
POV GAYUNG
Sore itu, sepulang dari bekerja. Aku langsung beres-beres kamar. Membersihkan dan menata ulang kamar kosanku. Aku ingin menyibukkan diriku sehingga tak terus-terusan memikirkan Kak Galas yang jahat itu. Kak Sasya ingin membantuku, namun aku menolaknya. Aku memintanya untuk membeli minuman segar juga makanan yang enak-enak saja diluar. Aku memberinya uang lumayan banyak. Aku ingin makan yang banyak setelah selesai beberes nanti.
"An, ingat ya. Selama aku pergi, jangan turun ke bawah, apalagi sampai ngobrol sama pengamen ganteng dibawah. Bisa-bisa nanti aku dipecat sama Pak Galas, aku mau nyari kerja dimana lagi ... aku sudah nyaman banget kerja disana," pesannya padaku memohon dengan wajah memelas. Aku ingin tertawa melihatnya begitu.
"Iyaaa," jawabku. Lagipula Kak Galas juga tidak akan tahu ini kan, kalau misalkan aku ngobrol atau tidak sama orang itu, batinku. Ishh ... aku semakin tidak mengerti saja padanya, kenapa dia sok posesif begitu padaku padahal pada kenyataannya dia mengacuhkanku.
Aku menfokuskan pikiranku lagi pada kegiatan bersih-bersih kamar. Butuh waktu hampir satu jam untuk membereskan semuanya. Aku tersenyum puas melihat hasil kerjaku. Setelah itu aku melanjutkan mencuci baju-baju kotorku dan Kak Sasya. Lumayan capek juga, tapi aku senang. Aku melanjutkan menjemur bajuku dilantai atas. Aku menoleh ke bawah saat menaiki tangga, ku lihat Kak Sasya sudah pulang dan tengah asyik mengobrol dengan orang yang dipanggilnya pengamen ganteng itu. Apa mungkin Kak Sasya menyukai Aven, tapi bukannya ia suka dengan salah satu teman laki-laki itu? Batinku. Ah, sudahlah, aku tidak peduli, karena itu bukan urusanku.
"An, Ibu kamu videocall terus, nih," kata Kak Sasya saat aku baru saja kembali dari menjemur pakaian. Aku menerima ponselku yang disodorkan Kak Sasya dan menggeser icon hijau disana.
"Assalamuallaikum."Ibu melambaikan tangan padaku disana.
"Walaikumsalam," jawabku sambil mengelap keringat di pelipisku.
"Lagi ape nih, Sayang?"
"Habis jemur baju nih, Bu." Aku menerima semangkuk sop buah dari Kak Sasya. Ah, pengertian sekali temanku yang satu ini. Aku memang butuh yang segar-segar sekarang setelah menguras tenagaku. Aku berbicara pada ibuku sembari menikmati minuman delicious itu.
"Sop buah, Bu." Aku menawari ibuku.
"Mau doongg." Ibu memasang wajah mupeng. Aku tertawa melihat ibuku yang bawel itu.
"Pulang, dong, Bu. Sudah lama kan nggak pulang ...."
"Ini baru je Ibu mau ngabarin kamu, dalam waktu dekat Inshaallah Ibu sama Ayah mau tengok kamu disane."
"Seriuuss?"tanyaku antusias.
"Iyeeelahh, kamu pulang ya ...."
"Siap, nanti Gayung ijin dulu. Tapi nggak bisa lama-lama kayaknya, paling dua tiga hari dapat cutinya ... apa nggak sebaiknya Ibu ke Jakarta aja. Lagipula ibu mau ketemu aku kan, bukan sama Bapak," ucapku nyengir kuda.
"Ya nanti pulang ke kampung dululah. Sekalian Ayah mau berobat sama Bapak kamu."
__ADS_1
"Ayah sakit apa, Bu?"
"Batu ginjal, sudah pernah operasi dulu, tapi ade lagi ade lagi. Nggak mau operasi-operasi lagi katanya, mau coba alternatif sekali-kali."
Hemmm, yang orang Indonesia sakit kepala jauh-jauh berobat ke Singapura, yang orang Singapura malah mau berobat di Indonesia," gumamku lirih, heran.
"Ibu kabari Gayung, tepatnya kapan pulang kesininya . Jadi, Gayung bisa ijin secepatnya."
"Iyelah, nanti Ibu Wa kamu."
Setelah mengobrol dengan Ibu hampir satu jam lamanya. Aku mengakhiri pembicaraan kami. Aku sudah sangat gerah dan ingin segera mandi dan lanjut makan besar nantinya.
***
Gayung keluar dari ruangan Pak Jay, bersamaan dengan Tiara yang hendak ke ruangan tersebut. Gayung mengangguk sopan dan berlalu dari sana tak peduli dengan tatapan tak suka yang Tiara tunjukkan.
"Ada perlu apa dia?" tanya Tiara pada Jay yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Oh ... Andara mau ijin pulang kampung," jawab Jay.
"Ya kan namanya Gayung Andara, Sayang." Jay terkekeh.
"Apa sih sayang-sayang, jangan panggil begitulah. Nggak enak kalau ada yang denger." Tiara cemberut, Jay melanjutkan tawa kecilnya mendengar protes wanita cantik didepannya itu.
"Mau apa dia ijin pulang kampung?" Rupanya Tiara masih penasaran saja, dengan sesuatu yang berhubungan dengan Gayung.
"Ibunya mau pulang dari Singapura."
"Ibunya TKW?" tanya Tiara meremehkan.
"Iya, dulu. Sekarang sudah menikah dengan orang sana, dan pindah kewarganegaraan katanya," jelas Jay.
"Terus kamu kasih ijin?"
"Iya, tapi nanti tunggu Acc dari Galas dulu."
__ADS_1
"Ya pasti dikasihlah, sama pacar sendiri," sinis Tiara.
"Kayaknya mereka lagi ada masalah, aku sempat melihat mereka habis bertengkar waktu itu." Mendengar kabar bagus itu, Tiara langsung antusias.
"Serius?"
"Iya, tapi aku nggak tahu masalah apa."
"Baguslah." Tiara mengukir senyum tipis dibibirnya. Itu artinya dia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Galas.
"Kamu nggak capek, ngarepin Galas terus?" tanya Jay keheranan, dengan kegigihan sahabatnya itu.
"Capek, sih tapi mau gimana lagi. Namanya juga cinta." Tiara menghela nafas panjang, mengingat kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan begitu lama itu.
"Oh, iya. Kamu ada perlu apa ke ruanganku?"
"Nggak ada apa-apa. Aku tadi lihat si Gayung itu ke ruangan kamu. Aku pengen tahu aja. Ya udah, aku balik dulu deh ...." Tiara mengangkat tubuhnya hendak meninggalkan ruangan Jay.
"Pulang kerja, keluar yuk," seru Jay, sebelum Tiara menghilang dari balik pintu.
"Oke, siap," jawab Tiara, kemudian menutup pintu kaca itu. Ia melenggang dengan anggunnya membuat karyawan di ruangan Gayung menatap kagum dengan kesempurnaan yang melekat pada dirinya.
"Kerja, Ji." Tiara menepuk pundak Jio yang tengah membahas pekerjaan dengan Gayung. Tak lupa ia menghadiahkan lirikan sinis ke arah Gayung yang malah membalas dengan senyum manisnya.
"Mbak Tiara, kenapa, ya? Kok dia sekarang kaya nggak suka gitu sama kamu?" tanya Jio dengan muka bodohnya, saat wanita cantik itu sudah tak ada diruangan mereka.
"Dasar ketua nggak peka," olok Sasya dan Bimo kompak. Padahal ia selalu makan siang satu meja dengan Bosnya. Bukannya seharusnya ia lebih bisa membaca situasi selama ini, batin Sasya.
"Nggak peka gimana sih maksudnya?" Jio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia semakin bingung saja tapi tidak ada yang mau menjelaskan kepadanya.
***
Jangan lupa like & komen serta vote nya ya kawan-kawan ... juga kritik dan sarannya, akan aku terima dengan senang hati. Semoga kalian tidak bosan untuk terus mengikuti kisah cinta Galas dan Gayung. Sekali lagi, aku nulis ini, seperti biasa, cuma buat menuhin seribu kata aja kok ... hehe ...
Sudah cukup segitu dulu bab ini. Gak tahu mau nulis apa lagi.
__ADS_1
Salam sehat selalu ...