
Sore itu juga, diadakan briefing dadakan khusus karyawan wanita untuk membahas masalah toilet mampet yang menjadi trending topik dikantor. Yang menjadi masalahnya adalah hal itu terjadi lagi, sehari setelah perbaikan besar-besaran saluran pembuangan yang baru saja selesai kemarin.
Kali ini pun, setelah diselidiki lagi. Permasalahannya masih tetap sama, yaitu ada saja karyawan yang masih membuang pembalut di toilet. Parahnya lagi, ini bukan dibuang dikloset melainkan saluran pembuangan air. Entah apa yang dipikirkan "oknum karyawan itu" yang pasti Ryan dibantu beberapa stafnya sudah berusaha menyelidiki berdasarkan laporan juga hasil tangkap layar kamera cctv dilantai tiga itu.
"Ada apa ini?" Semua mata karyawati tertuju pada sumber suara, siapa lagi kalau bukan Bos mereka yang sepertinya baru saja datang sesore ini dengan wajah yang begitu segar.
Ryan selaku pemimpin briefing menjelaskan singkat apa yang menjadi pokok permasalahan. Galas mendengarkan dengan seksama lalu mengangguk-angguk paham. Setelahnya tangannya bersedekap, memandang satu persatu karyawannya yang tampak berdiri berjajar diruang kosong yang biasanya tidak pernah terpakai itu. Matanya tertuju pada lima karyawati yang berdiri terpisah dari yang lain dan salah satunya adalah istrinya sendiri. Keningnya sedikit berkerut melihat pemandangan itu.
"Kenapa mereka berdiri terpisah?" tanyanya sembari menunjuk barisan menonjol paling depan.
"Oh, itu Pak, dari tangkapan kamera cctv, mereka berlima, karyawan yang masuk toilet lantai tiga sebelum ada laporan bahwa toilet bermasalah lagi," jawab Ryan sopan.
Galas memandang istrinya yang menatapnya balik seolah mengisyaratkan bahwa bukan dia pelakunya.
"Dari kalian berlima, siapa saja yang sedang datang bulan?" tanyanya tajam.
Dari kelimanya belum ada yang mengakui. Sampai kemudian tiga diantara mereka berani mengangkat tangannya. Galas kembali menatap istrinya, terutama tangannya yang asyik memutar cincin pernikahan mereka.
"Kamu sudah selesai?" tanya Galas spontan namun masih dengan wajah datarnya. Gayung yang sebelumnya menunduk menengadahkan wajahnya, mencari tahu untuk siapa pertanyaan suaminya.
Tatapan mereka bertemu. Untuk dirinyakah pertanyaan itu? Batin Gayung bertanya-tanya namun sedetik kemudian memutuskan menganggukan kepalanya dengan semburat merah yang menghiasi pipi putihnya. Ia dapat melihat samar, senyum dibibir suaminya itu. Apa Kak Galas sudah gila menanyakan pertanyaan konyol itu dihadapan semua karyawannya, batin Gayung lagi. Kali ini ia menunduk dalam, menahan malu setengah mati. Setelah briefing selesai bisa dipastikan rekan-rekan kerjanya yang luar biasa itu akan menggodanya habis-habisan.
"Jika dari kalian ada yang tahu dari kelima orang ini yang berbohong, kalian bisa memberitahu saya, sekarang!" ucap Galas lagi, tak peduli beberapa dari karyawannya tengah menahan senyum akibat pertanyaan spontannya kepada sang istri.
"Kalian yang satu ruangan dengan mereka pasti tahu siapa saja yang hari ini tidak menjalankan kewajiban solatnya. Terutama kepala divisi," lanjutnya.
Suasana hening, tidak ada yang bersuara. Galas memandang satu per satu karyawannya yang menunduk dalam.
"Ryan," ucap Galas kemudian.
"Iya, Pak," jawab Ryan hormat.
"Interogasi mereka bertiga, yang lainnya segera bubarkan," perintahnya sembari menepuk pundak Ryan dan berlalu dari ruangan itu.
"Baik, Pak," jawab Ryan patuh.
__ADS_1
Setelah Bos pergi, Ryan membubarkan mereka kecuali tiga orang yang kini menjadi tersangka utama.
***
Sepulang bekerja, Galas terus saja mengikuti kemana pun istrinya pergi. Saat Gayung sibuk memasak untuk makan malam, ia dengan setia menemaninya sembari mengecek pekerjaannya dari laptop dan sesekali melirik istrinya yang tengah sibuk mengupas bawang tak jauh darinya.
"Kamu mau masak apa, Sayang?" tanyanya.
"Ehm ... sop ayam sama omelet," jawab Gayung sembari menoleh pada suaminya. "Tadi pagi nasi gorengnya enak nggak, Kak?" tanyanya penasaran, karena setelah solat subuh suaminya itu memilih tidur kembali sampai entah jam berapa. Ia sendiri tidak tahu, karena ia sudah berangkat bekerja.
"Enak," jawab Galas setelah berpikir sejenak. Ia tidak mau mencari masalah saat ini, dengan mengatakan nasi goreng istrinya tadi pagi tidak ada rasanya alias hambar. Bisa-bisa nanti malam ia harus puasa lagi.
"Berarti aku nggak menyiksa kamu, kan?" Dalam hati Gayung tertawa, mendengar kebohongan suaminya. Karena ia tadi pagi lupa mencicipi masakannya, dan dalam perjalanan ia baru ingat tidak menambahkan garam dan penyedap.
"Tidaklah, Sayang," akting Galas dengan apiknya. Gayung tersenyum dalam diam.
Satu jam kemudian, Gayung selesai dengan masakannya. Setelahnya ia mandi dan solat maghrib bersama suaminya juga Bi Hanah dan Pak Ato menjadi imamnya. Sebenarnya Gayung ingin sesekali Galas yang mengimaminya, tetapi suaminya itu belum memiliki berani melakukannya.
Sehabis solat Maghrib, mereka makan malam bersama. Kali ini semua memuji masakannya. Karena tadi ia sempat meminta Bi Hanah untuk mencicipi dan menambahkan apa yang kurang dari masakannya.
Gayung bukannya tak mengerti apa yang dimau suaminya. Tapi ia memang sengaja ingin balas dendam, karena sejak awal menikah, suaminya itu terus disibukkan dengan wanita lain. Ya, meskipun itu sahabatnya.
"Sebentar, aku mau nonton itu dulu." Gayung mencari alasan.
"Kita nonton dikamar saja," bujuk Galas lagi, tangannya mulai menelusup masuk lewat belakang dan usil membuka pengait bra istrinya.
"Kak Galas, nanti dilihat Bi Hanah," bisik Gayung yang mulai terpengaruh oleh sentuhan tangan suaminya.
"Ya, sudah. Ayo ke kamar." Senyum jahil terukir dibibir Galas. Kali ini, Gayung tak kuasa menolaknya lagi. Karena sebenarnya ia pun menginginkannya.
Tapi tiba-tiba ia teringat lagi novel yang ia baca sampai menangis beberapa hari yang lalu.
"Ehmmm ... Kak Galas nggak menikah lagi, kan?" Galas yang sibuk bermain di area sensitif istrinya menghentikan gerakan tangannya.
"Apa?"
__ADS_1
"Kak Galas nggak pulang sampai berhari-hari, bukan karena menikah lagi sama Mbak Tiara, kan?" Cerita dalam novel itu benar-benar membuatnya baper setengah mati dan sempat berpikir yang tidak-tidak tentang suaminya. Meskipun memang diakui, Galas selalu menghubunginya beberapa jam sekali.
Galas menghela nafas berat sebelum menjawab kecurigaan istrinya.
"Kamu habis baca novel apa, sih, Sayang?" Galas memutar bola matanya malas.
"Adalah, Kak, di aplikasi sebelah bukan disini," jawab Gayung.
"Astaga ....kan, aku sudah bilang, Sayang, jangan kebanyakan baca novel perselingkuhan. Sekarang kamu jadi semakin curiga nggak jelas kaya gini, kan ...." desah Galas. Padahal ia berharap bisa bermesra-mesraan dengan istrinya malam ini.
Gayung yang melihat wajah frustasi suaminya segera memeluk tubuh kekar itu.
"Maaf ... ," ucapnya mencium sekilas bibir Galas yang membuat suaminya tersenyum senang.
"Tapi kalau baca novel yang bucin-bucin boleh, kan? Kata Mbak Safa, baca novel yang seperti itu bisa membuat kita jadi tambah sayang sama suami," dan tambah bergairah sama suami, kata Mbak Safa, batin Gayung namun tak berani mengatakannya didepan suaminya.
"Sekarang kamu jadi tambah sayang sama suami kamu nggak?" Galas mulai menciumi wajah istrinya yang mengangguk malu-malu dan semakin membuatnya ingin segera membawanya ke kamar mereka.
"Kalau begitu, ayo ke atas sekarang," bisiknya parau ditelinga istrinya, ia sudah dipenuhi oleh gairah yang mulai tidak bisa ia tahan.
"Hemm," ucap Gayung seraya mengalungkan tangannya dileher suaminya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Galas segera membawa istrinya menaiki tangga menuju kamar mereka di lantai atas.
***
Cuma mau tanya ... kalian suka adegan yang h*t nggak sih ... apa yang sensor ...
Cuma nanya ya ... hehe ...
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Thankss alls ...