
Senyum tak kunjung memudar dari bibir Gayung kala dua tespeck yang ia beli kemarin menunjukkan hasil yang sama, dua garis merah yang artinya positif. Namun ia tak ingin terburu-buru menyimpulkan dan memilih memeriksakan diri ke dokter obgyn untuk memastikan, sepulang dari bekerja nanti.
Gayung memasukkan benda itu kedalam tasnya. Ia belum ingin memberitahu suaminya sebelum semuanya pasti. Tapi tetap saja susah untuk mengontrol rona bahagia diwajahnya.
"Kamu kenapa, Sayang, daritadi senyum-senyum terus?" tanya Galas curiga, saat perjalanan ke kantor.
"Nggak papa," Gayung menangkup wajahnya sendiri demi menetralkan ekspresinya yang terlalu bahagia.
"Hemm, apa yang kamu sembunyikan dariku, Sayang?" Galas rupanya tak mudah dibohongi. Gayung mengeryit sejenak, memikirkan jawaban yang tak akan membuat suaminya itu curiga. Ia ingin kehamilannya nanti menjadi sebuah kejutan untuk suaminya, yang sering mengatakan ingin memiliki banyak anak darinya.
"Aku cuma ingat kejadian semalam, Kak Galas. Puas?" Gayung mengalihkan pandangannya keluar jendela, sejujurnya ia merasa malu akan hal itu. Tapi karena tak memiliki jawaban lain yang lebih masuk akal. Maka ia mau tak mau ia memakai itu untuk menutupi kebohongannya.
Dan dugaannya tepat. Galas terdengar tergelak kencang mendengar jawabannya. Gayung meriapkan rambutnya menutupi sisi wajahnya, menyembunyikan dirinya disana. Galas segara menghentikan tawanya melihat istrinya yang ia tahu pasti tengah didera rasa malu sekarang.
"Hemm." Galas berusaha menetralkan suaranya. "Sayang, mulai hari ini kamu pindah ke ruanganku, ya."
Heh?" Gayung menoleh, masih terlihat jelas semburat merah dipipinya. "Kenapa?"
"Aku ingin kamu membantuku mengurus perusahaan. Jadi mulai sekarang kita berbagi tugas, bagaimana?"
Gayung menatap suaminya tak percaya. Ia yang hanya seorang lulusan SMA ini mendapat kepercayaan dan tanggung jawab sebesar ini dari suaminya.
"Tapi, Kak ...."
"Tidak ada tapi-tapian, Sayang. Aku tahu kamu bisa dan aku sendiri yang akan mengajarimu sampai kamu bisa." Galas tak menerima penolakan.
"Lalu pekerjaanku yang sekarang?"
"Ryan dan Jio akan mencari orang baru untuk mengisi posisi itu."
Gayung mengangguk sekilas, ada rasa bahagia sekaligus rasa takut dalam benaknya. Apakah dia bisa? Namun segera ditepisnya perasaan itu. Ia berjanji tidak akan mengecewakan kepercayaan suaminya, dan ia juga berjanji akan menjadi istri sekaligus rekan kerja yang baik untuk suaminya. Jangan lupakan calon bayinya, ia akan menjadi seorang ibu juga. Ibu yang baik tentunya dan tanpa sadar senyum kembali menghias bibir ranumnya. Semangattt Gayung! Batinnya.
***
"An, kamu pindah ke ruangan Pak Bos, menjadi Bu Bos beneran?" Sasya mengguncang-guncang pundak Gayung begitu hebohnya.
"Iya, Kak," jawab Gayung dengan suara lembutnya.
__ADS_1
"Oh my ... jadi kita berpisah, nih?" Sasya memeluk erat Gayung. "Jangan lupain aku, ya Bu Bos. Jangan sombong juga, terus jangan galak-galak, ya kalau aku buat salah nanti ...."
Gayung tak menjawab dan malah tertawa mendengar celotahan sahabatnya itu.
"Jangan lupain Emak juga ya, An." Safa ikut berpelukan ala teletubies.
"Ya ampun, aku cuma pindah ke depan loh bukan mau pindah planet, hahaha." Gayung tak dapat menahan rasa gelinya.
"Tapi tetap aja beda, An. Meski sudah menikah dengan Pak Bos, tapi kalau kamu masih duduk disini. Aku masih merasa kamu itu karyawan sama kaya kita-kita tapi kalau kamu duduk disebelah Pak Bos didalam sana, posisi kamu itu sekarang atasan kita. Iya nggak Mbak?" Sasya meminta pendapat Safa.
"Yups ... bener banget itu. Okelah, kalau masalah kerjaan kita harus profesional tapi kalau diluar kita tetap sahabatan. Oke?"
"Setuju!" ucap Gayung dan Sasya berbarengan sebelum kembali berpelukan dalam tawa. Namun tanpa Gayung sadari buliran bening menetes dari pelupuk matanya sebelum isakan lirih terdengar dari bibirnya.
"Kenapa, An, kok nangis?" tanya Sasya sembari merangkul pundak Gayung.
"Nggak papa, aku cuma terharu bisa menemukan sahabat-sahabat yang baik hati seperti kalian ...," ucap Gayung tulus. Ia kembali teringat masa sekolahnya yang terasingkan, sahabat dekatnya hanya Inge dan Maria saja. Tapi kini ia dikelilingi sahabat-sahabat juga orang-orang yang memperlakukannya dengan baik.
"Ih, aku juga ikut terharu." Sasya kembali memeluknya.
"Boleh, Ji. Tapi kamu langsung ditendang keluar dari sini sama Pak Bos. Mau!" ucap Safa dengan mantapnya.
"Aihh, atutt ...." Jio pura-pura takut.
"Yang gantiin Andara siapa, Ji?" tanya Sasya penasaran.
"Dina kayanya ...."
"Ih, kok dia, sih ...," protes Sasya mewakili Gayung yang sepertinya juga tak ikhlas mengalihkan pekerjaannya kepada teman sekelasnya semasa SMP itu. "Kamu pasti yang rekomendasiin dia ya, Ji?"
"Iya, nih modus, bilang aja mau pedekate lagi," tuduh Safa.
"Astagfirullah, nggak-nggak ... bukan aku tapi Mas Ryan yang rekomendasiin. Tapi itu belum pasti juga ... menurut kamu siapa yang cocok, An?" Jio menatap Gayung yang terlihat kebingungan menjawab pertanyaan mantan kepala divisinya itu.
"Ehm ... terserah aja aku, sih," jawabnya akhirnya. Meski tak menyukai Dina tetap saja ia harus profesional jika memang itu yang terbaik.
Suara dering telefon menghentikan perdebatan kecil mereka. Safa menyodorkan gagang telefon itu ke telinga Gayung, setelah melihat bahwa yang menghubungi adalah Galas, bosnya.
__ADS_1
"Halo. Iya." Gayung meletakkan kembali gagang telefon itu kilat.
"Aku pergi dulu, ya teman-teman," pamit Gayung penuh semangat menyambut tanggung jawab barunya.
"Semangat, ya, Bu Bos!" Sasya menepuk punggung Gayung.
"Kalau bosen disana, main ke sini aja," seru Safa.
"Sippp Ibu!" Tangannya membuka pintu kaca didepannya untuk menuju ke ruangan suaminya yang tepat persis didepan ruangan lamanya.
"Sudah siap?" Galas menyambut kedatangan istrinya dengan senyuman hangat.
"Siap, Pak," jawab Gayung sedikit gugup.
"Duduk disini, Sayang." Galas menunjuk kursi putar disebelahnya. Entah kapan, meja kerja suaminya itu berganti dengan ukuran yang lebih besar. Sehingga lebih dari cukup untuk ditempati mereka berdua.
Gayung mendudukkan dirinya dikursi yang tentu saja berbeda dengan yang ia pakai dulu. Lebih nyaman dan empuk tapi tentu saja tanggung jawab yang ia emban tentu lebih besar.
"Jangan gugup, Sayang. Sekarang kamu adalah Bos juga, jadi kamu angkuh sedikit tidak apa-apa," gurau Galas mengurai ketegangan sikap istrinya.
"Oke, Bos," jawab Gayung dengan senyum manisnya.
"Oke, buka laptop kamu ...."
***
Maaf ya ... kalau kata-katanya ancuer. Karena authornya lagi bad mood banget susah menuangkan pemikiran, jadi cuma bisa up segini ajah ... semoga kalian masih setia mengikuti novelku yang biasa-biasanya ini. Arigato alls, semoga kalian sehat selalu dan dimudahkan rizki ya. Aamiin.
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Sorry sedikit ... 😁😁😁
__ADS_1