
Gayung melamun, sibuk oleh pikirannya yang mengembara kemana-mana, menunggu suaminya didepan kantor bersama Sasya yang sedang sibuk menerima telefon entah dari siapa. Sedari tadi yang Gayung dengar, hanya kata iya dan iya yang keluar dari bibir sahabatnya itu.
"Kamu telfon sama siapa sih, Kak?" tanya Gayung setelah Sasya selesai berbicara.
"Rahasia ...," jawab Sasya tengil sembari menatap pujaan hatinya yang baru saja keluar dan menghampiri motornya, berbincang dengan satpam kantor disana.
"Awas ngiler." Gayung terkikik geli mengikuti arah pandang gadis bertubuh kurus itu.
"Emang menggiurkan sih hihihi ...." Sasya menjilat bibir bawahnya dengan gerakan sensual. Membuat Gayung menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkahnya. "Ya Tuhan ... indah sekali ciptaanMu."
"Aku kalau lihat Pak Rio itu ... seperti ada aura kebaikan gitu loh yang terpancar dari dalam dirinya. Kalau perempuan namanya inner beauty kalau laki-laki namanya apa ya Kak?" komentar Gayung. Sasya mengangguk bangga, sebagai fans beratnya ia ikut bangga mendengar pujian Gayung kepada sang pujaan hati.
"Inner handsome kali hihi .... Kalau lihat Pak Bos gimana, An?" goda Sasya.
Gayung diam sejenak, bukan memikirkan jawaban dari pertanyaan Sasya. Melainkan memikirkan ia yang belum berbaikan dengan suaminya.
"Menyebalkan ...." Gayung sedikit mendesah saat mengucapkannya.
"Kamu masih marahan sama Pak Bos?"
"Masih," jawab Gayung setengah kesal. "Harusnya kan, aku yang marah, kenapa malah jadi dia yang marah. Coba kalau aku yang ngobrol sama laki-laki lain, pasti dia langsung diem marah. Giliran dia sendiri kemarin ... udah kaya keluarga berencana aja sama Bu Dara. Egois!" curhat Gayung dengan asal saking kesalnya. Tanpa ia sadari, sang suami sudah berdiri dibelakangnya sedari tadi. Sengaja diam mendengarkan obrolan sang istri dengan sahabatnya itu.
"Wkwkwk ... keluarga berencana, anaknya dua dong, An, kurang satu berarti."
"Ya kali aja semalam mampir mau bikin lagi," sungut Gayung saking kesalnya.
"Wkwkwk ... sumpah! Kamu mah kalau lagi marah sama Pak Bos, suka ngawur kalau ngomong." Sasya ngakak.
Mereka terdiam sejenak, saat Dina dan seorang laki-laki melewati mereka, melempar senyuman. Sasya membalas dengan anggukan juga senyuman tipis, sementara Gayung sangat terlihat memaksakan senyumnya. Ia memang sudah tidak sebenci dulu, tapi tidak jua bisa meramahkan dirinya kepada mereka.
"Siapa, An?" Sasya melirik perubahan ekspresi sahabatnya itu.
"Karyawan baru," jawab Gayung malas.
"Iya tahu, kamu kenal?" tanya Sasya penasaran.
"Cuma tahu namanya." Gayung enggan menjawab.
"Teman SMP kamu?" tanya Sasya menelisik, karena melihat kedekatan laki-laki tadi dengan Dina yang notabene teman sekolah Gayung.
"Hemm."
"Jangan-jangan itu Adi yang pernah kamu ceritain?" tebak Sasya.
"Hemm." Gayung menjawab ambigu, namun Sasya memahami arti dari kata hemm Gayung.
"Kamu, kan nggak suka sama dia. Kok kamu terima kerja disini?" Sasya tampak tak mengerti.
"Ehmm ... aku juga bingung, kok aku tadi terima dia kerja yah ..." Gayung mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Hemm." Suara deheman dibelakang mereka, refleks membuat keduanya menoleh ke sumber suara. Sasya menutup mulutnya, sementara Gayung tampak salah tingkah.
"Kamu pulang dengan Sasya. Aku ada urusan diluar," ucap Galas kemudian, masih dengan sikap dinginnya.
Gayung merasakan panas di hati juga wajahnya mendengar kalimat suaminya. Kalau memang tak ingin pulang bersama, kenapa tidak bilang sedari tadi dan membuatnya menunggu begitu lama. Dan lagi ... memangnya urusan itu begitu mendesak sampai suaminya itu tak memiliki waktu untuk mengantarnya pulang barang sebentar.
__ADS_1
"Ada urusan apa?" tanya Gayung, ia merasakan kering ditenggorokannya.
"Bikin anak, seperti kata kamu, membuat keluarga berencana," jawab Galas dengan seringai kecil diwajahnya. Gayung melihatnya ... suaminya hanya bercanda kan? Meski wajahnya tetap saja shock mendengar kalimat tersebut.
"Aku ada urusan pekerjaan," ucap Galas lebih lembut. Apa itu artinya suaminya sudah tidak marah lagi? Gayung masih membisu, membiarkan suaminya menggusak rambutnya sebentar sebelum akhirnya meninggalkannya menuju mobilnya yang terparkir tepat didepan kantor.
Meskipun sikap Galas sedikit melunak tapi tetap saja, Ia ditinggalkan!
Mobil putih itu bergerak menjauh dan menghilang dipertigaan sana.
"An?" Panggilan Sasya menyadarkan Gayung dari keterpakuannya.
"Hah?" tanyanya seperti orang bodoh.
"Sabar, An. Laki-laki tuh kalau lagi cemburu memang suka kekanakan." Sasya mengelus pundak Gayung.
"Cemburu?" tanya Gayung tak mengerti dengan ucapan Sasya baru saja. Sasya menutup mulutnya, keceplosan bicara.
"Ehm ... sebenarnya ... tadi Pak Bos ada tanya ke aku tentang karyawan baru." Sasya meringis.
"Tanya tentang Adi?" Mata Gayung membulat tak percaya.
"Iya. Karena aku nggak tahu apa-apa, ya aku jawab jujur aja."
Gayung terdiam, memikirkan apa yang membuat suaminya mencemburui karyawan baru itu. Dan ia teringat Adi yang menarik tangannya saat interview tadi. Berarti tadi suaminya mengawasi dirinya dari cctv, pikirnya.
"Memangnya apa yang harus dicemburui dari Adi?" gumam Gayung tak mengerti. Andai suaminya tahu bagaimana kehidupan sekolahnya dulu, hanya karena menyukai laki-laki itu.
Ia justru akan merasa malu, jika suaminya sampai mengetahuinya nanti. Dan dia tanpa pikir panjang malah menerimanya bekerja dikantor suaminya. Seketika Gayung merasa menyesal.
"Mungkin Pak Bos kira dia mantan kamu kali, An," tebak Sasya.
"Terus Jio nggak kamu anggap, An?" Sasya mengingatkan nasib memprihatinkan Jio kala itu.
"Ya cuma sehari Kak." Gayung bukannya tak mau menganggap Jio, baginya Jio tetap teman laki-laki terbaiknya.
"Sekarang kita mau kemana?" Sasya merangkulnya.
"Menghibur diri," jawab Gayung. Ia malas pulang dan menggalau ria dirumah. Toh, suaminya pasti makan malam diluar nantinya. Buat apa dia capek-capek masak.
"Yuk capcus!" Sasya menggiring Gayung menuju motornya.
***
Hari yang sial bagi Gayung. Disaat ia ingin menghibur diri namun sepertinya ia salah memilih tempat!
Ia harus duduk satu meja dengan Adi dan Dina yang juga sedang ditempat yang sama. Masalahnya Dina terlihat sok akrab dan malah menggabungkan diri dengannya.
"Jadi berasa reuni ya kita ...," ucap Dina dengan senyum cerianya. Sasya menoleh pada Gayung yang terlihat tidak nyaman.
Reuni?
Adalah hal yang paling tidak ingin dilakukan oleh Gayung. Lagipula tidak ada kenangan indah dalam perjalanan sekolahnya.
Gayung memaksakan senyumnya, menikmati makanannya dengan enggan. Sesekali matanya bertemu dengan Adi tanpa sengaja. Ingin rasanya ia terbang untuk pulang ke rumah sekarang daripada harus duduk satu meja dengan dua orang teman SMP nya itu.
__ADS_1
"Kamu masih marah sama kita ya, Gay?" tanya Dina yang bisa menangkap kegelisahan pada sikap Gayung.
Gayung menatap dua orang dihadapannya itu sebelum menjawab.
"Nggak. Tapi kita memang tidak akrab kan?" Sangat tidak akrab malahan. Ia bahkan masih ingat sikap dan perkataan Dina yang mengoloknya dengan kencang bersama gengnya. Saat ia mengikuti les disekolah dengan memakai sandal jepit juga kaos yang sama beberapa kali.
"Iya, sih. Aku minta maaf deh, dulu aku memang kekanakan. Ya, Di ...? Namanya juga masih kecil belum berpikiran dewasa." Dina meminta persetujuan Adi akan perkataannya dan laki-laki itu terlihat mengangguk.
"Aku minta maaf sekali lagi, kalau sikap aku dulu bikin kamu sakit hati," ucap Adi. Sementara Gayung masih mempertahankan wajah dinginnya.
"Itu kan juga udah berlalu kan, sekarang kamu juga udah dapat suami tampan kaya. Masa masih sakit hati terus, kalau bukan karena kita sering ngatain kamu, aku yakin kamu juga nggak ada niat buat berubah. Iya kan?" ucap Dina seolah mencari pembenaran akan sikapnya dulu.
"Tapi maaf ya, Gay. Tapi penampilan kamu kamu dulu memang terlalu ... gimana ya .... Laki-laki manapun pasti juga akan risih, kalau diperhatikan gadis-seperti itu," imbuh Adi. Sama-sama mencari pembenaran rupanya, batin Gayung.
"Coba kalau Pak Galas tahu dulu kamu kaya apa? Aku yakin dia pasti juga ilfeel sama kamu, Gay." Dina menambahi membuat Gayung hampir tersedak karenanya. Namun yang lebih membuatnya kaget adalah kehadiran suaminya yang sudah berada didekat mereka.
"Ehemmm." Suara dehemannya membuat empat orang yang mengobrol serius sampai tak mengetahui kehadirannya itu terkesiap. Ia berdiri disamping istrinya dan merangkulkan tangannya dipundak Gayung.
"Kak Galas?" lirih Gayung.
"Tadi kamu bilang apa?" tanya Galas pada Dina, santai memainkan rambut ikal istrinya.
Dina sedikit gugup namun dengan percaya diri dia mengulang kembali ucapannya.
"Kalau Bapak tahu penampilan Gayung dulu, mungkin Bapak akan ilfeel," ulangnya.
"Ohhh ...,"ucap Galas lagi santai dan mulai duduk disamping istrinya. "Kamu tahu darimana saya berasal?" tanya Galas.
"Maksudnya Pak?" tanya Dina tak mengerti.
"Daerah asal saya, kamu tahu?" ulang Galas lagi dengan santainya. Dina menggeleng pelan.
"Saya ... berasal dari kota S, sama seperti kalian."
Dina melongo, karena ia memang tak mengetahui ini. Lalu memangnya kenapa kalau sama-sama berasal dari kota S? Begitu pikir Dina.
"Mungkin beda kampung dengan kalian ya ... tapi saya satu kampung dengan Gayung."
Dina melongo, mulai mengerti muara dari ucapan Bosnya Tadi. Ia tak tahu harus berkata apa selain "oh" yang keluar lirih dari mulutnya.
"Jadi saya tahu Gayung dimasa lalu. Tapi ada satu rahasia lagi yang belum mereka tahu, Sayang." Galas menoleh pada istrinya yang sedari tadi hanya mendengarkan. Gayung mengerutkan dahinya membalas tatapan suaminya. Rahasia apa? Batinnya.
"Apa Pak?" Justru Sasya yang penasaran.
"Gayung itu pacar pertama saya. Waktu itu dia masih berusia sepuluh tahun."
***
Slow up karena aku bingung ...
Semoga kalian gak bingung ya ... hihihi ...
Jangan lupa like
Komen
__ADS_1
Vote
❤❤❤