
Setelah selesai menerima panggilan dari suaminya. Gayung merasakan wajahnya memanas dan air matanya berlinangan tanpa bisa ia hentikan. Sebenarnya saat mendengar penjelasan dari suaminya tadi, ia berusaha menahan diri agar tidak bereaksi berlebihan. Ia berusaha mengerti bahwa suaminya hanya berusaha membantu sahabatnya itu. Namun tetap saja hatinya gelisah dan sakit saat mengetahui itu semua.
Gayung meraih kopernya dari atas lemarinya. Memasukkan baju-bajunya yang tak seberapa. Ia berniat kembali besok, bahkan kalau bisa sekarang. Namun itu tidak mungkin, karena sekarang sudah hampir tengah malam.
"Kamu, kok, sudah beres-beres, Yung?" Dian yang tidak bisa tidur mendatangi kamar anaknya. Gayung yang tak menyangka ibunya akan menghampirinya segera berbalik arah dan mengusap air matanya. Ia tak mau sampai ibunya tahu masalah dalam rumah tangganya yang baru berumur beberapa hari itu.
"Kamu kenapa, Yung?" Tetap saja Dian menaruh curiga melihat tingkah anaknya. "Kamu nangis, ya?"
"Enggak, cuma kelilipan," bohongnya.
"Kelilipan darimana? Muka kamu merah begitu, kok." Dian menangkup wajah putrinya dan Gayung tak bisa berbuat apa-apa. Karena kulit wajahnya memang sangat sensitif dan gampang memerah.
"Kenapa? Cerita sama Ibu, kamu ada masalah sama Galas?" cecarnya.
"Enggak, Bu. Gayung cuma kangen sama Kak Galas," ucap Gayung mencari alasan yang masuk akal. Namun saat mengucapkannya air matanya mengucur lagi dengan derasnya.
"Ya ampun, Ibu kira kamu kenapa." Dian tersenyum, ia teringat dulu saat masih pengantin baru. Pasti rasanya berat langsung berpisah dengan suaminya. Untungnya, ia tidak menaruh curiga sedikitpun, sehingga Gayung sedikit lega.
"Ibu ikut aku, ya. Aku juga masih belum puas ketemu sama Ibu."
"Nggak, ah. Ibu nggak mau ganggu pengantin baru," ledek Dian.
"Nggak ganggu, kok, Bu." Gayung memeluk ibunya. "
"Nanti aja kamu yang main ke tempat Ibu sama Galas. Ayah kamu lagi betah banget disini."
"Hemm, ya, udah deh." Gayung melepas pelukannya. "Gayung mau telpon Mbak Nabila dulu, katanya dia mau balik besok. Gayung mau ikut bareng aja."
"Syukur, deh, kalau ada temannya. Jadi Ibu nggak khawatir kamu balik sendirian kesana. Tapi kamu sudah kasih tahu Galas mau balik besok?"
"Belum, ini sekalian mau kasih tahu." Gayung berbohong lagi. Demi kebaikan nggak papa, kan, batinnya.
"Ya, sudah. Ibu malam ini tidur sama kamu, ya." Dian pun berat berpisah dengan putri kesayangannya itu. Tapi ia berusaha mengerti anaknya telah menikah kini, pasti lebih ingin dekat dengan suaminya dan ia tak ingin mengganggu.
__ADS_1
"Iya," Gayung menggeser posisinya, memberi tempat pada ibunya. Ia menghubungi Nabila sembari memeluk Ibunya. Sesuatu yang jarang bisa ia lakukan. Entah kenapa hatinya menjadi melow seperti ini, ia kembali mengingat masa kecilnya saat rumahnya belum direnovasi dan belum sebagus sekarang.
***
Di sore hari yang cerah itu, empat sekawan minus Gayung tentunya, sedang berada di Mall mencari kado buat teman mereka yang baru saja menikah itu. Tapi sebelum berbelanja, mereka makan dulu di sebuah resto kecil di Mall tersebut. Karena perut mereka sama kompaknya minta diisi dulu setelah lelah bekerja seharian.
"Mbak Safa, kamu, kok, nggak bareng sama anak buah kamu, malah ikut sama kita?" ucap Bimo tak bermaksud, hanya ingin tahu saja.
"Kenapa? Nggak boleh?" sewotnya.
"Bukannya gitu, Mbak Safa. Kan, aku cuma nanya aja ...." Bimo mendelik takut melihat Safa yang seolah sudah mengeluarkan taringnya, dimata Bimo.
"Jangan galak-galak Mbak Safa, nanti cepat tua, lho." Jio membela anak buahnya sembari menyendokkan alpukat ke mulutnya.
"Emang gue udah tua kelessss," jawabnya dengan gaya ceplas-ceplosnya yang hakiki.
"Cie yang tua," Sasya meledeknya dengan gaya memonyongkan bibirnya.
"Ember, yang penting aku mah udah laku ini. Nggak kaya klean-klean ini yang jomblo akut haha ...," balas Safa penuh kemenangan.
"Ini bagus nggak?" Sasya menunjukkan sebuah sepatu balet putih yang cantik. Mereka kini tengah berkeliling berburu kado.
"Bagus, sih. Tapi emangnya kamu tahu ukuran sepatunya Andara?" tanya Safa.
"Tahulah, aku kan bestfriendnya dia haha ... nggak nyangka sekarang aku berteman sama Nyonya Bos," ucap Sasya bangga.
"Aku juga ... mantan pacarnya Nyonya Bos." Jio ikut membanggakan diri dengan senyum konyolnya. Safa menggelengkan kepala melihat kekompakkan dua sejoli cungkring itu.
Mereka beralih ke toko lain. Kini mereka ke toko pakaian dalam.
"Kamu mau kado Andara bra? Emang kamu tahu ukuran dadanya Andara" tanya Safa dengan cablaknya, melihat Jio memegang sebuah bra warna merah muda. Jio langsung menarik tangannya, bergidik ngeri dengan senyum konyolnya yang khas.
"Nggaklah, Mba. Mbak Safa mah mulutnya emang doll parah," sungut Jio malu sendiri. Ia hanya penasaran saja ingin memegang benda yang bentuknya cantik itu.
__ADS_1
"Kamu belum sampai pegang itunya Andara, kan, Ji?" Safa malah makin menjadi mengerjai si cungkring yang langsung merah padam itu.
"Astagfirrlah, Mbak Safa, pegangan tangan aja nggak pernah ...." Jio mengelus dadanya, berbicara dengan Safa memang membutuhkan kesabaran ekstra. Sementara Safa tertawa puas karena sudah berhasil membuat Jio shock berat.
"Miris banget, sih, Ji, kisah cinta kamu." Tawa Safa membahana memenuhi toko. Jio sedikit menjauh, malu punya teman ibu-ibu yang tidak tahu malu.
"Eh, ngomong-ngomong gimana kelanjutan hubungan kamu sama Dina, Ji?" Safa tak bisa mengontrol mulutnya untuk tidak berbicara jika dekat dengan Jio.
"Nggak ada kelanjutan," jawab Jio lesu.
"Dina mah cuma pelarian Mbak Safa." Kali ini Bimo yang menimpali. "Pak Ketua mah sebenarnya belum bisa move on dari Andara ...."
"Serius??? Ih, aku bilangin nanti ke Pak Galas, ah, biar Jio dihajar sampai babak belur." Safa tertawa puas melihat Jio yang hanya bisa pasrah menghadapi kecerewetannya.
"Yey, aku udah dapat kadonya." Sasya menunjukkan hasil perburuannya.
"Kamu beli apa?" tanya Safa sembari mendekat.
"Piyama-piyama cantik dan imut." Sasya terlihat puas dengan pilihannya..
"Harusnya Andara dikasih lingerie aja, tuh sexy-sexy biar makin hot," ucap Safa, tanpa tahu dua makhluk dibelakangnya jadi membayangkan yang tidak-tidak.
"Gak bakalan mau dia pake begituan." Sasya yang mengenal bagaimana Gayung menolak mentah-mentah ide Safa.
"Andara, kan, sekarang istrinya Bos. Gak papa, nih, kita kasih kado barang murahan begini. Biasanya, kan kalau orang kaya belinya barang yang bermerk terkenal gitu, kan?" komen Bimo.
"Jangan lihat harganya, tapi niat kita, dan yang penting ikhlas," ucap Jio dengan bijaknya.
"Dasar otak gembel." Safa kembali dengan kata-kata ajaibnya.
"Sesama gembel dilarang saling menghina. Udah, ah, ayok ... ngomong sama Mbak Safa mah bikin capek bibir capek ati." Jio menyudahi obrolan mereka dan mengajak berpindah ke toko lain. Karena ia juga belum menemukan kado yang cocok untuk ia berikan pada mantan satu harinya itu.
***
__ADS_1
Jangan lupa like & komen and vote ...