Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 32


__ADS_3

POV GAYUNG


Aku keluar dari ruangan Pak Jay dengan wajah bingung. Antara harus senang atau harus bagaimana. Aku meminta cuti selama tiga hari, mengikuti standar cuti karyawan lainnya, tapi Pak Jay malah memberiku cuti seminggu. Dengan alasan, karena Bosku alias kekasih yang tak menganggapku itu memberikan kesempatan kepadaku untuk menikmati waktu bersama ibuku. Huh, buat apa juga dia sok perhatian kepadaku, gerutuku dalam hati.


"Gimana, An? Dapat ijin berapa hari?" tanya Mbak Safa.


"Seminggu, Mbak," jawabku jujur sembari menggaruk tengkukku yang tidak gatal.


"Wuihhh ... kok bisa?" Seperti biasa Mbak Safa selalu heboh.


"Aku juga nggak tahu, Mbak. Padahal aku cuma minta cuti tiga hari aja," jawabku lagi.


"Memang Pak Jay ngomong gimana?" Mbak Safa mengikutiku sampai ke meja kerjaku.


"Ya ...." Aku bingung bagaimana menjelaskannya. Bagaimana kalau nanti mereka curiga hubunganku dengan Kak Galas. Hubungan? Sadar Gayung, memangnya hubungan macam apa yang kalian jalani sekarang, batinku.


"Mungkin karena aku ijin mau ketemu Ibu, Mba. Dulu kan Mas Jio juga dapat ijin seminggu karena kangen sama Ibunya," Alasan yang tepat, pikirku dan Mbak Safa menyetujui pemikiranku.


"Iya juga ya ... kalau gitu, nanti kalau pengen dapat cuti lama, mending bilangnya kangen sama Emak aja yaa ... hahaha ...." Mbak Safa tertawa sembari mengacak rambutku.


"Jangan lupa oleh-olehnya lho, An," kata Mbak Safa lagi.


"Siap, Mbak," jawabku. Itu masalah gampang, Ibu pasti membawa banyak oleh-oleh dari sana. Cuma masalahnya apakah rasanya akan cocok dengan lidah mereka atau tidak. Karena sejujurnya aku tidak begitu suka bermacam camilan yang Ibu bawa sebagai buah tangan. Mungkin lidahku terlalu kampungan, sehingga tak cocok dengan makanan luar.


***


Siang itu, Galas kembali muncul di ruang makan karyawan. Dia duduk ditempat biasa, tepat didepan Gayung yang tampak belum menyadari kehadiran kekasihnya itu. Gadis itu tampak sibuk berbalas pesan dengan seseorang dengan wajah tanpa gairah, makan siangnya bahkan belum tersentuh sama sekali.


"Makan," ucapan Galas berhasil mengalihkan perhatian Gayung dari ponselnya. Gadis itu tampak sedikit terkejut melihat kehadiran Galas dihadapannya. Namun kemudian ia berhasil menguasai diri dan bersikap biasa, mengingat banyak orang di tempat makan itu. Mereka saling memandang dalam diam, andaikan tempat ini sepi, ingin rasanya Gayung memberondong Galas dengan banyak pertanyaan. Ia sudah tidak tahan menerima kediaman Galas yang tak ia tahu apa alasannya itu.

__ADS_1


"Berikan ponselmu." Galas mengulurkan tangannya. Gayung tak bergeming, ia masih bingung dengan situasi ini. Laki-laki itu sudah membuatnya galau setengah mati lalu tiba-tiba datang dan bersikap serta bertindak semaunya sendiri. Bodohnya lagi, ia tidak kuasa menolak apa yang menjadi keinginan laki-laki yang dicintainya itu dan menyerahkan ponselnya dengan suka rela.


Semua mata di meja itu mengarah kepada mereka berdua. Jio yang duduk di samping Gayung, masih saja belum paham dengan setiap perhatian yang Bosnya berikan pada mantan kekasih satu harinya itu.


Galas menatap Gayung tajam penuh selidik, sebelum akhirnya mulai membuka sandi pada ponsel Gayung. Keningnya terlihat berkerut melihat tampilan layar yang sudah kembali berganti foto artis korea idola Gayung.


"Kenapa diganti?" tanyanya dengan raut wajah penuh ketidaksukaan.


"Suka-suka," jawab Gayung ketus dengan wajah menunduk memakan makan siangnya. Ia tak mau melihat reaksi Galas yang tampak murka itu. Buat apa juga dia marah? gerutu Gayung dalam hati. Ia sudah terlalu kesal dengan Galas, sampai semua foto Galas yang hanya beberapa tersimpan pada ponselnya itu ia lenyapkan dan wallpapper serta kunci depan ia ganti lagi dengan gambar Kim Jae Wook, artis idolanya.


Namun apa yang Galas lakukan berikutnya, benar-benar membuat Gayung dan semua mata yang memandang tercengang. Galas, dengan cuek dan tak tahu malu berpose sok ganteng (memang ganteng, sih ), berfoto selfi dengan ponsel Gayung. Kemudian setelahnya mengotak-atik benda pipih itu. Gayung bisa menebak, bahwa Galas pasti tengah mengganti wallpapper tampilan depan layar ponselnya.


Gayung mencondongkan tubuhnya untuk melihat apa yang tengah Galas lakukan pada ponselnya. Namun Galas memundurkan posisi duduknya. Tidak ingin Gayung mengganggu kegiatannya. Gadis itu kembali pada posisinya sembari mendesis pelan.


"Ini siapa?" Galas menunjukkan pesan terakhir yang diterima Gayung dari sebuah nomor baru.


"Tetangga yang mana?" cecar Galas.


"Tetangga ya tetangga," lirih Gayung namun nadanya tetap ketus.


"Jawab yang benar!" ucap Galas penuh penekanan. Biasanya Gayung akan mendelik takut mendapatkan pandangan seperti itu. Namun kekesalannya sudah terlalu menumpuk ia pendam dan siap meledak saat itu juga.


"Buat apa Kak Galas ingin tahu?" Gayung balik menatap dengan sikap menantang.


"Tentu saja, karena aku kekasihmu." Gayung tak menyangka Galas akan menjawabnya seperti itu. Semua karyawan menajamkan mata dan telinga mereka demi mendengarkan drama yang menurut mereka sangat seru itu. Jio hampir saja tersedak mendengar kebenaran itu. Otaknya yang pas-pasan langsung menghubungkan potongan adegan demi adegan yang selalu membuatnya bertanya-tanya selama ini. Dan akhirnya ia menarik sebuah kesimpulan. Jadi, karena ini, Bos selalu memberikan tatapan menakutkan kepadaku, batinnya sembari menelan salivanya.


"Kekasih apa? Tiap hari Kak Galas selalu cuek sama aku, nggak pernah kasih kabar, nggak perhatian, nggak peduli gimana perasaanku." Akhirnya terlontar semua yang menjadi unek-uneknya selama ini. Ia tak peduli lagi bahwa mereka sedang di tempat umum dan bisa dipastikan ini akan menjadi perbincangan hangat seluruh kantor.


"Mending kita putus saja, deh," putus Gayung penuh emosional, ia berdiri mengemasi lunchboxnya dan melangkah cepat meninggalkan ruang makan. Tangannya bergerak mengusap air mata yang sudah bercucuran membasahi wajahnya. Ia langsung menyesali ucapannya yang terakhir tadi. Bagaimana jika Galas benar-benar menyetujui apa yang ia lontarkan tadi? Ia menjadi takut sekarang.

__ADS_1


Rahang Galas mengeras, mendengar kalimat yang sangat tak ingin ia dengar itu. Ia ikut berdiri menyusul Gayung yang sudah menghilang dari balik pintu itu. Namun ternyata Tiara mengikuti dan menahan langkahnya.


"Kamu apa-apaan sih, Galas, bikin drama begini?" Tiara menarik lengan Galas menjauh dari pandangan para karyawan yang langsung heboh bergosip ria.


"Malu-maluin tahu nggak ... cuma karena gadis kampungan itu!"


"Siapa yang kampungan?" Galas menunjukkan ketidaksukaannya atas penilaian Tiara kepada Gayung.


"Ya dia, siapa lagi. Disini ada anak yang satu sekolah sama dia. Dulu tuh Gayung katanya jelek banget, culun, kampungan. Kamu masih mau sama cewek kaya gitu?" Ia ingat kriteria wanita sempurna yang diinginkan Galas.


Galas menarik sudut bibirnya, menertawakan informasi kadaluarsa yang diberikan sahabatnya itu.


"Aku tahu dan aku masih mau," ucap Galas tegas." Kamu tahu kenapa?"


Tiara mendelik keheranan melihat reaksi Galas yang berkebalikan dengan apa yang ia bayangkan itu.


"Kenapa?"


"Karena kami bertetangga, aku lebih tahu tentang dia daripada kamu. Jadi, jangan mencoba mempengaruhiku dan jangan membuatku jadi membencimu ... akhir-akhir ini sikapmu sedikit keterlaluan, jangan kira aku tidak tahu. Kau seperti bukan sahabat yang ku kenal dulu."


Wajah Tiara memerah memdengar penuturan Galas. Ia tidak mengira masa lalu Gayung yang akan ia jadikan senjata untuk menyingkirkan gadis yang menurutnya kampungan itu, ternyata tidak ada gunanya sama sekali. Galas malah lebih tahu segalanya tentang gadis itu.


"Ikut aku, ada yang ingin ku bicarakan denganmu." Galas lebih dulu menuruni tangga. Tak lama Tiara berlari kecil, mengejar langkah lebar Galas. Ia benar-benar malu sekarang. Rencananya gagal!


***


Yuk ....jangan lupa like, komen & vote ...


Salam sehat selalu ...

__ADS_1


__ADS_2