Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 29


__ADS_3

Gayung turun lebih dulu, sementara Sasya masih bersiap didalam kamar. Ditangannya ada sebungkus makanan kucing untuk si Koci, begitu Gayung memanggilnya. Kucing kecil tak terurus yang sejak beberapa hari ini sering datang meminta jatah makan kepadanya. Dan benar saja, kucing berwarna putih hitam itu sudah menunggunya dibawah pohon sambil menjilati bulu-bulunya. Ia langsung mengeong, begitu Gayung menghampirinya.


"Halo, Koci," sapa Gayung seraya mengambilnya dalam gendongannya. Ia tak merasa jijik, meski kucing itu terlihat dekil tak terawat. Gayung lalu duduk dibangku panjang dibawah pohon dan mengambil tisu basah dari dalam tasnya. Membersihkan bulu-bulu Koci dengan telaten sampai mengkilat. Setelah itu baru memberikan makanan bergizi untuk Koci dalam sebuah wadah kecil yang dibawanya.


"Kamu suka kucing?"Sebuah suara yang cukup Gayung kenali, mengalihkan perhatiannya dari memandang Koci yang begitu lahap menikmati sarapan paginya.


"Iya," jawab Gayung singkat, kali ini ia sudah bisa tersenyum lagi. Setelah semalam ia mengeluarkan unek-uneknya pada Sang Maha Kuasa, dalam solat malamnya. Matanya semakin menyipit saja karena terlalu banyak menangis.


"Bisa senyum juga ternyata," sindir Aven dengan tawa kecilnya, ia ikut mendudukkan dirinya disamping Gayung masih dengan gitar ditangannya. Laki-laki itu hanya memakai pakaian santai.


"Kamu nggak kerja?" tanya Gayung mengabaikan sindiran Aven.


"Nggak, lagi pengen off dulu," jawabnya santai sembari memetik gitarnya asal namun berirama.


"Mau request?" tanyanya.


"Nggak," jawab Gayung dengan masih menatap lurus pada Koci.


Aven memandang Gayung lama, ada senyum samar dari sudut bibirnya. Ia sungguh terpesona dengan gadis itu. Sejak pertama kali ia berpapasan dengan gadis berambut ikal itu sebulan yang lalu. Ia selalu terbayang-bayang mata sipit yang nampak sayu itu, senyumnya juga giginya yang menurutnya unik. Ia sempat kecewa mengetahui, bahwa gadis yang begitu menarik perhatiannya itu ternyata sudah memiliki kekasih.


Aven memetik gitarnya kembali, lagu semalam ia nyanyikan kembali dengan tempo pelan.


"Kau cantik hari ini ... dan aku suka ...."


Namun sebuah salam, menghentikan nyanyiannya.


"Assalamuallaikum." Gayung mengalihkan pandangannya dari Koci, mendengar suara yang begitu dikenalnya.


"Bapak?" Gayung terperanjat melihat Bapaknya berdiri tak jauh darinya. Namun yang lebih menarik perhatiannya justru sosok yang berdiri dibelakangnya. Sosok yang sudah menguras hati dan pikirannya akhir-akhir ini. Galas menatapnya tajam, tak ada kehangatan ataupun senyum pada wajahnya. Apa ia tidak merindukan aku? Hati Gayung kembali rapuh seketika menyaksikan itu.


"Mau berangkat kerja?" tanya Bapak, matanya menatap Aven yang langsung menyalami Pak Ming dan Galas dengan sikap sopan.


"Saya Aven, temannya Andara. Kebetulan saya kos disini juga." Aven memperkenalkan diri.


"Oh, tidak bekerja?" tanya Pak Ming ramah.


"Kebetulan lagi off, Pak." Aven mempersilahkan Bapak dan Galas untuk duduk. Ia menggeser tubuhnya lebih mendekat ke Gayung untuk memberi tempat.


Namun Galas menolak tawaran itu dan mengajak untuk langsung ke kantor saja. Karena jam kerja sebentar lagi akan dimulai. Mata Gayung dan Galas saling bersitatap. Yang satu memancarkan kerinduan yang mendalam sementara yang satu memberikan tatapan amarah atau mungkin kecemburuan. Entahlah ... Gayung bingung bagaimana harus bersikap sedang Galas begitu dingin kepadanya.


Mereka masuk ke dalam mobil, Gayung duduk dikursi belakang. Tangannya sibuk mengetikkan pesan pada Sasya, bahwa ia berangkat lebih dulu bersama Galas.

__ADS_1


"Bapak ada apa ikut ke Jakarta?" tanya Gayung mengeluarkan pertanyaan yang belum sempat ia lontarkan tadi. Tidak mungkin Bapak datang hanya untuk menemuinya, mengingat sibuknya Bapak di kampung dengan pasien-pasiennya.


"Itu, Galas minta tolong sama Bapak buat urus masalah teror dikantornya." Gayung ber"oh" tanpa suara, perhatiannya tertuju lagi pada Galas yang sibuk mengemudikan mobilnya. Laki-laki itu tak bersuara sedari tadi. Hal itu sungguh membuat Gayung merasa terganggu dengan kediamannya. Apa kesalahannya sampai Galas mendiamkannya seperti ini? Jika saja tidak ada Bapak di antara mereka, mungkin Gayung sudah meluapkan kekesalannya itu. Namun melihat kondisi seperti ini, bagaimana bisa dia melakukannya? Gayung benar-benar frustasi dibuatnya.


Tak lama mereka sampai juga dikantor. Galas masih belum menyapanya sama sekali. Ia hanya berbicara pada Pak Ming, mengajaknya masuk dari pintu resepsionis. Sementara Gayung lebih memilih lewat pintu lain yang langsung terhubung dengan tempat absen dan loker karyawan.


"Hai, Gayung," sapa Dina sok akrab seperti biasa. Apakah ia tidak ingat dengan perlakuannya dulu saat sekolah, bisa-bisanya dia bersikap sok manis sekarang seolah tidak terjadi apa-apa dulu, batin Gayung tak habis pikir. Apakah ia yang terlalu pendendam atau bagaimana. Entahlah, Tapi perlakuan Dina, Adi dan teman-temannya selalu terpatri menjadi kenangan paling buruk pada masanya bagi Gayung.


Gayung hanya membalas dengan senyum tipis, sambil memasukkan tasnya ke dalam loker.


"Kamu masih marah sama aku ya, Yung? Gara-gara masalah dulu...." Gayung menoleh menatap wajah yang tak menunjukkan rasa bersalah itu.


"Nggak," jawab Gayung berbohong.


"Tapi kamu kaya nggak suka gitu sama aku?" tanyanya lagi.


Aku memang tidak suka sama kamu, baguslah kalau sadar, batin Gayung.


"Aku minta maaf deh, Yung. Dulu kan aku masih kecil, masih kekanakan, pikirannya belum dewasa. Masak sih cuma gara-gara masalah sepele begitu, marahnya sampai sekarang ... lagian kita nggak main fisik ini sama kamu," ucap Dina dengan entengnya.


"Masalah sepele?" tanya Gayung tak habis pikir, tidak biasanya ia menjadi sinis seperti ini. "Kamu tahu nggak, gara-gara kalian. Aku menangis setiap hari, aku takut berangkat ke sekolah. Aku sendirian, sementara kalian setiap hari mengatakan hal buruk kepadaku seolah aku itu makhluk yang tidak berperasaan. Dan kamu bilang itu masalah sepele." Air matanya tiba-tiba bercucuran begitu saja tanpa bisa ia tahan. Ia begitu emosional karena masalahnya dengan Galas belum selesai. Sekarang, dengan entengnya, orang yang sudah membulinya waktu SMP mengatakan bahwa apa yang terjadi pada masa lampau hanyalah masalah sepele.


"Ada apa ini?" tanyanya seraya mendekati keduanya. Gayung memalingkan wajahnya sembari mengelap wajahnya yang penuh dengan cucuran air mata. Sedetik kemudian ia memilih berlari ke toilet. Mencuci wajahnya disana dan memperbaiki riasannya. Ia tidak mau sampai mendapat pertanyaan-pertanyaan dari rekan-rekannya. Karena berpenampilan tak biasa.


"Tidak ada apa-apa, Pak. Cuma masalah kecil saja." Dina yang ditinggalkan sendiri, mau tak mau memberi penjelasan. Ia hanya tak habis pikir, kenapa Gayung bisa seberani itu melarikan diri saat ditanya Bos mereka.


"Masalah kecil apa?" Galas memandang tajam karyawan barunya itu penuh selidik.


"Ehm ... masalah remaja saja, Pak, dulu waktu kami sekolah," jawab Dina tak menjelaskan secara gamblang, ia menunduk dalam. Sebagai anak baru, berbicara dengan Bos sungguh membuatnya gemetaran. Sekuat ini ternyata aura seorang Bos, batinnya.


"Kamu satu sekolah dengan Gayung?" tanya Galas masih dengan sikap penuh interogasi.


"Iya, Pak." Dina masih dengan sikapnya yang menunduk.


"Ya sudah, kamu boleh pergi," ucap Galas bermaksud mengusir. Dina tak menyadari itu, ia mengiyakan dan kemudian berlalu menuju ruangannya. Beberapa karyawan yang baru datang, menyapa Galas kemudian cepat-cepat kabur meninggalkan ruang loker karyawan.


Galas melangkah menuju toilet, menunggu Gayung disana dengan bersandar pada tembok dengan tangan bersedekap di dada.


Tak lama yang ditunggu keluar juga. Gayung terlihat sedikit kaget, namun ia segera memalingkan wajahnya menghindari tatapan Galas yang begitu tajam mengarah kepadanya. Padahal ini saat yang paling di tunggu Gayung, namun justru sekarang ia ingin menghindar dari laki-laki itu.


"Ada masalah apa?" Galas mencekal tangannya, menahan langkahnya yang hendak pergi.

__ADS_1


"Tidak ada," jawab Gayung ketus.


"Kamu marah?"


"Menurut Kak Galas?" Gayung masih memalingkan wajahnya.


"Aku punya alasan, tidak menghubungimu ...."


"Kalau begitu katakan alasannya." Kali ini Gayung menghadapkan wajahnya pada wajah yang dirindukannya selama beberapa hari belakangan ini.


"Aku sibuk," jawab Galas dengan tangannya yang masih mencekal tangan Gayung.


"Sesibuk-sibuknya apa sampai tidak punya waktu sekedar mengirim pesan kepadaku?" Gayung menarik nafas, menahan air mata kecengengannya. Ia tidak mau sampai menangis di depan Galas.


"Iya," jawab Galas masih dengan wajah datarnya. "Aku sibuk sampai tidak punya waktu untuk menghubungimu," lanjut Galas. "Tapi jangan jadikan itu alasan kamu bisa dekat-dekat dengan laki-laki lain." Kali ini kalimatnya penuh dengan penekanan.


"Aku tidak dekat dengan laki-laki manapun," sanggah Gayung tak percaya dengan tuduhan Galas.


"Lalu tadi pagi apa? Kamu senang dinyanyikan lagu romantis oleh laki-laki sialan itu?" Kali ini Galas terlihat sedikit emosional.


"Dia memang hobi bernyanyi, bukan bernyanyi untukku. Aku juga tidak akrab dengannya." Suara Gayung sedikit meninggi. Pikirannya terkuras habis hanya untuk memikirkan Galas, sementara dia malah dituduh yang tidak-tidak. Gayung benar-benar tak terima.


"Jangan naif, dia berusaha mendekatimu ...," ucap Galas sinis.


"Itu urusan dia, bukan urusanku," ketus Gayung.


Sebuah suara menghentikan pertengkaran mereka.


"Galas, kamu sudah balik?" Jay menghampiri mereka. Ia tidak tahu kalau ada Gayung disana, karena posisinya yang tertutup tembok. Galas melepaskan cekalannya pada tangan Gayung.


"Jay, pesankan aku tiket ke Singapura," ucapnya tanpa melihat pada Gayung lagi, ia melenggang berjalan meninggalkan ruangan itu.


"Ada perlu apa, Bos?" tanya Jay santai.


"Kepalaku pusing, aku mau chek up kesehatanku disana," jawab Galas sambil lalu dan menutup pintu keras. Membuat Jay keheranan, namun begitu melihat Gayung yang tiba-tiba muncul dari balik tembok. Ia mengerti apa yang baru saja terjadi disana.


***


Jangan lupa like & komen ...


Salam hangat dari Galas dan Gayung...😁😁😊

__ADS_1


__ADS_2