hatinya nanti.
Mungkin terdengar lucu, tapi Gayung selalu mengatakan pada suaminya, bahwa ia ingin anaknya nanti lebih dominan mewarisi wajah sang suami. Karena ia merasa bahwa suaminya sangat tampan dan berharap bayi mereka nanti memiliki paras menawan seperti ayahnya.
"Jadi, kamu mau anak kita nanti lebih mirip dengan aku, Sayang?" Galas terkekeh mendengar harapan istrinya tentang bayi mereka nanti.
"He eh," jawabnya sembari menghabiskan susu kehamilannya. "Biar nanti kalau anak kita laki-laki, ganteng seperti kamu. Kalau perempuan ... juga cantik seperti Inge."
"Kenapa seperti Inge?" Padahal Inge tidak ikut andil dalam pembuatannya, batin Galas.
"Karena Inge, versi perempuan dari kamu. Ya aku intinya mau anak yang mirip kamu," jelasnya dengan wajah berseri.
"Tapi aku maunya, anak kita nanti, kalau perempuan cantik seperti ibunya," ucap Galas yang sontak menciptakan semu merah diwajah istrinya. Galas menahan tawanya, kala istrinya kemudian menghindari tatapannya dengan salah tingkah. Ia selalu menyukai sikap malu-malu istrinya yang seperti ini.
"Ihh ... jangan ketawa." Gayung membungkam mulut suaminya dan memeluknya dari samping. Menyandarkan dagunya pada pundak suaminya yang bergerak naik turun karena tawanya akhirnya pecah juga.
"Kamu memang cantik, Sayang," pujinya lagi, jujur dan tulus. Tapi Gayung tak pernah mempercayainya.
"Masak?" Gayung menyembunyikan wajahnya pada lengan suaminya.
"Iya. Buat aku kamu wanita paling cantik." Gayung semakin menekankan wajahnya lengan suaminya. Malu setengah mati mendengar pujian yang menurutnya berlebihan itu.
"Ya Allah ... please, Kak, jangan ngomong begitu lagi" Gayung menarik wajahnya sembari tertawa geli.
"Kenapa memangnya? Padahal aku serius memuji kamu ...." Galas merangkul pundak istrinya penuh sayang.
"Kasihan dia ..." Gayung menunjuk seekor cicak yang nemplok pada dinding dibelakang mereka.
"Kenapa dia?" tanya Galas tak mengerti. Apa hubungan antara kalimat pujiannya dan seekor cicak disana.
"Dia pasti pengen muntah denger gombalan kamu ...." Keduanya serentak tertawa. menikmati pagi dengan obrolan-obrolan ringan seperti ini menjadi aktivitas rutin mereka.
"Kita jadi menjenguk Mbak Tiara?" tanya Gayung.
"Jadi, Sayang. Semalam saat menghubungi, sepertinya Tiara sangat putus asa dengan sakit yang dirasakannya ." Ada kesedihan diwajah tampannya, bagaimanapun mereka bersahabat dekat dan Gayung pun tak lagi merasakan cemburu mendengar nama itu. Ia seratus persen mempercayai suaminya, sejak malam ulang tahunnya. Ia tahu, suaminya selama ini sudah berusaha menjaga perasaannya.
"Sebenarnya Mbak Tiara sakit apa?" Tidak tahu kenapa, meski ia sempat kesal dengan wanita itu. Gayung tetap tidak tega melihatnya sakit, apalagi sudah pada tahap menyerah seperti yang diceritakan oleh suaminya.
"Entahlah, ada yang mengatakan infeksi rahim, radang panggul, batu ginjal, lambung ...."
"Maksudnya? Setiap dokter memberikan vonis berbeda?"
"Hemm ... membingungkan. Sementara Tiara tetap ingin mempertahankan bayinya, jadi dokter ingin memberikan pengobatan juga sulit."
__ADS_1
Gayung memandang suaminya, ingin mengutarakan sesuatu namun kemudian mengurungkannya.
"Kenapa?" Galas menelisik tatapan aneh istrinya. Gayung menggeleng cepat.
"Nggak."
"Kamu masih cemburu pada Tiara?" tanya Galas curiga. Lagi-lagi Gayung menggeleng cepat.
"Nggak. Aku percaya sama kamu."
"Itu harus! Suamimu ini pria setia. Aku tidak mau kamu sampai berpikir dan bicara aneh-aneh lagi, seperti dulu Sayang." Galas mengecup kening istrinya. Ia sangat kesal, ketika mengingat istrinya pernah berpikir bahwa dirinya akan menikah lagi bahkan berselingkuh dengan wanita lain. Andai istrinya menyadari sebesar apa perasaan cinta yang ia miliki. Mana mungkin, istri tercintanya bisa sampai mempunyai pikiran buruk seperti itu.
"Maaf," ucap Gayung tulus. "Tapi itu, kan karena kamu juga sengaja banget ngerjain aku." Gayung membela diri.
"Hemm. Tapi akhirnya bahagia, kan ...."
"Iya, sihhh. Ehmm ... Kak, aku mau rujak," pintanya.
"Sama Pak Ato, ya. Aku mau ke kantor sebentar." Galas memang sudah berpakaian rapi sedari tadi. Sementara Gayung tetap ia ijinkan bekerja, tapi dari rumah dan ia pun membebaskan kapan saja istrinya mau mengerjakannya. Ia tidak ingin istrinya kelelahan ataupun stres karena kesibukannya dengan masalah pekerjaan.
"Iya. Kamu mau berangkat sekarang?"
"Iya." Galas meraih ponsel dan kunci mobilnya.
"Iya. Aku cuma sebentar, Sayang. Cuma meeting sebentar dengan bagian marketing setelah itu aku pulang." Gayung memutar bola matanya malas. Karena ia tahu, meeting dengan Pak Bos tidak akan ada kata sebentar.
"Aku serius, cuma sebentar, Sayang. Nanti siang, kan mau ke tempat Tiara juga." Galas bisa menerka apa yang dipikirkan oleh istrinya.
"Ya udah. Meetingnya diruang meeting ya, Kak. Jangan disuruh berdiri lagi." Gayung teringat kejadian lalu.
"Siap, Bos." Galas mengecupi seluruh wajah istrinya mulai dari kening, kedua pipinya, hidung dan terakhir dibibir. Sebelum kemudian berangkat ke kantor.
***
Gayung membuka sosmednya, mencari akun seseorang disana. Ada kelegaan diwajahnya kala mengetahui bahwa ia tidak diblock oleh pemiliknya. Tangannya bergerak lincah, mengambil screenshoot gambar dan mengirimkannya kilat pada Bapaknya. Ia ingin memastikan sesuatu, apakah kecurigaannya benar atau hanya pikiran buruknya saja.
Centang biru. Gayung tersenyum, lalu secepatnya melakukan panggilan kepada Bapaknya.
"Halo. Assalamuallaikum."
"Wallaikumsalam. Kenapa, Nduk?" tanya Pak Ming diseberang sana.
"Bapak, coba lihat foto yang aku kirim barusan. Dia temanku, Pak. Lagi hamil sekarang, tapi sakit-sakitan terus, cuma sakitnya itu aneh. Vonis dokter itu berbeda-beda. Takutnya ada yang jahat gitu, Pak."
__ADS_1
"Ohh ... sudah kirim nama lengkapnya juga?"
"Eh, nama lengkap? Kayanya namanya Mutiara Cantika. Iya, Mutiara Cantika ...." Untung saja, data mengenai karyawan yang resign masih ada. Sehingga ia masih sempat membacanya.
"Ya, sudah. Nanti Bapak kabari. Matiin dulu, ya ...."
"Jangan lama-lama ya, Pak."
"Ya sabarr, kamu itu lho sukanya grusa-grusu." Terdengar tawa Pak Ming disana. Gayung meringis, mengakui sikapnya yang kadang tidak sabaran.
Sesuai janjinya, tak berapa lama Pak Ming menghubunginya. Gayung yang sudah menunggu gelisah langsung meraih smartphonenya dan meletakkannya tepat ditelinga.
"Gimana, Pak?" tanya Gayung tanpa basa-basi lagi.
"Diperut kanannya itu Bapak lihat ada hitam-hitamnya."
"Hitam-hitam apa, Pak?" Gayung merinding sekaligus penasaran.
"Belum jelas, nanti Bapak ke situ aja. Sekalian memastikan."
"Eh, jangan dulu, Pak. Aku belum tanya sama orangnya, dia mau diobati Bapak apa nggak." Gayung takut Tiara menolak tawaran pengobatannya. Karena tidak semua orang mempercayai pengobatan yang dilakukan Bapaknya. Seperti Galas dulu yang sempat bertengkar dengannya, saat proses pengobatan tumor adiknya.
"Ya iya dipastikan dulu. Bapak juga menyesuikan jadwal dulu, Bapak disini juga banyak panggilan, Nduk." Dikira Bapaknya nganggur, batin Pak Ming.
"Iya, iya ... tapi kalau orangnya mau, Bapak langsung kesini, ya. Kasihan Pak ... orangnya lagi hamil cuma beda sebulan sama Gayung," pinta Gayung memelas.
"Iya, nanti Bapak dahulukan. Ya sudah dulu, Bapak masih ada pasien ini."
"Iya. Makasih ya, Pak. Assalamuallaikum"
"Wallaikumsalam."
Gayung menarik nafas lega setelah mendapat pencerahan dari Bapaknya. Meski ia tak yakin, Tiara akan mau menerima pengobatan alternatif yang dilakukan Bapaknya. Setidaknya ia sudah mencoba untuk membantu.
***
Jangan lupa
Komen
Like
Vote
__ADS_1