Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 83


__ADS_3

"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Galas khawatir, menatap istrinya yang menghentikan makannya tiba-tiba.


"Perut aku nggak enak, Kak," jawabnya sembari memegang perutnya.


"Jangan-jangan ... sudah mau melahirkan, Sayang." Galas terlihat semakin khawatir.


"Tapi harusnya kan duluan Mbak Tiara ...."


"Tapi kan perkiraan bisa maju atau mundur, Sayang. Tiara juga menurut perkiraan sudah melahirkan tapi nyatanya sampai sekarang belum kan ... kita ke dokter, ya ...." Galas nampak tidak tenang.


"Jangan dulu ... kita lihat sebentar lagi, ya," bujuk Gayung lembut, menenangkan suaminya. Walau berat, akhirnya Galas menuruti permintaan istrinya. Namun ia tetap siaga, tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya. Bahkan ia melarang Tiara mengganggu istrinya. Galas benar-benar menjadi suami siaga, selalu mengikuti dan menemani kemanapun istrinya pergi. Bahkan buang air kecil pun ia tunggui, membuat Gayung menahan malu setengah mati. Tapi mau bagaimana lagi, Galas tak ingin dibantah dan Gayung mengerti suaminya melakukan ini karena mengkhawatirkannya.


Malam itu, Gayung tidur lebih cepat, dikamar bawah bersama Galas tentunya. Galas takut istrinya benar-benar akan melahirkan malam ini. Karena Gayung mengatakan perutnya kadang seperti tertekan sesuatu lalu kemudian baik-baik saja. Matanya ia siagakan, menjaga istrinya yang terlelap dalam pelukannya. Namun lambat laun, akhirnya ia ikut tertidur jua.


"Kak ...." Gayung mengguncang lengan suaminya perlahan. Galas yang memang tidur ayam langsung terbangun begitu merasakan seseorang membangunkannya.


"Kenapa, Sayang?" Galas langsung terbangun.


"Perut aku sakit ... makin lama makin sakit." Gayung mencoba bangun dibantu oleh Galas yang langsung panik.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Galas cepat. Lalu meninggalkan istrinya sebentar untuk membangunkan Pak Ato, memintanya mengantarkan ke Rumah Sakit segera. Juga membawa serta Nina, Babysister yang ia persiapkan untuk membantu istrinya mengurus bayi mereka setelah melahirkan nanti. Sementara Bi Hanah tetap dirumah menemani Tiara.


"Kak, sakit banget." Gayung meringis kesakitan, menangis dalam dekapan suaminya yang mencoba menenangkannya. Mengusap perutnya, mengusap punggungnya. Apapun yang bisa dia lakukan yang mungkin bisa mengurangi sakit yang istrinya rasakan.


Begitu sampai dirumah sakit, Gayung segera mendapat penanganan. Seorang perawat mengecek tekanan darahnya kemudian memeriksa bagian intimnya, untuk mengetahui sudah berapa pembukaan jalan lahirnya.


"Bukaan dua ya Ibu," ucap perawat muda itu. Gayung hanya mengangguk sekilas, tubuhnya gelisah merasakan sakit yang hilang timbul secara terus menerus. Disampingnya suaminya berusaha menguatkan, walaupun ia sendiri tak tega melihat kesakitan dan air mata diwajah sang istri. Beberapa perawat berusaha membantu menenangkan, menyuruhnya menarik nafas panjang lalu mengeluarkan perlahan. Sementar Nina membantunya memberikan minuman supaya Nyonya barunya itu memiliki tenaga untuk mengejan nantinya.


"Sayang kamu pasti bisa." Galas mengusap air mata istrinya penuh kasih. Ia belum pernah menyaksikan langsung wanita melahirkan sebelumnya dan ini menjadi pengalaman pertamanya. Ada kekalutan, bingung, takut terjadi sesuatu pada istrinya. Sementara Ibunya serta Inge baru akan ke Jakarta sekitar dua mingguan lagi begitupun rencana mertuanya di Singapura. Sedangkan Pak Ming baru saja pulang beberapa hari lalu setelah menilik kesehatan Tiara.

__ADS_1


Tak berselang lama Dokter Titi datang, kemudian perawat kembali memeriksa pembukaan jalan lahirnya.


"Bukaan empat, Dok," ucap perawat itu.


"Santai dulu, ya Pak, Ibu. Rileks tarik nafas ... buang perlahan ...," ucap Dokter itu lembut namun terdengar menyebalkan ditelinga Galas. Bagaimana bisa Dokter tua itu menyuruhnya santai sementara istrinya sedang berjuang antara hidup dan mati.


Saat bukaan delapan. Sakit yang Gayung rasakan semakin menjadi dan tak ada jeda lagi seperti sebelumnya. Galas tak kuasa menahan air matanya yang akhirnya mengalir deras, melihat perjuangan istrinya melahirkan buah hati mereka. Ia ingin berlari keluar dari ruangan jikalau bisa, tak tega rasanya mendengar teriakan dan rintihan istrinya sembari memegang tangannya begitu kencangnya seolah meminta kekuatan darinya. Sesekali Galas mengusap air mata istrinya, mengecup keningnya sekilas, menyalurkan kekuatan pada sang istri.


"Sebut nama Allah, Mbak," ucap Nina lembut.


"Allahu Akbar ..." Gayung menarik nafas panjang dengan nafas terengah-engah.


Dan suara tangisan kencang bayi itu mengakhiri perjuangannya. Senyum seketika terukir dibibir mereka berdua yang saling menatap penuh kelegaan.


***


Satu hari setelahnya, Dokter sudah mengijinkan Gayung beserta putrinya kembali ke rumah. Mereka benar-benar beradaptasi menjadi orang tua baru. Galas menatap wajah lelah istrinya bergantian dengan putri mereka yang begitu mirip dengan dirinya. Beberapa rekannya yang datang mengatakan hal yang serupa, putrinya benar-benar duplikatnya sesuai dengan keinginan Gayung yang menginginkan seorang putri yang lebih didominasi wajah sang suami.


"Namanya siapa, Las?" tanya Pak Ming.


"Belum, Pak. Masih bingung pilih namanya ...," jawab Galas. Ia dan sang istri memiliki perbedaan pendapat tentang nama bayi mereka. Karena dari keduanya sama-sama memiliki pilihan nama sendiri.


"Apa Bapak aja yang kasih nama," ucap Pak Ming bersemangat. Namun Gayung menolaknya mentah-mentah.


"Ih, aku nggak mau kalau Bapak yang kasih nama," protes Gayung cepat.


"Lho ... kenapa memangnya?" tanya Pak Ming keheranan, melihat penolakan keras putrinya itu.


"Nggak mau! Nanti anak aku dikasih nama Ember lagi sama Bapak. Aku aja dikasih nama Gayung ...." Gayung mencebikkan bibirnya dan semua langsung tertawa terpingkal-pingkal mendengar alasan Gayung enggan menerima pilihan nama dari Bapaknya.

__ADS_1


"Jangan salah, Bapak kasih nama Gayung membawa keberuntungan buat kamu kan .... Dapat suami ganteng, mapan, sayang." Pak Ming membela diri.


"Setia juga ..." Tiara menambahkan, membuat pandangan tertuju padanya. Terutama Pak Ming yang langsung menatap horor menantunya yang refleks menggenggam erat tangan istrinya.


"Harus itu!" sela Pak Ming dengan nada tinggi. "Kalau nggak ... siap-siap aja dapat kiriman dari Bapak. Santet! Modyar ...." Pak Ming sengaja mengerjai menantunya.


Galas meneguk salivanya susah payah. Dalam hati membatin. Untung saja, ia tercipta dengan cinta serta kesetiaan yang begitu besar pada sang istri yang kebetulan memiliki Bapak yang memiliki kekuatan super.


"Bapak ... jangan nakutin Kak Galas." Gayung tahu bapaknya sedang mengerjai suaminya.


"Hahahaha ...." Pak Ming menepuk-nepuk pundak menantunya. "Ndak, Las ... Bapak cuma becanda, kamu sampai pucat begitu lho ...." Bapak tertawa terpingkal-pingkal. Sementara Galas menghembuskan nafas lega.


"Kalau kamu suatu saat bosan sama Gayung, kamu balikin dia baik-baik sama Bapak, ya ...lumayan buat teman ember dirumah." Pak Ming terkikik geli, diikuti yang lainnya. Sampai mereka akhirnya terdiam ketika bayi dalam gendongan Pak Ming menangis kencang.


"Bapak ih ...." Gayung mengambil bayi mungilnya dari gendongan sang Kakek lalu menyusuinya.


***


Begitulah ... akhir kisah mereka ...


Ups ... lupa Tiara belum lahiran


Ampun dah ... kapan tamat ini ...???


Jangan lupa


Like


Komen

__ADS_1


Vote


❤❤


__ADS_2