
"Apa, An? Pak Rio mau jadi biksu?" lirih Sasya berucap. Ia terkulai lemas mendengar kabar dari sahabat sekaligus atasannya itu, melalui sambungan telefon. Disaat ia benar-benar jatuh cinta, bahkan bayangan wajah Rio selalu terbayang sampai ia tak fokus melanjutkan novelnya. Namun harapannya untuk melabuhkan cintanya untuk laki-laki itu kembali harus ia kubur dalam-dalam. Bahkan meski Rio tak memiliki pilihan hidup menjadi seorang biksu pun, sudah jelas terbentang jurang pembatas yang memisahkan mereka.
"Kenapa kamu, Sya?" tanya Bimo yang melihat wajah lesu rekan setimnya itu setelah menerima telefon. Namun gadis itu memilih membisu dan kembali meneruskan pekerjaannya tanpa banyak bicara seperti biasanya. Entah kenapa, ia menjadi tidak bersemangat setelah mengetahui fakta itu.
"Puasa ngomong apa Sya?" Bimo menggodanya, berharap si ceriwis itu akan mengumpatinya dengan tingkah tengilnya. Namun lagi-lagi, tak ada satupun kata yang keluar dari bibirnya.
"Anak-anak, ada pengumuman penting!" seru Jio dari meja kerjanya, mengurungkan niat Bimo yang ingin mengorek sesuatu dengan kediaman Sasya.
"Sabtu nanti kita akan mengadakan piknik ke Bandung! Yeyyy!" Seru Jio lagi heboh sendiri.
"Semuanya apa cuma para kepala divisi aja Mas Jio?" tanya Dina.
"Se-mu-a-nya!" jelas Jio lantang.
"Serius, nih? Tumben banget cuy." Bimo menyambut gembira kabar tersebut, begitupun yang lainnya. Suasana riuh seketika.
"Serius, Ibu Bos lagi ngidam pengen jalan-jalan soalnya." Kali ini Safa yang menjawab.
"Uhuy, Bu Bos emang oke punya. Mau jalan-jalan ingat anak buahnya. Syukur deh dulu nggak jadi sama kamu, Pak Ketua haha ...." Bimo melirik Jio yang mengacungkan jari tengahnya, pura-pura menantangnya.
"Kalau sama Jio yang ada sengsara lahir batin, hidupnya kebanyakan hutang sama cicilan," imbuh Safa sadis dengan derai tawanya yang. membahana.
"Ya Allah ... sabar, sabar." Jio mengelus dadanya sendiri dengan cengirannya yang nelangsa.
Bersamaan dengan itu bunyi bel tanda istirahat siang berbunyi nyaring, obrolan tentang piknik pun mereka lanjutkan diruang makan. Semua menyambut gembira kabar tersebut, kecuali Sasya yang memilih menyendiri dimeja kerjanya disaat yang lain menikmati makan siangnya.
***
"Kamu makin hari makin cantik saja, Sayang," puji Galas sembari menatap istrinya yang tengah menata makan siang untuknya.
Gayung melirik suaminya, ia tahu pasti Galas sedang merayunya untuk membatalkan rencana piknik yang dengan terpaksa disetujuinya tadi. Karena ia yang terus merengek meminta.
"Apalagi kalau Kak Galas sering ngajakin aku jalan-jalan, pasti aku bakalan tambah cantik dan fresh." Gayung tersenyum penuh arti.
"Justru kalau terlalu sering malah tidak bagus Sayang. Sering terkena sinar matahari, nanti kulit kamu cokelat ...."
"Bukannya cokelat malah eksotis?" Gayung tak mau kalah.
"Tapi aku lebih suka kulit kamu yang sekarang." Galas menarik tangan istrinya untuk mendekat, kemudian memeluk pinggang rampingnya. "Dibatalkan saja, ya ...."
"Kenapa sih, Kak, kamu nggak setuju sama rencana aku?" tanya Gayung akhirnya.
"Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu dan juga anak kita." Galas mencium perut istrinya sekilas.
__ADS_1
"Kan cuma dekat ini, Kak?" Gayung memainkan kancing atas kemeja suaminya.
"Iya, tapi kita bawa rombongan juga, Sayang. Karyawan kita ada sekitar empat ratusan orang. Terlalu beresiko menurutku, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Bagaimana kalau sampai terjadi kecelakaan atau apa ... tanggung jawabnya di aku, Sayang ...." Galas menatap istrinya, meminta pengertian.
"Tapi tadi anak-anak sudah dikasih tahu, pasti mereka kecewa kalau tiba-tiba batal ...." Gayung bisa mendengar riuh kegembiraan dari ruangan depan.
"Aku akan memberikan kompensasi kepada mereka," jawab Galas.
"Berupa?"
"Uang. Mereka bisa memakainya untuk jalan-jalan sendiri nanti. Aku yakin mereka tidak akan kecewa." Senyum terbit dibibir Galas, melihat istrinya sepertinya mau menerima alasannya.
"Maaf," lirih Gayung. Ia memang merasa sedikit kekanakan kemarin dengan memaksa suaminya.
"Aku yang minta maaf, Sayang. Karena belum bisa mengajak kamu bulan madu."
"Nggak bulan madu, juga nggak papa." Gayung tersenyum tulus, sebenarnya ia mengatakannya saat itu hanya karena kesal suaminya sibuk dengan Tiara saja. Bukan benar-benar marah karena hal itu.
"Maaf, ya." Galas membawa Gayung dalam pelukannya selama beberapa saat, sebelum Gayung mengurainya dan menyuruh suaminya makan.
"Kamu mau makan sama Sasya?"
"Enggak, aku mau disini aja." Gayung mengambil sebuah kursi kecil dan duduk disamping suaminya. Memandang suaminya yang tengah menikmati makan siangnya. Sementara ia memakan buah yang sudah ia siapkan dari rumah.
"Enggak, aku mau lihat kamu aja," jawab Gayung dengan senyumnya.
"Hemm hemm." Galas berdehem sebelum membalas senyum istrinya. "Kamu tahu ... aku juga punya rasa malu, kalau kamu perhatikan terus begitu, Sayang ...."
Gayung terkekeh melihat semburat malu diwajah suaminya. Ya Allah, boleh dipeluk sekarang nggak sih nih suamiku!
"Sana kamu ke depan?" Galas mengusap bibir istrinya yang tertempel sedikit potongan buah.
"Aku mau disini, kok kamu ngusir aku, sih, Kak?" Ia ingin menggunakan kesempatan ini untuk menggoda suaminya. Karena biasanya ia terus yang dikerjai.
"Sasya pasti lagi sedih, Sayang. Sana kamu hibur dia."
"Nanti aja aku telfon," ucap Gayung dengan senyum gelinya. Kapan lagi bisa melihat suaminya malu-malu seperti ini.
"Ya sudah terserah kamu." Galas melanjutkan makannya, tapi tidak bisa terlalu fokus. Karena ia tahu istrinya tengah menahan tawanya sekarang.
"Kamu kenapa sih, Kak?" Gayung tak dapat menahan tawanya lagi melihat suaminya yang terus meliriknya.
"Kamu yang kenapa, dari tadi lihatin terus," protes Galas dengan senyumnya.
__ADS_1
"Ya emangnya kenapa? Bawain bayi, pengennya liatin kamu terus ... daripada aku liatin laki-laki lain nanti kamu marah."
"Hemm ... pinter sekarang, ya cari alasan." Galas terkekeh.
"Siapa yang cari alasan, aku nggak bohong ... malah aku pengen cium kamu sekarang kalau boleh ...." Entah keberanian darimana Gayung bisa mengatakan hal seperti itu. Hanya saja ia tidak bohong dengan ucapannya baru saja.
Uhuk uhuk ... Galas membeliakkan matanya kemudian tergelak mendengar kalimat yang keluar dari bibir istrinya.
"Ya sudah sini." Galas menyodorkan pipinya.
"Tapi aku maunya ditempat lain," ucap Gayung sembari maju lebih mendekat. Membuat Galas sedikit mundur beberapa centi dari posisinya.
"Aku habis makan ikan, Sayang," ucap Galas sedikit kaku.
"Memangnya kenapa? Dulu waktu Kak Galas cium aku disini, aku juga habis makan ikan. Tapi nggak masalah kan?" Entah kenapa Gayung menjadi seagresif ini. Hanya saja dari semalam, ia selalu tergoda jika melihat bibir suaminya.
"Kamu serius?" Galas mengira istrinya hanya mengerjainya tadi.
"He eh. Kak Galas nggak mau? Katanya semalam kalau mau bilang aja kamu nggak bakalan nolak." Gayung mengingatkan ucapannya semalam.
"Aku tidak menolak, Sayang. Tapi ciuman saja, kan?" Lirih Galas takut terdengar dari luar.
"He eh." Dan tanpa aba-aba lagi Gayung menangkup wajah suaminya dan menyambar bibir suaminya yang sedari tadi ingin dirasakannya. Galas memeluk punggung istrinya yang berdiri dihadapannya itu dan lebih memperdalam ciuman mereka. Cukup lama permainan bibir itu berlangsung, hingga tanpa sadar tangan Galas sudah bermain kemana-mana.
"Kak jangan ... kamu mau keramas disini. Nanti diketawain anak-anak," bisik Gayung masih memeluk kepala suaminya dan mereka akhirnya menertawakan kekonyolan mereka sendiri.
***
Kalau bosan dengan alur dan ceritanya bisa komen ya ... nanti aku ubah deh, biar agak rumit wkwkwk ... 😁😁😁
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Sloww update
Sloww idea
❤❤❤
__ADS_1