
Drrrtt ... dtttt ... drrrtt ...
Suara getar ponsel yang menyala berulang kali membuat Galas yang baru memejamkan mata beberapa saat merasa terusik. Awalnya ia berusaha mengabaikan suara getar ponsel yang mengganggu tidurnya. Namun suara dering ponsel tersebut malah semakin berbunyi intens membuat Galas dengan berat hati mengangkat tangannya untuk meraba nakas samping tempat tidurnya dengan matanya yang masih terpejam dan mengambil ponselnya yang terus bergetar sedari tadi.
Galas membuka matanya yang terasa berat seperti tertarik sesuatu. Keringat nampak membasahi kulit wajahnya setelah meminum obat dari Dokter Burhan tadi.
"Halo," jawabnya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Tidak ada ... Kami pulang seperti biasa tadi ... Nanti aku akan menghubunginya ... Baiklah ... Aku sedikit demam. Haha ... tentu saja, aku hanya demam biasa ... Sekarang sudah lebih baik ... Ya, sudah .. Bye."
Galas mengakhiri pembicaraannya melalui telepon, tangannya bergerak memijat pelipisnya yang masih terasa pusing sembari tangan yang satunya menggeser layar ponselnya mencari kontak seseorang.
Tak butuh waktu lama kontak yang dihubunginya menjawab panggilan telepon darinya.
"Halo, Tiara?"
"Kenapa Las? Tumben telepon," sahut suara diseberang sana.
"Jay bersamamu?" tanya Galas masih dengan suaranya yang lemah. Tiara tak langsung menjawab, membuat Galas sedikit tak sabaran. Ia membutuhkan jawaban segera, karena ia butuh istirahat secepatnya.
"Tiara?" ujarnya tak sabaran.
"Nggak. Kamu kenapa, Las, kok, suaranya aneh ... kamu sakit?" Nada bicara Tiara terdengar aneh, namun Galas enggan memikirkannya.
"Tidak. Aku baik-baik saja. Kamu tahu dimana Jay? Wina mencarinya, katanya sudah beberapa hari ini dia tidak pulang."
"Aku nggak tahu. Bukannya biasanya dia selalu tidur ditempat kamu kalau sedang ada masalah dengan istrinya?"
"Dia tidak ada disini. Apa kamu tahu dia sedang ada masalah apa?"
Lagi-lagi wanita itu tak langsung menjawab, membuat Galas mulai menaruh curiga pada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Tiara ... kalian berdua terlihat aneh akhir-akhir ini. Ada apa?" tanya Galas menyelidik.
"Tidak ada masalah apa-apa. Kalau Jay memang ada masalah dengan istrinya, kan?"
"Kamu juga aneh, ada masalah apa?" Galas terus menyudutkannya, ingin mengetahui masalah apa yang membuat kedua sahabatnya terlihat canggung saat bertemu. Galas menyadari itu, tapi fokusnya sedang ke sesuatu yang lain. Sehingga ia sedikit mengabaikan hal itu.
"Tidak ada."
"Jangan bohong."
"Masalahku cuma satu ... aku tidak bisa melihat kamu bersama wanita lain, Galas," seru Tiara dengan nada meninggi.
"Tiaraa." Galas sedikit menggeram saat mengucapkan nama itu.
"Galas ... Aku sudah menyukaimu begitu lama. Apa kekuranganku sampai kamu tidak pernah berpikir menjadikan aku seseorang yang spesial dihati kamu." Galas menghela nafas berat, lagi-lagi pertanyaan itu yang Tiara lontarkan kepadanya. Dan sekali lagi, ia harus menjawab bahwa ia tidak tahu kenapa ia tidak bisa mencintai sahabatnya itu. Ia bingung bagaimana lagi menjelaskannya supaya Tiara mengerti bahwa perasaan itu tidak bisa dipaksakan.
Kali ini ia bisa mendengar isak tangis wanita cantik itu diseberang sana. Membuatnya semakin bingung harus bagaimana menghadapinya.
"Besok aku tidak ikut," ucapnya disela tangisnya.
Tiara tertawa frustasi mendengar kalimat terakhir Galas.
"Apa dia mengadu padamu, kalau aku sering bersikap sinis padanya?" Galas menangkap ada kebencian dalam kalimat Tiara.
"Tidak. Dia tidak pernah menceritakan apapun tentangmu." Karena memang bukan Gayung yang mengadu padanya, melainkan Sasya yang memang ia tugaskan untuk mengawasi kekasihnya itu.
"Kenapa kamu menyukainya? Aku lebih cantik dan lebih baik darinya?" Tiara sudah membuang rasa malunya sejak jauh-jauh hari. Berharap Galas menaruh belas kasihan kepadanya dan menerima cintanya. Ia tidak masalah Galas tidak mencintainya, asalkan bisa bersama laki-laki yang dicintainya itu.
"Tiara, cukup. Kita sudah pernah membahasnya. Mulailah membuka hati untuk laki-laki lain ...." Galas mulai bosan dengan pertanyaan Tiara yang itu-itu saja.
"Tidak, Galas. Aku tidak akan menikah dan akan sendiri sampai tua." Suara Tiara mulai seperti orang mabuk.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan bicara yang tidak-tidak. Kamu akan menemukan laki-laki yang akan tulus mencintai kamu."
"Galasss ... jangan menikah dengan si Gayung itu. Apa bagusnya dia, bahkan namanya jelek sekali ... hiks ... hiks ... hiks ..." Tiara mulai meracau tidak jelas.
"Hei, Tiara apa kamu mabuk?" Galas bangkit dari posisi tidurnya, mulai menyadari ada yang aneh dari cara bicara sahabatnya itu.
"Aku tidak mabuk, Galas. Aku cuma sedikit gila ... hahahaha ...."
"Dimana kamu sekarang?" Galas mengusap rambutnya frustasi, kepalanya semakin berat saja rasanya. Galas tidak ingin peduli, tapi Tiara tetap saja sahabatnya. Orang yang membantunya sejak ia memulai usahanya, saat ia masih dalam posisi nol. Saat wanita itu sedang ada masalah, ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
"Kenapa, Sayang ... kamu mau ikut denganku ke neraka?" Wanita itu semakin kehilangan kewarasannya.
"Katakan, dimana kamu sekarang?" Galas mulai khawatir Tiara melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Ia bangkit perlahan dari ranjang besarnya, keluar dan turun ke bawah mencari Pak Ato, sopir pribadinya. Karena kondisinya tidak memungkinkan untuk menyetir mobil sendiri.
"Ada apa, Nak Galas?" Bi Hanah membuka pintu kamarnya.
"Bisa bangunkan Pak Ato sebentar, Bi. Saya ada perlu sebentar di luar," Galas bertumpu pada tembok untuk menopang tubuhnya yang dirasa limbung. Wajahnya yang pucat membuat Bi Hanah khawatir.
"Nak Galas kenapa? Mau ke rumah sakit?"
"Tidak, Bi. Saya ada perlu sebentar diluar." Galas memejamkan matanya, menahan sakit yang mendera tubuhnya.
"Tapi Nak Galas pucat begitu, lho. Apa tidak sebaiknya ...."
"Tolong, panggilkan Pak Ato sekarang, Bi," potong Galas. Bi Hanah segera berbalik masuk ke kamarnya untuk membangunkan suaminya. Namun kekhawatiran masih bergelayut di wajah tuanya melihat kondisi majikannya itu.
Tak lama Pak Ato sudah bersiap dan menemui majikannya yang menunggu di ruang tamu.
"Ayo, Pak." Galas melangkah mendahului dengan langkah gontai. Ia mengabaikan Bi Hanah yang sedari tadi mengkhawatirkan keadaannya. Ia hanya ingin segera menemui Tiara sebentar, lalu pulang. Ia hanya ingin memastikan keadaan sahabatnya itu baik-baik saja. Setelah itu ia akan beristirahat dan memulihkan kesehatannya. Tekadnya, Ia harus sudah prima besok, apapun yang terjadi. Bagaimanapun, rencananya tidak boleh gagal.
***
__ADS_1
selamat malam alls ... semoga kalian nggak bosan, ya membaca novel yang minim konflik ini. Aku tuh suka nggak tega kalau lihat tokoh utama di jahati dan di sakiti. Jadi, aku bikinnya gini ajalah ...
Jangan lupa like & komen juga vote ya ...