
Galas baru saja tiba di kantor saat perdebatan kecil antara sang resepsionis, Diana dan Gayung terjadi.
"Ada apa ini?" tanyanya, membuat dua orang yang sedang berdebat itu seketika bungkam.
"Ini Pak ... Andara, baru kemarin minta pulpen sekarang minta lagi, anak-anak yang lain juga suka begitu, Pak. Apalagi anak-anak pemackingan sama gudang. Setiap hari spidolnya hilang terus alasannya. Padahal saya sudah stock banyak, nggak ada seminggu sudah habis aja." Diana mengadu pada atasannya itu dengan penuh percaya diri, ia yakin Bosnya yang super perhitungan itu pasti akan membelanya.
"Kenapa bisa begitu, Andara?" tanya Galas. Gadis berambut ikal itu memainkan jemarinya, memutar otaknya mencari alasan. Dia sendiri tidak tahu kemana raibnya pulpen-pulpen itu. Seingatnya ia hanya menaruhnya pada desk organizer atau di dalam laci meja kerjanya.
"Saya juga tidak tahu, Pak." Gayung memilih jujur.
"Kenapa bisa tidak tahu?" tanya Galas tajam.
"Tiba-tiba hilang gitu aja, Pak," jawabnya dengan polosnya.
Galas diam sejenak, seperti memikirkan sesuatu.
"Diana." Galas mengalihkan pandangannya pada sang resepsionis.
"Iya, Pak," sahut Diana.
"Umumkan pada seluruh karyawan, mulai sekarang tidak ada lagi fasilitas alat tulis gratis," tegas Galas sambil lalu.
Ia melakukan ini untuk memberi pelajaran kepada para karyawan untuk bertanggung jawab menjaga barang pribadinya mereka sendiri. Karena dia memberikannya secara gratis, mereka jadi menyepelekan. Akan berbeda nantinya jika mereka membelinya sendiri.
"Baik, Pak." Diana tersenyum penuh kemenangan.
"Lumayan juga nih jualan pen sama spidol," gumam Diana seraya melirik Gayung penuh kemenangan. Gayung tak sempat menanggapi karena ekor matanya menangkap Galas memberikan kode untuk mengikutinya.
"Kenapa, Pak?" tanya Gayung.
"Jangan panggil saya, Pak." Galas berdecak tidak suka.
"Tapi ini kan di kantor," protes Gayung.
"Jangan membantah, ini perintah," tegasnya. "Tunggu disini."
__ADS_1
Galas masuk ke dalam ruangannya dan tak lama keluar lagi memberikan sebuah pen kepadanya.
"Jaga baik-baik, ini pen mahal," ucapnya sebelum pen itu beralih ke tangan Gayung. "Jangan sampai hilang lagi."
"Terima kasih, Pa ... eh Kak ...."
"Hemm."
"Saya permisi dulu." Gayung masih berbicara formal.
"Semangat kerjanya." Gerakan tangan Galas mengacak rambutnya refleks membuat Gayung menepisnya.
"Kak Galas ih ...," protes Gayung.
"Sana cepat bekerja, jangan makan gaji buta," ucapnya arogan, membuat decihan lolos keluar dari bibir mungil Gayung. Segera ia melesat ke ruangannya tanpa menoleh lagi.
***
"Dih, benar-benar yah Bos kita itu, ganteng-ganteng tapi pelit," dumel Sasya yang baru kembali dari tempat Diana. Gayung tersenyum kecil mendengar curhatan rekan kerjanya itu. Dia pun sempat kesal tadi karena masalah yang sama.
"Tahu nggak sih, sekarang alat tulis itu kita harus beli sendiri, gara-gara anak-anak sering ngilangin katanya, ya ampun ... setidaknya beri peringatan dulu kek ... lagian berapa sih harga pulpen, spidol." Sasya melanjutkan dumelannya.
"Yah harganya nggak seberapa tapi kali aja sama seluruh karyawan disini, kalo setiap hari dari mereka menghilangkan satu pen atau satu spidol, dan lain-lain. Berapa banyak pengeluarannya," tutur Bimo dengan bijaknya.
"Yah tapi, kan, gak setiap hari juga kali hilangnya ...." Sasya menjatuhkan tubuhnya kedalam pangkuan kursi putarnya. "Andara, beli pulsa, dong."
"Nomor yang biasa, kan, Kak?" Gayung menarik laci dan meraih sebuah ponsel jadul dari sana. " Yang berapaan, Kak?"
"Goceng aja," jawab Sasya. Gayung dengan mahir mengotak atik ponselnya.
"Andara ....." Sebuah suara penuh kuasa membuat gadis berkulit putih itu terlonjak sangking kagetnya. Begitu fokusnya ia mengotak-atik ponsel jadul itu sampai tak menyadari kehadiran orang nomor wahid di kantor ini.
"Iya, Pak." Gayung refleks memasukkan ponsel hitam itu ke dalam laci lagi.
"Sedang apa kamu?" tanya Galas, dagunya menunjuk pada sesuatu yang baru saja ia sembunyikan.
__ADS_1
"Eh, eh ... kirim pulsa, Pak," jawabnya jujur dengan sikap formal. Dalam hati, ia tak akan dimarahi bukan hanya karena punya sampingan berjualan pulsa. Tolong berbaik hatilah Kak Galas, aku hanya mencari tambahan uang untuk membeli jajan, batinnya.
"Kamu jualan pulsa?" tanyanya tajam.
"Iya, Pak." Gayung mengangguk.
"Gaji yang saya berikan masih kurang?"
"Tidak, Pak," jawab Gayung. Padahal kalau punya keberanian inginnya bilang iya, biar dinaikkan gajinya dinaikkan. Tapi mana berani ia mengatakan itu.
"Lalu?" Galas terus menginterogasinya. Semua yang di dalam ruangan tak ada yang berani bersuara melihat bagaimana ekspresi Bos mereka saat ini.
"Saya ... saya hanya ingin mencari tambahan saja, Pak, buat ... jajan." Gayung mengecilkan volume suaranya saat menyebut kata "jajan" pada akhir kalimatnya. Apa itu memalukan? Apa ia terlalu jujur? batinnya.
"Mulai sekarang tidak perlu berjualan pulsa lagi, saya akan menaikkan gaji kamu. Saya tidak mau konsentrasi kamu terganggu oleh hal-hal lain diluar pekerjaan, karena kalau sampai kamu berbuat kesalahan, saya yang akan dirugikan. Mengerti?" ucap Galas dengan keangkuhannya.
"Hah?" Gayung malah memasang wajah penuh tanya mendengar Galas akan menaikkan gajinya. Ini serius?
"Kamu paham maksud saya?" Galas lebih mendekatkan jarak antara mereka.
"Paham, Pak, paham." Gayung mengangguk dengan senyum canggungnya. Namun Galas terus menatapnya seperti menunggunya mengatakan sesuatu.
"Terima kasih, Pak." Untungnya Gayung cepat menyadari, senyum tulus ia lemparkan untuk Bosnya yang nampak bangga seperti baru saja melakukan sebuah kebajikan besar.
"Hemm, lebih giat kerjanya."
"Iya, Pak." Gayung melirik sosok tampan yang bergerak menjauh darinya menuju ruang kerja Jay.
"Ya ampuun ... keren banget sumpah Bos kita," ujar Sasya yang seolah telah melupakan kalau ia sebelumnya mengatai pelit pada orang yang sama. "Mau dong naik gaji juga," godanya pada Gayung yang hanya bisa nyengir kuda.
"Tadi bilangnya pelit ...." Bimo mengingatkan perkataan Sasya yang belum ada sepuluh menit berlalu.
"Gimana yah ... Pak Galas tuh paket komplitlah, ada gantengnya, ada tajirnya, ada baik hatinya, ada galaknya, ada ... pelitnya juga ... Ommo Ommo idaman bangetlah." Sasya cekikikan sendiri gemas. Gayung dan Bimo saling berpandangan geli.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE