
Sasya dan Bimo tengah asyik bekerja sambil bercengkrama, kala dering telepon itu menghentikan obrolan unfaedah mereka berdua.
"Angkat, Bim," perintah Sasya, ia merasa tanggung dengan pekerjaannya. Telepon itu memang berada di antara mereka berdua.
"Diiih, siapa sih?" Bimo melirik nomor yang tertera pada layar kecil itu. "Syaaa ... Pak Galaasss," desisnya sembari memegang dadanya yang tiba-tiba berdugem ria. Bagi mereka yang jarang berhubungan langsung dengan atasan, berkomunikasi dengan Bos, bagi mereka sudah seperti berhadapan dengan malaikat maut. Menyeramkan.
"Seriuss??" Sasya menyambar gagang telepon segera.
"Halo, Pak," ucap Sasya sopan.
"Sasya, dimana Gayung?" tanya Galas to the point.
"Sakit, Pak. Dia ijin hari ini ...."
"Sakit apa?" Suara Galas terdengar khawatir.
"Demam ...."
"Oh, ya sudah. Terima kasih." Sambungan telepon terputus seketika. Sasya tersenyum-senyum sendiri sembari meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. "Oh my ... andaikan aku Gayuuunggg ... betapa bahagiaanya ...."
"Kenapa, Sya?" Bimo sungguh penasaran.
"Keppo dehhh," jawab Sasya dengan tengilnya, membuat Bimo makin dibuat mati penasaran.
"Ih, Sasya mah. Nasi padang dah," bujuk Bimo, biasanya si kurus itu mau buka mulut kalau disuap makanan.
"Pake rendang dua yah." Dan benar dugaan Bimo.
"Siplah, buruan apaan?" Bimo sudah pasang telinga siap mendengarkan. Namun sayangnya gangguan datang dari sang ketua yang sok menegur mereka, dengan alasan karena terlalu berisik. Padahal dia sendiri lebih parah dari anak buahnya.
" Woy ... kerja! kerja! Ngobrol terus." Ketua cungkring itu sudah menjulang di antara mereka berdua.
"Apa sih, Pak ketua. Ganggu aja nih," sewot Bimo, rasa penasarannya sudah sampai di ubun-ubun.
"Ya ampun ... pada kurang ajar nih ya pada," Jio pura-pura marah, tapi akhirnya kepo juga.
"Apa sih? Aku kepo juga nih ...." Jio menurunkan kepalanya, ingin ikut mendengarkan.
"Nggak, nggak, ini rahasia para bawahan, ketua nggak boleh tahu." Sasya ingat pesan Gayung, untuk merahasiakan hubungannya dengan Galas, terutama dari Jio.
"Kalian mau ngomongin aku ya," tuduh Jio dengan wajah sedih.
"Aduh, penting gitu ngomongin situ," ucap Sasya menye-menye.
"Udah, minggir dulu Pak ketua." Bimo mendorong tubuh Jio menjauh dari mereka.
"Ya Allah, tega kalian ... TEGA!" Jio mulai drama.
"Brisikkk Jio!! Nyesel sumpah, kemarin udah simpati sama kamu." Safa kembali keras seperti biasa.
"Ya Allah, kalian benar-benar ... luaaar biasaaa hahaha." Jio kembali dengan tingkah konyolnya.
***
__ADS_1
Suara ketukan berulang pada pintu kosannya, mau tak mau membuat Gayung mengerjapkan matanya. Ia mencoba bangun dengan susah payah, kepalanya masih berat meski sudah dirasa lebih baik dibandingkan sebelum minum obat tadi. Ia mengintip dari balik tirai kamarnya sebelum akhirnya membuka pintu kayu berwarna coklat itu. Seseorang yang membuatnya galau sejak kemarin muncul dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Kamu sakit? Sudah minum obat?" tanya Galas cemas. Gayung tak menjawab dan tak berekspresi, memandang Galas sekilas lalu berbalik dan merebahkan kembali tubuhnya yang masih lemah di atas kasur. Saat hendak mengambil selimut, Galas membantunya menarik selimut menutupi tubuhnya. Gadis itu lalu meringkuk membelakangi Galas tanpa menjawab pertanyaan. Ia kesal dan marah, kesal karena Galas mengabaikannya kemarin dan pulang bersama Tiara. Tapi bukan itu yang membuatnya marah. Ia masih memaklumi hal itu, mengingat mereka memang berteman baik. Tapi semalam, postingan makan malam romantis di instragram Tiara membuat kegalauannya semakin menjadi-jadi. Belum lagi komentar dari anak-anak kantor yang memuji keserasian mereka.
"Sudah periksa ke dokter?" Galas menyentuh pundak Gayung yang tak tertutupi selimut namun tangan Gayung menepisnya. Membuat Galas keheranan.
"Jangan pegang-pegang," ucapnya lemah.
"Hei Sayang ... kenapa?" tanyanya lembut seraya mendekatkan wajahnya lebih mendekat pada wajah pucat Gayung. Tangan kekarnya memeluk tubuh Gayung yang tak kuasa menolak karena masih terlalu lemah.
"Jangan peluk-peluk." Kali ini hanya ucapan tanpa perlawanan. Hati dan tubuhnya benar-benar tidak sinkron. Meski marah, tapi ia merasa nyaman saat Galas memeluknya seperti ini.
Galas tak peduli pada penolakan Gayung, ia semakin mengeratkan pelukannya, wajah cemberut yang Gayung tunjukkan justru malah membuatnya gemas setengah mati. Ia merindukan wajah dan tubuh ini, sejak kemarin. Tak akan dilepaskannya begitu saja, apa pun yang terjadi hari ini.
"Aku kangen sama kamu." Galas memberikan ciuman beruntun pada pipi Gayung. Gadis itu melirik kesal pada Galas.
"Pembohong," lirihnya, tangannya menjauhkan wajah Galas yang terus berusaha menanamkan ciuman pada ceruk lehernya.
"Pembohong?" Galas menghentikan aksinya. "Pembohong bagaimana?" Galas mengerutkan keningnya, meminta penjelasan.
"Pikir sendiri." Gayung memejamkan matanya.
"Hei Sayang ... apa maksudnya aku pembohong." Galas menepuk-nepuk pelan pipi Gayung. Berharap gadis itu membuka matanya dan memberinya penjelasan.
"Kak Galas, aku masih pusing. Aku mau tidur." Gayung kembali menjauhkan wajah Galas darinya.
"Baiklah, aku akan menemanimu disini." Galas mengalah, ia bisa meminta penjelasan nanti.
"Mau makan sesuatu?" Galas membereskan beberapa obat yang berserakan di atas meja lipat dan juga bubur yang masih tersisa banyak disana.
"Hei Sayang, kamu kenapa?" Hatinya dipenuhi rasa ingin tahu melihat sikap Gayung yang tak biasa. Ia semakin bingung ketika tiba-tiba Gayung menangis.
"Kak Galas, sebenarnya sayang beneran nggak sih sama aku?" Pertanyaan itu akhirnya lolos juga dari bibirnya. Ia membalikkan tubuhnya menjadi posisi telentang sembari menatap Galas yang sedang menahan senyumnya.
"Ya jelas, aku sayang sama kamu. Kenapa bertanya begitu?" Galas mendekatkan wajahnya kembali, jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa jengkal saja.
"Cinta?" tanyanya lagi dengan polosnya.
"Sangat," jawab Galas yakin. Ia benar-benar gemas melihat tingkah Gayung yang polos seperti ini.
"Teruuss ...." Gayung tak meneruskan kata-katanya.
"Terus kenapa?"
"Terus kenapa kemarin cuek sama aku?" Dipencetnya hidung mancung Galas pelan.
"Bukannya kamu yang mengabaikanku dengan si cungkring itu?"
"Siapa yang mengabaikan, aku cuma nggak enak sama Mas Jio, lagian aku udah putusin dia, kan ...."
"Tapi aku tidak suka, kamu terlalu dekat dengan dia." Galas menggesek-gesekkan hidungnya pada hidung mungil Gayung.
"Kak Galas sendiri ...."
__ADS_1
"Aku?"tanya Galas tak mengerti.
"Semalam kemana?" Galas mengerutkan keningnya, mencoba mengingat apa yang dilakukannya tadi malam.
"Tidur ...."
"Sebelum tidur?"
"Ehm ... makan ...."
"Sama?"
"Oh ... kemarin aku makan malam sama Tiara," jawabnya tanpa rasa bersalah. Karena menurutnya itu hanyalah makan malam biasa. Berbeda dengan Tiara yang menganggap itu makan malam yang romantis, bahkan ia menyuruh pegawai restoran untuk mengabadikan moment berharga itu untuk ia posting pada media sosialnya.
Gayung meraba benda pipih yang tergeletak di sampingnya. Membuka sosmed dan menunjukkan gambar makan malam romantis beserta caption yang Tiara tulis disana, tepat di depan wajah Galas yang nampak mengeryit.
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan ... aku dan Tiara cuma berteman," jelas Galas tenang. "Kalau aku memang menyukainya, aku tidak akan disini bersamamu sekarang."
Gayung terdiam, dalam hati ia membenarkan apa yang Galas ucapkan.
"Kenapa Kak Galas bisa nggak suka sama Mbak Tiara ... bukankah dia sangat cantik?"
"Kamu juga cantik." Sebuah kecupan mendarat mulus dipipi Gayung, membuat gadis itu mengerjap beberapa kali.
"Mbak Tiara lebih cantik."
"Dimataku, kamu yang paling cantik. Titik. Jangan dibahas lagi." Galas menghadiahkan lagi sebuah kecupan, kali ini dikening.
"Ada yang ingin kamu makan?" Galas mengalihkan pembicaraan yang menurutnya tidak penting itu.
"Bubur."
"Ada yang lain?" Galas mulai mengetikkan sesuatu pada benda pipih ditangannya.
"Lemon tea hangat."
"Ada lagi?" Gayung menggeleng lemah.
Setelah selesai memberikan perintah melalui pesan singkat pada seseorang. Galas ikut menjatuhkan dirinya disamping Gayung, kemudian memeluk gadis itu erat dalam dekapannya.
"Kak Galas nggak kerja?"
"Aku masih kangen sama kamu," jawab Galas sendu dengan senyum menggoda sebelum memberikan kecupan beruntun pada seluruh wajah Gayung.
"Kak Galas, jangan begitu. Kita belum menikah."
"Ya sudah, ayo kita menikah saja kalau begitu," jawab Galas dengan entengnya.
"Ishh ... sana bilang sama Bapakku," tantang Gayung.
"Iya, besok, tenang saja," jawab Galas lagi sembari mengeratkan pelukannya pada Gayung lalu memejamkan matanya tanpa peduli Gayung yang masih memikirkan ucapannya barusan yang entah serius atau hanya sebatas basa-basi saja.
***
__ADS_1
Mohon kritik sarannya buat tulisan or ceritaku ...
Jangan lupa like & komen ...