Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 82


__ADS_3

Gayung baru saja selesai melakukan videocall dengan ibunya. Dian menanyakan kapan perkiraan putri satu-satunya itu akan melahirkan dan berjanji akan pulang ke Indonesia dalam waktu dekat ini. Sayangnya, Ayah Fauzan tidak bisa ikut karena kendala dengan pekerjaannya dan nantinya adiknya yang akan ikut serta ke Indonesia.


"Ibu kamu Gay?" tanya Tiara, yang juga mengikuti obrolan mereka.


"Iya." Gayung mengangguk.


"Cantik," puji Tiara tulus. "Mirip banget mukanya sama kamu, Gay. Sama-sama glowing ... keturunan, ya?" Tiara tertawa kecil.


"Hehe ... nggak sih, Mba. Mungkin ... karena kita memakai produk kecantikan yang sama ...."


"Iyakah? Merk apa? Mau dong, Gay bagi-bagi ...." Tiara antusias.


"Adalah. Dari Singapore, biasanya aku dikirimin ibuku dari sana."


"Aku mau dong Gay, bilangin sama ibu kamu ya," pintanya.


"Kemarin aku habis dapet paketan juga dari ibu. Siapa tahu ada, nanti buat Mbak Tiara aja. Belum aku buka soalnya ... kata ibu dia juga kirimin baju-baju buat calon anak aku sama Mbak Tiara ...."


"Seriuus?" Tiara senang bukan main. Saat ini memang perhatian sekecil apapun dari orang lain selalu berhasil membuatnya terharu juga bahagia. "Kamu baik pasti keturunan dari orang tua kamu Gay," kekeh Tiara. Gayung ikut tertawa. Ia tak menyangka bisa seakrab ini dengan Tiara. Notabene orang yang ia cemburui mati-matian dulu.


"Padahal menurut aku, nggak perlu sih ibu sampai kirim baju-baju segala. Disini juga banyak, kan daripada harus beli disana kirim ke sini, ongkirnya mahal."


"Berapa memang, An dari Singapore ke sini?"


"Satu empat kemarin katanya...."


"Ah, lumayan juga. Galas belum pulang ya? Biasanya dia ke kantor sebentar ...." Tiara menengok jam diponselnya. Sudah pukul setengah tiga sore.


"Kak Galas nggak ke kantor. Dia lagi memantau penataan rumah baru kita ...." Tiara menatap Gayung tak percaya. Gayung mengendikkan bahunya. Ia sendiri tidak mengetahui, bahwa suaminya tengah membangun Rumah baru untuk mereka tempati nanti setelah ia melahirkan. Galas berpikir bahwa nantinya pasti akan menambah asisten rumah tangga serta babysister untuk mengurus anak-anak mereka. Sedang rumah mereka kini terlalu kecil, sedangkan ia ingin Bi Hanah dan Pak Ato juga tetap tinggal bersamanya meski nantinya sudah tak mampu untuk bekerja. Karena memang anak Bi Hanah bekerja sebagai pelayaran yang jarang sekali pulang ke rumah. Sementara, ia tak begitu mempercayai apakah nantinya menantunya bisa mengurus mereka dengan baik.


"Wahh ... Galas memang penuh kejutan, ya."

__ADS_1


"Memang ...." Gayung tertawa bahagia. Sangat bersyukur dipertemukan dengan seorang suami yang baik seperti suaminya.


***


Malam itu setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan diruang kerja. Galas mengajak istrinya kembali ke kamar mereka. Bercerita tentang banyak hal, salah satunya tentang rumah baru yang akan mereka tempati nantinya.


"Kak, Mbak Tiara nyariin aku ...." Gayung memperlihatkan pesan Wa dari wanita yang kondisinya semakin membaik itu. Galas merebut ponsel itu dan meletakkannya kembali ke atas nakas samping tempat tidur mereka. Mengabaikan pesan sang sahabat.


"Aku belum balas, Kak ...." Gayung ingin mengambil lagi ponselnya, namun Galas menghalanginya.


"Please, Sayang. Malam ini aku mau berdua dengan kamu, tanpa gangguan Tiara ... lagipula dia sudah membaik dan kalau ada apa-apa, ada Bi Hanah juga dibawah menemaninya," ucap Galas tak ingin dibantah.


"Iya, iya ...." Gayung mengalah walau sedikit geli melihat suaminya yang sering kesal, karena merasa Tiara mengganggu waktunya bersama sang istri.


Namun tak berselang lama, panggilan masuk datang dari orang yang sama. Gayung melirik suaminya yang nampak tak menutupi kekesalannya. Ia mengambil benda pipih itu dan mengangkat panggilan masuk dari Tiara.


"Halo, Las. Gayung mana? Kok belum turun, tadi dia udah janji mau tidur sama aku dibawah ...?" Galas memeluk tubuh istrinya, seolah menyiratkan tak ingin berbagi dengan sahabatnya yang menyebalkan akhir-akhir ini menurutnya.


"Kok gitu?" Terdengar nada kecewa dari Tiara.


"Iya, dia kelelahan habis cek banyak pekerjaan tadi ...," ucapnya berbohong sembari mengelus perut besar istrinya. Merasakan gerakan-gerakan menakjubkan dari calon bayi mereka. "Kamu sudah sama Bi Hanah juga, kan?"


"Iya, sih. Tapi kalau sama Gayung kan bisa sambil cerita-cerita."


"Sama Bi Hanah juga bisa ... sudah, ya, aku juga sudah mengantuk." Galas pura-pura menguap, sementara Gayung menahan senyumnya melihat kekonyolan suaminya.


Mereka tertawa bersama, setelah sambungan telefon mati.


"Hah ... akhirnya pengganggu sudah teratasi," ucap Galas bangga, lalu melempar benda pipih itu ke nakas.


"Jahil banget ,sih Kak. Kasihan Mbak Tiara dibohongi sama kamu ...."

__ADS_1


"Biarkan saja, lagipula kalian sudah seharian bersama ini kan ...." Galas membela diri.


"Hemm. Kamu pasti mau minta gituan, kan?" tebak Gayung tepat pada sasarannya. Galas terkekeh dan tanpa aba-aba memulai aksinya.


"Baguslah kalau kamu paham, Sayang. Dokter juga menyarankan bukan ...," ucapnya penuh kemenangan.


"Tapi aku mau pipis dulu." Gayung menahan tangan suaminya yang sudah merayap kemana-mana.


"Ya sudah. Sini aku antar." Galas membantu istrinya untuk bangun.


"Aku sendiri aja, Kak. Kamu disini ...," pinta Gayung. Jika suaminya ikut yang ada malah merepotkannya dengan kebawelannya.


"Hati-hati, Sayang ...," seru Galas khawatir.


"Iya ...." Ya Tuhan, aku cuma mau ke kamar mandi bukan mau ke Mars, batin Gayung geli sekaligus bahagia memiliki suami yang perhatian seperti suaminya ini.


***


Ya Allah ... susah banget mau ditamatin ...


Huft ...


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2