
Gayung membalikkan tubuhnya menghadap ke arah suaminya yang tengah menertawakannya dengan begitu puasnya. Wajah ayunya memerah antara malu dan jengkel yang membuncah menjadi satu, karena merasa dikerjai oleh suaminya sendiri. Tanpa bisa dicegah lagi, Gayung mengambil boneka beruang diatas tempat tidurnya kemudian memukulkannya pada tubuh suaminya demi melampiaskan kekesalannya secara bertubi-tubi.
"Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan!" Teriak Gayung sembari terus memukuli suaminya yang masih belum berhenti menertawakannya.
"Hei Sayang, sudah hentikan." Galas menangkap boneka beruang berukuran besar itu dan melemparkannya ke sembarang arah. Lalu berusaha merengkuh istrinya yang masih saja menghujani dada bidangnya dengan pukulan dari kepalan kedua tangannya.
"Maaf, maaf." Galas akhirnya berhasil menghentikan aksi istrinya dan membawanya dalam pelukannya yang erat.
"Jahat," lirih Gayung seraya membenamkan wajahnya pada dada bidang Galas. Membalas pelukan suaminya yang begitu ia rindukan itu, pun membaui aroma tubuh suaminya yang selalu menjadi favoritnya.
"Maaf ya ... sebenarnya aku ingin mengerjaimu dan memberikan kejutan ulang tahun untukmu nanti malam. Tapi ternyata aku tidak tega melihat kamu sedih seperti ini, Sayang." Galas masih terkekeh, mengecupi puncak kepala istrinya yang kemudian mendongak meminta penjelasan.
"Maksudnya?"
"Ya, semua hanya skenario," jelas Galas, kemudian menghadiahi kecupan sekilas dibibir istrinya yang tampak kebingungan.
"Yang mana?" tanyanya masih dengan posisi tangannya yang melingkari pinggang suaminya.
"Semuanya, aku sengaja membuat kamu cemburu ...." Galas menatap gemas istrinya yang terlihat masih shock karena ulahnya tadi. "Sepatu Tiara, Dara juga Zian ...," imbuhnya.
"Dina sama Adi?" tanyanya dan Galas menggelengkan kepalanya.
"Selain mereka berdua," ucap Galas tak suka membahas kedua orang itu.
"Kak Sasya tahu?"
Galas mengangguk sebagai jawaban. Ah, Gayung merasa malu sekali. Sasya pasti menertawai kehebohannya mengikuti suaminya diam-diam juga curhatannya beberapa hari ini.
"Ihh." Gayung menghadiahi sebuah cubitan dipinggang suaminya.
"Aww! Sakit Sayang." Galas mencubit gemas pipi istrinya yang masih memerah.
"Jahat." Gayung kembali membenamkan wajahnya didada bidang suaminya. Tapi setidaknya ia lega, karena semua hanya akal-akalan suaminya.
"Jadi kamu nggak benar-benar ketemu sama Mbak Tiara?" Gayung mendongakkan kepalanya kembali, menanti jawaban suaminya dan ia senang bukan main saat Galas menggelengkan kepalanya sembari menciumi kedua pipinya dengan senyum diwajahnya.
Gayung membalas senyuman itu. Ia bahagia, suaminya yang hangat telah kembali.
"Kalau Dara?"
"Seperti yang aku bilang, Sayang. Semua hanya skenario," jelas Galas meyakinkan.
"Yang mengantar dia pulang?" Gayung masih memikirkan part itu.
"Mobilnya baik-baik saja, buat apa aku mengantarkan dia pulang hmm ...?" Galas terkekeh sembari menggesekkan hidung mancungnya pada hidung mungil istrinya. Sebelum akhirnya mulutnya menyerbu bibir istrinya yang terbuka seolah menantangnya. Galas memanggutnya, mel*matnya dengan penuh hasrat. Gayung pun membalasnya, menekankan bibirnya, saling mencecap rasa dalam ciuman yang dalam dan lama.
Gayung menjatuhkan dirinya kembali dalam pelukan suaminya setelah mengakhiri ciuman panas mereka. Membiarkan paru-parunya dengan senang hati menghirup dan menikmati aroma wangi dari tubuh suaminya. Hatinya lega, mengetahui semua yang terjadi hanyalah keisengan suaminya saja.
__ADS_1
"Ehm ... kejutannya mana?" Gayung mengurai pelukannya, memandang wajah tampan suaminya dengan binar penuh harap. Seumur hidup, ia tidak pernah merayakan ulang tahunnya. Baik dengan orang tuanya, ataupun sahabatnya. Bahkan ia sendiri sering melupakan hari kelahirannya itu, kalau saja Ibunya tidak memberinya ucapan, dengan meneleponnya juga mengirimkan paketan hadiah dari Singapura.
"Nanti malam," jawabnya dengan senyum khasnya.
Gayung menatap gerakan sensual suaminya membuka kancing kemeja atasnya.
"Kenapa dibuka?" lirihnya. Tatapan mata itu, tatapan mendamba ketika suaminya menginginkan dirinya.
"Ingin," jawab Galas sembari mendaratkan ciuman hangat dipipi Gayung dengan senyumannya. Gayung melipat bibirnya, masih diam, menyaksikan suaminya yang telah selesai membuka seluruh kancing kemejanya, kemudian membuka secara keseluruhannya. Melempar kemeja itu ke atas sofa dikamar, memperlihatkan tubuh atletisnya. Tangannya beralih melepas jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya dan meletakannya di atas meja kaca disampingnya.
"Kamu nggak kerja?" tanyanya ketika suaminya kembali ingin mencumb*inya. Galas menghentikan gerakannya tepat disaat bibirnya hampir menempel kembali di bibir ranum istrinya itu. Dengan wajah dibuat kecewa ia menarik kembali wajahnya ke belakang.
"Oh iya, aku kan hari ini kedatangan Tiara ....," ucapnya sengaja, sembari melirik istrinya yang mendelik kesal kepadanya. Galas tergelak keras melihat ekspresi lucu istrinya itu sebelum akhirmya menarik kembali tubuh Gayung ke dalam dekapannya.
"Ngeselin." Gayung kembali memukuli tubuh suaminya yang sudah tak memakai apa-apa itu.
"Salah kamu sendiri, Sayang .... Aku sudah buka baju, kamu masih tanya aku mau kerja apa tidak." Galas tertawa geli mengingat istrinya yang terkadang masih suka menunjukkan rasa malu dihadapannya.
"Aku nggak mau kamu berangkat kerja," rajuknya sembari mendongakkan wajahnya ke arah suaminya.
"Terus sekarang kita mau apa?" Galas menarik sudut bibirnya, menggoda istrinya yang pemalu itu.
Gayung berpura-pura berpikir sejenak. Mereka saling memandang dalam diam. Saling melempar senyuman penuh arti. sebelum akhirnya kaki Gayung berjinjit dan mengawali ciuman panjang mereka yang berakhir dengan kegiatan ranjang mereka disiang itu.
****
Petang datang, pasangan suami istri yang tengah dilanda asmara itu tampak bercengkerama disofa dalam kamar mereka, menunggu azan maghrib berkumandang. Selepas Isya nanti, Galas bermaksud mengajak istrinya untuk makan malam romantis disalah satu hotel mewah di ibukota untuk merayakan ulang tahun Gayung yang ke-21.
"Keiko, kamu sedang apa?" Galas bersimpuh didepan istrinya, mengelus dan menciumi perut buncit itu, mengajaknya berbicara macam-macam.
"Keiko, lapar Pah," jawab Gayung dengan suara anak kecil. Mereka berpandangan sebelum kemudian larut dalam tawa bahagia.
"Kamu lapar, Sayang?" tanya Galas. Istrinya itu memang kekeuh tidak mau makan, karena rencana dinner mereka.
"Hemm."
"Ya sudah, aku ambilkan, ya. Ibu hamil kan, memang makannya banyak, Sayang. Nanti malam makan lagi tidak masalah."
"Aku mau makan es krim rasa pisang coklat," rajuknya. Tadi pagi ia sempat melihat di sosial media dan tiba-tiba menginginkannya.
"Hemm. Tadi siang, kan sudah Sayang?" Galas kembali jahil.
"Kapan?" tanya Gayung, belum paham apa yang dimaksud oleh suaminya. Seingatnya, seharian ini ia tidak memakan es krim sama sekali.
Galas tergelak melihat wajah polos istrinya yang sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu itu. Tak lama, matanya membulat sempurna dan kembali menghujani suami dengan pukulan bertubi-tubi. "Jorok, ih!"
"Hahaha ... tapi kamu suka, kan?" Galas menangkap tangan istrinya dan memeluk tubuh istri yang memberengut itu.
__ADS_1
"Aku nggak jadi pengen es krim rasa itu," ucapnya kesal.
"Oke. Kamu mau rasa apa, Sayang? Aku akan mencarikannya untukmu ...." Galas berusaha menahan tawanya.
"Rasa ketan," jawab Gayung setengah cemberut.
"Itu saja?"
"Iya, tapi belinya yang banyak ...."
"Siap." Galas beranjak berdiri, siap turun ke bawah. "Yakin, tidak mau rasa pisang coklat?" Ia melirik istrinya masih dengan senyum jahilnya.
"Nggak!" Gayung membuang muka.
"Ya sudah. Berarti nanti malam saja ya makannya." Galas terkekeh melihat wajah kesal istrinya itu.
"Ponselku, Sayang." Galas meminta Gayung mengambilkan ponselnya yang tergeletak disamping istrinya.
Gayung hendak mengambil ponsel itu bersamaan dengan sebuah panggilan yang masuk disana. Gayung melirik suaminya yang terlihat cuek menyisir rambut hitamnya dengan jari-jarinya.
"Siapa?" tanyanya.
"Istri kedua. Nih." Gayung menyodorkan benda pipih itu ke suaminya yang kemudian tampak menggeser icon hijau pada layar dan berbicara dengan sahabatnya itu.
"Halo. Dimana? Oke."
Gayung menunggu penjelasan suaminya dengan was-was.
"Kenapa?" tanya Gayung penasaran melihat ekspresi diam suaminya.
"Sayang, Tiara bilang perutnya sakit sampai tidak bisa berjalan." Galas melihat kekecewaan diwajah istrinya. Tapi kemudian ia menarik nafas panjang dan merelakannya pergi.
"Ya sudah."
"Aku hanya mengantarkannya sebentar ke rumah sakit, setelah itu aku akan pulang."
"Aku ikut," lirihnya. Ia tak rela.
"Jangan, Sayang. Kamu bersiap-siap saja. Dandan yang cantik. Aku hanya akan mengantarkannya ke Rumah Sakit sebentar. Ya?" bujuk Galas meyakinkan. Hingga akhirnya Gayung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku akan secepatnya pulang." Galas mencium kening istrinya sebelum akhirnya benar-benar turun dan pergi menuju apartemen sahabatnya itu.
***
Jangan lupa
Like
__ADS_1
Komen
Vote