
"Jay, ke ruanganku sekarang."
Galas langsung mematikan sambungan telepon bahkan sebelum asisten pribadinya itu mengiyakannya. Tangannya sigap meraih sebuah remote dari dalam laci, mengarahkannya pada layar monitor di sudut atas ruangannya. Kemudian memperbesar gambar yang menunjukkan aktivitas seorang gadis yang tengah serius menghitung dengan menggunakan kalkulator tepat di depannya. Sesekali gadis itu memijat pelipisnya seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Lalu tak berapa lama jemari mungilnya mulai menari-nari mengetikkan sesuatu pada keyboard laptopnya.
Tak berapa lama suara ketukan dipintu mengalihkan perhatian Galas.
"Ada apa Bos?" Jay muncul dari balik pintu kaca.
"Bagaimana dengan rencanamu semalam?"
"Rencana apa Bos?" tanya Jay tidak mengerti, Galas mendelik kesal.
"Bukannya kamu yang menyuruhku untuk mencoba mencari jodohku di kantor?" Seperti biasa dengan gaya bicaranya yang datar.
"Bukannya Bos menolaknya?" Jay berbalik bertanya.
"Aku bilang terserah, bukan menolaknya," sanggah laki-laki yang kini nampak tampan dengan kemeja berwarna pink yang dikenakannya. Jika pria lain yang memakainya mungkin akan terlihat aneh, tapi justru kemeja itu sangat cocok melekat pada tubuhnya yang atletis. Bahkan tak mengurangi sedikitpun kewibawaan ataupun kharisma dalam dirinya.
"Jadi Bos setuju dengan usulku?" Jay mengembangkan senyumnya mendengar persetujuan Galas.
"Hemm, segera kau atur dan bawa mereka ke ruanganku, aku sendiri yang akan menginterviewnya," tambahnya.
"Hei, bukannya itu terlalu canggung?"
"Tidak, bilang pada mereka, ini diluar pekerjaan jadi mereka tidak perlu merasa canggung."
Jay mengendikkan bahunya, pasrah. Ia hanya bisa mengiyakan dan berlalu untuk melaksanakan perintah sang atasan.
Galas kembali menatap layar monitor pada sudut ruangannya. Tak ada ekspresi apapun, entah apa yang dipikirkannya.
***
__ADS_1
Suasana kantor begitu riuh siang itu. Masing-masing kepala divisi membagikan sebuah selebaran berisikan pengumuman bahwa Bos tampan mereka sedang mencari calon istri. Siapa saja boleh mengikuti, asalkan memenuhi kriteria persyaratan yang tertulis begitu runtut pada kertas putih yang mereka terima.
Semua karyawati begitu antusias mendengar kabar tersebut. Siapa yang tidak tertarik untuk menjadi istri Bos mereka? Ketampanannya sungguh membuat semua karyawati jatuh pada pesonanya yang luar biasa.
Namun begitu melihat kriteria calon istri yang diinginkan oleh Bos mereka. Beberapa langsung membuang jauh mimpi mereka bersama kertas selebaran yang mereka lemparkan dalam tong sampah dikolong meja.
Gayung masih mencermati kalimat demi kalimat pada selembar kertas putih itu.
"Cantik, rambut lurus ...," gumamnya.
Tanpa ia sadari tangan mungilnya menyentuh ujung rambutnya yang bergelombang itu.
"Pintar memasak, tidak boros, tidak gemar berbelanja atau menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak penting," bacanya lagi.
"Alhamdulilah, Andaraku gak masuk kriteria!" Jio berseru dengan tingkah konyolnya disambut sorakan semua penghuni ruangan itu.
"Ayo! Ayo! Yang merasa cantik, yang merasa cantik, rambut lurus, yang jomblo ... merapaaatt!" Jio kembali berseru memberi dukungan.
"Hayo, Jenny masih perawan gak?" tanya Bimo usil.
"Masihlah, sembarangan kalau ngomong." Safa membela anak buahnya.
"Mas Bimo jahat, deh." Jenny pura-pura ngambek.
"Andara! Andara!" Anak buah Jio yang cuma dua biji pun tak mau kalah. Gayung yang mendengar namanya diteriakkan oleh Sasya dan Bimo langsung mengibas-ibaskan tangannya memberikan penolakan.
"Hei, rambut Andara ikal Coy! Bos maunya yang rambutnya lurus," ucap Jio menghentikan teriakan dua anak buahnya.
"Terus divisi kita gak ada yang maju, nih Pak Ketua." Bimo bersuara.
"Ya gak papa, memangnya lomba harus ada yang maju," jawab Jio santai.
__ADS_1
"Apa aku aja, nih?" Sasya menawarkan diri dengan begitu percaya diri.
"Sya, sana ngaca dulu." Bimo mengeluarkan kaca miror dari saku celananya.
"Idih, najis deh Bimo, cowok masak bawa-bawa kaca."
"Yey, masalah gitu?"
"Sudah, sudah, ayo kerja lagi!" Jio melerai, begitupun Safa yang mulai menenangkan anak buahnya. Suasana pun kembali tenang seperti semula.
Gayung masih menatap selebaran itu. Memangnya apa yang salah dengan rambut ikal? Batinnya.
Gayung menarik laci mejanya memasukkan selebaran itu bersama dengan tumpukan kertas yang tertata rapi di dalamnya.
Sadar diri Gayung, jangan bermimpi yang tidak-tidak, batinnya lagi.
Meskipun ia sudah berusaha untuk merawat diri, mempercantik dirinya, bahkan meskipun ia memiliki rambut yang lurus sekalipun. Itu tidak akan merubah apapun. Gayung terlalu rendah diri untuk berani memimpikan seorang pria yang sempurna seperti Galas.
Harapannya tentang kisah cintanya hanyalah bertemu dengan laki-laki biasa saja, yang mencintai dan menerimanya apa adanya. Itu saja.
Ada yang pernah mengatakan padanya, bahwa pria tampan hanya untuk wanita yang cantik, begitupun sebaliknya. Kata-kata itu tak pernah ia lupakan, sampai kini.
BERSAMBUNG ...
JANGAN LUPA
LIKE
KOMEN
VOTE 😍😍😍
__ADS_1