Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 44


__ADS_3

"Kamu mau sekarang?" bisik Galas sendu, membuat bulu kuduknya meremang saat hembusan nafas hangat Galas mengenai telinganya.


Gayung tak berkutik dari posisinya. Sementara Galas sibuk menciumi telinganya menunggu jawaban istri tercintanya itu.


"Kak, kamu gila, ya? Kenapa tanya begitu ke aku ...." Gayung mendesis setengah kesal. Sebagai seorang wanita normal, harus diakui ia memang menginginkan dan penasaran bagaimana rasanya bercinta seperti apa. Tapi masa Galas harus menanyakan kepadanya. Kalau ia bilang "iya" betapa memalukannya. Lagipula ia tahu kondisi suaminya yang belum sepenuhnya sehat. Tidak masalah baginya menunda malam pertama mereka. Toh, masih ada malam-malam yang lain.


Galas tertawa kecil mendengar jawaban istrinya yang ia yakini pasti wajah cantiknya merona kini, jika saja lampu menyala terang. Tangannya bergerak menarik tubuh Gayung untuk menghadap ke arahnya.


"Kak, mending kita tidur, Kak Galas, kan masih sakit. Seharian, kan ahh ...." Gayung menghentikan kata-katanya saat tiba-tiba Galas membenamkan wajahnya pada dadanya. Astaga, Kak Galas sekarang pasti bisa mendengarkan detak jantungku yang bergemuruh didalam sana, batin Gayung sembari menggigit bibir bawahnya.


Lenguhan yang keluar dari bibir istrinya semakin menyulut gairah Galas. Lantas ia mendongakkan kepalanya mensejajarkan dirinya dengan wajah cantik Gayung yang nampak tegang dan tengah menahan nafasnya.


"Aku mau sekarang? Boleh ...?" Aroma nafas Galas menerpa wajahnya, begitu memabukkan dan seolah menghipnotisnya untuk menganggukan kepalanya seperti orang bodoh. Tak menunggu lama Galas memajukan bibirnya, menempelkannya pada bibir mungil yang selalu ingin dan ingin ia nikmati rasa manisnya. Mencecapnya atas dan dibawah. Kemudian lidahnya masuk dan mulai bermain-main, saat Gayung mulai berinisiatif membuka bibirnya untuk memberi jalan suaminya bermain didalam sana.


Gayung memejamkan matanya, menikmati sentuhan demi sentuhan dari tangan Galas yang mulai tidak bisa dikondisikan. Bibir Galas mulai menelusuri telinga, leher, dan bahunya yang entah kapan sudah terbuka dengan piyamanya yang hampir lolos dari tubuhnya. Sesekali Gayung menggigit bibir bawahnya agar tak sampai mengeluarkan desahan-desahan yang ia rasa akan sangat memalukan, jika ia mengeluarkannya.


"Keluarkan saja," bisik Galas lembut yang menyadari Gayung menahan diri dengan menggigit bibir bawahnya. Bukannya menjawab Gayung malah semakin melipat bibirnya ke dalam menahan rasa malu yang menyeruak dalam dirinya. Namun ia tak menolak saat Galas berusaha meloloskan piyama yang masih setengah melekat ditubuhnya dan menyisakan bra hitam yang ia pakai. Tak sampai disitu saja, Gayung semakin dibuat sedikit panik saat laki-laki itu melepas celana panjangnya, membuat ia hampir saja bertelanjang sekarang.


Tangannya berusaha menggapai selimut untuk menutupi tubuhnya, namun gerakannya kalah cepat dengan Galas yang menahan tangannya dan kembali memagut bibir ranumnya yang sudah basah dan membengkak akibat ulah suaminya itu.


Gayung mendongakkan kepalanya, saat Galas turun ke bawah dan menciumi lehernya. Memberikan kecupan pada rahang Gayung juga tanda kepemilikannya. Gayung kembali menggigit bibirnya merasakan perasaan yang begitu membuncang akan sesuatu yang baru ia rasakan untuk pertama kalinya.


Drttt ... drrt ... drtt ...


Galas sejenak menghentikan aktivitasnya sejenak, sebelum kemudian mengabaikan getaran dan dering dari ponselnya yang ia rasa begitu mengganggu kesenangannya dan kembali melanjutkan aksinya.


"Kak ...." Gayung menjauhkan wajah Galas yang masih asyik bermain lehernya. "Angkat dulu, siapa tahu penting," pintanya, karena suara deringnya tak kunjung berhenti.


Galas yang sudah dipuncak gairah terlihat kesal dan sedikit menggeram saat tangannya mau tak mau akhirnya mengambil benda pipih itu dari atas nakas.


"Siapa?" tanya Gayung. Galas menunjukkan sebuah nama yang tertera pada layar ponselnya. Sebelum akhirnya menggeser icon hijau dan menyalakan speaker agar istrinya tidak salah paham dan mendengar obrolan mereka.

__ADS_1


"Halo." Galas tak dapat menutupi kekesalannya saat menjawab panggilan di pagi buta itu.


"Halo, Galas," sahut Tiara diseberang sana dengan suaranya yang terdengar merajuk.


"Ada apa jam segini meneleponku?"


"Aku nggak bisa tidur," jawabnya masih dengan suara manjanya yang membuat Gayung sedikit merasakan cemburu dan menghadirkan tanya dalam pikirannya. Apa sebelum menikah dengannya, Tiara sering menghubungi suaminya dan berbicara mendayu seperti ini? Batinnya tak rela.


"Ini sudah pagi, cepat tidurlah." Galas ingin segera menyudahi pembicaraan yang menurutnya tidak begitu penting itu.


"Kamu sedang apa?" Pertanyaan Tiara reflek membuat sepasang pengantin baru itu saling memandang dengan terkejutnya.


"Se, sedang apa?" Pertanyaan macam apa yang diberikan sahabatnya itu. Galas benar-benar tidak mengerti, memangnya apalagi yang dilakukan pengantin baru? Batinnya kesal.


"Aku kangen." Gayung menundukkan kepalanya mendengar kalimat terakhir sahabat suaminya itu. Hatinya sedikit sakit, mendengar pengakuan rindu dari wanita cantik itu dimalam pengantin mereka. Bahkan ia sampai berani menghubungi di pagi buta seperti ini.


Galas yang melihat kegelisahan istrinya langsung memeluk erat tubuh istrinya yang hampir telanjang itu. Seolah mengatakan bahwa hati dan tubuhnya hanya milik istrinya seorang. Tak peduli seorang wanita cantik diluar sana begitu merindukannya kini.


Galas mematikan sambungan telepon dan juga daya ponselnya. Sebelum melempar benda itu ke atas nakas dengan sembarang.


"Aku hanya mencintaimu. Kamu percaya padaku, kan?" Gayung mengangguk dengan senyum manis dibibirnya yang Galas balas dengan helaan nafas kelegaan. Keduanya masih saling pandang, kali ini dari keduanya saling berinisiatif mengikis jarak untuk mempertemukan bibir mereka.


Rasa lelah dan malam yang sudah berganti pagi tak menyurutkan kobaran gairah yang menyala di malam pengantin mereka. Mereka melakukannya dan menikmatinya dalam balutan perasaan yang sama. Perasaan cinta yang begitu indah dan membahagiakan.


***


Hari sudah beranjak siang, namun sepasang pengantin baru itu masih asyik bergelung dalam balutan selimut putih dikasur yang empuk dan nyaman itu. Mereka baru tidur setelah solat subuh tadi, sengaja menunggu azan karena merasa tanggung, jika mereka pakai untuk tidur dulu.


Sinar matahari yang masuk melalui tirai tak mengganggu sedikitpun lelapnya tidur mereka. Rasa lelah setelah pesta pernikahan kemarin juga aktivitas malam sungguh membuat mereka kelelahan dan hingga kini masih asyik berpelukan, melewatkan sarapan dan makan siang mereka.


Mereka akhirnya terbangun di sore hari di antara suara gemericik air hujan yang suaranya begitu merdu terdengar hingga di kamar mereka.

__ADS_1


Gayung beranjak dari tempat tidur dan berjalan kearah jendela. Menyibak tirai putih berenda itu dan melihat penampakan hujan lebat diluar sana. Sebuah pelukan membuatnya mendongak dan ia menemukan suaminya tersenyum kepadanya dengan muka bantalnya yang sama sekali tak mengurangi ketampanannya.


"I love you," bisik Galas dengan suara serak khas bangun tidur. Gayung menggigit bibirnya yang terasa kelu, begitu sulit baginya membalas pernyataan suaminya. Sekali lagi bukan karena tak cinta tapi rasa malunya yang begitu dominan.


"Sayaaang," protes Galas yang begitu menunggu balasan dari sang istri. Selama ini, ia yang selalu mengungkapkan pernyataan cinta dan belum pernah sekalipun Gayung membalasnya dalam bentuk kata-kata.


"Kakk ...," Gayung membalikkan tubuhnya menghadap Galas.


"Hemmm?" Galas sudah hampir senang, mengira istrinya akan membalas pernyataannya. Namun ternyata ia salah menduga.


"Kak ... aku lapar." Gayung membelokkan ucapannya dan tatapan tajam Galas langsung menghunus ke dalam matanya. Ia mendelik takut, melihat ekspresi Galas yang melayangkan protes kepadanya.


"Ya, udah ya udah ... tapi Kak Galas tutup mata, ya." Gayung melingkarkan tangannya memeluk suaminya itu sembari mendongakkan kepala menatap wajah suaminya yang masih memberengut.


"Astaga, Sayang. Kita sudah menikah dan bahkan sudah tidur bersama tapi kamu masih malu-malu bilang cinta dengan suami sendiri ...."


"Iya, iya ...," potong Gayung sembari menutup bibir Galas yang terus mengeluarkan protes. Ia kemudian membenamkan wajahnya didada bidang suaminya sembari mengeratkan pelukannya.


"I-love you-too," ucapnya kaku. Ia benar-benar tidak pandai mengungkapkan cinta dengan kata-kata. Galas menahan senyumnya mendengar betapa kakunya istrinya mengungkapkan cinta kepadanya. Ia membalas pelukan istrinya tak kalah erat.


"Sayang." Gayung merinding mendengar panggilan Sayang Galas yang seperti mengisyaratkan sesuatu. Dan dugaannya tak meleset. "Aku mau lagi," ucapnya dibarengi dengan gerakan tangannya yang sudah masuk kedalam piyama istrinya, membuat Gayung menggelinjang akan rasa geli yang ia rasakan.


"Kak ... tapi aku masih sakit." Gayung berusaha menahan tangan Galas yang sudah hampir meloloskan kembali piyamanya.


"Ehm, masih sakit?" Galas menghentikan gerakan tangannya. Gayung mengangguk namun ia sedikit tidak tega melihat raut wajah kecewa suaminya.


"Kalau Kak Galas mau ... tapi jangan lama-lama, ya. Kaki aku pegell ...."


***


Maafkan authornya yang kurang pandai menulis adegan hot ... semoga masih menghibur ya ...

__ADS_1


And sorry banget baru up ... soalnya asam lambung author kambuh dan anak kesayangan lagi demam. Jadilah kemarin gak sempet nulis ...


Jangan lupa like & komen ... juga vote ...


__ADS_2