
Gayung memeluk suaminya erat. Ia tidak peduli jika Galas menganggapnya kekanakan atau entah apa. Hanya saja ia sungguh tak rela harus berpisah lagi dengan suaminya, padahal baru kemarin mereka bertemu.
Baru saja, suaminya itu meminta ijin kepadanya mengantarkan Tiara ke rumah orang tuanya, karena kondisi ayah Tiara yang tengah kritis akibat kecelakaan yang menimpanya. Galas tak mungkin mengabaikan itu, mengingat ia juga mengenal baik orang tua Tiara.
"Aku akan segera pulang." Galas berusaha menenangkan istrinya, ia tahu Gayung menahan diri untuk tidak menangis dihadapannya.
"Hemm." Hanya kata itu yang mampu keluar dari bibirnya.
"Kamu percaya padaku, kan?" Galas pun berat untuk meninggalkan istrinya.
"Hemm." Lagi jawaban itu yang keluar darinya. "Kak Galas hati-hati." Ada sedikit getaran kecil dibibirnya saat mengucapkan kalimat itu. Dan itu tak luput dari penglihatan Galas. Ia bergerak maju, mengecup lembut puncak kepala istrinya.
"Dengar, Sayang. Tolong percaya padaku, aku hanya mencintai kamu, tidak ada Tiara atau pun wanita lain." Galas kembali memeluknya. Kalimat itu sedikit menenangkan kegundahan hati gayung, ia membalas pelukan suaminya.
"Jangan lupa kasih kabar," ucap Gayung lirih.
"Pasti, Sayang. Ya, sudah, nanti kamu pulangnya dijemput Pak Ato, jangan pulang sendiri," pesan Galas lalu melepaskan pelukannya.
"Iya."
"Aku pergi sekarang, kamu mau antar aku ke depan?" Galas menawari, namun Gayung menolaknya. Ia takut nanti kelepasan menangis melihat kepergian suaminya.
"Ya, sudah. Ingat, nanti pulangnya kamu sama Pak Ato. Jangan pulang sendiri." Galas mengulang pesannya tadi.
"Iyaa." Gayung melepaskan tangan suaminya yang bergerak menjauh meninggalkan ruangannya. Ia mengikuti keluar kemudian, setelah menarik nafas panjang menahan air mata yang sudah merembes dipelupuk matanya.
"Gayung, kenapa sekarang kamu jadi cengeng." Gadis berambut ikal itu menepuk-nepuk pipinya. Namun nyatanya hatinya ternyata terlalu rapuh untuk menerima kenyataan bahwa suaminya akan melakukan perjalanan berdua ke luar kota dengan wanita lain. Ya, meskipun memang itu karena ada kepentingan urgent yang sangat mendesak.
***
Dan ia, disini kini, bersama kedua sahabatnya. Menghibur diri dengan berkunjung ke restoran cepat saji. Sementara Pak Ato menunggunya diparkiran, karena menolak bergabung.
"Jadi, Pak Bos sekarang lagi nganterin Mak Lampir?" tanya Safa.
"Hemm," jawab Gayung tidak bersemangat.
"Kenapa kamu nggak ikut aja?" tanya Safa lagi. "Kalau aku pasti maksa ikut, daripada disini kepikiran."
"Kak Galas nggak ngajak aku ...." Dan ia tak punya keberanian untuk meminta ikut.
"Hemmm ... kok aku jadi takut, ya." Sasya bergidik ngeri.
"Takut kenapa, Kak?"
"Kamu bilang, kan, tadi kalau Papinya Mbak Tiara lagi kritis sekarang. Sementara kalian tahu sendiri, kan, Mbak Tiara itu sudah nggak muda lagi. Aku jadi takut nanti kaya di novel-novel gitu loh ... sebelum ajal menjemput, Papinya Mbak Tiara pengen lihat anaknya menikah. Nah, kebetulan ada Pak Bos disana, terus Pak Bos diminta menikahi Mbak Tiara ...," cerocos Sasya horor.
Gayung terpancing cerita hasil karangan Sasya, wajahnya semakin tertekuk dengan pikiran negatif yang memenuhi otaknya.
"Seru kali kalau dijadiin novel judulnya apa, ya yang cocok ...?" Safa mulai bermain dengan imajinasi konyolnya.
__ADS_1
"Dipaksa menikah ...," jawab Gayung lesu.
"Eh, jangan, itu mah sudah ada yang pake," sambar Sasya si penggemar novel online.
"Dipaksa menikahi perawan tua ... cocok nggak?" Safa berbinar bahagia seperti baru saja menemukan emas se ton.
"Hahay... setuju setuju ... sanalah buruan bikin ceritanya, siapa tahu laku dan bejibun pembacanya," ucap Sasya.
"Dih, aku mah nggak bakat nulis, kalau cuap-cuap itu baru aku jago," ucap Safa bangga. "Kamu aja sana. Kamu, kan, pernah masukin cerita ke salah satu aplikasi novel online...."
"Pernah, sih, tapi nggak laku. Sedih aku tuh nggak ada yang baca. Yang like cuma secuil, giliran ada yang komen cuma promo novel sama minta feedbackkan ... padahal aku mikir ceritanya siang malam sampe sakit-sakitan. Uh ...sedih kalau diceritain mah ...." Sasya mengingat kenangan pertama kali menulis novel di noveltoon.
"Terus sekarang kamu berhenti gitu aja, nggak nulis novel lagi?" tanya Safa sembari menyantap ayam tepung gemuk dengan banyak saos sambal.
"Belum ada ide." Sasya melirik Gayung yang masih sibuk menggalau ria.
"Itu aja tadi, terpaksa menikahi perawan tua atau kalau nggak dipaksa menikahi Mak Lampir ... menurut aku judulnya menarik pembaca dah tuh, wkwkwk." Safa tertawa receh.
"Menarik dari Hongkong, yang laris itu cerita dipaksa, terpaksa sama CEO atau tuan muda yang tampan, tajir, dan bisa melakukan segala hal, kaya getoooo." Sasya menghela nafas berat.
"Ya udah kamu tinggal bikin cerita tentang itu aja, gitu aja kok repot?" ucap Safa songong.
"Iya, kemarin aku udah bikin cerita kaya gitu, Mbak. Cuma aku bingung mau lanjutinnya gimana. Soalnya imajinasi aku tuh terlalu cethek untuk tahu seperti apa kehidupan seorang tuan muda. Aku salut banget sama author-author hebat yang bisa bikin cerita keren kaya gitu, apalagi yang bisa nulis cerita mafia, fantasi ... ya Allah, kapan aku bisa bikin cerita begitu." Sasya menerawang jauh mengenai impiannya.
"Kak, Mbak, aku ke toilet dulu, ya," pamit Gayung lesu.
"Ati-ati, jangan bunuh diri dikamar mandi!" seru Safa tak berperasaan.
"Wkwkwk ... takutnya, tapi kasihan, ya, Andara. Pengantin baru harusnya seneng-seneng eh malah datang bulan, udah gitu suaminya malah sibuk ngurusin Mak Lampir. Duh, gemes sendiri jadinya pengen aku uwek-uwek," cerocos Safa.
"Eh, Pak Bos telfon tuh." Sasya menunjuk smartphone Gayung yang bergetar di atas meja.
"Angkat sana," suruh Safa pada Sasya.
"Nggak, ah."
"Siapa tahu penting. Atau jangan-jangan Pak Bos mau ijin kawin lagi karena disuruh Papinya Mak Lampir si perawan tua." Otak Safa mulai terkontaminasi cerita khayalan Sasya tadi.
"Hushh ... Mbak Safa mah geblek."
Tak berapa lama ponsel Gayung berhenti bergetar. Namun kini giliran ponsel Sasya yang berdering nyaring mendendangkan lagu Boy with luv milik BTS.
"Pak Bos, ya?" tebak Safa. Sasya mengangguk dan segera mengangkat panggilan dari Bosnya itu.
"Iya, Pak."
"Sasya, Gayung sedang bersama kamu?" tanya Galas dari seberang telefon.
"Iya, Pak, tapi Andaranya sedang ke toilet," jawab Sasya sopan.
__ADS_1
"Apa dia sedih?"
"Iya, Pak." Sasya menjawab jujur.
"Kamu temani istri saya malam ini, ya. Kamu menginap dirumah saya saja," perintah Galas.
"Siap, Pak," ucap Sasya kegirangan.
"Ya, sudah. Kalau ada apa-apa kamu hubungi saya."
"Siap, Pak."
"Ya, sudah. Assalamuallaikum."
"Wallaikumsalam."
Senyum terkembang sempurna dibibir Sasya setelah menutup panggilan dari Bosnya.
"Kenapa?" tanya Safa penasaran
"Malam ini aku disuruh nginep ditempat Pak Bos, nemenin Nyonya Bos. Aih ... lumayan ...." Senyum tak jua hilang dari bibirnya.
"Lumayan apaan?"
"Lumayan, dapat bonusan lagi. Hahay ... lumayan buat shophing-shophing."
"Emang kamu dikasih bonus kalau nemenin Andara?"
"Ya, kan aku menemani Nyonya Bos buat kasih laporan sama Pak Bos. Aih, pengen deh punya suami kaya gitu, udah ganteng, perhatian, sayang ... kayanya Andara, tuh, nggak usah khawatirin Mbak Tiara deh. Bos mah udah cinta mati sama dia."
"Ya, udah kamu bilangin gih sama Andara biar nggak galau-galau lagi. Nanti aku juga mau ajarin dia caranya biar makin disayang sama suami," ujar Safa mengedipkan satu matanya penuh maksud.
"Gimana caranya, Mba?" Sasya kepo.
"Ya suaminya dikasih service yang hot hot biar puas," jawab Safa ngakak. Sasya beringsut menjauh sembari menggelengkan kepalanya.
"Dasar ibu-ibu gila!"
***
Sorry ya ... gaje ...
Lagi gak ada ide nih ...
Wkwkwk
Jangan lupa like
Komen
__ADS_1
Vote
.....Semoga sehat selalu alls ...