
"Kok, lama diatas, Las? Kopi kamu sudah dingin, aku taruh di ruang tamu sama laptopnya juga," ucap Tiara, menatap sekilas pada tautan jemari tangan pasangan pengantin baru yang nampak erat itu. Hatinya mencelos menyaksikan pemandangan itu.
"Oh, iya, terima kasih," jawab Galas sambil lalu.
"Kamu mau dimasakin apa, Las?" tanya Tiara lagi. Kali ini gantian hati Gayung mencelos. Seharusnya ia yang memasak untuk suaminya bukan wanita lain. Jemari Gayung tanpa sadar meremas jemari tangan Galas dan laki-laki itu sedikit paham akan ketidaknyamanan istrinya.
"Ehm ... memangnya kamu bisa memasak?" tanya Galas, yang ia tahu Tiara tidak bisa memasak meski ia tinggal seorang diri.
"Aku lagi belajar sama Bi Hanah," jawabnya dengan semangat.
"Oh, kamu masak buat sendiri saja. Aku mau makan diluar dengan Gayung." Galas melakukan itu demi menjaga hati istrinya dan itu cukup membuat genggaman Gayung ditangannya mengendur.
"Oh, kalian mau makan dimana? Aku boleh ikut?" Tiara seolah tak ingin melihat pengantin baru itu menghabiskan waktu berdua.
Galas dan Gayung menghentikan kembali langkahnya. Sebenarnya Galas sedikit jengkel dengan sikap Tiara yang terus memepetnya. Padahal seharusnya dia mengerti posisinya. Apalagi kini ia sudah menikah, tapi ternyata itu sama sekali tak menyurutkan obsesinya untuk memilikinya.
"Aku ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan istriku." Kali ini Galas menjawab tegas. Ia tak mau Tiara semakin bersikap melewati batas dan sepertinya ia harus membicarakan ulang tentang masalah tinggal wanita itu dirumahnya. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa rumah tangganya akan hancur menyusul Jay.
***
Hari ini, Gayung kembali bekerja. Sebenarnya ia masih memiliki cuti sehari tapi ia memilih masuk karena ia tak nyaman tinggal dirumah dengan Tiara disana. Apalagi sikapnya tetap tidak berubah dan semakin menjadi saja, padahal sekarang ia sudah sah menjadi istri Galas. Bukankah seharusnya wanita itu cukup tahu diri dan mundur dengan hormat. Gayung mendesah kesal sembari membuka pintu kaca ruangannya.
"Wahh, pengantin baru! Kok udah masuk, sih?" Safa yang hendak keluar terkejut dan langsung memeluk Gayung erat.
"Nyoonyaa Bosss!" Sasya ikut memeluk dibelakang Safa yang gendut. "An, abis merried Bos, kok, udah kerja aja .... Harusnya ditahan dulu, dikelonin dulu, kek, dirumah. Nanti cuti meried kita makin dipersempit gimana?"
"Nggaklah, Kak. Nanti aku coba ngomong sama Kak Galas."
"Asekkk, janji, ya." Gayung mengangguk sebagai jawaban.
Mereka melepaskan pelukan lalu satu persatu rekan-rekan yang lain menyalami Gayung mengucapkan selamat kepadanya.
"Selamat, ya, An. Beruntung banget, deh, kamu, padahal aku yang ikut interview pencarian jodoh eh jodohnya malah sama kamu yang nggak ikutan," ucap Jenny tulus sembari memberikan pelukan singkat.
"Makasih, ya, Jen." Gayung kembali teringat alasan suaminya melakukan pencarian jodoh itu karena ingin mengerjainya. Mengingatnya saja membuat hatinya menghangat seketika.
"Selamat, An. Sudah aku duga, sih kalau Pak Galas tuh ada perasaan sama kamu. Soalnya dia sering banget bolak-balik ke sini." Indah menyalaminya diikuti anak buah Safa yang lain. Lalu tiba giliran dua laki-laki paling cantik diruangan ini yang berada di barisan terakhir.
"Selamat, ya, An," ucap Bimo. "Sekarang berarti kamu udah nggak perawan lagi, dong?" tanyanya jahil membuat pipi Gayung bersemburat merah menahan malu.
"Ih, Mas Bimo mah." Gayung memukul pelan pundak Bimo yang terkekeh mendengar pertanyaannya sendiri.
"Cepat punya momongan, ya," imbuhnya.
"Makasih, ya, Mas."
Terakhir giliran Jio yang mengucapkan selamat kepadanya.
"Selamat, ya, An." Jio mengulurkan tangannya dan disambut oleh Gayung.
"Iya, Mas."
"Semoga selalu berbahagia, ya."
"Iya, semoga Mas Jio juga segera menemukan jodohnya," ucap Gayung dengan senyum manisnya.
"Aamiin, kadonya menyusul, ya."
"He eh." Jio masih betah berlama-lama menyalaminya.
"Ji, istri orang, Ji!" Seru Safa mengingatkan.
"Ya ampun, Mbak Safa cuma salaman doang." Jio melepaskan tangan Gayung dan beralih mengusap tengkuknya salah tingkah.
Tidak salah Gayung memilih masuk kerja, ia selalu terhibur dengan ketidakwarasan teman-temannya yang selalu kocak itu daripada harus dirumah dan mendapat tatapan tidak menyenangkan dari Tiara.
Siang itu, setelah jam istirahat siang. Gayung kembali ke meja kerjanya sehabis makan siang berdua dengan suaminya, di ruangannya. Tak lama Safa dan Sasya pun kembali dari ruang makan dan lagi, mereka selalu menggodanya.
__ADS_1
"Cie ... yang abis makan siang sama suami," goda Safa. Gayung tersenyum malu mendengar ledekan wanita bertubuh gendut itu.
"Ya Allah ... dimana jodohku?" ratap Sasya penuh drama, karena diantara mereka ia lajang sendiri.
"Udah, kamu sama Jio aja. Sama-sama cungkring ini," ujar Safa.
"OGAH!" tolak Sasya mentah-mentah.
"Sekarang ogah-ogah, ntar tahu-tahu kawin."
"Idih, No! No! Big no!"
"Jodohkan nggak ada yang tahu, ya, An?" Safa meminta dukungan.
"Ehmm ... nggak tahu, ding" Gayung melirik Sasya yang memasang muka cemberut. Ia tidak suka jika dijodoh-jodohkan dengan Jio.
"An, kamu udah tahu belum, gosip paling hot dikantor kita, soal Pak Jay sama Mbak Tiara?" Safa mulai mengajak rumpi.
"Ta-hu," jawab Gayung lesu. Ia selalu tidak merasa tidak tenang jika mengingat Tiara, yang tinggal satu atap dengannya dan suaminya.
"Mereka berdua udah resign, kamu tahu nggak kelanjutan hubungan mereka?" Safa dan Sasya kini berkumpul dimejanya.
"Ehm ... Nggak tahu, Mbak," jawab Gayung belum mau jujur.
"Ih, kok, nggak tahu, sih, emang Pak Bos nggak cerita?" berondong Safa. "Sibuk bikin anak terus, sihhh ...." Safa terkikik geli.
"Apa sih, Mbak Safa mah." Pipi Gayung langsung semerah tomat.
"Woi ... tolong, dong, jangan bahas masalah bikin anak terus. Aku masih kecil teman-teman," sela Sasya sok polos.
"Huu ... dasar sok polos lu." Safa menjitak kepala Sasya pelan.
"Emberrr ... wekkk." Sasya memeletkan lidahnya.
"Dih, aku penasaran banget gimana kelanjutan hubungan mereka ...," ucap Safa.
"Kok, kamu bisa berpikiran begitu?" tanya Safa lagi.
"Sekarang Mbak Tiara tinggal di rumah Kak Galas ...," ucap Gayung lirih.
"WHAT?" seru duo ceriwis kompak.
"Tapi jangan bilang siapa-siapa, ya ...." Gayung menutup mulutnya yang keceplosan.
"Kalau aku sih bisa jaga rahasia, tapi kalau ibu-ibu satu itu nggak janji, deh," ledek Sasya menunjuk Safa dengan dagunya.
"Yee ... enak aja. Emang iya, sih. Soalnya kalau udah kumpul sama emak-emak di ruang makan mulut suka nggak bisa ngerem, sih, hihi," ucap Safa tanpa dosa.
"Apaan, Mbak Safa mah dimana-mana mulutnya emang blong, gak ada remnya."
"Nggak, nggak, kali ini amanlah pokoknya. Terus, kok, bisa Mak Lampir tinggal sama kamu sekarang?"
"Ehm ... ada masalah mungkin," jawab Gayung tak mau membongkar semuanya.
"Ini gawat sih menurut aku," tukas Sasya. "Secara kita semua tahu kalau Mbak Tiara tuh suka sama suami kamu, sampai-sampai dia benci bingit sama kamu, An. Ini nggak benar, sih, kamu harus tegas lho, An. Jangan biarkan pelakor masuk dalam rumah tangga kamu yang baru seumur piyik ini."
"Yups, setuju. Jangan sampai rumah tangga kamu berakhir seperti sinetron ku menangis di TV ikan terbang." Safa ikut memanas-manasi.
"Tapi aku percaya Kak Galas nggak akan begitu ...."
"Iya, tapi kamu lihat, deh, Pak Jay aja yang jelas-jelas sudah punya istri, istrinya lagi hamil lagi, bisa kepincut sama dia. Kita, kan, nggak tahu ke depannya gimana." Sasya kembali berargumen.
"Ih, Kak Sasya jangan nakut-nakutin, deh." Gayung semakin was-was saja.
"Bukannya nakut-nakutin, An. Tapi kita musti selalu waspada. Jangan biarkan pelakor mencari kesempatan dalam kesempitan."
"Setuju, setuju. Lagian alasannya apa coba sampai-sampai Mak Lampir tinggal sama kalian. Pak Bos pasti kasih alasan ke kamu, kan. Masuk akal nggak ...? Kalau menurut kamu ada yang ganjil, mending kamu ngomong," ucap Safa.
__ADS_1
"Alasannya masuk akal, sih. Aku juga percaya sama suami aku. Cuma Mbak Tiara emang suka caper sama Kak Galas." Gayung keterusan curhat.
"Nah, itu ... gimana kalau lama-lama pertahanan Pak Bos goyah? Kamu harus segera bertindak," ucap Safa menggebu-gebu.
"Bertindak bagaimana, Mbak?" tanya Gayung dengan polosnya.
"Kamu bicara baik-baik sama Pak Bos, minta Mak Lampir keluar dari rumah kalian. Mumpung masih pengantin baru, nih, aku kasih saran. Ancam aja Pak Bos kalau gak diturutin kamu gak akan kasih jatah ...."
"Jatah apa, Mbak Safa. Jatah berass? Haha ...." Sasya lagi-lagi bertingkah sok polos.
"Jatah ehem-ehemlah, Cungkring," sewot Safa.
"Jangan suka marah-marahlah, Ibu, nanti cepet tuwir, Mas Seno kabur lohh sama yang lebih muda," ledek Sasya.
"Uhhh, gue santet beneran kalau kejadian." Malah Safa kini yang kepanasan.
"Ih, serem, jangan main begituanlah, Mbak."
"Ya, nggaklah dan nggak mungkin juga Mas Seno kayak gitu." Safa membela suami tercintanya.
"Ih, percaya banget sama suaminya. Kan, Mbak Safa nggak tahu Mas Seno kalau ditempat kerja bagaimana?" Sasya memang sengaja memancing respon Safa, karena menurut gosip yang beredar suami Safa selalu mengistimewakan karyawan yang muda dan cantik dikantor tempatnya bekerja, yang letaknya tepat didepan kantor mereka.
"Sya, bisa diem nggak? Kita lagi bahas masalahnya Andara, nih." Safa tak mau terprofokasi omongan Sasya.
"Iya, iya, terus gimana?" Sasya mengalah.
"Tadi sampai mana, ya?" Safa lupa karena mulai kepikiran omongannya Safa.
"Jatah," jawab Gayung lirih.
"Iya, itu ... ancam aja begitu."
"Beberapa hari ini juga udah nggak dikasih jatah," lirih Gayung malu-malu.
"Kenapa? Kamu datang bulan?" Safa seperti biasa tak bisa mengontrol suaranya.
"Ih, Mbak Safa jangan keras-keras." Gayung menutup telinganya frustasi. Sementara Safa malah terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya.
"Ya Allah, kasihan banget sih, Pak Bos haha ...."
"Safa, kamu kenapa?" Tiga sekawan menoleh pada pintu yang terbuka entah sejak kapan. Mereka terlalu keasyikan rumpi sampai tak mendengar suara pintu dibuka oleh seseorang. Suasana langsung senyap seketika, tidak ada yang berani membuka mulut.
"Nggak papa, Pak," jawab Safa pias. Untungnya Galas tak bertanya lebih lanjut lagi.
"Sayang, ayo solat," ajaknya, melupakan bahwa istrinya sedang tidak menjalankan kewajaibannya itu.
"Aku, kan, lagi nggak solat," jawab Gayung menatap suaminya yang sepertinya baru ingat kalau istrinya sedang datang bulan.
"Oh, iya." Galas menatap ekspresi dua teman istrinya yang sepertinya tengah menahan senyum mereka. "Ya, sudah, aku ke mushola dulu," pamitnya dan Gayung menganggukkan kepalanya sembari menatap kepergian suaminya.
"Sayang ...." Sasya menirukan cara bicara Galas, setelah Bosnya itu pergi.
"Ah, pengennnnn ...," ucapnya dengan tampang mupeng.
"Udah, sama Jio aja, haha ...," ledek Safa lagi yang membuat gadis kurus itu memberengut.
***
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Salam sehat selalu ...😚😚😚
__ADS_1