
Galas menggandeng tangan Gayung menyusuri lorong Rumah Sakit menuju ruangan tempat Tiara dirawat. Pikiran Gayung mulai bimbang memikirkan apakah ia jujur saja kepada suaminya tentang kemungkinan kehamilannya. Sehingga ia bisa memeriksakannya sekarang untuk memastikan, mumpung sudah di Rumah sakit.
"Kamu memikirkan apa, Sayang?" tanya Galas, melihat istrinya seperti tengah melamun.
"Nggak ...," jawab Gayung lirih, sembari menggamit lengan suaminya erat.
Galas membuka perlahan kamar VIP tempat Tiara dirawat. Gayung mengedarkan pandangannya mencari sosok sahabat suaminya itu, namun ia tak menemukannya.
"Duduk dulu, sepertinya Tiara sedang dikamar mandi." Gayung mendudukkan dirinya pada sofa panjang disana. Dan benar saja, tak lama kemudian wanita itu muncul dari balik pintu kamar mandi dengan membawa cairan infusnya. Galas mendekat dan membantu wanita itu untuk berbaring lagi di atas tempat tidurnya. Gayung meremas jemarinya melihat kedekatan mereka, rasanya susah sekali untuk tidak cemburu menyaksikan pemandangan dihadapannya. Mereka hanya berteman Gayung! Hanya teman! Batinnya.
Netra mereka saling bersitatap, namun tidak ada yang mau memulai menyapa. Entah kenapa, sulit bagi Gayung memulai pembicaraan dengan wanita itu.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Galas, memutus pandangan dua wanita itu.
"Sudah mendingan," jawab Tiara lirih.
Gayung mendekat ragu dan meletakan buah-buahan yang sengaja ia beli tadi ke atas nakas samping tempat tidur.
"Mbak Tiara mau aku kupasin buah ...." Gayung mencoba mengakrabkan diri. Namun sepertinya Tiara tidak menginginkan begitu.
"Nggak," jawabnya tanpa menoleh.
Galas yang mengerti perasaan istrinya memberi kode mata untuk mengabaikan sikap Tiara padanya.
"Galas, malam ini kamu temenin aku, ya. Aku takut disini sendirian," ucap Tiara dengan nadanya yang manja. Mata Gayung membeliak mendengar permintaan wanita itu. Sakit tentu saja, siapa istri yang rela melihat wanita lain bersikap manja pada suaminya. Gayung mengerti, wanita itu sakit, lemah dan yang ia dengar dari suaminya ia tengah hamil, butuh pendamping dan perhatian. Sementara ia tak memiliki seseorang yang harusnya melakukan itu untuknya.
Tapi haruskah ia berbicara seperti itu kepada suaminya? Sementara ada dirinya disini sebagai seorang istri dari laki-laki itu. Bukankah seharusnya wanita itu meminta izin padanya? Gayung merasa menjadi makhluk transparan sekarang.
"Ehm ... aku akan meminta Bi Hanah datang kesini untuk menemani kamu." Galas mengambil keputusan yang menurutnya terbaik.
"Kenapa harus Bi Hanah?" Tiara memprotes.
"Memangnya kenapa? Sama saja bukan ..." Sejujurnya Galas mulai jengah melihat sikap Tiara yang selalu seperti ini. Wanita itu menunjukkan ekspresi merajuk namun tak Galas pedulikan. Laki-laki itu tampak menghubungi ke rumahnya, meminta Bi Hanah untuk datang ke rumah sakit bersama Pak Ato. Sementara Gayung memilih mundur dan duduk disofa.
"Galas aku pengen makan seblak," ucap Tiara lagi.
"Hemmm." Galas sudah hampir menghubungi ke rumah lagi, namun Tiara menahannya.
"Aku maunya sekarang, didekat sini ada yang jual," rengek Tiara lagi. Gayung hanya diam, mencoba memahami, mungkin hormon kehamilan yang membuat Tiara menjadi seperti ini.
"Ya sudah." Galas memandang istrinya. "Sayang, aku keluar dulu, kamu tunggu disini tidak apa-apa, kan?"
"Iya." Gayung menganggukkan kepala dengan wajah tenangnya. Berusaha bersikap sebiasa mungkin meski sebenarnya hatinya terasa sakit. Memikirkan saat mereka sedang berdua, tidak ada dirinya diantara mereka dan sikap Tiara yang bermanja seperti itu kepada suaminya. Sejujurnya ia tak rela tapi mau bagaimana lagi.
"Kamu mau makan apa? Sekalian aku belikan."
"Aku makan dirumah saja nanti," tolak Gayung. Bukan karena tak lapar, perutnya rasanya meronta minta diisi. Tapi ia merasa tak nyaman makan ditempat ini. Maafkan Ibu ya, Nak, kita makan dirumah saja nanti, ya, batinnya tanpa sadar mengelus perut datarnya. Galas sudah meninggalkan ruangan, dan kini hanya ada mereka berdua dalam keheningan.
Gayung membuka ponselnya, mencoba menghilangkan rasa bosan daripada tidak melakukan apa-apa. Ingin mengajak Tiara berbincang, tapi mau membicarakan apa. Apalagi Tiara juga sepertinya tak menyukainya, bahkan menghindarinya.
"Gayung." Suara itu membuat Gayung yang sibuk berselancar ke dunia maya sontak menoleh ke sumber suara.
"Iya," jawabnya seperti orang bodoh. Wanita itu memanggil namanya, nama depannya.
"Aku mau ngomong penting sama kamu." Nada bicaranya datar tanpa ekspresi.
"Ngomong apa, Mbak?" Gayung siap mendengarkan. Bahkan sangat penasaran apa yang akan keluar dari bibir pucat wanita itu.
"Galas pasti cerita sama kamu, kan kalau sekarang aku hamil?" tanyanya.
__ADS_1
"I-ya." Firasat Gayung mulai tak enak.
"Kamu juga tahu, kan kalau aku nggak punya suami?"
Gayung terdiam, menerka-nerka apa yang akan wanita itu katakan selanjutnya.
"Hemm," jawab Gayung lirih.
"Aku dari keluarga baik-baik, aku tidak mungkin mengecewakan ibuku yang masih terpukul dengan kepergian ayah."
"Lalu?" Tubuh Gayung menegang mendengar kalimat Tiara selanjutnya.
"Kalau keluargaku tahu aku hamil diluar nikah tanpa seorang suami ...." Tiara menjeda kalimatnya, ada buliran bening meleleh disudut matanya. "Aku juga tidak mungkin menggugurkan bayi ini ...." Kali ini Tiara menatap Gayung yang nampak gelisah menunggu kalimatnya.
"Aku ingin ... kamu membujuk Galas untuk mau menikahiku ...."
Bagai tersambar petir mendengar kalimat itu. Tubuh Gayung sedikit gemetar, bahkan bibirnya tiba-tiba memucat demi mendengar permintaan sahabat suaminya itu. Ia jelas menolaknya, tapi melihat kerapuhan wanita yang terbaring lemah dihadapannya ... tidak! Ia tetap tidak rela.
"Ini hanya sementara ... dan aku juga tidak akan meminta hakku sebagai seorang istri ...."
"Ke-kenapa harus Kak Galas?" tanya Gayung dengan suaranya yang seolah tercekat ditenggorokan.
"Karena aku sangat mencintai Galas, aku mencintainya sejak lama. Tapi kamu tiba-tiba datang dan mengambilnya dariku ...."
Gayung menggelengkan kepalanya, menolak tuduhan wanita yang berurai air mata itu.
"Aku tidak pernah merebutnya dari Mbak Tiara, sejak awal Kak Galas hanya menganggap Mbak itu teman ...," ucap Gayung gemetar menahan emosi.
"Kalau saja kamu tidak datang .... Tolong, aku tidak masalah menjadi yang kedua ...."
"Tapi aku nggak bisa ... ayah anak itu Pak Jay bukan Kak Galas. Kenapa harus suamiku yang bertanggung jawab?"
"Tapi mau tidak mau, anak itu tetap anaknya Pak Jay ...."
"Diam kamu! Tahu apa kamu tentang perasaanku sekarang?" Tiara menegakkan tubuhnya dengan suara meninggi. Mendengar nama Jay selalu membuatnya muak. Karena laki-laki itu kini ia berakhir seperti ini.
"Lalu Mbak Tiara sendiri, tahu apa Mbak Tiara tentang perasaanku. Kurang sabar bagaimana lagi aku menghadapi Mbak yang selalu berusaha meminta perhatian suami saya ...." Gayung ikut berurai air mata.
Tiara mengalihkan pandangannya menatap ke lawan arah.
"Hanya sampai anak ini lahir, setelah itu aku akan meminta Galas menceraikanku. Aku tidak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini ... tolonglah, mengerti," pinta Tiara memelas.
"Seharusnya Pak Jay yang melakukan itu bukan suamiku," tegas Gayung, ia tidak akan goyah. Ia juga, mungkin memiliki bayi didalam perutnya kini. Ia tidak mau rasa stresnya nanti akan berakibat buruk kepada janin dalam kandungannya. Karena sampai kapanpun ia tidak akan mau dimadu. Mendengarnya saja sudah membuatnya sesak dan sulit bernafas.
"Jay tidak mungkin melakukan itu, Wina tidak akan pernah menyetujuinya ...."
"Kalau begitu sama, aku juga tidak akan menyetujuinya, Mbak. Aku juga seorang istri sama seperti istrinya Pak Jay, kalau Mbak Tiara lupa. Dan sampai kapanpun aku tidak mau dimadu, apapun itu alasannya." Gayung berdiri dan memilih meninggalkan ruangan itu segera. Tangan bergerak mengusap tiap tetesan air mata yang terus bergulir membasahi pipinya. Pikirannya berkecamuk memikirkan kemungkinan terburuk dari permintaan wanita itu. Melihat bagaimana kebaikan suaminya pada sosok sahabatnya itu cukup membuatnya ketakutan, apabila suaminya benar-benar menyetujui keinginan Tiara dengan menjadikannya istri kedua. Walaupun hanya sementara, tapi tetap saja ia tidak bisa menerima keputusan itu. Membayangkannya saja ia tidak berani, apalagi jika hal itu benar terjadi. Ia tidak sekuat itu untuk menerima wanita lain dalam rumah tangganya.
Gayung menyetop sebuah taksi yang lewat dihadapannya. Menjatuhkan tubuhnya kedalam sana dengan pikiran yang terus berkelana sampai lupa menyebutkan tujuannya kemana.
"Jalan saja, Pak," ucapnya kemudian.
Tak lama ponselnya berdering, ada nama suaminya disana. Namun Gayung enggan mengangkatnya. Ia takut dan belum siap mendengar jika Galas benar-benar akan mengabulkan permintaan sahabatnya itu. Hanya karena selama ini ia terus berusaha mengerti, bukan berarti seterusnya akan mengerti. Manusia punya batas kesabaran dan ia tegaskan kali ini tidak!
"Kak, kamu dimana?" Setelah Galas mematikan panggilannya, Gayung menghubungi Sasya. Seharusnya ia tak boleh lari dari masalah tapi sebentar saja ia ingin menghibur diri. Lagipula sebenarnya kalau saja Galas tidak mengajaknya menjenguk Tiara. Gayung berencana pergi ke dokter kandungan bersama sahabatnya itu.
"Aku boleh ke situ?" tanyanya. "Nanti jadi temenin aku, ya. Oke."
Gayung mematikan sambungan teleponnya dan menyebutkan sebuah alamat kepada sopir taksi. Mata sipitnya memandang keluar jendela, ah dia baru ingat belum solat maghrib. Ditiliknya waktu dari jam tangan mungil yang menghiasi pergelangan tangannya. Masih ada waktu, ucap batinnya.
__ADS_1
***
"An, kenapa mata kamu? Habis nangis, ya ...." Sasya melebarkan pintu kosannya, menarik Gayung masuk dalam kosannya.
"Kak, aku numpang solat, belum solat nih." Gayung buru-buru melepas tas selempangnya, melemparnya ke atas kasur dan bergegas berwudhu. Sementara Sasya menyiapkan mukena juga sajadahnya.
"Buruan, bentar lagi isya," ucap Sasya setelah Gayung kembali.
"Iya."
Sembari menunggu sahabatnya solat, Sasya memilih ke balkon sembari mengirimkan pesan kepada tukang nasi goreng didepan kosannya, untuk membuatkan dua porsi mie rebus pedas untuk dirinya juga Gayung dan meminta diantarkan ke kamar kosannya. Sebelum sampai Gayung sempat berkirim pesan padanya ingin makan mie rebus Mang Udin yang menurutnya paling enak sedunia itu.
Pesanan datang cukup cepat, sehingga Gayung yang sudah selesai solat pun tak perlu menunggu lama untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
"Kak kamu punya nasi?" tanya Gayung.
"Aku nggak masak nasi, An," jawab Sasya yang sudah menikmati mie rebusnya.
"Aku mau minta nasi, Kak Sasya mau?" Gayung mengambil ponselnya dan mencari kontak Mang Udin.
"Boleh," jawab Sasya antusias.
"Aku juga pengen mie gorengnya, Kak Sasya mau juga? Aku yang bayar ...."
"Boleh, tapi aku kwetiauw aja, deh." Kesempatan langka, semenjak Gayung menikah ia jarang mendapat traktiran sahabatnya itu.
Tak lama Mang Udin datang membawa pesanan mereka dan disambut antusias oleh keduanya. Makanan membuat Gayung melupakan sejenak kegalauan hatinya. Matanya berbinar-binar memandang makanan lezat dihadapannya.
"Kecil-kecil kalian makannya banyak, ya." Mang Udin tertawa melihat nafsu besar dua pelanggannya itu.
"Kalau semua orang kaya kita semua, dagangan Mang Udin pasti cepat habis," timpal Sasya terkekeh.
"Kalau dirumah suaminya, Neng Andara teh makannya banyak juga?" tanya Mang Udin kepo. Gayung mendongak menatap pria paruh baya itu.
"Suami saya tahu kok, Mang kalau saya makannya banyak," jawab Gayung, meski pertamanya ia agak jaim juga.
"Wah, berarti mencintai apa adanya tuh. Tapi lebih baik dijaga atuh Neng, suami Neng Andara kan Mamang liat kasep pisan, nanti kalau Neng Andara jadi gendut terus pindah ke lain hati bagaimana atuh ...."
Gayung menjatuhkan sendoknya mendengar kata berpindah ke lain hati. Nafsu makannya tiba-tiba menguap.
"Kak ... aku kenyang, buat Kak Sasya semua deh," ucap Gayung lesu.
"Whattt?! Please, An ... jangan dengerin omongan Mang Udin. Buktinya kita dari dulu makan banyak badan kita segini-gini aja."
Gayung terdiam sejenak memikirkan kata-kata sahabatnya itu.
"Oh, iya ya," ucap Gayung dengan bodohnya. "Ya udah aku makan lagi, deh ...."
***
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Oke makasih ❤
__ADS_1