Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 19


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam. Gadis berambut ikal itu tengah duduk di atas balkon kosannya sembari video call dengan sang ibu, yang kini tinggal di Singapore.


"Ibu kirimin aku uang juga?" tanyanya dengan perasaan tak enak hati. Karena tak hanya Bapaknya yang mengiriminya uang, ibunya pun melakukan hal yang sama.


"Iye, buat kamu jajanlah," jawab Dian, sang ibu dengan logat khas melayu. Setelah cukup lama tinggal di negeri seberang, logat Ibu sering mengikuti orang disana.


"Dih, Gayung Kan, sudah besar Bu, sudah kerja juga, masak dikirimin uang terus, Bapak juga lagi, harusnya kan Gayung yang kasih uang buat Bapak sama Ibu," tukasnya bersungut-sungut, merasa menjadi anak yang tidak berguna. Ia ingin sekali seperti anak-anak yang lain yang setiap gajian datang, menyisihkan uangnya untuk di kirim ke kampung.


"Bapak kamu kirim uang juge? Hahaha ... berarti itu rezki kamu sayaangg ... sudeh trime sajelah. Dulu kite tak bisa kasih kamu uang, kesenangan, alhamdulilah banyek rezkinya sekarang ... ya siape lagi yang mau dikasih, orang tue Ibu sama Bapak sudah tak ade, punyanya cuma kamu saje ... kamu buat amal atau apalah itu uang kalau bingung, hahaha." Ibu menjawab dengan santainya sambil menyisir rambutnya yang sama ikalnya dengan Gayung.


"Hemmm ... Ayah lagi kemana, Bu?" Gayung menanyakan ayah tirinya.


"Lagi dikamar mandi kayanya. Bang! Di cariin nih sama anak gadisnya ...." Ibu terdengar memanggil Fauzan, suaminya, namum tak ada jawaban.


"Tak ada Yung, besok saje yah ngomong sama ayah."


"Ya udah, Gayung titip salam saja, sama bilang makasih buat kirimannya," ucap Gayung tulus.


"Sipplah, jaga diri baik-baik yah disana, jauh dari orang tue. Pacaran boleh, asal jage diri, jangan sampai melewati batasan, dah punye pacar kan?" goda Dian


"Belum," jawab Gayung lirih, ia sebenarnya masih bingung statusnya dengan Galas itu apa.


"Yakiiin? Kok jawabnya begitu ...," tanya Dian penuh selidik.


"Udah putus," jawab Gayung.


"Lho, kapan jadian hei, kok tak crite sama Ibu?"


"Tadi pagi."


"Tadi pagi?" tanya Ibu kaget.


"Tapi tadi sore, Gayung putusin ...."


"Hahaha ... bisa begitu?"


"Ya gitu deh."


"Jangan suke permainken laki-laki. Takutnya kenape-nape Yung. Jadiin pelajaran itu, pasien-pasien Bapak kamu itu."


"Iya, Gayung sudah ngomong baik-baik, kok, Bu. Kita juga masih berteman," jawab Gayung jujur.


"Ya, sudah. Besok lagi yah Yung."


"Iya. Assalamuallaikum."


Gayung mengakhiri panggilan setelah mendengar Ibunya menjawab salam. Matanya yang mulai mengantuk, memandang jajaran motor dan mobil yang terparkir di bawah sana. Sampai sebuah lambaian tangan mengejutkan dirinya. Ada Galas di sana, sedang duduk di bangku panjang dibawah pohon. Ia tersenyum ke arah Gayung.


Gayung tak membalas lambaian tangan Galas malah berlari ke dalam kamarnya. Ia ingat masih memakai masker wajah tadi. Ia lekas membersihkannya dan merias diri kilat. Ia belum sepercaya diri itu untuk tampil di depan Galas tanpa make up. Setelah di rasa cukup, ia lebih dulu mengatur detak jantungnya yang mulai berdentam ria. Sebelum akhirnya turun menemui Galas.


"Maaf ... lama," ucapnya dengan senyum malu-malu ketika sudah berada dekat dengan Galas. Galas memandang intens sosok cantik yang mendudukkan diri disampingnya.


"Kenapa?" Gayung mulai salah tingkah. Apakah make upnya terlalu kelihatan? Batinnya. Padahal ia sudah memoleskan sesamar mungkin.


"Kamu dandan?" tanya Galas sembari meraih tangan Gayung dalam genggamannya dan menautkan jemari miliknya dengan milik Gayung.


"Hemm." Gayung mengangguk dengan wajah merona. "Kak Galas nggak suka?"


"Suka," jawabnya dengan senyum manis yang memperlihatkan lesung pipinya. Gayung menggigit bibir bawahnya merasakan darahnya berdesir didalam sana.


"Kak Galas tahu darimana kosan aku?" Gayung mengalihkan pembicaraan.


"Rahasia ... kamu sudah makan?" tanyanya sambil menimang-nimang tangan Gayung yang telah ia kuasai.


"Sudah."


"Mau makan lagi? Biasanya kamu makannya banyak, kan?"ledek Galas, Gayung pura-pura cemberut.


"Nanti aku gendut gimana? Kak Galas kan sukanya yang langsing, putih, tinggi, cantik ...."Gayung balas meledek.


"Terus kamu masuk kriteria itu tidak?" tukas Galas menggoda.


"Ehmm ... menurut Kak Galas?" Gayung mengembalikan penilaian itu kepada orang yang telah memilihnya. Ia tidak percaya diri untuk menilai dirinya sendiri.

__ADS_1


Galas tak menjawab, mereka saling memandang satu sama lain dalam diam.


"Aku mau makan nasi goreng yang itu." Galas menunjukkan pedagang nasi goreng di depan kos-kosan Gayung.


"Oh-ya udah aku pesanin." Gayung sedikit gagap. "Mau pedas atau nggak?"


"Tidak." Galas menggeleng. "Suruh antar ke kamar kamu ...."


"Maksudnya?" Gayung tidak mengerti.


"Aku mau lihat kamar kamu," ucap Galas, membuat gadis manis itu menjadi gusar.


"Tapi Kak, ini kan sudah malam ...." Gayung tidak terbiasa membawa tamu laki-laki ke kamar kosnya. Meskipun banyak tetangga kosannya yang melakukan itu.


'Tadi aku lihat batas tamu laki-laki main jam sepuluh malam," ucap Galas penuh kemenangan, hampir saja ia lepas tawa, melihat kegelisahan yang Gayung tunjukkan.


"Hei, aku tidak akan berbuat macam-macam, aku cuma mau melihat kamarmu." Galas terkekeh. "Memangnya aku pria mesum."


"Tapi kamarku sempit, berantakan lagi." Gayung terus mencari-cari alasan, sampai akhirnya ia menyerah kalah juga. Karena Galas selalu pandai memberi jawaban.


Gayung kembali dari mengambil pesanan nasi gorengnya. Dilihatnya Galas sedang melihat-lihat foto dirinya yang tergantung rapi berjajar di dinding kosannya.


"Cuma satu?" tanya Galas. "Kamu benar tidak makan?"


"Aku sudah makan Kak, tadi." Gayung meletakan sepiring nasi goreng yang masih panas itu di bangku lipat kecil dikamarnya. Lalu duduk bersila diatas karpet, diikuti Galas yang mendudukkan dirinya disamping Gayung.


"Kamu nyaman disini?" Galas mengaduk-aduk nasi gorengnya.


"Nyaman," jawab Gayung yakin.


"Tidak terlalu sempit?"


"Justru karena sempit, aku merasa nyaman. Soalnya kalau terlalu luas, aku malah kepikiran macam-macam."


"Kepikiran apa? Hantu?" Galas terkekeh lagi melihat Gayung yang sedikit meringis ngeri.


"He eh," jawabnya polos.


"Kamu aneh banget, ya. Aku jadi sangsi sebenarnya kamu itu anaknya Pak Ming apa bukan." Galas terkekeh lagi sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.


"Pulang kampung kemarin, aku ke rumah kamu."


"Masak? Tumben?" Gayung membelalak takjub. Karena sejak Galas merantau ke ibukota, ia tidak pernah mendapati kakak sahabatnya itu bertandang ke rumahnya.


"Hemm, sama Inge sama Ibu juga."


"Ngapain? Inge sakit lagi?" Gayung terlihat khawatir. Sepuluh tahun lalu, Inge di vonis memiliki tumor otak dan oleh dokter diharuskan operasi. Tapi karena trauma akan kegagalan operasi ayahnya yang berujung kematian, membuatnya tak berani melakukan hal itu. Ibunya akhirnya membawanya berobat ke tempat Bapak Gayung. Awalnya Galas tak menyetujui, karena ia tidak begitu percaya dengan pengobatan alternatif. Sedikit ada perdebatan pada awal-awal pengobatan, karena memang proses pengobatannya cukup lama. Ada hampir setengah tahunan dengan sepuluh kali pertemuan. Namun akhirnya sedikit demi sedikit ada perubahan sampai akhirnya Inge sembuh total. Sejak saat itulah Gayung bersahabat dekat dengan Inge, juga Galas.


"Bukan, silaturahmi saja. Sudah lama juga kan tidak berkunjung. Buka mulutmu," perintah Galas yang sudah menyendokkan nasi goreng di depan mulut Gayung. Gadis itu membuka mulutnya ragu-ragu, namun akhirnya satu suapan berhasil masuk ke dalam perutnya. Galas tersenyum puas.


"Anak pintar," pujinya membuat Gayung tersipu malu.


"Kak Galas pasti lihat foto di rumahku kan, makanya ingat sama aku?"


Galas melirik sekilas, sebelum menyuapkan suapan kedua kalinya.


"Iya, kamu banyak berubah," Galas memandang si manis yang tengah mengunyah makanan dimulutnya. "Cuma ada tiga yang tidak berubah."


"Apa?"


"Rambut ... gigi sama senyum kamu."


"Gigi?" Gayung menutup mulutnya.


"Iya, coba senyum." Galas berusaha melepas tangan Gayung yang menutup mulutnya.


"Nggak mau." Gayung mempertahankan tangannya.


"Gayung ... aku mau lihat senyum kamu," rayunya. Namun tangan Gayung tak bergeming.


"Ya sudah, kalau tidak mau." Galas mengalah sembari memikirkan cara agar Gayung mau menunjukkan senyummnya.


"Sayang, aku minta air," katanya. Gayung terpaku sejenak mendengar Galas memanggil sayang kepadanya, sebelum akhirnya berdiri dan mengambilkan air untuk Galas.

__ADS_1


"Ini." Gayung menyerahkan gelas berisi air penuh itu dengan hati-hati.


"Terima kasih," jawab Galas dengan senyum khasnya. Tanpa ia sadari, bahwa bersama Gayung membuatnya banyak tersenyum sepanjang hari ini.


Galas menyuapkan lagi satu suapan untuk Gayung, gadis itu tak menolaknya. Hingga hampir sebagaian besar porsi nasi goreng itu masuk ke dalam perutnya. Galas tersenyum puas.


"Kenyang?"


Gayung mengangguk dengan senyumnya yang malu-malu. Akhirnya senyum yang ditunggu Galas hadir juga.


"Coba senyum lagi ...," pintanya.


Awalnya Gayung meragu, karena merasa malu. Namun akhirnya ia mengembangkan bibirnya mengabulkan keinginan Galas.


"Anak manis," puji Galas. Tangannya mengusap sudut bibir Gayung yang berwarna merah jambu itu. Tubuh Gayung terasa kaku seketika.


"Gigi kamu lucu," ucapnya sendu. Membuat Gayung bersiaga, ia takut Galas melakukan sesuatu seperti waktu itu.


"Kak ... sudah malam." Gayung menjauhkan dirinya.


"Kamu mengusirku?" Galas pura-pura marah. Padahal sebenarnya ia gemas sekali dengan tingkah Gayung yang malu-malu.


"Bukan, tapi ... aku nggak biasa bawa tamu laki-laki apalagi malam-malam." Gayung mengungkapkan apa yang dipikirkannya. Ia tidak enak hati jika sampai ketahuan Nabila.


Dan Galas bisa memahami itu dan memilih berpamitan pulang.


"Antarkan aku sampai ke mobil." Pintanya sembari meraih tangan Gayung, untuk mengikutinya. Mereka berjalan beriringan menuruni tangga.


Galas semakin menggenggam erat tangan Gayung saat sudah berada di depan mobilnya. Seolah tak ingin melepaskan.


"Mau cari angin dulu keluar," bisiknya tepat ditelinga Gayung. Hembusan nafas hangatnya menelusup hingga menghadirkan desiran dalam dada Gayung.


"Kak ... boleh tanya sesuatu nggak?" tanyanya ragu-ragu.


"Apa?"


"Ehmm ... hubungan kita sekarang apa?" Gayung melipat bibirnya, menunggu jawaban Galas.


"Kamu maunya apa?" Galas tersenyum menggoda. "Aku ikut kamu maunya gimana ...."


"Ishh ...." Gayung melepaskan genggaman tangan Galas. Membuat laki-laki itu terkekeh gemas.


"Cium dulu," lirih Galas sembari menunjuk bibirnya. Gayung membeliak kaget, refleks tangannya memukul pelan lengan Galas.


"Kak Galas ih, nggak mau."


"Sebentar," pinta Galas.


"Nggak mau, nanti ada yang lihat," tolak Gayung.


"Nggak ada orang." Galas mengedarkan pandangannya ke sekitar dan memang tidak ada siapapun selain tukang nasi goreng di depan kosan, letaknya pun cukup jauh dari mereka.


Gayung terlihat dilema.


"Di dalam mobil aja ya ...," katanya. Kini Galas yang terbelalak kaget.


"Mau nggak? Kalau nggak mau ya udah." Tarikan tangan Gayung menyadarkan Galas. Wajah gadis itu sudah seperti kepiting rebus menahan malu.


Galas membuka pintu mobil, meminta Gayung masuk lebih dulu sebelum dirinya menyusul kedalam. Keduanya saling diam, yang satu terlihat tenang dan yang satu terlihat gugup.


"Kamu lucu banget, sih." Galas tak dapat menahan senyumnya, tangannya mengelus pipi Gayung gemas.


"Aku cuma takut ada teman sekantor yang lihat, Kak." Gayung cemberut. "Teman sekantor tuh ada jadi omongan gara-gara baru pacaran terus ketahuan ciuman," lanjut Gayung dengan polosnya. Galas menyembunyikan senyumnya dibalik tangan kekarnya.


Galas lebih mendekatkan dirinya ke Gayung. Tatapan matanya mulai sendu. Gayung menundukkan kepalanya, namun Galas menarik dagunya mensejajarkan dengannya. Mereka saling memandang dalam diam. Saat Galas semakin mengikis jarak diantara mereka, Gayung memejamkan matanya. Dirasakannya aroma khas dan menyenangkan melingkupinya. Galas memeluknya, membelai rambut ikalnya dengan lembut. Gayung membuka matanya kembali, menyandarkan dagunya pada bahu lebar itu. Menikmati hangat yang Galas salurkan kepadanya.


"Jadilah kekasihku," bisiknya.


Bersambung ...


Apakah ada menunggu kisah Galas dan Gayung?


Kalau ada ... maaf yah, baru bisa up dan ceritanya bab ini lumayan GAJE. Authornya lagi DOLL banget otaknya, karena lagi sakit juga. Minta doanya semoga authornya cepat sembuh ... dan terima kasih buat yang udah mau cerita gak jelas ini ...

__ADS_1


Salam sehat dan bahagia ...


__ADS_2