Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 62


__ADS_3

Senyum tak kunjung memudar dari keduanya kala Dokter memastikan bahwa Gayung hamil dengan usia kehamilan 5 minggu. Perjalanan ke kantor mereka pun diisi dengan pembicaraan seputar kehamilan, mulai dari jenis kelamin, nama bayi dan lain sebagainya.


"Sayang, diminum susunya." Sesampainya dikantor, Galas dengan penuh semangat membuatkan segelas susu kehamilan yang ia beli dalam perjalanan tadi.


"Ini rasa apa?" Gayung menebak itu rasa vanila. Biasanya ia tak masalah dengan rasa itu. Tapi kini melihat warnanya saja sudah membuat perutnya enek bahkan sebelum meminumnya.


"Vanila, kenapa, Sayang?"


"Ehm ... aku coba dulu." Gayung mengambil gelas itu dengan satu tangan sementara tangan yang satunya menutup rapat hidungnya.


"Kalau kamu tidak suka rasa vanila, jangan dipaksa minum." Galas hendak mengambil gelas itu dari tangan istrinya.


"Sebentar, aku cobain dulu, Kak. Sayang, kan sudah dibeli ...."


Galas yang melihat istrinya seperti terpaksa meminum susu itu menjadi tidak tega. Apalagi wajah istrinya terlihat tersiksa setelah menelan paksa setengah dari susu yang dibuatnya. Gayung buru-buru mengambil sebotol air mineral untuk menetralisir rasa mual yang tiba-tiba melandanya. Keringat dingin tiba-tiba membasahi wajah ayunya.


"Sayang, jangan diminum lagi." Galas menjauhkan susu itu dan mengelap keringat di wajah istrinya dengan tisu di atas meja kerja mereka.


"Aku nggak bisa minum ini deh, Kak. Tapi sayang ... kamu tadi belinya banyak banget, kan?"


"Ya, sudah nanti buat Tiara saja. Aku sempat lihat dia minum itu," ucap Galas tanpa ia sadari justru itu membuat mood istrinya kembali buruk.


"Kamu buatin susu juga buat dia?" tanya Gayung manyun. Bayangan perhatian suaminya untuk wanita itu kembali mengusik pikirannya.


"Ehm ... tidak Sayang, aku cuma lihat." Galas mengusap tengkuknya untuk mengurangi kegugupannya. Ya Tuhan, sekali-kali berbohong demi kebaikan tidak apa-apa, kan? Lagipula hanya sekali dan niatnya hanya untuk membantu, karena kondisi Tiara sedang lemah, batinnya.


"Dimana?" Rupanya Gayung dapat membaca kebohongan suaminya.


"Dimana apa, ya?" tanya Galas tidak mengerti.


"Kamu sering ke apartemen Mbak Tiara?" Mata Gayung kembali berkaca-kaca. Entah kenapa ia menjadi begitu mudah melow seperti ini. Galas menjadi kebingungan dibuatnya.


"Astaga, tidak Sayang. Hanya sekali, sumpah! Itu juga karena dia lemas karena tidak bisa makan." Galas akhirnya memilih jujur juga.


"Kamu ke kamarnya juga?" cecar Gayung.


"Ya-i-ya," jawab Galas terbata.


"Kamu gendong dia atau papah dia atau dia jalan sendiri?" Berondong Gayung.


"Dia lemas Sayang, mana mungkin ...."


"Kalau aku yang digituin sama laki-laki lain kamu ikhlas?"


"Tentu saja tidak! Kan ada aku buat apa kamu minta bantuan laki-laki lain?" Galas tidak terima.


"Ya siapa tahu Kak Galas nanti sibuk ngurusin istri kedua," sindir Gayung kesal.


"Astaga, Sayang. Istri kedua apanya, istriku kan cuma kamu." Galas bingung menghadapi sikap istrinya yang tiba-tiba menjadi super posesif dan cerewet itu.


"Istri sah kamu memang cuma aku tapi perhatian kamu ke Mbak Tiara itu seolah-olah dia istri kedua kamu. Atau jangan-jangan ayah anak yang dikandung Mbak Tiara itu kamu, Kak ...." Suara Gayung terdengar lemas.


"Astaga, Sayang. Sumpah demi apapun itu bukan anakku." Galas kembali menghapus tetes air mata yang mengalir membanjiri wajah istrinya.

__ADS_1


"Kamu jangan sedih terus, dong Sayang. Ingat pesan dokter suasana hati kamu itu berpengaruh pada bayi kita." Galas mengelus perut datar istrinya.


"Itu tergantung Kak Galas juga, makanya jangan suka bikin aku sedih," rajuknya.


"Iya, iya, mulai sekarang aku janji, tidak akan membuat kamu bersedih lagi, oke?" janji Galas.


"Awas, ya kalau Kak Galas bohong," ancamnya galak. Galas mengangguk meyakinkan istrinya. Baru kali ini ia merasa kewalahan menghadapi istrinya yang biasanya selalu lemah lembut itu.


"Ya udah, aku mau kerja. Nanti kamu bilang aku makan gaji buta," sindir Gayung sembari melirik suaminya yang terlihat frustasi menghadapinya pagi ini.


"Sayang, itu, kan masa lalu ... jangan dibahas lagi, yaa ...."


"Aku, kan cuma ngingetin. Kan sayang Kak Galas sudah keluar banyak uang buat gaji aku, tapi aku nggak berbuat apa-apa buat perusahaan," ucap Gayung. Tidak tahu kenapa ia ingin sekali membuat suaminya itu kesal.


"Sayaaang ...." Galas mencoba bersabar. "Kamu hari ini menyebalkan sekali, ya ... ayo kita pulang saja kalau begitu," geram Galas.


"Aku, kan mau kerja, ngapain pulang?" Gayung mencebikkan bibirnya mendengar permintaan aneh suaminya.


"Kita berantemnya dirumah yuk."


"Ngapain dirumah, disini juga bisa ...."


"Nggak bisa, aku maunya kita berantemnya dikasur ...." Galas tertawa geli melihat ekspresi lucu istrinya begitu mendengar ucapannya. Namun tawanya tak berlangsung lama begitu mendengar sindiran istrinya selanjutnya.


"Maunya ..., aku udah hamil, kamu ngajakin aku bulan madu aja nggak ...," ketusnya.


"Astaga, salah lagi ...." Galas mendesah panjang sembari menggusak rambutnya frustasi.


***


"Kenapa, Sayang? Kamu tidak suka makanannnya ... mau makan yang lain?"


"Iya, aku mau buah aja, kayanya seger deh, Kak."


"Ya sudah." Galas meraih gagang telefon dihadapannya, sembari mencari keberadaan Pak Yono, salah satu OB dikantornya melalui layar cctv.


"Kak Galas mau ngapain?"


"Telefon Pak Yono ...."


"Jangan ... nanti aja, Kak. Kasihan Pak Yononya lagi makan, dia juga pasti capek kerja dari pagi. Biar istirahat dulu." Galas menaruh kembali gagang telefon ditempatnya dengan senyum bangga dibibirnya.


"Kamu baik sekali, Sayang." Galas mencubit gemas pipi istrinya yang bersemu merah.


"Iya dong, biar anak aku juga baik nantinya. Aku solat duluan ya, Kak." Gayung menarik mundur kursinya.


"Jangan lari-lari ke atasnya, ada anak kita diperut kamu," pesan Galas. Ia memang pernah memergoki istrinya lari-larian menaiki tangga bersama sahabatnya.


"Iya," jawab Gayung sambil keluar dari ruangan. Tak disangka Sasya pun baru saja keluar dari ruangannya.


"Kamu nggak makan, Kak?"


"Ini mau makan, An. Abis nyelesaiin novelku satu bab doang, aduhh kepalaku rasanya kaya berasap gitu, ngebul ... panass ...," keluh Sasya sembari memegangi kepalanya yang terasa pening.

__ADS_1


"Udah, kamu tuh emang nggak berbakat," ledek Bimo sembari mengetok kepalanya dari belakang.


"Sakit, b*go!" sewot Sasya. Bimo hanya terkikik geli tanpa merasa bersalah.


"Memang nulis novel menghasilkan ya, Kak?" tanya Gayung.


"Kalau laku ya menghasilkan, kalau nggak laku ya gigit jari ... kaya aku nihhh ... " Sasya mempraktekkannya dengan muka miris. Gayung dan Bimo tertawa geli melihat tingkah Sasya yang suka apa adanya itu.


"Emang sebulan dapet berapa?" tanya Bimo.


"Ya ceban kali ada...." Sasya melirik Bimo dan Gayung malu-malu.


"Wkwkwk ... udah saban hari pusing cuma dapet ceban doang? Mending cuciin noh baju kotor gue yang seambrek, aku kasih gocap ... masih lumayan kan daripada pusing nulis novel ... mana nggak laku lagi ...," ledek Bimo.


"Ish ... sialan lo Gajah, aku aja laundry ngapain nyuciin bajunya situ!" sewot Sasya sembari menepuk pundak lebar Bimo kencang. Tapi mungkin saking tebalnya kulit Bimo, tepukan keras Sasya yang cungkring tak terasa apa-apa padanya.


"Aku kan cuma ngasih solusi, Sya ...."


"Solusi apaan begitu, huft ... lagian aku nulis bukan buat nyari duit. Jadi penulis itu cita-cita lamaku yang belum terwujud. Makanya karena sekarang banyak platform buat menyalurkannya aku coba-coba deh, buat senang-senang aja kalau nanti dapet duit ya itu bonus berarti," ungkap Sasya panjang lebar.


"Tapi aku nggak lihat kamu senang tuh, malah yang ada tiap hari minum panad*l mulu ...," ejek Bimo lagi.


"Oh my ...! Serah lo deh Bambang. Lo tuh nggak bakalan ngerti perasaan gue yang liat kata next aja udah sueneng bingit ...," ucap Sasya dengan gaya lebaynya.


"Emang aku mah nggak ngerti jalan pikiran kamu, Sya. Rela pusing-pusing demi duit yang nggak seberapa ... kalau aku mah mending bobo ganteng." Bimo terkikik geli.


"Lo ganteng dari manenya Pak?" Sinis Sasya tak rela mendengar Bimo memuji dirinya sendiri.


"Dari lahirlah, buktinya aku udah laku situ masih sendiri muluk, miris ...," ejek Bimo penuh kemenangan.


"Dapet janda aja bangga banget sih lo," balas Sasya tak mau kalah.


"Nggak papa dapat janda, lebih pengalaman jadi nanti aku nggak perlu ngajarin. Malah dia yang ngajarin aku," ucap Bimo dengan cengiran khasnya.


"Sok masih perjaka lo, padahal sering kan minta jatah sama tante-tante yang suka mangkal dipinggir kali situ." Gayung hanya menjadi pendengar perdebatan unfaedah dua temannya itu.


"Idih sorry, aku tuh masih suci, Sya, su-ci," ucap Bimo percaya diri.


"Ih, najis banget sih liat lo ngomong gitu, Bim." Sasya bergidik antara jijik dan ngeri.


"Wkwkwkwk .... Dah jomblo." Bimo melambaikan tangan dengan songongnya. Sementara Sasya tampak tak terima dan menggeretakkan giginya.


"Lihat aja, aku bakal buktiin kalau sebentar lagi ...." Sasya tak melanjutkan kalimatnya, wajahnya yang awalnya penuh semangat mendadak galau. "Sebentar lagi aku masih akan tetap jomblo, karena Pak Ryan ternyata suka sama Dina hiks ... hiks ... hiks ...."


"Sabar Kak, setiap orang pasti ada jodohnya masing-masing," hibur Gayung.


"Makasih, An. Mungkin sekarang jodohku memang belum lahir ... tapi aku akan tetap setia menunggumu jodohku, dimana pun kamu berada," ucap Sasya dramatis.


***


Jangan lupa


Like

__ADS_1


Komen


Vote


__ADS_2