Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 48


__ADS_3

Gayung menarik koper ditangannya, berjalan menuju rumah Galas. Itu berarti rumahnya juga, kan? Batinnya. Ia masih canggung untuk menyebut rumah itu sebagai rumahnya. Bahkan sekarang ia melangkah ragu untuk masuk ke dalam sana. Mata sipitnya menatap dari balik pintu gerbang putih, tempat ia berdiri kini. Senyum terkembang saat ia menemukan suami yang dirindukannya berjalan keluar lalu duduk di kursi putih diteras rumah dengan laptop dipangkuannya. Sepertinya ia sedang fokus dengan pekerjaannya sampai tak melihat kehadiran istrinya dari balik gerbang rumahnya.


"Kopi, Las." Sosok perempuan cantik membawakan secangkir kopi untuk suaminya seketika menyusutkan senyum dibibir tipisnya. Berganti dengan gelayut kegalauan diwajah ayu itu. Seharusnya dia yang melakukan itu bukan wanita lain.


Tangan mungilnya bergerak membuka pintu gerbang yang tak terkunci itu. Hatinya semakin memanas kala wanita cantik itu duduk disebelah suaminya dan memandangnya penuh cinta. Tidak salah bukan jika ia merasa cemburu melihat itu semua.


"Assalamuallaikum." Ucapan salam Gayung membuat dua orang yang tengah menikmati sore itu menoleh bersamaan.


"Gayung?" Galas nampak terkejut akan kehadirannya. Bukan karena ia tengah tertangkap basah bersama Tiara. Karena ia tidak menganggap itu hal yang istimewa tetapi karena istrinya tak memberitahu jika ia memajukan kepulangannya ke ibukota.


"Kak Galas bukan memanggil Sayang tapi Gayung? Apa karena ada Mbak Tiara? Batin Gayung muram, semuram langit sore yang tengah mendung sore ini.


"Kenapa tidak bilang kalau mau pulang sekarang, Sayang? Aku ,kan bisa menjemputmu." Galas mendekat ke Gayung yang berdiri dengan koper ditangannya dan mengambil alih benda hitam itu.


"Ehm ... aku boleh pulang kesini, kan?" tanya Gayung ragu, ia masih canggung pulang ke rumah suaminya.


Galas terkekeh mendengar pertanyaan aneh istrinya, tangannya meraih tangan mungil itu dalam genggamannya dan membawanya ke masuk, sementara tangan yang satunya menarik koper istrinya.


"Tiara, aku ke dalam dulu," ucap Galas pada Tiara. Wanita cantik itu tersenyum kaku, juga pada Gayung yang berusaha melemparkan senyumnya meski hatinya terpaksa melakukannya.


"Sayang, lain kali jangan bertanya seperti itu lagi, ya."


"Tanya apa?" tanya Gayung yang masih disibukkan memikirkan kehadiran wanita cantik itu dirumah suaminya.


"Rumahku rumahmu juga, semua yang aku punya itu milik kamu juga. Jadi jangan merasa sungkan, mengerti?" Galas mencium sisi kanan pipinya sembari merangkul pundak istrinya, sehingga kini mereka bersisian tanpa jarak.


"Jadi ...," Boleh tidak aku meminta Mbak Tiara keluar dari rumah ini? Kalau memang dia butuh pengawasan, kenapa tidak biarkan dia bersama kedua orang tuanya? Astaga, apa aku terdengar seperti orang yang jahat sekarang karena dibutakan rasa cemburu, batinnya.


"Jadi apa?" tanya Galas mendengar istrinya tak melanjutkan kata-katanya.


"Jadi ... aku boleh pakai uang Kak Galas, kan?" tanya Gayung mencoba bersikap seceria mungkin. Galas terkekeh lagi mendengar pertanyaan dari istrinya.


"Bolehlah, Sayang." Galas langsung memeluk istrinya saat mereka sudah sampai didalam kamar. Gayung pun membalas pelukan suaminya tak kalah erat. Berpisah dengan suaminya dua hari saja rasanya bagaikan terpisah jutaan tahun lamanya. Dibenamkannya wajahnya pada dada bidang suaminya, menikmati aroma tubuhnya yang begitu ia rindukan.


"Maaf," bisik Galas. Ia mengetahui jika istrinya kembali karena mengetahui keberadaan Tiara dirumahnya.


"Hemm." Hanya itu kata yang Gayung sanggup ucapkan. Ia tidak mau Galas menganggapnya istri yang posesif dan terlalu mengaturnya. Untuk saat ini ia akan mencoba mengerti bahwa suaminya hanya bermaksud membantu. Meskipun sebenarnya ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran wanita yang sering bersikap sinis kepadanya itu.


"Mbak Tiara ... masih punya orang tua, kan?" Rasa penasarannya membuat bibirnya mampu mengeluarkan pertanyaan itu.


"Masih, mereka tinggal di kota lain." Galas melepaskan pelukannya. "Kalau kamu keberatan ...."


"Nggak, kok." Entah kenapa jawaban yang keluar dari mulutnya berkebalikan dari hatinya dan bahkan sekarang ia tersenyum begitu manis seolah ia baik-baik saja dengan semua itu.


Galas kembali memeluknya.


"Terima kasih. Aku janji ini hanya sementara saja," ucapnya penuh kelembutan.


"Hemm." Lagi, ia menjawab dengan kata ambigu itu.


"Sudah selesai belum?" bisik Galas dengan tangannya yang sudah menelusup ke dalam kemeja istrinya. Membuat Gayung tertawa kecil menahan rasa geli yang menghinggapinya.


"Belumlah, Kak. Baru juga kemarin." Gayung tertawa kecil sambil berusaha melepaskan tangan nakal suaminya yang sudah berhasil melepas pengait bra miliknya. Galas menghela nafas kecewa membuat Gayung menjadi tidak tega melihatnya.

__ADS_1


"Kak Galas jangan minta sama Mbak Tiara, ya," ucap Gayung dengan raut wajah cemberut. Galas membelalakan matanya mendengar kalimat aneh dari bibir istrinya.


"Astaga, Sayang. Memangnya aku laki-laki macam apa," ucap Galas tidak terima.


"Kalau Mbak Tiara menawarkan diri, Kak Galas nolak nggak?"


"Sayang, tolong jangan memberi pertanyaan yang tidak masuk akal." Galas duduk disisi ranjang sembari memeluk Gayung yang berdiri dihadapannya.


"Itu masuk akal. Mbak Tiara, kan, sudah lama suka sama Kak Galas. Jadi Kak Galas menolak atau tidak?"


"Menolak," jawab Galas cepat.


"Yakin?" tanya Gayung lagi tak percaya.


"Yakin!" jawab Galas mantab.


"Aku nggak percaya." Gayung memainkan rambut tebal suaminya.


"Jadi kamu tidak percaya dengan suami kamu sendiri?" Kepala Galas mendusel-dusel tepat didada istrinya.


"Katanya Mbak Safa, laki-laki itu ibarat Kucing, kalau dikasih ikan asin pasti langsung dimakan ...."


"Jadi kamu menyamakan suamimu ini dengan Kucing?" Galas mendongakkan kepalanya menatap istrinya dengan tatapan sedih.


"Iya ... kan Kak Galas sukanya dipeluk-peluk, dicium-cium kaya kucing," ucapnya langsung mempraktekkannya dengan menciumi seluruh wajah suaminya gemas membuat Galas kesenangan.


"Lagi," pinta Galas.


"Ehm ... tapi aku boleh bawa Koci ke sini, ya ...."


"Kalau kucing didepan kantor boleh dibawa pulang juga?"


"Ini bukan tempat penampungan Kucing, Sayang," protes Galas. Ia mengetahui ada sekitar lima kucing yang rutin diberi makan oleh istrinya. "Nanti rumah kita bau kotoran Kucing."


"Kan, nanti aku bersihkan," rajuknya.


"Tidak. Cukup Koci saja." Galas memberi keputusan final.


"Ya, sudah." Gayung akhirnya mengalah. "Kalau begitu aku mau mandi dulu."


"Hemm, aku tunggu dibawah."


"Kenapa harus dibawah?" Gayung langsung kembali teringat makhluk cantik dibawah sana.


"Laptopku dibawah, Sayang. Aku cuma ambil sebentar nanti aku kesini lagi," jawab Galas yang memahami kecemburuan istrinya.


"Ya, udah." Gayung membongkar kopernya untuk mengambil bajunya. "Baju-baju aku masih dikosan ...."


"Biarkan saja disana buat Sasya, nanti aku belikan yang baru."


"Beneran?" Gayung tersenyum senang.


"Iya ...."

__ADS_1


"Itu termasuk menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak penting bukan?" sindir Gayung, teringat selebaran saat Galas mencari jodoh.


"Sayang, jangan bahas masalah itu, ya." Gayung melirik wajah tampan suaminya yang untuk pertama kalinya menunjukkan wajah malu.


"Kenapa?" Gayung semakin ingin meledeknya.


"Itu masalalu yang konyol." Galas ikut berjongkok dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher istrinya. "Itu idenya Jay, jadi kamu salahkan saja dia."


"Tapi, kan, Kak Galas menyetujuinya ...." Gayung menahan tawanya, ia tidak tega melihat wajah memerah suaminya yang ternyata punya rasa malu juga.


"Itu ... karena aku mau ngerjain kamu, malah kamunya nggak ikut." Galas mengangkat wajahnya yang masih bersemu merah menatap istrinya yang sedang menahan tawa.


"Kok, aku?" tanya Gayung tidak mengerti.


"Aku pikir kamu tertarik ikut ... ash, sudahlah jangan dibahas." Galas terlihat jengah membahas hal konyol itu. Apalagi saat melihat istrinya menertawakannya.


"Ternyata kamu bisa malu juga, ya, Kak ...."


"Sayang, berhenti tertawa ...," pinta Galas frustasi. Gayung segera menyudahi tawanya.


"Jadi, waktu itu Kak Galas sudah suka sama aku belum?" tanya Gayung penasaran.


"Tidak tahu, awalnya aku hanya iseng saja, Sayang. Sudah, jangan tanya-tanya lagi." Gayung menatap sendu wajah suaminya, hatinya menghangat mendengar pengakuan suaminya. Meski itu hanya berawal dari keisengan semata. Tapi ia sudah merasa senang dengan hal itu.


"Sayang, mandinya nanti saja, ya." Melihat istrinya menatapnya sendu, membangkitkan sesuatu didalam dirinya.


"Kenapa?" Galas menjawab pertanyaan istrinya dengan sebuah kecupan sekilas sebelum berlanjut menjadi sebuah ciuman panjang yang dalam. Gayung mulai berani membalasnya meski masih kaku. Namun ketika tangan Galas mulai kemana-mana. Ia sedikit menjauhkan wajahnya.


"Kak, aku masih datang bulan." Gayung mencebikkan bibirnya.


"Hahhh...." Galas mendesah frustasi. "Ya, sudah sana mandi ...."


"Hemm, jangan macam-macam dibawah, ya, Kak," pesan Gayung sedikit was-was melihat suaminya melangkah keluar.


"Astaga, ya sudah sini antar aku ke bawah." Galas mengulurkan tangannya, tak ingin membuat istrinya cemas. Gayung menyambut uluran tangan suaminya, mengikuti ke bawah.


"Habisnya di bawah ada ikan asin," gumamnya tapi masih terdengar oleh telinga Galas.


"Sayang, jangan samakan aku dengan kucing." Galas merangkul pundak istrinya gemas.


"Terus kalau bukan Kucing, apa?"


"Kata kamu aku Gelas dan kamu Gayung ... jadi kita sama-sama pasangan serasi, kan sama-sama tempat penampungan air."


Mereka tertawa mengingat candaan mereka sebelum menikah.


***


Jangan lupa


like


komen

__ADS_1


vote


please ...


__ADS_2