
Waktu cuti telah habis, Jio telah kembali masuk bekerja seperti biasa. Masih tampak wajah lelahnya karena ia baru sampai dini hari tadi dari perjalanannya. Namun binar bahagia pun menghias disana karena baru saja melepas rindu dengan keluarga tercinta. Sangat jarang Bosnya memberi ijin pulang kampung sampai seminggu lamanya, selain saat Lebaran tentunya. Entah kerasukan jin baik mana Bosnya kemarin sampai tiba-tiba menawarinya cuti selama itu, begitu pikir Jio.
"Ji, mana oleh-olehnya?" tagih Safa.
"Tenaaanggg ... sabar dulu." Jio membuka slerekan tas ransel warna hitamnya dan mengeluarkan beberapa jajanan khas daerah dari sana.
"Nih, pilih yang mana?" Jio membebaskan pilihan.
"Ini buat siapa diplastikkin sendiri?" tanya Safa, saat melihat beberapa jajanan yang sudah dibungkus sendiri.
"Oh, ini oleh-oleh khusus dari calon mertua buat calon menantu," jawabnya sambil bercengar-cengir ria.
"Idih, memangnya sudah punya calon situ?" ejek Safa.
"Yah kandidat sih ada, tapi gak tahu dia mau apa gak sama aku." Jio masih saja dengan tingkah konyolnya.
"Pasti Andara ya?" tebak Safa. Jio mengangguk malu-malu.
"Andara mah kecantikan buat kamu ..."
"Idih Mbak Safa mah ... ya gapapa siapa tahu mau, bisa memperbaiki keturunan kan hahaha...."
Safa dan Jio tertawa berbarengan.
"Tuh, yang diomongin datang."
Terlihat Gayung dan Sasya beriringan masuk ke dalam ruangan. Melihat kepala divisinya sudah kembali, mereka menyapa dengan riang.
"Mas Jio mana oleh-olehnya?" tagih Gayung, karena semalam Jio sempat mengirim pesan Wa bahwa ia membawa oleh-oleh khusus untuknya.
"Cie, cie ... yang habis pulang kampung," goda Sasya.
"Nih, ini buat Andara." Jio menyerahkan seplastik jajanan yang sudah dipisah tadi. "Sasya pilih sendiri ... "
"Wah, banyak banget, makasih yah Mas," ucap Gayung tulus.
"Idih, kok Andara dapat banyak aku nggak?" protes Sasya.
"Kan beda, Andara calooon ...." Safa menggoda Jio.
"Calon apa Mas Jio?" tanya Sasya jahil, ia pun tahu kepala divisinya itu menyukai Andara.
"Calon ibuuuu ... ," ujar Jio.
"Calon ibu?" kompak ketiganya bertanya.
"Ya kan semua cewek kan calon ibu masak calon bapak." Jio ngeles (pokoknya Jio itu mukanya konyol, bayangin aja yah hihi ... ).
"Hei Mas Jio buat aku mana nih?" Ria datang ikut bergabung.
" Cie calon pengantin," goda Safa.
"Dapat ijin berapa hari, Ria?" tanya Sasya.
"Cuma empat hari udah termasuk perjalanan," jawab Ria lesu. "Curang nih, masa Mas Jio yang cuma kangen rumah bisa dapet ijin seminggu, aku yang mau acara penting cuma 4 hari," keluhnya.
"Aku aja bingung, kok bisa dapet cuti seminggu." Jio menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir kuda.
"Demi apapun deh, semoga nanti yang jadi istrinya Pak Galas, aku harap bisa menyadarkan Bos kita itu, kalau nikah itu nggak sesimpel itu gituloh, ada acara keluarga inilah itulah dan kita kan juga pengen bulan madu gitu loh meskipun cuma ke sawah." Ria bersungut-sungut.
Sasya langsung menyikut pelan lengan Gayung seraya berbisik. "Inget itu yah, calon istri Bos."
"Apa sih, Kak Sasya," bisik Gayung.
__ADS_1
"Sama cuti melahirkan juga, menurutku terlalu singkat," curhat Safa yang memang sudah pernah mengambil cuti melahirkan.
"Kalau itu gak bisa diharapkan sih," ujar Jio. " Inget istrinya Pak Jay kan, habis melahirkan cesar udah langsung kerja aja dulu kan."
"Yah, secara sekali cesar 80 juta broo." Safa memonyongkan bibirnya.
Obrolan pagi itu membahas masalah cuti terus berlanjut. Sebelum akhirnya suara bel tanda masuk berbunyi nyaring, membubarkan kerumunan mereka.
***
Siang itu, Gayung meliburkan diri dari rutinitas makan siang. Perut dan pinggangnya terasa tidak nyaman, karena hari ini adalah hari pertama menstruasi. Ia sering kehilangan nafsu makan jika tamu bulanannya datang. Gayung memilih tiduran di meja kerjanya sembari memainkan ponselnya.
Mumpung tidak ada orang, Gayung berniat berfoto selvi. Tapi saat melihat wajahnya yang terlihat pucat, ia mengurungkan niatnya dan mengambil lipglos dari dompet kecil yang selalu dibawanya kemana-mana. Memoleskan cepat sambil melihat kaca kecil ditangannya.
Suara langkah kaki membuatnya menoleh pada bagian bawah pintu kaca, ia mengenali kaki dan celana itu. Galas!
Gayung segera menutup kembali lipglossnya dan memasukkan kembali ke dalam dompet. Ia tidak terbiasa berdandan di depan orang lain.
"Tidak makan siang?" tanya Galas setelah membuka pintu. Gayung menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan senyum manisnya.
"Lagi malas makan," jawabnya jujur. Galas berdecak tidak suka.
"Jangan biasakan seperti itu. Nanti bisa sakit, makan itu penting. Telat makan saja bisa sakit apalagi tidak makan." Galas memberikan ceramah singkatnya. Tapi Gayung tetap keukeh bahwa ia tidak lapar dan ingin tidur saja. Efek PMS membuatnya tidak bersemangat hari ini.
"Aku ada bakpia, nanti kalau aku lapar, aku akan memakannya," ucapnya lagi sembari menunjuk satu kotak jajanan oleh-oleh dari Jio.
"Dari siapa ini?" tanya Galas.
"Dari Mas Jio, mau? Dia kasih aku banyak tadi," ucap Gayung dengan polosnya. Tangannya mengambil satu plastik jajanan yang menggantung pada kunci lacinya.
"Berikan semuanya," perintah Galas datar. Gayung menurut saja tidak punya pikiran macam-macam. Tapi saat Galas meraih satu kotak bakpia dimejanya dan memasukkannya ke dalam plastik, ia mulai bertanya-tanya. Apalagi saat Galas hendak membawanya keluar.
"Mau dibawa kemana?" tanya Gayung
"Diam disini, jangan kemana-mana," titahnya tidak ingin dibantah. Gayung mundur dan kembali mendudukkan dirinya di kursi putar.
Tak lama ia kembali, meraih tangan Gayung untuk mengikutinya. Dan Gayung seperti tersihir sosok tampan itu, begitu penurut tanpa banyak tanya mengikuti langkah Galas menuju ruangannya.
"Kak, kok ke sini?" tanya Gayung lirih.
"Duduk." Dan lagi Gayung menurutinya, duduk manis di atas sofa. Galas tampak mengambil bekal makan siangnya dan menatanya di meja bermaterialkan kaca disana. Ada nasi lembek, ikan goreng dan sayur sop yang tersaji disana.
"Makan," perintahnya lagi singkat. Gayung nampak bingung.
"Aku?" tanyanya pada Galas yang ikut duduk disampingnya.
"Hemm ... apa mau aku suapi?" Galas melirik menggoda, membuat jantung Gayung berdesir tidak karuan. Ia menggeleng cepat dengan beribu pertanyaan memenuhi kepalanya atas perlakuan Galas yang menurutnya manis itu.
"Terus ... Kak Galas makan apa?" Ia masih ragu untuk memakannya, sikapnya salah tingkah karena Galas terus memperhatikannya.
"Aku bisa makan diluar nanti," jawabnya enteng.
Setelah itu, tidak ada percakapan lagi. Gayung mulai makan meski rasanya sangat canggung sekali, karena Galas tak berpaling dari memandang dirinya.
"Kak Galas," lirihnya.
"Kenapa?"
"Bisa hadap sana gak?" ucapnya hati-hati.
"Memangnya kenapa?" tanya Galas bingung.
"Aku malu mau makan, kamunya ngeliatin terus." Gayung memberanikan diri menyuarakan keberatannya.
__ADS_1
Galas terkekeh mendengarnya.
"Hei, bocah jelek, memangnya kamu tidak ingat dulu, kamu kalau makan rakus sekali ...." Galas mengingatkan masa kecil Gayung. Membuat pipi gadis itu bersemu merah karena malu.
"Ya itu kan dulu Kak, aku masih kecil." Gayung cemberut.
"Memangnya sekarang kamu sudah besar? Lihat badanmu itu kurus sekali," ejek Galas.
"Kalau gak hadap sana, aku gak makan nih," ancam Gayung. Galas malah tertawa senang melihat wajah Gayung perpaduan antara malu dan kesal. Tapi akhirnya ia mengikuti kemauan Gayung.
Setelah Galas berbalik, Gayung langsung melahap cepat makanan didepannya tak sampai lima menit sudah habis tak tersisa (kemana nafsu makannya yang hilang tadi ya wkwk).
"Sudah," katanya.
"Sudah?" tanya Galas keheranan. "Cepat sekali, ku kira kamu sudah tidak rakus lagi," ejeknya dengan senyum miring dibibirnya.
Gayung mengabaikan ejekan Galas dan menghabiskan minumannya. Ia ingin kembali ke meja kerjanya, berada di dekat Galas membuat jantungnya berdebar-debar terus tak karuan.
"Terima kasih makanannya," ucapnya tulus.
"Mau kemana?" Galas menahan tangan Gayung yang hendak pergi.
"Ke tempat ..." Gayung tak melanjutkan ucapannya, karena lampu tiba-tiba mati.
"KAK GALAS!!," teriaknya ketakutan dan mendekat ke samping Galas.
"Tenanglah ... sepertinya ada pemadaman bergilir." Galas nampak tenang dan meraih ponselnya untuk menyalakan senter. Cahaya temaram mulai menerangi ruangan itu. Gayung masih menempel pada Galas.
Dari luar terdengar suara Pak Danu dan Pak Ryan sedang berbincang hendak menyalakan Genset.
"Takut gelap?" tanya Galas, entah kenapa, ditelinga Gayung suara Galas terdengar sendu.
Gayung mengangguk sembari menata detak jantungnya yang tak beraturan.
"Kak Galas ... di ruang kosong di sebelah katanya ada nenek-neneknya," ucap Gayung. Ia mendengar cerita itu dari karyawan lama.
"Di sini juga ada." Galas menakut-nakuti. Gayung mencengkeram lengan Galas lebih kuat. Galas menahan senyumnya melihat Gayung yang ketakutan.
"Iya?" tanyanya menoleh ke arah Galas. Jarak diantara mereka semakin dekat.
"Iya ... nenek Gayung," ucap Galas terkekeh puas melihat wajah Gayung yang dari ngeri berubah kesal.
"Gak lucu." Gayung melepaskan tangannya yang sebelumnya mencengkeram Galas.
"Hei, aku cuma bercanda." Galas meraih kembali tangan Gayung, Gayung berusaha melepasnya. Tapi tangan Galas terlalu kuat menggenggamnya.
"Hei, cantik ... jangan marah." Untuk pertama kalinya rayuan itu keluar dari mulut Galas. Gayung menghentikan perlawanannya seketika mendengar kata "cantik" yang tiba-tiba menghangatkan hatinya.
"Aku nggak cantik." Rona merah dipipinya terlihat jelas oleh Galas, meski pencahayaan tidak terlalu terang kala itu.
"Aku yang melihat, aku yang menilai, jadi terserah aku," ucap Galas sendu. Gayung memalingkan wajahnya salah tingkah, wajahnya memanas seketika. Tapi tangan kekar itu meraih dagunya untuk membawa wajahnya berhadapan dengan wajah sempurna milik Galas.
Hening sejenak, tak ada yang berbicara. Mereka saling memandang dalam diam. Gayung tersihir pesona didepannya, wajahnya tak bisa berpaling. Saat Galas semakin mengikis jarak di antara mereka. Menghembuskan nafas hangat yang memabukkan. Gayung seketika memejamkan matanya saat bibir Galas menyentuh bibirnya. Ini adalah ciuman pertama bagi keduanya.
Ketika tidak mendapati penolakan, tangan lelaki itu mengunci pangkal lehernya dan memperdalam ciumannya. Meskipun sedikit kaku tapi pengalaman pertamanya ini tidak terlalu buruk.
Galas melepaskan ciumannya ketika dirasakannya Gayung seperti tidak nyaman. Wanita itu menahan nafasnya sedari tadi.
Senyum mengembang dari bibir Galas melihat Gayung menutup wajahnya karena merasa malu.
"Gayung ... lepaskan tanganmu," ucap Galas lembut, tapi Gayung tetap mempertahankan posisinya.
"Kak Galas, aku malu," ucap Gayung bersamaan ketika lampu menyala, gadis itu memilih cepat-cepat kabur ke ruangannya. Galas tak bisa menahan senyumnya melihat tingkah Gayung yang menurutnya menggemaskan.
__ADS_1
Tangannya bergerak mengusap bibirnya sendiri. Tidak tahu kenapa, hatinya seperti mau meledak hanya karena berciuman. Senyum kembali tersemat manis dari bibirnya.
***