Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 24


__ADS_3

"Kak Galas, ini rumah Kakak?" tanya Gayung yang baru saja turun dari mobil Galas. Mata sipitnya memandang takjub rumah mewah bergaya klasik dengan dominasi warna putih pada dinding, jendela maupun pilar rumah itu. Dibagian depan, ada taman yang dipenuhi rerumputan yang menghijau juga sejumlah pohon-pohon kecil yang semakin menambah kesan asri pada bangunan dua lantai itu.


"Calon rumah kamu," jawab Galas seraya memberikan senyuman menggoda. Gayung mencubit pelan pinggang Galas, karena Galas selalu saja berkata-kata yang membuatnya melambung tinggi. Ia sedikit takut dengan harapannya sendiri.


"Memang benar, memangnya kamu tidak mau?" Galas menautkan jemari meraka dan mengajak Gayung masuk ke dalam. Wanita itu benar-benar dibuat terpana. Rumah ini benar-benar rumah idamannya. Rumah bergaya eropa dan tidak terlalu yang luas sekali namun begitu apik, rapi dengan warna-warna netral yang begitu kental mendominasi.


"Nak Galas sudah pulang." Bi Hanah menyambut majikannya itu ramah. Mata tuanya yang berwarna abu memperhatikan kedekatan diantara mereka. Wanita tua itu melemparkan senyumnya pada Gayung yang langsung Gayung sambut dengan anggukan penuh kesopanan juga senyum yang tulus.


"Oh ya, kenalkan Bi. Calon istri saya," ucap Galas membuat Gayung tersipu malu. Ia sendiri masih sangsi, sebenarnya apa yang diucapkan Galas itu hanya sekedar ucapan atau benar serius. Mengingat hubungan mereka masih sangat baru sekali.


Gayung mengulurkan tangannya, mencium tangan renta itu. Wanita tua itu nampak berbinar bahagia, karena gadis yang menjadi pasangan tuannya terlihat begitu manis dan sopan.


"Kenalkan saya Gayung, Bi."


"Nak Gayung, panggil saja saya Bi Hanah." Gayung menganggukkan kepalanya lagi.


"Mau minum apa?" tanya Galas.


"Ehm ... lemon tea hangat ada?" tanya Gayung dengan polosnya. Sejak sakit kemarin, lemon tea hangat menjadi minuman favoritnya.


"Ada, kan, Bi?"


"Ada, Nak Galas. Sebentar Bibi buatkan dulu."


"Antarkan ke atas ya, Bi. Kami mau ke rooftop," pesan Galas sembari membawa Gayung menaiki tangga.


Tak lama mereka sampai di rooftop. Kemudian mereka mendudukkan diri diatas rumput sintetis yang menjadi lantai atap itu, berdekatan tanpa jarak dengan tangan saling bertautan, menikmati pemandangan juga angin yang sepoi-sepoi.


Gayung melirik Galas sekilas, inginnya bersandar dibahu lebar itu seperti difilm-film. Tapi ia tak memiliki keagresifan untuk itu, bahkan mengirim pesan lebih dulu saja ia belum berani. Ia belum mau mengekspresikan betapa dirinya begitu sangat menyukai Galas.


"Kak Galas, rumahnya Bagus," pujinya.


"Sebentar lagi ini akan menjadi rumahmu juga." Galas kembali menggodanya. Gayung mencebikkan bibirnya, sejujurnya ia ingin bertanya " ini serius?" Tapi ia terlalu takut untuk kecewa jika ternyata Galas hanya bercanda saja.


"Aku serius," bisik Galas hangat tepat ditelinga Gayung. Menghantarkan desiran aneh dalam dada. Seperti biasa Galas mulai menciumi bagian samping wajahnya. Namun kali ini Gayung menolaknya. Bukan karena tidak menyukainya tapi ia tiba-tiba teringat pesan Bapaknya.


"Kak Galas jangan begitu." Gayung menjauhkan wajah Galas darinya.


"Kenapa?" tanya Galas sedikit kecewa. Ia menyukai aroma Gayung dan selalu candu untuk melakukan hal itu jika tengah berduaan saja dengan wanita itu.


"Tadi pagi Bapakku telpon, terus tiba-tiba dia bilang ... boleh pacaran tapi jangan sampai melewati batas, begitu ... kamu tahu kan kalau Bapakku itu sakti," ucap Gayung dengan polosnya.


"Memangnya kita melewati batas?" Galas akhirnya menyalurkan hobi barunya, berganti menciumi tangan Gayung.


"Ya menjuruuus, kan ...." Gayung menghentikan ucapannya melihat kedatangan Bi Hanah.


"Minumannya disini, ya." Bi Hanah meletakkan minuman yang diminta Gayung di bangku dibelakang mereka.


"Terima kasih, Bi," ucap Gayung. Perempuan tua itu mengiyakan dan berbalik meninggalkan mereka. Gayung kembali meneruskan kalimatnya yang tertunda tadi.


"Tiap ketemu Kak Galas kan sukanya peluk-peluk, cium-cium begitu ...," cicit Gayung dengan polosnya, membuat Galas semakin gemas jadinya.

__ADS_1


"Habisnya kamu bikin gemas." Galas malah mendusel-dusel diceruk leher Gayung.


"Kak Galas," protes Gayung. Dia benar-benar takut khilaf kalau terus-terusan seperti ini. Sesungguhnya didasar hatinya ia begitu kesulitan menolak setiap perlakuan makhluk tampan disampingnya itu.


"Jadi, beneran tidak boleh?" Galas benar-benar tidak tahu, bahwa wajah kecewa yang ia tunjukkan menyakiti Gayung. Sebenarnya wanita itu sungguh wanita yang tidak tegaan. Apalagi dengan orang yang dicintainya.


"Nanti ya Kak, kalau sudah menikah," katanya menguatkan hati dan imannya sendiri.


"Yahh ... padahal ..."


"Aku belum solat maghrib," potong Gayung cepat seraya berdiri. "Kakak juga belum, kan? Ayo barengan, biar setan dibadan Kakak pada kabur ...."


"Ishh ...." Galas terkekeh mendengar celotehan Gayung. "Astaga, aku tidak semesum itu Gayung dan aku juga tidak akan berbuat lebih sebelum kita menikah ...."


"Masak?" Gayung menyangsikan, ia kembali duduk berjongkok di samping Galas. Bayangan Zian juga obrolan Tiara dan Jio Tiara membuatnya ingin menanyakan kebenarannya pada orangnya langsung.


"Kak Galas ....?" Gayung bertanya hati-hati.


"Apa?"


"Kak Galas, sudah pernah gituan ya?" Galas membelalak kaget mendengar pertanyaan aneh Gayung.


"Maksud kamu? Gi-tuan bagaimana?" Tawa Galas hampir meledak melihat betapa polosnya Gayung saat menanyakannya.


"Yaaa ... gituan sama wanita ...." Rona merah langsung melingkupi wajah ayunya.


"Astaga! Pertanyaan macam apa itu Gayung." Galas terkekeh geli.


"Hahaha ... kamu tahu tidak? Siapa ciuman pertamaku?" Galas melingkarkan tangan kekarnya ke pinggang Gayung yang duduk berjongkok disampingnya.


"Dara," jawab Gayung yakin.


"Dara?" Darimana Gayung tahu Dara, pikirnya.


"Dia pacar pertama Kakak, kan?" tebak Gayung yakin.


"Astaga, kamu tahu darimana soal Dara?"


"Mbak Tiara," jujurnya.


"Tiara?" Galas mengeryit memikirkan sesuatu. "Dia bilang apa?"


"Mbak Tiara bilang, Kak Galas dulu baik dan perhatian sama Dara, gitu ...."


"Cuma itu?"


"Dara ... aku panggilnya Dara apa Mbak Dara," gumamnya konyol.


"Terserah kamu, orangnya nggak ada ini." Galas tersenyum geli.


"Ya pokoknya, sekarang Mbak Dara sudah cerai terus ada kemungkinan balikan sama Kakak." Ada nada tidak rela dalam ucapannya, dan Galas bisa melihat itu.

__ADS_1


"Terus kamu percaya?"


"Nggak. Soalnya Kak Galas sekarang ... sukanya sama aku, kan," jawabnya malu-malu.


"Bagus, itu baru anak pintar." Galas menepuk-nepuk sayang pipi Gayung yang memerah bagai tomat.


"Tapi ...."


"Tapi apa lagi?"


"Zian ... bukan anaknya Kak Galas, kan?"


"APA?" tanya Galas kaget. "Darimana kamu mendapatkan pikiran aneh begitu? Dari Tiara lagi ...," Galas mulai merasa emosi, ia semakin tidak mengerti dengan sikap sahabatnya itu.


"Tapi kalian mirip ...."


"Mirip darimananya ... aku masih perjaka Gayung, astaga, apa aku harus tes keperjakaan biar kamu percaya," racaunya.


"Memang ada Kak tes seperti itu?" tanya Gayung masih dengan kepolosannya yang hakiki.


"Tidak ada. Makanya percaya padaku. Dengar baik-baik ya ... aku tidak pernah pacaran apalagi berciuman sebelum bertemu denganmu. Jadi kamu tahu kesimpulannya bukan, siapa pacar pertama dan ciuman pertamaku ...."


"Aku?"


"Pintar. Zian itu anak Dara dan mantan suaminya, jadi jangan biarkan telinga dan otakmu diisi polusi udara ... mengerti?"


"He eh."


"Ya sudah sana solat, tanya sama Bi Hanah saja tempatnya."


"Kak Galas nggak solat?" Gayung berdiri.


"Nanti aku menyusul, aku masih ingin disini sebentar."


"Ya sudah." Gayung pergi ke bawah dan mencari Bi Hanah. Wanita dengan tatanan rambut sanggul itu baru saja selesai berwudhu bersama dengan seorang pria yang sama tuanya.


"Bi, punya mukena? Aku juga mau solat ...." Bi Hanah tak langsung menjawab dan malah bertanya.


"Nak Gayung muslim to?"


"Iya, Bi," jawab Gayung heran.


"Oh, Bibi kira bukan. Sebentar yah, Bibi ambil dulu. Nak Gayung wudhu saja dulu."


Gayung segera bergegas berwudhu, ia melemparkan senyumnya pada Pak tua di samping Bi Hanah. Karena waktu maghrib sudah hampir habis, Gayung menunda memperkenalkan dirinya. Menunggu nanti setelah selesai solat.


***


No sara sara ya ....


Cuma cerita aja ... tidak menjelekkan agama satu dan yang lain kok ...

__ADS_1


Semoga yang baca mau like & komen ...hihi


__ADS_2