
"Sayaaang." Dian menyambut kedatangan putri semata wayangnya dengan begitu bersemangat.
"Ibuu." Gayung langsung memeluk ibunya melihat wanita paruh baya cantik itu telah menunggu di depan rumah Bapaknya.
"Berangkat jam berapa tadi?" tanya Ibu, kali ini dengan logat Indonesia.
"Habis subuh tadi." Gayung melepas pelukannya pada Ibunya. Lalu beralih menyalami dan mencium tangan ayahnya, tak lupa memberi pelukan singkat pada pria berkulit sawo matang itu.
"Apa khabar? Sudeh dewasa sekarang." Fauzan menepuk bahu Gayung lembut.
"Baik, Yah," jawab Gayung sopan sembari tersenyum manis.
"Sudah, dong. Sudah punya pacar sekarang dia, kan Bang," tutur Dian dengan nada penuh ledekan.
"Ih, Ibu tahu dari Bapak, ya?" Gayung mendelik malu-malu. Ia memang belum menceritakan tentang Galas pada ibunya.
"Rahasia, dong," jawab Dian sembari tertawa lepas, lalu mengajak masuk putrinya.
"Bapak mana, Bu?" Gayung mengedarkan pandangan mencari sosok Bapaknya, namun tak menemukannya.
"Lagi beli nasi Padang buat Ayah kamu. Tahu sendirilah Ayah kamu kalau lagi disini, makannya nasi padang terus," jawab Dian sembari melirik suaminya.
"Ih, bisa akur begitu, ya ...." Gayung berdecak kagum melihat Ayah dan Bapaknya bisa begitu akur dan damai.
"Bisa, dong, ya, Bang." Dian kembali melirik jahil kepada suaminya yang langsung mengangkat dua jempolnya dengan wajah kocak.
"Sudah tue, jangan rusuhlah. Malu," jawabnya dengan logat upin-ipinnya.
"Kerennn." Gayung balas memberikan dua jempolnya untuk Ayahnya.
"Ya, sudah kamu makan dulu. Ibu sudah masakin makanan kesukaan kamu." Dian mengambil tas ransel dari tangan Gayung.
"Tapi Gayung pengen mandi dulu, gerah panas." Gadis berkulit putih bersih itu mengikuti ibunya menuju kamar, untuk mengambil baju ganti.
Gayung memandang kamar kecilnya itu. Semua nampak sama seperti terakhir kali ia tinggal merantau ke ibu kota. Padahal kini ia dirumahnya sendiri, bersama dengan orang-orang yang menyayanginya. Tapi kenapa rasanya ada yang kurang hanya karena tidak ada Galas disisinya. Gayung mendesah pelan, ia berjalan keluar kamar menuju kamar mandi yang berada didekat dapur. Ia ingin segera menyegarkan tubuhnya, lalu makan dan menghubungi orang yang begitu dirindukannya.
***
Sementara itu, sore itu Galas baru saja terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih terasa berat, meski sudah berkurang dari sebelumnya. Tadi siang, ia pulang lebih cepat dari kantor setelah menyerahkan beberapa tugas kepada orang-orang kepercayaannya. Ia benar-benar dibuat pusing tujuh keliling oleh dua sahabatnya yang membuat masalah diwaktu yang sangat tidak tepat.
__ADS_1
Ia beranjak keluar menuju lantai bawah. Mengedarkan pandangannya mencari sosok cantik yang membuatnya hampir pingsan semalam, karena memaksakan tubuhnya yang sedang tidak dalam keadaan sehat mencari wanita yang tengah frustasi itu dirumahnya yang ditinggalinya seorang diri.
"Tiara, mana Bi?"
"Di kamar Nak Galas, seharian Non Tiara nggak keluar sama sekali," jawab wanita tua itu.
"Tapi Bi Hanah selalu cek ke kamarnya, kan?"
"Iya, sesuai perintah Nak Galas. Tapi Non Tiara cuma makan sedikit tadi. Sudah Bibi bujuk, tapi katanya tidak lapar," tuturnya penuh kelembutan.
"Ya, sudah. Terima kasih, Bi." Galas berjalan meninggalkan Bi Hanah menuju kamar tamu yang ditempati sahabatnya itu.
"Tiara," panggil Galas sembari mengetuk pintu.
"Masuk," jawab Tiara dari dalam kamar. Galas membuka pintu pelan, matanya tertuju pada sosok yang tengah meringkuk diatas ranjang.
"Bagaimana keadaanmu?" Galas duduk disisi ranjang.
"Aku baik-baik saja, Galas. Kan, kamu yang sakit bukan aku?" Tiara bangkit dari posisi tidurnya dan duduk tepat disamping Galas yang tengah memperhatikannya.
"Ayo makan, kata Bi Hanah kamu hanya makan sedikit tadi." Tiara tersenyum kecut mendapat perhatian dari orang yang sangat dicintainya itu. Rasanya ia ingin terlihat lemah seperti ini terus, agar Galas memperhatikannya selalu.
"Hemmm, ayo," ajaknya seraya berdiri dan berjalan keluar lebih dulu dengan kedua tangannya ia masukkan pada kantong celananya. Sedetik kemudian, ia dikejutkan dengan ulah Tiara yang berusaha menggandeng tangannya.
"Jangan melewati batas," ucap Galas menatap tajam Tiara yang langsung menjauhkan tangannya.
"Kamu jadi pulang?" tanya Tiara hati-hati.
"Hemmm," jawab Galas singkat.
"Tapi kamu sakit, Galas." Tiara berusaha menghentikan niat Galas untuk pulang.
"Aku baik-baik saja."
Mereka kini tengah berada diruang makan. Galas menarik kursi untuk Tiara, sebelum kemudian menarik kursi untuk dirinya sendiri. Mereka duduk bersebelahan. Galas mengambilkan makanan untuk Tiara dulu baru kemudian untuk dirinya. Tiara benar-benar menikmati perhatian Galas kepadanya. Senyum terukir indah dari bibirnya. Andai selamanya bisa seperti ini, batinnya.
Tiara makan begitu lahap berbeda dengan Galas yang hanya menyantap tak sampai separuh makanannya. Mulutnya masih terasa pahit untuk bisa menikmati bubur yang khusus disiapkan Bi Hanah untuknya.
"Mulut kamu masih pahit?"
__ADS_1
"Hemm." Galas menyudahi makan malamnya dengan meminum teh manis hangat.
"Kalau kamu memang belum sehat, buat apa dipaksakan pulang."
"Aku tidak apa-apa." Galas beranjak berdiri meninggalkan ruang makan.
"Kamu mau kemana?"
"Mengambil obat," jawab Galas singkat lalu menaiki tangga menuju lantai dua. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengecek pesan pada layar ponselnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Gayung disana, membuat senyum terukir dibibir pucatnya. Disaat jemarinya baru saja ingin menghubungi balik kekasihnya, sebuah panggilan masuk datang dari sahabatnya yang sejak kemarin tidak bisa ia hubungi dan membuatnya kesal setengah mati.
"Dimana kamu Br*ngs*k?" tanya Galas tanpa basa-basi.
"Sorry, Bos," jawab Jay diseberang sana. " Aku butuh sendiri dulu."
"Jangan lari dari masalah dan menyusahkanku," ucap Galas tajam.
"Aku tidak akan lari. Aku hanya butuh berfikir sejenak."
"Setidaknya hubungi istrimu, dia berulang kali menghubungiku. Aku rasa dia bodoh, masih mengkhawatirkan suami bej*t sepertimu."
"Aku khilaf, Galas." Suara Jay terdengar begitu frustasi disana.
"Aku tidak peduli itu. Segera cari solusi terbaik untuk masalahmu. Dan juga ... meskipun kita sudah lama bersahabat tapi aku tetap pada prinsipku semula. Aku tidak bisa memperkerjakanmu dikantorku lagi," tegas Galas.
"Aku tahu, makanya aku pergi." Jay terdengar menghela nafas.
"Kalau kamu tahu itu, seharusnya bereskan dulu pekerjaanmu baru kabur. Sikapmu itu sangat tidak bertanggung jawab." Galas mendesah kesal.
"Sorry, bagaimana Tiara?"
"Hubungi dia dan cari jalan keluar bersama. Ini masalah kalian berdua," dengus Galas.
"Dia tidak mengangkat teleponku."
"Sudahlah, nanti aku yang akan bicara padanya. Aku harus bersiap-siap sekarang" Galas mematikan sambungan telepon begitu saja dan melemparkan benda pipih itu di atas ranjangnya. Ia benar-benar dibuat kacau oleh ulah kedua sahabatnya itu. Mereka memegang peran penting dikantornya dan sekarang, ia, mau tidak mau harus mengeluarkan keduanya dalam waktu bersamaan. Hal itu jelas membuatnya kelimpungan mengurus pengganti yang bisa ia andalkan untuk meneruskan tugas mereka.
Galas menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya. Kepalanya terasa berat, ditambah lagi masalah datang, disaat sudah mendekati hari bahagia yang telah ia rencanakan sebelumnya dan ia tidak mungkin menundanya.
***
__ADS_1
Jangan lupa like & komen ...