
"Kak?" Gayung melirik suaminya yang fokus menyetir mobilnya. Setelah suaminya membelanya tadi, apa itu artinya mereka kini sudah berbaikan?
"Hemm?" jawabnya tanpa menoleh. Sikapnya kembali acuh setelah berdua saja dalam mobil dengan istrinya.
"Katanya kamu ada urusan?" Gayung cukup kaget dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba tadi. Apalagi ketika mendengar suaminya mengatakan bahwa mereka pernah berpacaran sebelumnya. Ia terkejut sekaligus senang suaminya datang membelanya disaat yang tepat.
Sebenarnya saat itu, mereka bukan benar-benar berpacaran. Melainkan hanya keisengan semata, apalagi ia masih kecil saat itu. Ingatannya tentang hal itu pun, sudah samar-samar hilang dari memorinya.
"Sudah selesai," jawab Galas singkat. Lagi-lagi tanpa menoleh, membuat Gayung semakin bimbang. Apakah mereka benar-benar sudah berbaikan atau belum.
"Ehm ... Kak, emang kita dulu pacaran beneran?" Gayung memberanikan diri bertanya.
"Anggap saja begitu," jawab Galas dengan entengnya. Gayung kembali diam, ia tak ingin memperpanjang pembicaraan mengenai hal itu. Karena dalam hatinya, ia meyakini bahwa Galas tidak mungkin menganggap taruhan konyol mereka dahulu sebagai suatu hal yang serius.
Saat ini, ada hal yang lebih penting, yang harus ia konfirmasi pada suaminya.
"Kak Galas masih marah?" tanya Gayung hati-hati.
Galas menoleh istrinya sekilas dengan seringai kecil disudut bibirnya.
"Katanya ... harusnya kamu yang marah?"
Gayung menggigit kuku jempolnya, mendengar sindiran suaminya yang menguping curhatannya tadi dengan Sasya.
"Tapi kamunya yang marah."
"Siapa yang marah? Aku tidak marah ..." elak Galas dengan nada santai.
"Kamu. Dari semalam diam terus."
"Karena kamu juga diam."
"Aku diam karena Kak Galas duluan yang mulai." Gayung mencebik kesal.
"Aku diam, karena kamu tidak mengajak bicara."
__ADS_1
Gayung menghela nafas sejenak. Oke! Salah satu harus ada yang mengalah, kalau tidak, perdebatan ini tidak akan usai, batin Gayung.
"Terus ... sekarang kita udah baikan, kan?" tanya Gayung penuh harap.
"Kamu maunya bagaimana?" ucap Galas dengan begitu santainya. Seperti sengaja mengerjai istrinya.
"Aku maunya kita baikan," lirih Gayung, menunggu jawaban suaminya.
"Ya sudah." Lagi-lagi Galas menjawab santai tanpa menoleh padanya. Gayung tidak terbiasa dengan sikap suaminya yang seperti ini. Ia merindukan Galas yang dulu, yang hangat dan penuh sayang. Bukan yang menyebalkan seperti ini.
"Ya udah, jangan cueeek," rajuknya.
"Siapa yang cuek?" Galas terlihat senang melihat istrinya merajuk seperti itu.
"Itu kamu ... daritadi cuek." Ia ingin suaminya memanggilnya Sayang lagi, seperti biasanya. Namun ia tak bisa mengatakanya secara gamblang, ia terlalu malu untuk mengatakan itu.
"Cuek dimananya, daritadi kamu ajak bicara aku selalu menjawab ...." Bagi Gayung jawaban suaminya itu terdengar menyebalkan.
"Ya udahlah, terserah kamu." Mata sipitnya beralih melihat suasana sore ibukota melalui jendela mobil. Dasar menyebalkan!
"Enggak," elak Gayung. Hanya sedikit kesal!
"Ya sudah," jawab Galas lagi tanpa beban.
Gayung melirik suaminya kesal. Ya sudah katanya? Arghh!
Pengen gigit jadinya! Arghhh!
***
Sampai esok hari, sikap suaminya masih sama menyebalkannya. Memikirkan menghabiskan waktu bekerjanya dikantor dengan suaminya yang seperti itu membuat moodnya memburuk. Ia lalu memutuskan untuk bekerja dari rumah saja atau malah bermalas-malasan saja hari ini dan memending sementara pekerjaannya. Hanya sehari, harusnya tidak masalah bukan?
"Gayung, ini sudah siang ...." Galas melirik istrinya yang masih berbaring membelakanginya sambil memainkan ponselnya. Sedari pagi sampai sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang, istrinya hanya bangun untuk mandi, solat, sarapan lalu bermalas-malasan dikasur, tidak seperti biasanya.
Gayung katanya tadi? Cih, batin Gayung kesal setengah mati.
__ADS_1
"Maaf Pak, hari ini saya ijin off dulu," jawab Gayung dengan bahasa formal.
"Karena apa?"
"Malas," jawab Gayung jujur.
"Oh ... jadi mulai malas-malasan sekarang ...." Galas mendekat ke ranjang mereka dan duduk disamping istrinya yang masih membelakanginya.
"Hemm, kalau nggak suka tinggal pecat aja ...," jawab Gayung acuh. Ia malas berbalik dan melihat wajah menyebalkan suaminya.
"Padahal ... hari ini Tiara mau datang ke kantor. Kamu yakin tidak mau masuk kerja ...?" Galas melirik istrinya yang tampak membulatkan matanya dan menghentikan gerakan tangannya pada layar ponselnya. Berhasil!
"Ya udah sanalah ... selamat bersenang-senang bersama istri muda yang tua." Gayung menekankan kata "tua" pada kalimatnya. Ia memilih acuh, lebih tepatnya sok acuh padahal aslinya ketar-ketir juga.
"Ya, sudah kalau begitu ... aku berangkat dulu." Galas menepuk lengan istrinya sekilas, kemudian beranjak keluar. Barulah ketika terdengar suara pintu yang menutup cukup lama, Gayung membalikkan tubuhnya menatap pintu kamarnya lalu bangkit, mendekati jendela kamar dan mendumel panjang lebar.
"Lihat Keiko, Papa kamu tuh nyebelin, ngeselin, nggak peka, nggak perhatian. Padahal Mama lagi hamil kamu. Pengen disayang, dimanja, diperhatiin ...." Gayung mulai curhat pada bayi dalam perutnya sembari mengelus perutnya yang membuncit dengan raut wajah sedih. Bahkan secara tiba-tiba ia menemukan nama Keiko sebagai nama anaknya. Padahal dokter saja belum memastikan apa jenis kelamin bayi dalam kandungannya. Hanya saja, ia memang menginginkan seorang anak perempuan. Meskipun, jikalau nanti anaknya seorang putra pun, ia tetap akan menerima dan menyayanginya sepenuh hati.
"Tuh kan Mama jadi pengen nyanyi lagunya Rosa kalau kaya gini ...," curhatnya lagi.
"Ihh, Mama kesel banget sama Papa kamu. Rasanya pengen Mama gigit, Mama cakar-cakar biar Papa kamu nggak ganteng lagi." Kali ini ia tertawa mendengar dumelannya sendiri. Tanpa ia tahu, bahwa sebenarnya Galas masih berada didalam kamar dan menahan tawanya mendengar curahan hati istrinya kepada bayi mereka.
"Kamu ikhlas nggak kalau Papa, Mama gigit Mama cakar-cakar?" tanyanya pada Keiko yang masih dalam perutnya.
"Aku ikhlas Ma." Gayung menirukan suara anak kecil lalu kemudian tertawa geli menyadari tingkah konyolnya sendiri. Tapi kemudian tawanya terhenti, saat mendengar suara lain yang menertawakannya dibelakang, sontak ia menoleh dan menutup mulutnya dengan tangan. Mendapati suaminya masih berada dalam kamar bersamanya dan yang pasti mendengar semua keluh kesahnya tadi.
***
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Arigatone ... ❤❤❤