
"An, orderan kamu masih banyak?" Tiba-tiba saja Jio sudah menjulang tinggi di sampingnya.
"Masih, kenapa Mas?" Gayung tetap fokus dengan pekerjaannya, tidak berani menoleh. Karena sedari tadi Galas selalu memberi peringatan keras kepadanya melalui wechat.
"Ji, tolong jangan dekat-dekat Andara." Sasya tiba-tiba berdiri dan mendorong tubuh Jio menjauh dari Gayung.
"Apaan sih Sya?," protes Jio, tapi tidak tersinggung sama sekali. Ia mengira Sasya sedang mengajaknya bercanda.
"Maaf ya, Ji. Tapi ini tugas negara, mendingan balik ke tempat duduk kamu, duduk manis terus kerja," perintahnya tegas, sudah seperti pengawal yang melindungi tuannya. Gayung sampai meringis melihatnya.
"Ya ampun, cuma mau tanya-tanya kerjaan saja, Sya." Jio masih menanggapi dengan tawanya.
"Kalau mau tanya, bisa dari situ saja, kan, Pak ketua yang baiiik...?"
"Astaga, sebenarnya siapa sih disini yang ketua, kok malah aku yang di atur." Jio menggaruk kepalanya yang tidak gatal masih cengengesan.
"Pokoknya, ini amanah, saya hanya menjalankan tugas." Sasya berbicara formal, Gayung menariknya duduk, merasa tidak enak hati.
"Gaje banget sih Sya," celetuk Jio.
"Benar tuh Sasya, profesional dong, kerja kerja, kalau mau pacaran nanti, gimana sih ...." Seperti biasa, Safa dengan gaya keras dan ceplas-ceplosnya.
"Idih, Mbak Safa mah ikut-ikut aja ... sekali-kali belain aku kek."
"Jadi ketua tuh mbok yang berwibawa dikit gitu lho, Ji ... orang kamunya cengengesan gitu, gimana anak buah kamu mau segan sama kamu," ceramah Safa.
"Pengennya sih gitu, Mba. Tapi sudah bawaan orok begini mau gimana lagi ...." Jio masih saja dengan tingkah konyolnya yang khas.
"Tuh kan, kamu mah ketua, tapi malah paling berisik sendiri, anak buah kamu aja pada diem fokus kerja," sindir Safa lagi.
"Iya, iya, aku diem nih, Mba."
"Gak bakalan bisa kamu Mah. Kudhu dijahit dulu bibirnya, baru bisa diem."
"Ya Allah, jahat banget Mbak Safa ... hiks hiks ...." Jio malah pura-pura nangis. Safa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Susah memang berbicara serius sama orang yang berjiwa lawak, batinnya.
***
Bel tanda jam bekerja usai telah berbunyi. Gayung sudah membereskan meja kerjanya sedari tadi, tinggal mematikan laptopnya saja. Hatinya mendadak dag dig dug, karena hari ini untuk pertama kali dalam hidupnya, ia akan memutuskan hubungan dengan seseorang, yang baru dipacarinya belum ada sehari. Sungguh, ia benci berada pada posisi seperti ini. Karena emosinya yang tidak stabil, ia menyakiti perasaan orang sebaik Jio. Andaikan waktu bisa di ulang kembali. Ingin rasanya ia merevisi ulang jawaban yang akan ia berikan ke Jio tadi pagi. Tapi, apa mau dikata, semua sudah terlanjur. Dan ia tidak bisa terus menyiksa perasaannya sendiri seperti ini. Dengan atau tanpa Galas minta, ia memang berencana untuk mengakhirinya hubungan singkat mereka, hari ini.
Trililit ...
Telepon di depannya berbunyi, Gayung segera mengangkatnya. Dari nomor yang tertera, ia bisa mengetahui siapa yang menghubunginya. Galas!
"Sudah mau pulang?"
__ADS_1
"Hemm," jawab Gayung, senyum tipis samar menghias bibirnya. Meskipun sedikit kalut, tapi tak dapat dipungkiri hatinya pun kini tengah berbunga-bunga.
"Mau pulang bareng?"
"Tidak, aku mau menyelesaikan urusanku dulu."
"Hemm, jaga jarak dengannya minimal satu meter, jangan bersentuhan, jangan lupa cuci tangan, pakai masker, bagaimana kalau dia kurang ajar menciummu," pesannya, seolah Jio virus corona saja.
"Ishhh ... iya, iya ...." Memangnya dia wanita macam apa, berciuman dengan siapa saja, batinnya. Inginnya kalimat itu terlontar. Namun sayangnya, makhuk kurus yang menemplok padanya, mencoba mencuri dengar pembicaraan, membuatnya menahan kalimatnya. Sasya!
"Sudah dulu, ya." Gayung cepat-cepat mengakhiri obrolan mereka.
"Oh ... so sweattt." Sasya mengatupkan kedua tangannya dan meletakannya tepat ditelinga dengan posisi condong ke kanan, setelah Gayung menutup teleponnya." Aku juga pengen punya pacarrr seperti Pa ... hmmmppp...."
Gayung buru-buru membekap mulut Sasya, Jio nampak menghampiri mereka.
"Pulang yuk," ajak Jio. Gayung mencubit pelan pinggang Sasya, memberi kode.
"Yuk, aku juga ikut bareng." Sasya merangkul Gayung.
"Bukannya, kamu bawa motor, Sya?" tanya Jio.
"Ehm ... iya, aku mau maen ke kosannya Andara dulu," aktingnya.
"Ya--udah, kalau gitu aku jalan sendiri," ucap Jio akhirnya, tak dapat menyembunyikan kekecewaannya.
"Mau ngomong apa? Dih, kok serius begitu, jadi takut akunya." Jio masih sempatnya cengar-cengir.
"Pasti mau diputusin nih, kasihan deh Jio," sambar Safa yang memang suka benar kalau ngomong, padahal ia hanya berniat meledek saja.
"Dih, Mbak Safa mah ... jahaaat." Jio pura-pura nangis dengan memasang wajah konyol.
"Gimana gak diputusin coba, kelakuannya begitu bikin ilfeel hahaha ...," ucap Safa tega, sambil lalu meninggalkan ruangan. Jio hampir mau menyahuti tapi Gayung lebih dulu mengajaknya berbicara empat mata.
Sasya menunggu di depan kantor, diatas motornya, sedangkan Gayung dan Jio duduk di kursi taman dekat dengan danau buatan, tak jauh dari kantor mereka.
"Mas Jio, maaf," ucap Gayung, memulai pembicaraan. Jio mulai was-was mendengar nada bicara Gayung yang serius.
"Maaf kenapa?" Jio mulai serius.
"Tapi jangan marah, ya." Gayung benar-benar takut Jio akan membencinya.
"Tenang saja, aku orangnya nggak bisa marah ini ...." jio berusaha tersenyum, meskipun ia takut apa yang dikatakan Safa tadi menjadi kenyataan.
"Jangan benci sama aku ya," ucap Gayung lagi.
__ADS_1
"Iyaaa ...." Jio meyakinkan.
Gayung membisu, Jio dengan menunggu dengan sabar.
"Gimana kalau kita berteman saja ...." Kata itu menurut Gayung lebih halus dibandingkan kata putus. Meskipun artinya sama saja bagi Jio.
Jio terdiam, tiba-tiba ia merasakan sesak di dadanya. Wajahnya memanas seketika. Seringkali ia ditolak tapi rasa sakitnya tak seperti apa yang ia rasakan kini.
"Maksud kamu gimana?" Jio mencoba tetap tenang, namun matanya yang memerah hampir menangis tak dapat berbohong, bahwa ia cukup shock dengan kenyataan ini. Baru saja seluruh anak kantor mengucapkan selamat kepadanya karena telah menggandeng pasangan, dan hari saja belum berganti namun statusnya sudah berubah lagi.
"Mas Jio, jangan nangis." Kini malah Gayung yang ikut menangis. Ia tahu bahwa apa yang dilakukannya kini keterlaluan, memainkan perasaan orang yang tulus mencintainya.
"Nggak, aku nggak nangis. Yang nangis malah kamu tuh." Jio mencoba menahan gejolak dalam dadanya dan memilih menenangkan Gayung yang nampak merasa sangat bersalah kepadanya.
"Aku benar-benar minta maaf ... ," ucap Gayung lagi.
"Iya, nggak apa-apa. Tenang saja, aku sudah biasa ditolak. Masalah begini mah, kecil." Jio berusaha tegar, padahal hatinya hancur berkeping-keping.
"Beneran?"
"Iya. Kamu tenang saja."
"Anak-anak dikantor nanti pasti... "
"Udah, tenang saja. Nanti aku bilang saja, kalau aku lagi nge-prank mereka. Sekarang kan memang jamannya main prank-prankan." Si kurus itu masih berusaha tetap ceria seperti biasa. " Sudah jangan nangis. Aku sudah senang, kok, setidaknya sudah pernah jadi pacar kamu."
Gayung terdiam, memandang Jio dengan perasaan haru.
"Mas Jio orang baik, aku yakin pasti nanti akan ketemu orang yang lebih baik dari aku."
"Pasti, dong ...." Jio menguatkan dirinya.
"Jadi kita masih berteman, kan?" tanya Gayung lagi.
"Masihlah, masak cuma masalah begini terus musuhan ...." Jio menelan salivanya susah payah.
"Sekali lagi, aku minta maaf ya." Perasaan Gayung masih tak tenang.
"Iya, aku maafin. Ya sudah itu Sasya sudah nungguin."
"Aku duluan, ya Mas." Gayung melambaikan tangannya di dada.
Jio memandang kepergian Gayung dengan perasaan sesak. Ada satu buliran bening mengalir dari sudut mata laki-laki itu. Kemudian ia menarik nafas panjang, menguatkan dirinya untuk tidak menjadi laki-laki yang cengeng. Mungkin memang belum jodohnya, batinnya.
Minta likenya ya kawan-kawan ...
__ADS_1
Komen juga boleh ...